NovelToon NovelToon
Perjuangan Driver Ojol Poligami

Perjuangan Driver Ojol Poligami

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Selingkuh / Konflik etika
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Seorang Pria sederhana yang berprofesi sebagai Driver Ojol, ingin Berpoligami karena melihat teman SMA nya berhasil dalam poligami.

Namun Ia-Arman tidak mendapatkan restu dari Istrinya.

Berhasil kah Arman si Driver Ojol memperjuangkan Poligami nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nyaman dan Kehilangan

Pintu rumah Nadia terbuka sebelum Arman sempat mengetuk. Nadia sudah menunggu di balik pintu, wajahnya penuh kekhawatiran. Ia mengenakan gamis rumah berwarna hijau army dengan motif bunga kecil, rambutnya diikat asal-asalan, menandakan ia mungkin sudah begadang menunggu. Begitu melihat Arman, ia langsung menariknya masuk dan memeluk erat.

"Ya Allah, Arman. Aku khawatir banget. Kok baru pulang?" Nadia melepas pelukan, menatap wajah Arman yang kusut.

"Kamu kurusan dalam dua hari. Mata sembab. Sini, duduk dulu. Aku buatin teh hangat."

Arman hanya mengangguk lemas. Ia duduk di sofa yang sama, di ruang tamu yang sama, yang beberapa hari lalu terasa begitu nyaman.

Kini semuanya terasa berbeda. Sofa ini terlalu empuk, udaranya terlalu dingin, dan keharuman ruangan yang dulu menenangkan kini terasa menyesakkan.

Nadia kembali dengan dua cangkir teh. Ia duduk di samping Arman, meraih tangannya. "Cerita, Sayang. Gimana di kampung?"

Arman menarik napas panjang. Matanya kosong menatapi ubin lantai. "Nggak bisa ketemu Rani. Nggak bisa ketemu Aldi."

"Loh, kenapa? Bukannya kamu ke sana buat nemuin mereka?"

"Keluarga Rani marah. Bapaknya, kakak-kakaknya, semuanya marah besar." Arman menunduk.

"Mereka nggak mau kasih aku ketemu Rani. Dan Aldi... aku denger dia nangis manggil bapak dari balik pintu. Tapi aku nggak bisa masuk."

Nadia menghela napas, mengusap punggung Arman lembut.

"Ya Allah, Arman. Kasihan banget. Tapi kamu harus sabar. Rani pasti butuh waktu. Ini masih baru. Nanti kalau udah reda, pasti dia akan mau ketemu."

Arman menggeleng pelan. "Aku nggak tahu, Nad. Rasanya... berbeda. Waktu aku di sana, aku ngerasa bersalah banget. Aldi nangis, Rani nangis, dan aku penyebabnya."

"Jangan salahin diri sendiri," hibur Nadia. "Kamu udah ngelakuin yang terbaik. Kamu udah jujur, udah minta maaf. Sekarang tinggal tunggu waktu."

Arman tidak menjawab. Ia hanya menatap kehampaan. Teh di tangannya sudah dingin, tapi tak disentuh.

Nadia memiringkan kepala, mengamati suaminya. Ada kecemasan yang tumbuh di dadanya. Kenapa dia seperti orang kehilangan? Bukankah dia punya aku di sini? Bukankah aku sudah memberikan segalanya?

"Arman," panggilnya lembut. "Kamu capek. Mending istirahat dulu. Besok kita omongin lagi."

Arman mengangguk. Ia bangun, melangkah menuju kamar, tanpa mencium Nadia, tanpa mengucapkan selamat malam. Nadia memandang punggungnya yang menjauh, dan untuk pertama kalinya, ia merasa ada jarak di antara mereka.

---

Pagi hari, Arman bangun lebih dulu. Nadia masih tidur di sampingnya, dengan rambut tergerai dan napas teratur. Arman memandangi langit-langit kamar yang asing, lalu teringat sesuatu.

Ia meraih ponsel, membuka galeri foto. Di sana, tersimpan foto Aldi saat bermain di taman, foto Rani saat memasak di dapur—foto lama yang tak sengaja ke-backup.

