Ye Fan adalah seorang psikopat yang menjadikan orang-orang jahat sebagai target eksekusinya. Ia menikmati perburuan tersebut tanpa rasa bersalah.
Sebelum kematiannya, Ye Fan menghabiskan waktu dengan sebuah game kultivasi yang menurutnya sangat menarik, karena di dalamnya ia bisa memburu dan membunuh para penjahat tanpa batas.
Namun, hidupnya berakhir ketika ia tewas ditembak polisi. Saat membuka mata kembali, Ye Fan mendapati dirinya telah bereinkarnasi ke dalam dunia kultivasi—dunia yang persis seperti game yang pernah ia mainkan, tempat hasrat lamanya kini dapat terwujud sepenuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Kabut Pemakan Jiwa
Lembah Kematian Kelabu bukanlah sekadar nama. Terletak di ujung utara kekaisaran, tempat ini dikelilingi oleh pegunungan terjal yang seolah-olah berusaha menyembunyikan sesuatu yang terkutuk dari dunia luar. Begitu Ye Fan menginjakkan kaki di perbatasan lembah, suhu udara turun drastis hingga napasnya membeku menjadi kristal es hitam.
Kabut tebal berwarna kelabu pekat menyelimuti segalanya. Jarak pandang tidak lebih dari dua meter.
[DING!]
[Peringatan: Memasuki Wilayah Terlarang!]
[Deteksi Lingkungan: Kabut pemakan jiwa Level 4 (Dapat melelehkan organ dalam manusia biasa dalam 10 detik)]
[Status Host: Perlindungan Jubah Kaisar Bayangan Aktif!]
Ye Fan berjalan dengan santai, seolah-olah ia sedang berjalan di taman sektenya sendiri. Di sekelilingnya, pepohonan terlihat seperti kerangka manusia yang membusuk, dengan dahan-dahan yang bengkok secara tidak wajar.
Sreeet... Sreeet...
Suara gesekan benda tajam di atas batu terdengar dari balik kabut. Ye Fan berhenti, telinganya bergerak sedikit. Menggunakan "Mata Penghakiman", ia melihat ratusan titik cahaya hijau redup yang mengepungnya dari segala arah.
"Keluar," ucap Ye Fan datar. "Jangan membuang waktuku dengan permainan petak umpet yang membosankan."
Dari balik kabut, muncullah makhluk-makhluk mengerikan. Mereka adalah Hantu Kelaparan—mayat para prajurit kekaisaran yang mati di sini dan jiwanya terperangkap oleh kutukan lembah. Tubuh mereka kurus kering, namun kuku dan taring mereka memanjang sekeras baja, dialiri oleh energi kematian yang pekat.
"GGRRRRRAAAAA!"
Ratusan makhluk itu melompat secara bersamaan ke arah Ye Fan.
Ye Fan tidak menarik senjatanya. Ia hanya melepaskan aura Penyatuan Roh-nya secara mendadak. Tekanan energi hitam itu meledak ke segala arah, menghantam makhluk-makhluk itu hingga terpental dan hancur menjadi debu sebelum sempat menyentuh jubahnya.
"Sistem, Ekstraksi Jiwa Terpental."
[DING! 200 Jiwa Rendah Terserap. Mengonversi menjadi Energi Murni...]
[Kenaikan Energi: 5%]
“Terlalu lemah,” batin Ye Fan. “Kaisar sialan itu pasti tahu kalau sampah-sampah ini tidak akan bisa membunuhku. Pasti ada sesuatu yang lebih besar di dalam sana.”
Ye Fan melanjutkan perjalanannya lebih dalam ke jantung lembah. Semakin dalam ia berjalan, kabut kelabu itu mulai berubah warna menjadi merah darah. Di tanah, ia mulai menemukan sisa-sisa perlengkapan militer elit kekaisaran—perisai emas yang hancur, pedang-pedang patah, dan tengkorak yang hancur dengan lubang di bagian ubun-ubunnya, seolah-olah otaknya telah dihisap keluar.
Tiba-tiba, tanah di bawah kaki Ye Fan bergetar. Sebuah pusaran kabut raksasa terbentuk di depannya, dan dari dalamnya muncul sesosok ksatria setinggi tiga meter yang menunggangi kuda kerangka. Makhluk itu mengenakan zirah kuno yang sudah berkarat, namun aura yang dipancarkannya berada di ranah Penyatuan Roh Level 5.
Ini adalah Jenderal Mayat Hidup, sang penjaga gerbang lapisan kedua lembah.
"Manusia... bernapas... dilarang... di sini..." suara makhluk itu terdengar seperti dua batu besar yang saling beradu. Ia mengangkat tombak raksasanya yang berlumuran darah kering.
Ye Fan menatap makhluk itu dengan senyuman gila. Lidahnya menjilat bibirnya yang kering. "Penyatuan Roh Level 5? Akhirnya, ada makanan pembuka yang layak."
Jenderal Mayat Hidup itu memacu kudanya, melesat dengan kecepatan yang membelah kabut. Tombaknya mengeluarkan api hitam yang mampu membakar jiwa. Ye Fan tidak menghindar; ia justru menerjang maju, tangan kanannya diselimuti oleh "Sentuhan Kehampaan".
BOOOOOMM!!!
Benturan antara tombak api hitam dan tangan kosong Ye Fan menciptakan gelombang kejut yang membersihkan kabut di radius seratus meter. Tanah di sekitar mereka amblas sedalam satu meter.
"Kau punya kekuatan yang bagus," ucap Ye Fan di tengah kepulan debu. Matanya berkilat ungu gelap. "Tapi kau hanya boneka dari sesuatu yang lebih besar di dalam sana. Biarkan aku membebaskanmu dari penderitaan ini... dan mengambil seluruh kekuatanmu."
Ye Fan mencengkeram bilah tombak itu, lalu dengan kekuatan murni, ia mematahkannya menjadi dua. Sebelum sang Jenderal bisa bereaksi, Ye Fan sudah berada di atas kepalanya, telapak tangannya menempel tepat di ubun-ubun zirah makhluk itu.
"Sistem, Ekstraksi Paksa!"