Aura Mahendra mengira kejutan kehamilannya akan menjadi kado terindah bagi suaminya, Adrian.
Namun, malam ulang tahun pernikahan mereka justru menjadi neraka saat ia memergoki Adrian berselingkuh dengan adik tirinya, Sisca.
Tidak hanya dikhianati, Aura dibuang dan diburu hingga mobilnya terjun ke jurang dalam upaya pembunuhan berencana yang keji.
Takdir berkata lain. Aura diselamatkan oleh Arlan Syailendra, pria paling berkuasa di Kota A yang memiliki rahasia masa lalu bersamanya.
Lima tahun dalam persembunyian, Aura bertransformasi total. Ia meninggalkan identitas lamanya yang lemah dan lahir kembali sebagai Dr. Alana, jenius medis legendaris dan pemimpin organisasi misterius The Sovereign.
Kini, ia kembali ke Kota A tidak sendirian, melainkan bersama sepasang anak kembar jenius, Lukas dan Luna. Kehadirannya sebagai Dr. Alana mengguncang jagat bisnis dan medis. Di balik gaun merah yang anggun dan tatapan sedingin es, Alana mulai mempreteli satu per satu kekuasaan Adrian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasetiyoandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: BAYANGAN YANG TERSISA
Kehidupan di Kota A tampak telah kembali normal bagi mata awam.
Media massa dipenuhi oleh berita tentang restorasi besar-besaran Syailendra Group dan peluncuran Teratai Medika, sebuah inisiatif filantropi yang menjanjikan revolusi medis bagi rakyat jelata.
Namun, bagi Alana, kedamaian adalah sebuah selimut tipis yang menyembunyikan bara api yang masih menyala di bawah permukaan.
Di balik dinding kaca kantor pusat yang megah, aroma pengkhianatan belum sepenuhnya hilang; ia hanya tersamar oleh bau parfum mahal dan pembersih lantai yang tajam.
Pukul dua dini hari, Alana masih berada di ruang kerjanya.
Cahaya kota di luar jendela tampak seperti hamparan berlian yang berserakan, namun perhatiannya tertuju sepenuhnya pada layar holografik yang memproyeksikan diagram aliran data siber.
Sejak kepulangannya, Alana tidak pernah benar-benar mematikan insting waspadanya.
DNA Teratai di dalam darahnya memberikan sensitivitas yang tidak biasa terhadap ketidakteraturan, termasuk ketidakteraturan dalam lalu lintas data perusahaannya sendiri.
"Mummy, kau seharusnya tidur," suara Lukas memecah keheningan. Bocah jenius itu muncul dari balik pintu geser dengan wajah mengantuk, memegang botol susu di satu tangan dan tablet di tangan lainnya.
Alana tersenyum tipis, matanya tidak beralih dari layar. "Tidur adalah kemewahan yang belum bisa Mummy beli, Lukas. Ada sesuatu yang 'berisik' di dalam server kita. Sesuatu yang berdenyut setiap tiga jam sekali."
Lukas seketika terjaga sepenuhnya. Ia mendekat dan meletakkan tabletnya di atas meja Alana.
"Denyut terenkripsi? Aku sudah memasang filter firewall berlapis. Jika ada data yang keluar, sistem seharusnya memberi peringatan."
"Itu masalahnya, Lukas. Data ini tidak keluar melalui gerbang utama. Ia menggunakan protokol komunikasi satelit frekuensi rendah yang biasanya digunakan untuk sistem logistik kontainer di pelabuhan," Alana menunjuk pada sebuah titik merah kecil yang berkedip di peta digital.
"Sinyal ini berasal dari dalam gedung ini. Tepatnya, dari lantai lima puluh lima."
Lukas mengecek data kepemilikan ruangan di lantai tersebut. "Lantai lima puluh lima... itu adalah kantor Direktur Operasional Global. Ruangan milik Tuan Hendrawan."
Alana menyandarkan tubuhnya ke kursi kerja. Hendrawan adalah salah satu anggota dewan direksi tertua di Syailendra Group.
Ia adalah orang kepercayaan mendiang kakek Alana dan salah satu orang yang paling vokal mendukung kepulangan Arlan.
Bagi dunia, Hendrawan adalah pilar kesetiaan. Namun, dalam dunia konspirasi, kesetiaan sering kali hanyalah harga yang belum dibayar.
"Pantau sinyalnya, Lukas. Jangan blokir," perintah Alana. "Aku ingin tahu siapa yang ada di ujung kabel itu."
Lukas mengetik dengan cepat. "Sinyalnya terlompat melalui tujuh server proxy di Eropa, lalu menghilang di dasar laut sebelum muncul kembali di... Hutan Amazon, Brazil. Koordinatnya menunjukkan sebuah wilayah yang secara resmi dinyatakan sebagai cagar alam terlarang."
Alana merasakan desiran dingin di punggungnya. "Faksi Amerika Selatan. Meera pernah menyebutkan bahwa Ouroboros memiliki unit agrikultur dan bioteknologi terbesar di sana.