Ia menatap foto Aldi. Senyum lebar anak itu, gigi susu yang ompong di depan. Hatinya teriris.

"Sudah bangun, Sayang?" suara Nadia memecah lamunan.

Arman cepat-cepat mematikan layar ponsel. "Oh, iya. Pagi."

Nadia merapat, memeluk lengannya. "Tidur nyenyak?"

"Iya."

"Bohong. Kamu nggak nyenyak. Aku denger kamu mendengkur nggak biasa, kayak gelisah." Nadia menatapnya. "Masih mikirin mereka?"

Arman diam. Keheningan itu adalah jawaban.

Nadia melepas pelukannya. Ia duduk di tepi ranjang, membelakangi Arman. Suaranya berubah, lebih datar.

"Arman, aku tahu kamu sedih. Tapi kamu juga harus ingat, kamu punya aku di sini. Aku juga butuh perhatian."

"Nad, aku..."

"Aku nggak minta banyak. Cuma... jangan tenggelam dalam kesedihanmu sampai lupa kalau aku ada. Aku juga istri kamu."

Arman menghela napas. "Maaf. Aku cuma... masih kaget."

"Iya, aku ngerti." Nadia berbalik, tersenyum tipis. "Sana mandi. Aku buatin sarapan."

---

Hari-hari berikutnya berjalan dalam pola yang sama. Arman bekerja, membantu Nadia mengurus thrift shop, menemani meeting, mengantar ke supplier. Tapi fokusnya tidak pernah utuh. Di sela-sela pekerjaan, ia sering melamun. Matanya kosong, pikirannya entah ke mana.

Suatu sore, saat mereka sedang memotret koleksi baru di ruang tengah, Arman tiba-tiba berhenti di tengah mengambil gambar.

"Arman, lampunya kurang ke kanan dikit," panggil Nadia.

Tidak ada respons.

"Arman?"

Arman masih diam, memegang kamera tapi tidak bergerak.

Nadia mendekat. "Arman! Kamu kenapa, sih?"

Arman tersentak. "Eh? Iya, maaf. Tadi ngapain?"

Nadia menarik napas panjang, berusaha sabar. "Lampu. Ke kanan sedikit."

"Oh, iya."

Sesi pemotretan selesai dalam keheningan yang canggung. Nadia membereskan perlengkapan sendirian, sementara Arman duduk di sofa, lagi-lagi melamun.

"Arman," panggil Nadia akhirnya, suaranya sedikit meninggi. "Kita perlu ngomong."

Arman menoleh. "Ngomong apa?"

Nadia duduk di hadapannya, melipat tangan.

"Kamu tahu nggak, semenjak balik dari kampung, kamu kayak orang lain? Kamu di sini, tapi kamu nggak ada. Pikiranmu entah di mana. Aku ajak ngomong, setengah denger. Ajak kerja, setengah hati. Aku tahu kamu sedih, tapi sampai kapan?"

Arman menunduk. "Maaf, Nad. Aku cuma..."

"Aku tahu, kamu mikirin Rani dan Aldi. Tapi jamu juga harus mikirin aku, Arman. Aku juga butuh suami. Bukan mayat hidup yang cuma ada fisiknya."

Kalimat itu tajam. Arman terangkat kepalanya, menatap Nadia. "Mayat hidup?"

"Iya. Itu yang aku lihat sekarang." Mata Nadia mulai berkaca-kaca.

"Aku nikah sama kamu karena aku sayang. Aku kira kita bisa bahagia. Tapi sejak kejadian itu, kamu kayak kehilangan separuh diri mu. Dan aku di sini, berusaha ngertiin, tapi kamu malah makin jauh."

"Nad, aku nggak bermaksud..."

"Tapi kenyataannya gitu." Nadia mengusap matanya.

"Aku cemburu, Arman. Iya, aku cemburu sama Rani. Cemburu karena meskipun dia marah, dia pergi, tapi pikiranmu tetep ke dia. Sementara aku di sini, udah ngasih segalanya, dapatnya cuma sisa."

