NovelToon NovelToon
Aku Anak Yang Kau Jual

Aku Anak Yang Kau Jual

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Crazy Rich/Konglomerat / Aliansi Pernikahan / Balas Dendam
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Rmauli

Bagaimana rasa nya tak mendapatkan kasih sayang dari orangtua sedari kecil, selalu di bedakan dengan saudari kembar nya yang gemilang namun pada akhir nya ia di paksa menikah sebagai penebusan hutang keluarga nya. Hal menyakitkan itulah yang di rasakan oleh Aira.

×××××××

"Jaminan? Ayah menjualku? Ayah menjual anak kandung Ayah sendiri hanya untuk menutupi hutang-hutang konyol itu?"

"Jangan sebut itu menjual!" teriak Ratna, berdiri dari kursinya.

"Ini adalah pengorbanan! Kau seharusnya bersyukur. Aristhide itu kaya raya, tampan, dan berkuasa. Banyak wanita di luar sana yang rela merangkak hanya untuk mendapatkan perhatiannya. Kau hanya perlu tinggal di sana, melayaninya, dan memastikan dia puas dengan kesepakatan ini."

Penasaran bagaimana perjalanan Aira, baca di sini!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rmauli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia Ibu

Setelah insiden di Kamar 404, suasana di kediaman Malik berubah menjadi medan magnet yang saling tolak-menolak. Aira menghabiskan sebagian besar waktunya di perpustakaan lantai bawah, mencoba mencerna setiap informasi yang ia temukan. Namun, bayangan wajah Sofia Malik dalam kliping koran itu terus menghantuinya. Ada sesuatu yang sangat akrab dari garis wajah wanita itu—sesuatu yang lebih dari sekadar kemiripan antara dua orang asing.

Pagi itu, Yudha mendatangi Aira dengan sebuah amplop cokelat. "Nona, Tuan Aristhide sedang berada di Singapura untuk urusan mendesak. Beliau meminta saya memberikan ini kepada Anda. Ini adalah laporan lengkap mengenai riwayat kesehatan Nyonya Sofia sebelum beliau meninggal."

Aira menerima amplop itu dengan tangan gemetar. "Kenapa dia memberiku ini sekarang?"

"Tuan bilang, jika Anda ingin berperang, Anda harus tahu apa yang sebenarnya Anda bela," jawab Yudha singkat sebelum membungkuk dan pergi.

Aira membawa amplop itu ke sudut perpustakaan yang paling tersembunyi. Ia mulai membaca lembar demi lembar catatan medis yang kering dan penuh istilah teknis. Namun, di antara berkas-berkas rumah sakit, ia menemukan selembar kertas yang diselipkan secara sembunyi-sembunyi. Itu adalah surat tulisan tangan dari seorang perawat senior yang bertugas di bangsal VIP dua puluh tahun lalu.

“Untuk siapa pun yang mencari kebenaran: Nyonya Sofia tidak hanya kehilangan hartanya. Di malam dia melahirkan, dia kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga. Ada dua bayi yang lahir di malam badai itu. Satu bayi dari keluarga Malik, dan satu bayi dari keluarga yang lebih sederhana. Nyonya Ratna Bramantyo berada di kamar sebelah...”

Darah Aira terasa berhenti mengalir. Ia membaca paragraf selanjutnya dengan napas yang memburu.

“Bramantyo datang dengan kekuasaan dan uangnya saat itu. Dia tahu Sofia dalam keadaan kritis dan suaminya, Tuan Malik, sedang berada di luar negeri. Terjadi sebuah 'kekacauan' yang disengaja di ruang bayi. Salah satu bayi dinyatakan meninggal, tapi tidak pernah ada prosedur autopsi yang jelas. Sejak malam itu, Sofia tidak pernah sama lagi. Dia depresi bukan karena uang, tapi karena insting seorang ibu memberitahunya bahwa bayi yang dikuburkan itu... bukan miliknya.”

Aira menjatuhkan kertas itu. Kepalanya berdenyut hebat. Dua bayi lahir di malam yang sama. Satu bayi Malik, satu bayi Bramantyo. Aira dan Aina adalah saudara kembar, setidaknya itulah yang selalu dikatakan orang tuanya. Tapi benarkah mereka kembar? Sejak kecil, Aina selalu mendapatkan kasih sayang yang melimpah, sementara Aira diperlakukan seperti pengganggu. Aina memiliki golongan darah yang berbeda dengan Aira. Aina sangat mirip dengan Ratna, sementara Aira...

Aira segera berlari menuju cermin besar di koridor. Ia menatap wajahnya sendiri, lalu membayangkan foto Sofia Malik yang ia lihat di Kamar 404. Tulang pipi yang tinggi, bentuk mata yang sedikit sayu namun tajam, dan dagu yang tegas. Semuanya ada di sana.

"Tidak mungkin..." bisik Aira. "Ini terlalu gila."

Jika teori ini benar, maka Bramantyo tidak hanya mencuri harta keluarga Malik, dia mencuri seorang anak. Dia membesarkan anak musuhnya sendiri hanya untuk dijadikan pelampiasan kebencian, atau lebih buruk lagi, dijadikan alat barter di masa depan.

Rasa haus akan jawaban membawa Aira kembali ke rumah lamanya sore itu. Ia tahu ayahnya sedang di kantor menghadapi audit, dan ibunya pasti sedang mencari pinjaman ke teman-teman sosialitanya. Rumah itu hanya dijaga oleh seorang pelayan tua yang sudah bekerja sejak Aira bayi.

"Bi Ijah," panggil Aira lembut saat masuk melalui pintu belakang.