Jika Hendrawan masih berkomunikasi dengan mereka, artinya pembersihan kita di Skotlandia belum menyentuh akar terdalam organisasi ini."
Keesokan paginya, suasana rapat dewan direksi berlangsung tegang namun tenang.
Arlan duduk di kepala meja, memimpin diskusi tentang ekspansi rumah sakit ke wilayah Asia Tenggara.
Alana duduk di sampingnya, mengamati setiap gerak-gerik anggota direksi melalui lensa kontak khusus yang bisa mendeteksi fluktuasi suhu tubuh dan detak jantung mereka.
Hendrawan, seorang pria berusia enam puluhan dengan rambut abu-abu yang disisir rapi dan kacamata berbingkai emas, tampak sangat tenang.
Ia berbicara dengan nada kebapakan, memuji visi Alana tentang pengobatan murah.
"Dr. Alana, apa yang Anda lakukan adalah sebuah berkah bagi kemanusiaan," kata Hendrawan sambil tersenyum hangat.
"Syailendra Group beruntung memiliki Anda kembali."
Alana membalas senyumannya, namun sensor di matanya menangkap sesuatu: detak jantung Hendrawan stabil, terlalu stabil untuk orang seusianya di bawah tekanan rapat.
Hanya ada dua kemungkinan: dia adalah orang yang sangat jujur, atau dia telah menggunakan versi stabilisator emosi berbasis kimia.
"Terima kasih, Tuan Hendrawan," sahut Alana. "Berbicara tentang keberuntungan, aku mendengar Anda baru saja menyetujui kontrak pengiriman alat medis ke Brasil. Bukankah itu wilayah yang sedang tidak stabil?"
Tangan Hendrawan yang memegang pena berhenti sesaat. Gerakan itu sangat kecil, hampir tidak terlihat, namun di mata Alana, itu adalah sebuah konfirmasi.
"Hanya pengiriman bantuan kemanusiaan rutin, Dokter. Kita tidak bisa mengabaikan mereka yang membutuhkan hanya karena politik," jawab Hendrawan tenang.
Arlan melirik Alana, menangkap kode rahasia dari tatapan istrinya. Arlan menutup map laporannya.
"Rapat selesai. Tuan Hendrawan, harap tinggal sebentar. Ada hal pribadi yang ingin saya diskusikan."
Setelah ruangan kosong, Arlan mengunci pintu secara elektronik. Alana berdiri dan berjalan perlahan mengitari Hendrawan, seperti seekor predator yang sedang menilai mangsanya.
"Tuan Hendrawan, berapa lama Anda sudah bekerja untuk Ouroboros?" tanya Alana tanpa basa-basi.
Hendrawan tertawa kecil, suara yang terdengar sangat tulus. "Dokter, saya rasa kelelahan setelah kejadian di Skotlandia membuat Anda berhalusinasi. Saya adalah kawan kakek Anda."
"Kakek saya tidak pernah berkomunikasi dengan laboratorium rahasia di Amazon melalui satelit logistik," Alana meletakkan tabletnya di depan Hendrawan, menampilkan rekaman transmisi data yang tertangkap semalam.
"Data ini berisi formula terbaru dari Teratai Medika. Anda mengirimkan properti intelektual kami ke faksi musuh."
Wajah Hendrawan berubah. Keramahan kebapakannya luruh, digantikan oleh ekspresi dingin yang penuh penghinaan.
Ia menyandarkan tubuhnya dan melepaskan kacamatanya.
"Alfred adalah seorang visioner yang terlalu terburu-buru," kata Hendrawan, suaranya kini terdengar berat dan dalam.
"Dia ingin menjadi dewa di siang hari. Tapi Ouroboros yang sesungguhnya tumbuh di kegelapan, di bawah kanopi hutan yang tidak terjangkau oleh jet tempur atau hukum internasional.
Kalian pikir dengan membunuh Alfred, kalian memutus rantainya? Kalian hanya membuang kulit luarnya."
Arlan mencengkeram kerah baju Hendrawan. "Siapa yang memimpin di Amazon? Siapa 'Kepala' yang baru?"
Hendrawan tersenyum menyeringai, memperlihatkan gigi yang tampak terlalu putih.
"Kalian tidak akan pernah tahu. Karena saat ini juga, tim pembersih mereka sudah berada di kediaman kalian untuk menjemput anak-anak."
Jantung Alana seolah berhenti berdetak. Ia tidak menunggu Arlan. Ia berlari keluar ruangan, menghantam pintu dengan kekuatan DNA Teratai hingga engselnya jebol.
"Lukas! Luna!" teriak Alana ke dalam komunikatornya.
Di kediaman utama Syailendra, suasana yang tadinya damai berubah menjadi mimpi buruk.
Pasukan taktis dengan pakaian kamuflase hutan telah melumpuhkan penjaga luar tanpa suara.
