NovelToon NovelToon
Jejak Malam Di Kamar Nomor 101

Jejak Malam Di Kamar Nomor 101

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Beda Usia / Nikahmuda / Teen School/College / Menjadi bayi / Hamil di luar nikah
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mr. Awph

Satu malam di kamar nomor 101 menghancurkan seluruh masa depan Anindira. Dijebak oleh saudara tiri dan terbangun di pelukan pria asing yang wajahnya tak sempat ia lihat, Anindira harus menelan pahitnya pengusiran dari keluarga.
​Lima tahun kemudian, ia kembali sebagai asisten pribadi di Adiguna Grup. Namun, bosnya adalah Baskara Adiguna, pria berhati es yang memiliki sepasang mata persis seperti putra kecilnya.
​Ketika rahasia malam itu mulai terkuak, Anindira menyadari bahwa ia bukan sekadar korban satu malam. Ia adalah bagian dari rencana besar yang melibatkan nyawa dan harta. Baskara tidak akan melepaskannya, bukan karena cinta, melainkan karena benih yang tumbuh di rahim Anindira adalah pewaris tunggal yang selama ini dicari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Insting seorang ayah?

Insting seorang ayah nampaknya akan segera diuji saat surat itu menyatakan bahwa ada laporan mengenai penculikan anak yang melibatkan asisten pribadi Devan. Sarah berdiri tegak dengan senyum kemenangan yang sangat lebar sambil mengayunkan lembaran kertas tersebut di depan wajah Anindira. Udara di lobi kantor pusat yang biasanya hangat mendadak terasa membeku seiring dengan langkah kaki beberapa petugas berseragam yang mulai mendekat.

Anindira merasakan seluruh aliran darahnya berhenti mengalir saat nama putranya disebut dalam konteks yang sangat mengerikan. Ia mencengkeram lengan jas Devan dengan sangat kuat hingga kain mahal itu nampak sangat kusut di bawah genggamannya yang gemetar. Matanya menatap tajam ke arah Sarah, mencoba mencari sisa-sisa kemanusiaan di balik wajah yang penuh dengan dengki tersebut.

"Apa maksud dari semua kegilaan ini, Sarah? Jangan mencoba bermain api di dalam wilayah kekuasaan saya!" gertak Devan dengan suara yang sangat menggelegar.

"Aku tidak sedang bermain, Devan, aku hanya menjalankan kewajibanku sebagai warga negara untuk melaporkan dugaan penculikan anak yang dilakukan oleh asistenmu ini," jawab Sarah dengan nada yang sangat angkuh.

Petugas kepolisian meminta Anindira untuk memberikan keterangan mengenai asal usul anak laki-laki yang tinggal bersamanya di apartemen rahasia itu. Anindira mencoba membuka mulutnya namun suaranya seolah tertahan di tenggorokan karena rasa takut yang luar biasa hebat. Ia tahu bahwa jika identitas Arkan terungkap sekarang, maka seluruh rencana untuk menjatuhkan keluarga Adiguna akan hancur berantakan dalam sekejap.

Di tengah kepanikan itu, Devan melangkah maju dan berdiri tepat di antara Anindira dan para petugas dengan sikap yang sangat dominan. Ia mengeluarkan sebuah berkas dari dalam tas kerjanya yang berisi dokumen resmi mengenai status asuh anak yang sudah ia persiapkan sebelumnya. Anindira terbelalak karena ia tidak pernah menyangka bahwa Devan akan bertindak sejauh ini untuk melindunginya secara hukum.

"Anak itu berada di bawah perlindungan hukum saya dan asisten saya hanya menjalankan perintah resmi dari saya pribadi," tegas Devan sambil menunjukkan materai yang sah.

"Bagaimana mungkin kamu mengasuh anak dari seorang wanita yang bahkan tidak memiliki latar belakang yang jelas?" tanya Sarah dengan nada bicara yang mulai meninggi.

Petugas kepolisian nampak ragu saat melihat nama besar Devan Adiguna tercantum sebagai penjamin penuh atas keberadaan Arkan di kota ini. Mereka mulai memeriksa kembali laporan yang diberikan oleh Sarah dan menyadari adanya ketidaksesuaian data yang sangat mencolok. Sarah mengepalkan tangannya karena rencana yang ia susun dengan sangat rapi nampaknya mulai goyah akibat campur tangan Devan yang sangat mendadak.

Devan memberikan isyarat kepada tim pengacaranya yang sudah berdiri siaga di sudut lobi untuk segera mengambil alih pembicaraan dengan pihak berwenang. Anindira merasa sedikit lega namun ia masih bertanya-tanya mengapa Devan nampak memiliki keterikatan batin yang sangat kuat dengan Arkan. Ia melihat bagaimana Devan selalu tampak emosional setiap kali ada bahaya yang mengancam keselamatan putra kecilnya tersebut.

"Mari kita selesaikan urusan ini di ruangan saya, dan Sarah, Anda akan segera menerima tuntutan balik atas pencemaran nama baik," ancam Devan dengan tatapan yang sangat mematikan.

