NovelToon NovelToon
Istriku Diambil Papa

Istriku Diambil Papa

Status: sedang berlangsung
Genre:Pihak Ketiga / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Konflik etika
Popularitas:511
Nilai: 5
Nama Author: Rhiy Navya

Agil membawa Laila tinggal di rumah besar Baskoro. Baskoro mulai menunjukkan ketertarikan yang tidak wajar pada Laila, melalui bantuan finansial yang menjerat.

Disaat Agil perlahan menemukan keganjalan, Baskoro bermain trik dengan...
Simak selengkapnya, hanya dalam novel berikut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjamuan Terakhir

​Ruang kerja Baskoro yang luas kini terasa sempit oleh ketegangan yang menyesakkan. Agil masih berdiri mematung dengan pistol yang bergetar di tangannya, larasnya menempel di dahi ayahnya. Di belakangnya, Rina berdiri dengan wajah sedingin pualam, sementara para perwira militer di sekelilingnya tetap siaga dengan tangan di atas sarung senjata mereka.

​"Turunkan senjatamu, Agil," perintah Rina. Suaranya tidak lagi terdengar seperti ibu yang lembut, melainkan seperti seorang komandan yang tidak menerima bantahan.

​"Mama... apa maksud semua ini?" Agil bertanya tanpa menurunkan pistolnya. "Kenapa Mama membawa mereka ke sini? Dan apa yang Mama tahu tentang Proyek Icarus?"

​Rina melangkah maju, sepatu hak tingginya berbunyi klik di atas lantai marmer. "Ayahmu adalah penyakit bagi negara ini, Agil. Tapi kau... kau hampir saja menjadi racunnya. Dokumen yang kau ambil dari Surya Wijaya itu bukan sekadar daftar pejabat korup. Itu adalah protokol kudeta finansial. Jika kau menyebarkannya seperti rencana awalmu, negara ini akan terbakar, dan kau akan menjadi orang yang memegang obornya."

​Baskoro tertawa, suara tawa yang kering dan penuh ejekan. "Lihatlah, Agil. Ibumu yang suci ternyata adalah penjaga gerbang yang lebih kejam dariku. Dia tidak ingin menyelamatkanmu. Dia hanya ingin mengamankan 'Daftar Hitam' itu untuk faksi militernya. Dia butuh daftar itu untuk memastikan transisi kekuasaan berjalan sesuai keinginannya."

​Labirin Pengkhianatan

​Agil merasa kepalanya berdenyut hebat. Ia menatap ibunya, lalu menatap ayahnya. Keduanya adalah monster dengan topeng yang berbeda. Baskoro adalah monster yang jujur dengan kegelapannya, sementara Rina adalah monster yang bersembunyi di balik jubah kebajikan.

​"Di mana Laila?" Agil mengalihkan pembicaraan, suaranya parau.

​"Laila aman selama kau menyerahkan buku catatan Surya kepada Mama," jawab Rina.

​"Bohong!" potong Baskoro. "Orang-orangku yang memegang Laila di pelabuhan, Rina. Jangan coba-coba mengklaim sandera yang bukan milikmu."

​Baskoro menekan dahinya lebih keras ke ujung pistol Agil. "Tembak aku sekarang, Agil! Jika kau menembakku, anak buahku punya perintah untuk meledakkan gudang di pelabuhan itu. Laila akan mati bersama rahasia ini. Tapi jika kau memberikan buku itu padaku, aku berjanji akan melepaskan kalian berdua ke luar negeri. Pilihannya sederhana: hidup dalam pelarian bersamanya, atau mati sebagai pahlawan palsu ibumu."

​Trik di Tengah Kepungan

​Agil memejamkan mata sejenak. Ia teringat wajah Laila yang hancur, wajah istrinya yang disiksa secara mental selama tiga bulan. Ia menyadari bahwa di ruangan ini, ia tidak punya sekutu. Gito mungkin satu-satunya yang setia, tapi Gito pun sekarang sedang terpojok di pelabuhan.

​Namun, Agil bukan lagi pemuda naif yang berangkat ke London tiga bulan lalu. Perjalanan di dalam kontainer kargo dan pertemuan dengan Andy telah mengajarkannya satu hal: dalam permainan para pengkhianat, kartu yang paling berharga adalah kartu yang tidak pernah ada di atas meja.

​"Kalian berdua menginginkan buku itu?" Agil perlahan menurunkan pistolnya. Ia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan buku catatan tua yang kusam itu.

​Mata Baskoro dan Rina sama-sama berkilat serakah.

​"Buku ini..." Agil menyulut korek api Zippo-nya. "Hanya ada satu di dunia. Dan aku sudah merobek halaman-halaman kunci yang berisi nomor rekening Proyek Icarus dan nama-nama jenderal pendukung Mama."

​"Jangan bodoh, Agil!" teriak Rina, kehilangan ketenangannya untuk pertama kali.

​"Aku tidak bodoh, Ma. Aku sudah mengirimkan robekan halaman itu ke alamat email otomatis yang akan mempublikasikannya ke seluruh jaringan Dark Web dalam waktu tiga puluh menit, kecuali aku memasukkan kode pembatalan setiap sepuluh menit dari ponselku," Agil mengangkat ponselnya yang layarnya retak. "Jika aku mati, atau jika ponsel ini hancur, atau jika Laila terluka... rahasia kalian berdua akan menjadi konsumsi publik dunia."