Udara di ruangan itu terasa berat. Arman membuka mulut, ingin membela diri, tapi kata-kata tidak keluar. Karena di dalam hatinya, ia tahu Nadia benar.

Ia memang tidak bisa sepenuhnya hadir. Pikirannya terus melayang ke Aldi. Ke tangis anaknya yang memanggil-manggil dari balik pintu. Ke Rani yang mungkin sedang menangis sendiri di kampung.

"Aku nggak tahu harus ngapa lagi, Nad," bisiknya akhirnya. "Aku pengen bahagia sama kamu, tapi bayangan Aldi nggak pernah lepas dari kepalaku. Setiap kali aku liat anak kecil, setiap kali aku dengar suara tawa, aku ingat dia. Dan aku ngerasa... ngerasa gagal jadi bapak."

Nadia terdiam. Air matanya jatuh pelan. "Jadi, apa maumu? Kamu mau ninggalin aku?"

"Nggak! Bukan gitu." Arman meraih tangan Nadia.

"Aku nggak mau ninggalin kamu. Tapi aku juga nggak bisa berhenti mikirin Aldi. Dia anakku, Nad. Daging darahku. Gimana caranya aku bisa lupa?"

"Kamu nggak harus lupain. Tapi kamu juga harus inget, kamu punya aku. Kamu punya tanggung jawab sama aku."

Nadia menarik napas, berusaha tenang. "Aku minta satu hal. Coba, untuk beberapa hari ini, fokus sama aku dulu. Jangan buka HP, jangan lihat foto-foto lama. Biar kita perbaiki dulu hubungan kita. Nanti, kalau sudah lebih baik, kita pikirkan lagi soal Rani dan Aldi."

Arman menatap Nadia lama. Permintaan itu masuk akal. Tapi di dadanya, ada yang menolak. Aku nggak bisa lupain Aldi. Bahkan sedetik pun.

Tapi apa pilihannya? Nadia adalah satu-satunya yang ia punya sekarang. Rumah ini satu-satunya tempat ia bisa pulang.

"Oke," jawabnya lirih. "Aku coba."

Nadia tersenyum, meskipun senyum itu dipaksakan. Ia mendekat, memeluk Arman. "Makasih, Sayang. Aku sayang kamu."

Arman membalas pelukan itu. Tapi matanya, di atas pundak Nadia, kembali kosong. Memandangi dinding, memandangi entah apa, dan pikirannya kembali melayang ke sebuah desa kecil, di mana anaknya mungkin sedang tidur dengan boneka mobil di pelukan, tanpa bapak di sampingnya.

Malam itu, saat Nadia sudah tertidur, Arman bangun diam-diam. Ia duduk di balkon, menyalakan rokok, dan membuka ponsel. Galeri foto. Aldi tersenyum lebar di TMII. Air matanya jatuh, tanpa suara.

Ia menyadari satu hal yang pahit: memiliki dua istri tidak membuat hidupnya lebih lengkap. Justru sebaliknya. Ia kehilangan satu orang yang paling berarti—anaknya.

Dan tidak ada kenyamanan, tidak ada kemewahan, tidak ada pelukan hangat dari istri mana pun yang bisa menggantikan itu.

Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal, tapi ia tahu itu dari kampung. Sebuah foto: Aldi tidur dengan mata sembab, pipi basah oleh air mata yang belum kering. Tanpa teks. Tanpa penjelasan.

Arman memegangi dadanya. Sakit. Sakit sekali.

Ia ingin membalas, bertanya, memohon. Tapi apa gunanya? Semua pintu sudah tertutup. Yang tersisa hanya foto-foto dan penyesalan.

Malam itu, Arman tidak tidur. Ia duduk di balkon sampai subuh, ditemani rokok dan bayang-bayang masa lalu. Dan ketika azan subuh berkumandang, ia baru sadar: inilah harga dari semua pilihannya.

Sebuah rumah yang hangat tapi hampa, seorang istri yang setia tapi tak bisa menggantikan kehilangan, dan sebuah lubang di dada yang tak kan pernah bisa diisi.

