Satu di Hati.
Kamu seperti matahari,
Hangat di pagi hari,
Menyengat di siang hari,
Meredup saat senja hari.
Namun kamu tetap satu di hati.
# Red_Dexter (pinterest)
Kisah cinta ringan antara Erick dan Jeny. Bagi Erick, Jeny adalah mataharinya, ia tidak bisa hidup tanpanya.
Keraguan, adalah kata yang tepat untuk menggambarkan Jeny.
Senja, waktu favorit Jeny, dan Erick memastikan bahwa Jeny harus melihat kearahnya saat senja.
Kisah nyata seorang kenalan, dengan bumbu dramatisasi, untuk menemani kamu melepas penat menjelang tidur agar bermimpi indah tentang cinta.
Full of love,
Author ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mom fien, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bimbang
"Ada apa Jen? Kairi lagi?", tanya Belva begitu ia masuk ke dalam mobil.
"Bel, baca ini", aku menyerahkan surat Kairi tadi.
"Langsung pulang ke rumah non?", tanya pak supir.
"Iya pak", jawab Belva diikuti oleh persetujuanku.
"Ok baiklah dia dapat poin untuk menulis surat ini, tapi aku tetep ga suka dia Jen. Apapun alasannya, kenapa baru sekarang disaat kamu menyerah sama dia, katanya cinta masa hanya gara-gara ga percaya diri dia ga mempertahankan kamu kemarin. Kamu juga udah tau kondisi dia dan ga mempermasalahkan itu. Menurutku sih ini hanya emosi sesaat, apa ada jaminan cintanya akan selalu menang untuk segala kondisi."
Kata- kata Belva ada benarnya, kalau dia sedang merasa rendah diri lagi, apa aku akan dinomorduakan lagi.
"Iya aku tau Bel", jawabku lemah.
Aku terus memikirkan Kairi, memainkan ponselku diatas tempat tidur.
Ting... tanda bunyi pesan masuk le ponselku.
"Aku bisa pulang lebih awal, jadi aku pulang besok malam Jen", aku membaca pesan dari kak Erick.
Saat aku mengetik mau membalasnya kak Erick meneleponku.
"Kok belum tidur Jen? Tumben, biasanya kamu jam segini udah tidur. Apa kamu terbangun? Atau kamu sakit?"
"Ooo... aku ga sadar sekarang udah jam 11.30, aku ga apa-apa kak"
"Ada apa Jen?."
"Ga ada apa-apa hanya lagi ga bisa tidur aja, kebanyakan kopi kali tadi."
"Kamu nih, aku tau kamu. Kalau ga bisa cerita sama aku, cerita sama Belva ok, aku ga mau kamu sakit hanya gara-gara mikirin masalah kamu."
"Aku bener ga apa-apa kok kak."
"Iya kamu ga apa-apa, tidur sana matiin lampu, jangan lihat ponsel lagi, ini sudah malam Jen, besok kamu ada kuliah jam 8 kan."
"Iya kak."
"Selamat tidur Jeny."
Aku menuruti apa kata kak Erick, mematikan lampu dan meletakkan ponsel dimeja samping tempat tidurku. Aku tersenyum sambil menarik selimutku, aku menyukai saat kak Erick menegurku seperti ini, aku seperti memiliki kakak dalam arti sesungguhnya, seseorang yang menjadi keluargaku.
Keesokan harinya aku melihat kak Kairi berdiri di depan pintu perpustakaan.
"Jen, tebakanku benar kamu pasti ke perpustakaan hari ini."
"Aku kembaliin buku dulu kak, tunggu di luar nanti kita bicara."
"Baik Jen", ucapnya sambil tersenyum.
"Ayo kita duduk disitu", tunjukku pada bangku kosong yang tidak jauh dari perpustakaan.
"Maafkan aku Jen".
"Ya sudah cukup kata maafnya kak. Aku memutuskan ga akan menghindari kakak lagi, aku akan berusaha bersikap seperti biasa mari kita berteman. Tapi jangan pernah berharap lebih dari ini kak, karena kakak akan kecewa."
"Terima kasih Jen, sungguh terima kasih."
"Apa kamu sudah makan siang? Mau makan siang bareng di kantin?"
"Aku janji makan siang sama Belva."
"Ooo... ok baiklah, sampai ketemu lagi Jen.", ucapnya sambil tersenyum.
"Ya kak."
Untuk saat ini, biarlah waktu yang menjawab, kesungguhan kak Kairi, dan juga perasaanku yang sebenarnya. Di satu sisi, setengah dari hatiku ingin kak Kairi memperlihatkan kesungguhan hatinya, tapi di sisi lain aku juga mulai memperhatikan kak Erick, mulai menunggu layar ponselku yang menyala dan bertuliskan namanya, entah ini karena pelarian atau alasan lainnya. Aku harap aku bisa menemukan jawabannya segera, karena aku tidak ingin menyakiti siapapun dengan sikapku yang plin-plan ini.