"Apakah kamu kira tempurung pantas merangkai permata? Mana mungkin anakku pantas bersanding dengan gadis miskin tak berpunya seperti dirimu!"
Runi ternhenyak menahan segala rasa akit di hatinya atas hinaan yang di lontarkan oleh nenek dari bayi yang di kandungnya.
"Mas, kamu akan bertanggung jawab 'kan?" tanya runi pada lelaki yang telah menodai dirinya. meskipun ia sangat mencintai lelaki itu, tetapi tak pernah ada niat sedikitpun untuk melakukan perbuatan dosa. semua yang terjadi karena paksaan oleh lelaki itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keberanian Runi
Yandra segera menurunkan kaca mobilnya. Terlihat Runi menatap tajam pada Gracia. Ia berjalan mengitari mobil, lalu membuka pintu mobil bagian Gracia.
"Keluar kamu, pelakor!" Runi menarik tangan Gracia untuk keluar dari mobil suaminya.
"Runi, kamu apa-apaan sih! Aku nggak mau!" Garcia bertahan di tempat duduknya.
"Baik, kamu tidak mau keluar kan. Kalau begitu aku akan mempermalukan kamu. Aku akan meneriaki kamu sebagai pelakor!"
"Eh, nggak usah kurang aja kamu ya, Runi!" Gracia seketika keluar untuk meredam amarah Runi.
"Bagus kalau kamu sadar diri. Aku peringatkan sama kamu ya, jangan pernah mengganggu suamiku lagi. Jika kamu masih berani, maka aku tidak akan segan-segan untuk memviralkan agar kamu terkenal sebagai pelakor sejati, baik di dunia medsos maupun dunia nyata!" Tegas Runi.
Runi segera masuk ke mobil dan menduduki kursi yang ada di samping kemudi. Yandra yang sedari tadi hanya diam saja tanpa minat untuk melerai. Sebenarnya ada sedikit lega, agar Gracia tidak terlalu berani. Jujur, saat ini ia tidak tahu dengan perasaannya yang sebenarnya.
"Kenapa masih belum jalan, Mas? Kamu masih ingin kasih tumpangan dengan selingkuhan kamu itu?" Ujar Runi menatap kesal.
"Jangan sembarangan bicara kamu ya. Aku dan Gracia tidak ada hubungan apapun," jawab Yandra menatap malas.
"Ya tidak ada hubungan apapun, tetapi teman kencan, teman makan, dan mungkin juga teman tidur."
"Cukup ya, Runi! Kamu jangan bikin aku kesal ya."
"Yasudah, kalau begitu jalan dong!"
"Ck, makin berani sekarang kamu sama aku ya." Yandra segera menjalankan kendaraannya meninggalkan RS tersebut.
"Mas Yandra! Mas!" Panggil Gracia mengejar mobil Yandra yang sudah meninggalkan parkiran.
"Dasar Runi brengsekk! Aku akan balas kamu, Runi!" Pekik Gracia kesal sekali.
Tak ada percakapan diantara mereka. Runi berusaha untuk tetap tenang dan tak ingin bertengkar. Selagi dirinya masih menjadi istri sah Yandra, maka ia tidak akan membiarkan Gracia mengganggu rumah tangganya.
"Mas, aku pengen nasi padang," ucap Runi saat mobil Yandra melewati restoran Padang.
Dengan malas Yandra menghentikan kendaraannya. Namun, Runi enggan beranjak untuk turun.
"Udah sana beli!" Titah Yandra menatap wanita hamil itu.
"Aku nggak mau turun. Lemes banget, karena dari tadi belum makan apapun. Mas yang beliin," jawabnya manja.
"Nggak usah alasan kamu ya. Tadi aja nyeret Gracia kuat banget. Apaan lemes kek gitu," balas Yandra menatap malas.
"Ya bedalah kalau lagi emosi. Jangankan nyeret, nelan orang juga bisa."
Yandra menggelengkan kepala. "Jadi beli nggak ini? Aku ingin segera pulang, udah capek banget aku tahu nggak?"
"Aku mau, tapi mas Yandra yang beliin. Ayolah, anak kita pengen ayahnya yang beliin," ujar Runi tersenyum merayu.
"Ck, nggak usah bawa-bawa anak. Aku tidak akan mengakui sebelum hasil tes DNA sudah nyata."