"Kita lihat saja siapa yang akan tertawa paling akhir dalam permainan panjang ini, Devan!" seru Sarah sambil berbalik pergi dengan langkah yang sangat kasar.

Setelah keributan di lobi mereda, Devan mengajak Anindira naik menuju lantai eksekutif menggunakan lift khusus pimpinan yang sangat aman. Di dalam lift yang bergerak perlahan, Anindira hanya bisa terdiam sambil menatap bayangan dirinya di dinding besi yang sangat mengkilap. Ia merasa berhutang budi sangat besar pada pria di sampingnya ini, namun ia juga mulai merasa takut akan motif yang sebenarnya di balik kebaikan tersebut.

Anindira memberanikan diri untuk bertanya mengapa Devan bersedia mempertaruhkan reputasinya demi membela seorang asisten yang baru saja bergabung. Devan terdiam sejenak sambil menatap angka lantai yang terus berganti di atas panel pintu lift yang sangat modern. Ia menghela napas panjang dan memberikan jawaban yang sama sekali tidak pernah terlintas di dalam benak Anindira selama ini.

"Karena setiap kali saya melihat anak itu, saya merasa seolah sedang melihat bayangan diri saya sendiri di masa lalu," bisik Devan dengan suara yang sangat lirih.

"Apakah itu hanya sekadar rasa iba, atau ada alasan lain yang belum Anda ceritakan kepada saya, Tuan?" tanya Anindira dengan penuh rasa ingin tahu yang sangat besar.

Pintu lift terbuka sebelum Devan sempat menjawab pertanyaan tersebut, dan mereka langsung disambut oleh sekretaris utama yang membawa kabar mendesak. Hendra Adiguna ternyata sudah berada di dalam ruangan kerja Devan dan nampak sedang menggeledah beberapa laci meja secara tidak sopan. Anindira merasakan firasat buruk kembali menyelimuti hatinya saat melihat tumpukan kertas yang kini berserakan di atas lantai karpet yang sangat mahal.

Hendra berdiri tegak dengan memegang sebuah foto kecil yang jatuh dari celah meja kerja Devan yang tersembunyi. Foto itu adalah potret masa kecil Anindira yang dulu pernah ia berikan kepada Devan sebelum malam terkutuk di kamar nomor seratus satu terjadi. Wajah Hendra nampak sangat pucat seolah-olah ia baru saja melihat hantu dari masa lalu yang sangat ia takuti kehadirannya.

"Dari mana kamu mendapatkan foto ini, Devan? Mengapa wajah wanita jalang ini ada di dalam ruangan kerjamu?" tanya Hendra dengan suara yang sangat bergetar karena amarah.

"Itu bukan urusan Anda, Paman, sekarang silakan tinggalkan ruangan saya sebelum saya memanggil pihak keamanan untuk menyeret Anda keluar," balas Devan dengan nada yang sangat dingin.

Hendra melemparkan foto itu ke wajah Devan dan berjalan keluar melewati Anindira dengan memberikan sebuah tatapan yang sangat penuh dengan ancaman pembunuhan. Anindira harus berjuang keras agar tidak jatuh pingsan di tempat itu karena tekanan mental yang ia terima sudah berada di ambang batas. Ia segera memungut foto masa kecilnya tersebut dan menyadari bahwa rahasia besarnya kini sedang berada di ujung tanduk yang sangat tajam.

Malam harinya, Anindira kembali ke apartemen dan menemukan Arkan sedang duduk di ruang tamu sambil menggambar sebuah gedung besar yang nampak sangat megah. Ia melihat Arkan menggambar sosok pria tinggi di samping sosok ibu yang nampaknya merepresentasikan keberadaan Devan di hidup mereka sekarang. Air mata Anindira jatuh saat menyadari bahwa anaknya mulai menganggap Devan sebagai sosok pelindung yang sangat ia dambakan.

Anindira masuk ke dalam kamar dan mulai membuka brankas kecil tempat ia menyimpan dokumen-dokumen asli mengenai identitas aslinya sebagai putri keluarga Adiguna. Ia tahu bahwa ia tidak bisa terus bersembunyi di balik nama palsu jika ingin mendapatkan kembali haknya yang sudah dirampas secara paksa. Rahasia di balik meja kerja ini hanyalah awal dari pengungkapan besar yang akan mengguncang pondasi seluruh kekuasaan paman dan ayahnya.

1
Healer
aduiiii Dira....jgn lagi kamu kerangkap ya...💪💪💪
Healer
antara karya yg menarik...susun kata yg teratur kesalahan ejaan yg sgt minimalis...✌️✌️👍👍!!terbaik thor👍👍👏
Healer
salah satu karya yg menarik dari segi tatabahasa....dari bab awal hingga bab yg ini kesalahan ejaan blm ada lagi.... teruskan thor
Healer
Dira kamu harus kuat dan jgn jadi wanita lemah....lawan si Sarah itu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!