Di luar, Jakarta mulai bangun. Hiruk pikuk kota kembali bergema. Tapi di balkon kecil itu, seorang laki-laki menangis dalam diam, meratapi keputusan yang tak bisa ditarik kembali, dan merindukan seseorang yang mungkin tak kan lagi memanggilnya "Bapak".

1
La Rue
ehm ngeri² sedap ya Man 🤣🤣🤣
Nihayatuz Zain
ya ampun pak
udah 3 kali konfliknya,
mbok udah😌 aku ngeri bacanya 💃
Bp. Juenk: thanks supportnya kaka
total 1 replies
La Rue
ehm the sound not good
Bp. Juenk: 🤭 iya nih Ka
total 1 replies
Nihayatuz Zain
wah pak arman
Bp. Juenk: 🤭 thanks for support nya kaka
total 1 replies
La Rue
Semangat Arman
Suhainah Haris
apa Sarah wanita terakhir di hidup Arman,kita serahkan ke tangan Bp.Juenk😄
Suhainah Haris
ya memang kelihatan timpang,Sarah di ruangan yang megah sedangkan Arman di ruangan tunggu gak ngapa-ngapain, apa takdirnya Arman gak bisa berhasil dengan wanita kaya?
La Rue
Semangatttt, ditunggu selalu kelanjutan kisah Arman yang berliku ini 😁👏👍
Bp. Juenk: terimakasih Kaka support nya 🙏
total 1 replies
Suhainah Haris
perjuangan poligami nya hanya segitu
Bp. Juenk: haha iya ka, Arman ny gak punya kemampuan untuk poligami
total 1 replies
La Rue
wah Arman pada akhirnya 😁
Bp. Juenk: hahahaha 🤭
total 1 replies
Lee Mbaa Young
Cerita sangat buruk sekali
Bp. Juenk: Yoi. di kehidupan nyata ada cerita yg lebih buruk dr ini
total 1 replies
Lee Mbaa Young
tidak rekomend banget mlh terkesan menjijikan. poligami ngawur.
Halwah 4g: dimna letak menjijikan nya??? kcuali anda puny pnglman pribadi jdi ngawur o
bahasanya kmna2..wong nmanya novel kok,semua ide imajinasi author nya lah g suka tinggal skip.. kok harus cerita org ngikutin mau u . mnusia aneh..klo mau yg lempeng aja bacanya buku edukasi Bu .jgn novel
total 1 replies
Suhainah Haris
malas ngomentari hidup lu Man,terserah kamulah mau hidup dengan siapa
Bp. Juenk: 🤭 sabar ka
total 1 replies
Suhainah Haris
mah kejadian lagi,kali ini Arman harus tegas,ingat lho Man,pilihanmu kali ini sangat menentukan masa depan keluargamu,memilih Sarah berarti kamu kehilangan Aldi dan Rani,tapi kalau kamu tetap memilih keluargamu,kamu masih punya pekerjaan bukannya Sarah janji tidak akan memecat mu,
Suhainah Haris
ini Arman masih nyadar ya,sadar kalau sudah ada rasa aneh,sadar sudah mulai sering mikirin Sarah,sadar kalau mereka sama-sama kesepian
Bp. Juenk: sadar Kk, 🤭
total 1 replies
La Rue
waduh gawat ni, ada yang suka Arman lagi 🤭🤭
Bp. Juenk: hehe iya nih Ka. Sarah nya lebih tegas
total 2 replies
falea sezi
kn janda gatel
Lee Mbaa Young
bu CEO jablay plus arman laki murah an gampang mau ma wanita asal berlobang dan ngasih uang banyak. pasangan Klop.
tinggal nunggu karma semoga kena penyakit
Lee Mbaa Young
Lihat bu CEO dah mulai gatal, lama gk di garuk mkne sama sopir ae PDKT curhat curhat. si laki juga asal si wanita punya lobang dan ngasih uang mau an. wes pasangan Klop.
Bp. Juenk: 💪 thanks supportnya kaka
total 1 replies
La Rue
Ayo Arman buktikan bahwa kamu bisa menjadi Ayah yang baik bagi Aldi dan suami yang bertanggungjawab untuk Rani. tapi hati² jangan mengulang kesalahan yang sama🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!