Pelayan tua itu terkejut dan hampir menjatuhkan piringnya. "Non Aira? Ya ampun, Non... kenapa kembali ke sini? Tuan sangat marah jika tahu Non datang."

"Bi, aku butuh kejujuran. Hanya Bi Ijah yang ada di rumah sakit saat aku lahir, kan?" Aira memegang tangan Bi Ijah yang keriput. "Katakan padaku, apakah Ibu benar-benar melahirkan dua anak?"

Wajah Bi Ijah seketika memucat. Ia melihat ke sekeliling dengan ketakutan. "Non... jangan tanya itu. Itu rahasia yang dibawa ke liang lahat."

"Bi, hidupku sudah dijual! Aku tinggal bersama Aristhide Malik! Rahasia ini adalah satu-satunya cara agar aku bisa selamat!" tekan Aira.

Bi Ijah mulai terisak. "Malam itu... malam itu sangat kacau, Non. Nyonya Ratna melahirkan bayi yang lemah dan meninggal tak lama kemudian. Tuan Bramantyo mengamuk. Dia bilang dia butuh ahli waris untuk mengamankan saham perusahaan yang sedang sengketa. Lalu, dia melihat Nyonya Sofia di kamar sebelah yang pingsan setelah melahirkan bayi perempuan yang sangat sehat. Tuan membayar dokter... mereka menukar bayi yang meninggal itu ke tempat tidur Nyonya Sofia."

Dunia Aira runtuh. Kenyataan itu menghantamnya lebih keras dari tamparan mana pun.

"Jadi... Aina adalah anak Ibu Ratna yang sebenarnya lahir setelahnya?"

"Bukan, Non. Nyonya Ratna memang hamil kembar, tapi hanya satu yang selamat, yaitu Non Aina. Non Aira... Non adalah putri Nyonya Sofia. Tuan Bramantyo mengambil Non agar bisa terus memeras keluarga Malik melalui wali sah Sofia jika Sofia meninggal. Tapi rencana itu berubah saat Tuan Malik Senior juga meninggal dalam kecelakaan."

Aira melepaskan tangan Bi Ijah. Ia merasa mual. Jadi selama dua puluh tahun ini, ia hidup bersama pembunuh kebahagiaan ibu kandungnya. Ia dipukuli, dihina, dan akhirnya dijual oleh orang yang menculiknya saat ia masih merah.

"Jangan katakan pada siapa pun aku ke sini, Bi," ujar Aira dengan suara yang kini terdengar sangat dingin dan hampa.

Ia keluar dari rumah itu dengan langkah gontai. Saat ia sampai di gerbang, sebuah mobil mewah berhenti di depannya. Kaca jendela terbuka, memperlihatkan wajah Aina yang sedang tersenyum sinis.

"Mencari barang sisa, Aira?" tanya Aina mengejek. "Atau kau merindukan tempat sampah ini?"

Aira menatap Aina. Selama ini ia merasa iri pada kecantikan dan kasih sayang yang didapat Aina. Sekarang, ia hanya merasakan belas kasihan. Aina adalah produk dari kebohongan yang mengerikan.

"Kau tidak tahu apa-apa, Aina," sahut Aira pelan. "Kau pikir kau adalah putri kesayangan, tapi kau sebenarnya hanyalah alat untuk menutupi dosa besar ayahmu. Nikmatilah waktumu, karena sebentar lagi, istana pasirmu akan tersapu ombak."

Aira segera pergi, meninggalkan Aina yang kebingungan dan mulai merasa terancam.

Kembali di kediaman Malik, Aira menemukan Aristhide sudah kembali. Pria itu berdiri di lobi, menunggunya dengan wajah yang dipenuhi kecemasan yang jarang ia tunjukkan.

"Ke mana saja kau? Aku bilang jangan pergi tanpa pengawalan!" bentak Aristhide.

Aira tidak membalas dengan kemarahan. Ia berjalan mendekati Aristhide, menatap matanya dalam-dalam. "Kenapa kau tidak mengatakannya padaku, Aristhide? Kenapa kau membiarkan aku mengira aku adalah anak dari monster itu?"

Aristhide tertegun. Ia melihat amplop cokelat di tangan Aira. Ia tahu rahasia itu sudah pecah.

"Aku ingin kau mengetahuinya sendiri," bisik Aristhide. "Aku ingin kau membenci mereka dengan alasan yang benar. Karena jika aku yang mengatakannya, kau mungkin akan menganggapnya sebagai taktik manipulasiku."

Aira merasakan air mata jatuh di pipinya. "Jadi... aku adalah adikmu?"

Aristhide menggeleng perlahan. Ia melangkah maju, menghapus air mata Aira dengan ibu jarinya. "Bukan. Ayahku dan Sofia menikah setelah Sofia memiliki masa lalu yang rumit. Aku adalah anak dari istri pertama ayahku. Sofia adalah ibu tiriku yang sangat kucintai. Kita tidak berbagi darah, Aira. Tapi kita berbagi musuh yang sama."

Aira terpaku. Jadi, Aristhide tidak membelinya untuk balas dendam semata. Dia membelinya untuk membawanya pulang ke tempat yang seharusnya.

"Sekarang kau tahu siapa dirimu, Aira," ujar Aristhide dengan suara yang bergetar. "Kau adalah putri Sofia Malik. Dan rumah ini... semua ini adalah milikmu. Dan aku akan memastikan setiap orang yang menyakitimu akan membayar harganya dengan darah mereka."

Malam itu, Aira tidak lagi merasa seperti jaminan utang. Ia merasa seperti seorang ratu yang baru saja menemukan mahkotanya di tengah puing-puing kehancuran. Namun, ia tahu, Aina dan Bramantyo tidak akan tinggal diam jika rahasia ini terbongkar ke publik.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!