​Baskoro terdiam. Ia menatap anaknya dengan pandangan baru—pandangan penuh rasa hormat yang mengerikan. "Kau benar-benar anakku, Agil. Kau belajar cara menyandera dunia."

​Pelarian di Bawah Langit Merah

​"Sekarang," perintah Agil, "perintahkan orang-orangmu di pelabuhan untuk melepaskan Laila dan Gito. Suruh mereka membawa Laila ke titik koordinat yang aku tentukan. Dan Mama... suruh pasukan Mama mundur dari gerbang."

​"Kau tidak bisa keluar dari sini hidup-hidup tanpa perlindungan militer, Agil!" Rina memperingatkan.

​"Aku lebih baik mati di jalanan daripada hidup di bawah ketiak kalian berdua," balas Agil.

​Baskoro mengangkat tangannya, memberi kode pada asistennya melalui jam tangan pintarnya. "Lepaskan wanita itu. Biarkan dia pergi ke titik koordinat Agil."

​Rina juga memberi isyarat pada para perwiranya untuk menurunkan senjata.

​Agil berjalan mundur perlahan, pistolnya masih siaga, ponselnya digenggam erat di tangan kiri. Ia keluar dari ruang kerja, melewati lorong-lorong mansion yang penuh kenangan masa kecil yang kini terasa busuk. Begitu sampai di halaman depan, ia meloncat ke dalam mobil jip militer yang kuncinya masih tergantung.

​Ia memacu kendaraan itu menembus gerbang, menghancurkan barikade yang belum sempat terbuka penuh.

​Menuju Titik Nadir

​Hujan mulai mereda saat Agil memacu mobilnya menuju kawasan industri terbengkalai di Marunda, titik koordinat yang ia berikan. Pikirannya kalut. Ia tahu Baskoro dan Rina tidak akan membiarkannya pergi begitu saja. Mereka pasti sedang mengirimkan tim pembunuh bayaran yang paling rapi untuk menghabisinya begitu Laila aman.

​Di sebuah gudang tua yang berkarat, Agil melihat sebuah mobil hitam terparkir. Pintu terbuka, dan sesosok wanita yang sangat ia kenali keluar dengan langkah gontai.

​"Laila!" Agil melompat keluar dari mobil bahkan sebelum mesinnya mati total.

​Laila berlari ke arahnya, namun gerakannya aneh. Ia tampak linglung. Saat mereka berpelukan, Agil merasakan tubuh Laila sangat dingin.

​"Mas... Mas Agil..." Laila berbisik di telinga Agil. "Papa... Papa memberikan sesuatu padaku sebelum mereka melepaskanku."

​Agil melepaskan pelukannya dan menatap wajah Laila. Di leher Laila, terdapat sebuah alat kecil berbentuk cakram yang menempel erat, dengan lampu merah yang berkedip pelan.

​"Ini apa, Laila?" Agil mencoba menyentuhnya, namun Laila menjerit kesakitan.

​"Jangan disentuh, Agil," sebuah suara terdengar dari pengeras suara di gudang tersebut. Suara Baskoro. "Itu adalah pemancar saraf frekuensi tinggi. Jika kau menjauh lebih dari lima puluh meter dari Laila, atau jika kau mencoba melepasnya tanpa kode dariku, alat itu akan mengirimkan kejutan listrik yang akan menghancurkan sistem saraf pusatnya."

​Baskoro belum selesai bermain. Ia memberikan Laila kembali, tapi ia mengikat mereka berdua dalam rantai yang tidak terlihat.

​"Kau pikir kau bisa mengancamku dengan data digital?" suara Baskoro tertawa lewat speaker. "Aku memegang nyawa istrimu secara fisik. Sekarang, Agil... bawa buku catatan itu kembali ke mansion. Dan mungkin, hanya mungkin, aku akan memberikan kode penonaktifannya."

​Agil berlutut di depan Laila yang menangis. Ia menyadari betapa liciknya ayahnya. Baskoro tahu Agil tidak akan pernah membiarkan Laila menderita. Setiap langkah Agil untuk melarikan diri sekarang menjadi langkah menuju kematian istrinya.

​Di kejauhan, lampu-lampu mobil pengejar mulai terlihat mendekat. Bukan hanya orang-orang Baskoro, tapi juga unit militer Rina yang ingin merebut kembali dokumen itu.

​Agil menatap Laila, lalu menatap buku di tangannya. Ia terkepung. Di satu sisi ada ayahnya yang sadis, di sisi lain ibunya yang ambisius, dan di tengah-tengah adalah istrinya yang menjadi bom waktu berjalan.

​"Mas... bunuh saja aku," Laila memegang tangan Agil, meletakkannya di atas alat yang berkedip itu. "Jangan biarkan mereka menang. Jangan biarkan mereka memilikimu."

​Agil menggeleng, air matanya jatuh. "Tidak, Laila. Kita akan menemukan cara lain. Jika mereka ingin bermain kotor, aku akan menyeret mereka semua ke lumpur yang paling dalam."

​Lika-liku perjuangan Agil kini mencapai fase yang paling ekstrem. Ia harus menyelamatkan Laila dari alat maut tersebut sambil menghindari dua faksi yang sedang memburunya, di sebuah malam yang tampaknya tidak akan pernah berakhir.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!