NovelToon NovelToon
Cinta Tak Butuh Tes IQ

Cinta Tak Butuh Tes IQ

Status: tamat
Genre:Teen School/College / Persahabatan / Romantis / Murid Genius / Cintapertama / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:59
Nilai: 5
Nama Author: Rita Sri Rosita

Aira Wibisono, Baru Kehilangan Seluruh Keluarganya, Kisah tragisnya di mulai saat Kakaknya Arya meninggal karena kecelakaan, Ayahnya sangat terpukul dengan kepergian Arya, Arya merupaka ke banggan keluarga, Arya baik, pintar, dan tampan, Arya kuliah di FK UGM Orang tua Aira menaruh harapan yang besar kepada Arya, Cinta mereka sangat besar kepada Arya, Semenjak kepergian Arya Ayahnya Aira jadi sakit sakitan dan tak lama Ayah Aira meniggal, Setelah itu Ibu Aira mulai defresi dan meninggal satu tahun kemudian. Akhirnya Aira memutuskan tinggal di rumah Tante Mala sahabat ibunya, Tante Mala mempunyai anak Laki-laki bernama Damar, dia populer di sekolah, pintar, tampan mirip dengan kakaknya Aira di sana lah kisah Aira di mulai...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ratu Akselerasi dan Semangkuk Bakso

Kantin sekolah sedang ramai.

Jam istirahat selalu jadi waktu paling berisi sendok beradu, tawa keras, dan aroma makanan bercampur jadi satu.

Aira berdiri sambil membawa semangkuk bakso.

“Pelan-pelan,” kata Naya dari belakang. “Kuahnya penuh banget itu.”

“Iya, panas lagi ... ”

BRUK.

Seseorang menabraknya dari depan. Aira terhuyung, Kuah bakso terlempar.

Dan ...

PLASH.

Hening.

Kuah cokelat itu mendarat sempurna di seragam putih seorang siswi.

Rambut panjang terawat. Wajah cantik. Kulit mulus. Sepatu mengilap.

Anak kelas akselerasi anak orang kaya.

Paling cantik.

Paling pintar.

Paling populer.

Aira membeku, mangkoknya jatuh ke lantai dan menggelinding pelan.

“Ya Tuhan…” gumam Aira panik. “A-aku—”

“APA INI?!”

Suara Anne melengking seperti alarm kebakaran.

Ia menatap seragamnya sendiri, lalu menatap Aira dengan mata membelalak.

“KAMU GILA YA?!”

Semua mata langsung tertuju pada mereka.

Aira buru-buru membungkuk.

“Ma-maaf! Aku nggak sengaja,”

“Nggak sengaja?” potong Anne tajam. “Kamu pikir aku bodoh?!”

“Aku beneran nggak sengaja,”

Anne mundur selangkah, tangannya gemetar dramatis.

“Seragamnya kotor!” teriaknya.

Aira panik setengah mati.

“Aku… Laundry bajunya ya...”

Anne tertawa kecil. Pahit. “Laundry!”

Anne menatap Aira dari ujung kepala sampai kaki.

“Trus aku pake apa?”

Beberapa siswa mulai berbisik.

“Anak kelas E ya?”

“Yang anak baru itu?”

“Berani banget…”

Anne mengangkat dagunya tinggi-tinggi.

“Kamu sengaja yaa?” katanya tiba-tiba.

“Hah?” Aira terkejut.

“Iya,” lanjut Anne dengan suara bergetar, terlalu dibuat-buat.

“Emang salah ya kalau aku pintar, kenapa sih banyak yang jahat sama aku,”

“Aku cuma mau makan bakso,” kata Anne sambil menunjuk dirinya sendiri.

“Kenapa kamu harus nyerang aku?” kata Anne lagi

“Nyerang?” Aira hampir tersedak.

“kamu cuman ketabrak,” Kata Naya mulai gemes.

"Sumpah Aku nggak sengaja," Aira mencoba menjelaskan.

"Kamu kok jahat sich" Anne Mulai Dramatis.

"Aku salah apa?" Mulai Lebay

Anne mengusap matanya pura-pura menangis.

“Lihat kan?” katanya ke sekitar.

“Aku nggak salah apa-apa"

"Tapi dia jahat sama aku.

Beberapa cowok langsung bereaksi.

“Woi, keterlaluan lo!”

“Kalau iri jangan gitu caranya!"

“Dasar cari perhatian!”

Aira menoleh ke kanan-kiri. Suaranya tenggelam.

“Aku minta maaf…” katanya lirih.

Naya maju satu langkah. “Eh, Anne. Ini kecelakaan,”

Anne menoleh tajam. “Kamu temannya ya? Sama aja!”

Naya terdiam.

Aira menggenggam ujung roknya. Dadanya sesak. Semua mata menuduhnya.

Dan saat seseorang memanggil nama Anne.

“Anne?”

Suara itu terdengar tenang, dingin, familiar.

Aira menoleh.

Damar berdiri di ujung kantin.Wajahnya datar seperti biasa.

Anne langsung berubah.

“Kak Damar…”

Suaranya mendadak lembut.

“Kakak lihat kan seragam aku?”

Anne berjalan mendekat ke Damar, berdiri terlalu dekat.

“Ada anak kelas E yang jahat sama aku,” katanya sambil menunjuk Aira.

“Dia sengaja nabrak aku.”

Beberapa orang langsung menoleh ke Damar, menunggu reaksinya.

Aira menatap Damar, untuk sepersekian detik dia berharap.

Sedikit saja…

Damar menoleh ke arah Aira tatapannya dingin Menilai.

“Kamu ceroboh,” katanya satu kalimat.

Lalu ... “Dan bodoh.”

Suara itu tidak keras, tidak marah tapi cukup untuk menusuk.

Aira menelan ludah.

“Iya,” kata Aira pelan. “Maaf.”

Anne tersenyum puas.

“Tuh kan,” katanya manja.

"Kak Damar juga bilang begitu.”

Damar tidak menimpali. Ia hanya melirik noda di seragam Anne.

“Pergi ke UKS,” katanya.

“Atau pulang ganti.” Nada datar, tidak peduli.

Anne mengangguk cepat. “Iya… makasih ya, kak Damar.”

Anne melirik Aira sekali lagi sebelum pergi.

Tatapan menang, kantin kembali ramai, Aira berdiri sendiri,Bakso di lantai.

Harga diri ikut tumpah, Naya mendekat pelan.

“Ra…”

Aira tersenyum kecil. “Nggak apa-apa.”

Damar melewati Aira.

Tanpa menoleh.

Tanpa sepatah kata.

Aira menatap punggungnya dingin.

Seperti hari pertama mereka bertemu.

Tapi kali ini… dinginnya terasa lebih menyakitkan.

Aira memungut mangkok kosongnya, dalam hati, ia berbisik:

Aku memang ceroboh.

Mungkin juga bodoh.

Bahkan dia tak berbicara padanya sama sekali.

Tapi…

kenapa kata-katamu tetap yang paling menyakitkan, Damar?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!