Kata-kata Yandra membuat batin Runi kembali sakit. Entah kenapa ia selalu sedih jika Yandra meragukan janin yang ada di rahimnya.
"Yasudah, kalau begitu lanjut pulang saja," ucap Runi mendadak selera makannya sirna.
Yandra terdiam sejenak. "Apa sih, nggak jelas banget jadi orang." Lelaki itu segera keluar dari mobilnya untuk membelikan keinginan Runi.
Runi menghela nafas dalam. Apakah memang sudah begini jalannya? Karena Yandra tidak menginginkan janin yang ada di kandungannya, mungkin lebih baik ia memilih sembuh, dan menyingkirkan bayinya.
"Astaghfirullah, ya Allah ampuni aku. Bagaimana mungkin aku tega melakukannya. Maafkan ibu ya, Nak. Ibu tidak akan berniat untuk melenyapkan kamu. Nggak pa-pa biar ibu saja yang mengalah. Ayah bukan tidak menyukai kamu, dia hanya ragu saja. Nanti setelah kamu cukup bulan, kita akan melakukan tes DNA. Ibu yakin ayah pasti akan menyayangi kamu setelah dia tahu bahwa kamu adalah anak biologisnya," ucap wanita itu membawa sang janin bicara. Tak terasa air matanya jatuh berderai.
Tak berselang lama Yandra sudah kembali dengan tentengan nasi padang di tangannya.
"Nih, di makan. Jangan bisanya cuma minta aja," ucap lelaki itu dengan nada sedikit kesal sembari menyerahkan nasi padang tersebut.
"Kalau nggak ikhlas aku nggak mau makan," jawab Runi memasang wajah cemberut.
Yandra yang hendak menekan pedal gas, kembali urung dan menoleh pada sang istri.
"Kamu bisa nggak sih buat aku tenang sedikit saja? Serba susah sama kamu ya. Mana yang katanya nggak ngerepotin?"
"Ah, aku minta maaf," ucap Runi dengan netra berkaca-kaca. "Tapi aku tetap aduin ke papa, karena mas ketemuan sama Gracia diam-diam di belakang aku."
"Ya Allah, aku nggak ketemuan sama Gracia. Dia yang datang nyamperin aku ke sana. Aku juga tidak tahu karena dia tiba-tiba udah nongol aja," ujar lelaki itu pusing sendiri.
"Lalu, kenapa mas anterin dia pulang? Mas juga senang di samperin sama Gracia 'kan?"
"Udah ya, Run. Aku capek, aku nggak ingin berdebat sama kamu. Sana aduin saja sesuka hatimu. Dasar pengadu!" Yandra segera melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang.
Sesampainya di rumah, pasangan itu sudah di sambut oleh Nyonya Emeli. Tatapannya sinis pada Runi. Bisa-bisanya mereka pulang bersama, dan Yandra hanya diam saja melihat Runi bersikap kasar pada Gracia.
"Hebat kamu ya. Sekarang udah makin berani di depan umum untuk menunjukkan bahwa kamu itu adalah istri dari Yandra Sagara. Dan bahkan kamu berani sekali memaki Gracia di depan orang ramai," ujar wanita itu mencerca Runi.
Runi hanya berwajah datar saat menerima ultimatum dari ibu mertuanya. Yakin sekali pelakor itu sudah mengadu.
"Aku rasa tidak ada yang salah dengan tindakan aku. Karena tidak ada wanita yang mau suaminya di ganggu sama pelakor. Seandainya Papa Saga di ganggu sama pelakor lagi, apakah mama akan diam saja? Ya meskipun mama dulunya juga mantan pelakor ya. Upss! aku salah bicara. Hihi... Maaf ya Mama." Runi seketika melenggang masuk.
"Runi kamu!" Nyonya Emeli merentakkan kakinya sangat kesal.
"Kamu kenapa diam saja, Yandra? Kamu diam istrimu bicara kurang ajar sama mama kamu sendiri?" Imbuh wanita itu tak kalah kesalnya, karena sedari tadi Yandra tak bicara sedikitpun untuk membela dirinya.
Yandra mengedikkan kedua bahunya. "Ya aku mau belain mama kayak mana? Karena apa yang di katakan Runi memang benar."
"Yandra!" Wanita itu menatap geram.
"Ah, aku mau ke kamar dulu, Ma. Soalnya udah gerah banget, aku pengen mandi dan istirahat." Yandra juga ngacir masuk kedalam.
Bersambung....