Lukas, yang sedang berada di ruang bermain bersama Luna, melihat pergerakan melalui kamera pengawas rahasianya.
"Luna, masuk ke dalam lemari besi! Sekarang!" perintah Lukas.
Lukas tidak lagi sekadar bocah jenius; ia adalah putra dari dua legenda. Ia menarik sebuah tuas di bawah mejanya, mengaktifkan sistem pertahanan otonom yang ia rancang sendiri—sebuah robot mikro yang menyemprotkan gas pelumpuh di lorong depan.
Namun, para penyerang ini berbeda. Mereka mengenakan masker filtrasi militer dan bergerak dengan koordinasi yang jauh lebih baik daripada anak buah Adrian.
Salah satu dari mereka meledakkan pintu ruang bermain dengan muatan peledak kecil.
BOOM!
Lukas terlempar ke belakang, kepalanya menghantam kaki meja. Saat ia mencoba bangkit, seorang pria bertubuh raksasa dengan tato ular yang melilit di lehernya berdiri di hadapannya. Pria itu mengangkat senjata biusnya.
"Spesimen kecil yang berharga," geram pria itu.
Tiba-tiba, kaca jendela setinggi plafon pecah berkeping-keping. Alana mendarat di tengah ruangan seperti malaikat maut yang turun dari langit.
Ia tidak menggunakan tangga; ia melompat dari helikopter yang masih melayang rendah di atas rumah.
Dalam satu gerakan yang sangat cepat, Alana menendang senjata pria itu hingga hancur dan menghujamkan telapak tangannya ke dada lawan.
Gelombang energi kinetik dari DNA Teratai meledak, melempar pria raksasa itu menembus dinding kayu.
"Jangan sentuh anakku!" suara Alana menggelegar, matanya berpendar perak dengan intensitas yang menakutkan.
Arlan muncul beberapa detik kemudian, memimpin tim keamanan elit Syailendra untuk menyapu sisa-sisa penyusup.
Dalam sepuluh menit, kediaman itu kembali aman, meskipun kerusakannya cukup parah.
Alana memeluk Lukas dan Luna dengan tangan gemetar. Rasa takut kehilangan mereka adalah satu-satunya hal yang masih bisa menggoncang jiwanya yang kini hampir tidak manusiawi.
"Aku baik-baik saja, Mummy," bisik Lukas, meski dahinya berdarah. "Aku berhasil menanamkan pelacak di salah satu dari mereka sebelum kau menghantamnya."
Malam itu, Hendrawan ditemukan tewas di ruang interogasi kantor pusat. Bukan karena disiksa, melainkan karena kapsul sianida yang tertanam di giginya meledak secara otomatis melalui sinyal jarak jauh. Ouroboros tidak membiarkan adanya saksi hidup yang bisa bicara.
Alana berdiri di balkon rumahnya, menatap ke arah selatan, ke arah samudra yang memisahkan mereka dengan benua Amerika Selatan. Arlan berdiri di sampingnya, membalut luka di tangan Alana yang tergores kaca.
"Hendrawan benar," kata Alana lirih. "Alfred hanyalah kulit luar. Inti dari organisasi ini ada di Amazon. Mereka sedang mengembangkan sesuatu yang lebih dari sekadar regenerasi. Mereka sedang melakukan rekayasa ekosistem."
"Kita tidak bisa membiarkan mereka datang lagi ke sini, Alana," Arlan menatap mata istrinya. "Kita sudah merebut kembali Kota A, tapi kita tidak akan pernah aman selama faksi Amazon masih bernapas."
Alana mengepalkan tangannya. "Kita akan berangkat ke Brazil. Bukan sebagai pengungsi, bukan sebagai pengusaha. Kita akan pergi ke sana sebagai pemburu."
Lukas datang menghampiri mereka dengan layar tablet yang menampilkan peta hutan Amazon yang sangat luas.
"Mummy, sinyal pelacak yang kupasang bergerak menuju sebuah titik di kedalaman hutan.
Ada aktivitas panas yang sangat tinggi di sana. Sepertinya mereka memiliki pabrik pengolahan biologis raksasa."
Alana menatap Arlan, sebuah kesepakatan bisu tercapai di antara mereka. Perang melawan Ouroboros belum berakhir.
Jika Skotlandia adalah akhir dari garis lama, maka Amazon adalah awal dari garis baru yang lebih berbahaya.
"Siapkan pesawat kargo jarak jauh," perintah Arlan kepada asistennya melalui telepon. "Kita berangkat besok subuh."
Dunia mungkin mengira Arlan dan Alana sudah tenang di singgasana mereka di Kota A. Namun, bagi keluarga ini, istirahat adalah ilusi.
Bayangan yang tersisa harus dihapus sepenuhnya agar cahaya yang sebenarnya bisa menyinari masa depan anak-anak mereka. Sang Teratai kini bersiap untuk mekar di tengah belantara hijau yang paling mematikan di bumi.