NovelToon NovelToon
My Dangerous Assistant

My Dangerous Assistant

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita perkasa / Menyembunyikan Identitas / Gangster
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

"Tugasmu sederhana: seduh kopi hitamku tepat pukul tujuh pagi, dan pastikan aku tidak mati hari ini."

Bagi Adinda Elizabeth (23), William Bagaskara adalah tiket keluar dari kemiskinan. Pria itu arogan, dingin, dan menyebalkan. Namun, Adinda tahu bagaimana cara mematahkan leher lawan secepat ia menyeduh kopi.

Bagi William (28), Adinda adalah anomali. Seorang gadis kecil yang berani menatap matanya tanpa rasa takut, sekaligus satu-satunya orang yang rela berdarah demi melindunginya.

Di tengah intrik bisnis yang kejam dan teror yang mengintai, sebuah kontrak kerja berubah menjadi pertaruhan hati. Bisakah sang CEO angkuh luluh pada gadis yang dibayarnya untuk terluka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Makan Malam Dengan Patung Es

Asap tebal beraroma arang dan daging bakar mengepul di udara, bercampur dengan suara bising knalpot sepeda motor dan nyanyian pengamen jalanan yang sumbang. Di pinggir jalan kawasan Sabang yang ramai itu, sebuah sedan mewah hitam mengkilap terparkir agak canggung di antara deretan motor bebek.

Di salah satu meja kayu panjang warung tenda "Sate Khas Senayan", William Bagaskara duduk dengan kemeja putih yang lengan bajunya sudah digulung hingga siku. Jas mahalnya ia tinggalkan di mobil. Wajahnya yang biasa dingin di ruang rapat kini tampak berbinar, dihiasi butiran keringat akibat hawa panas dan sambal kacang yang pedas.

"Ini luar biasa," gumam William sambil menggigit tusuk sate ayam kelimanya. "Sudah lama sekali saya tidak makan sate langsung di pinggir jalan begini. Rasanya beda sama yang di hotel."

William menoleh ke sampingnya. "Ayo makan, Adinda. Kenapa sate kamu masih utuh?"

Adinda Elizabeth duduk tegak di samping William. Punggungnya lurus, tidak bersandar. Matanya tidak tertuju pada piring sate di depannya, melainkan bergerak liar memindai setiap orang yang lalu lalang di sekitar tenda.

Di tangan kanannya, ia memegang garpu dengan posisi aneh—seolah siap menjadikannya senjata tusuk jika ada yang menyerang.

"Saya sedang memetakan potensi ancaman, Pak," jawab Adinda datar tanpa menoleh. "Pria berjaket denim di arah jam 2 mencurigakan. Tangannya terus di dalam saku. Dan pengamen di pojok sana membawa gitar yang terlalu berat, bisa saja isinya bukan gitar."

William menghela napas panjang, meletakkan tusuk satenya. Hilang sudah selera makannya melihat asistennya yang bersikap seperti agen rahasia di tengah medan perang.

"Adinda," panggil William lembut namun tegas.

Adinda menoleh cepat. "Ya, Pak? Ada ancaman?"

"Ancamannya adalah sate itu akan dingin dan tidak enak kalau tidak dimakan sekarang," William menunjuk piring Adinda. "Dan ancaman kedua adalah saya yang mulai kesal karena makan sendirian sementara teman makan saya bertingkah seperti CCTV hidup."

"Saya bekerja, Pak."

"Kita sudah clock-out. Ini di luar jam kantor. Sekarang saya bukan bosmu, saya teman makanmu. Namanya William. Dan teman makan itu harusnya ngobrol, ketawa, atau minimal mengunyah," protes William. "Ayolah, rileks sedikit. Bahumu itu tegang sekali, bisa buat memecahkan batu bata."

Adinda menatap William, lalu menatap sate di piringnya. Dengan gerakan kaku seperti robot, ia mengambil satu tusuk sate, memasukkannya ke mulut, mengunyah dengan efisiensi militer—tiga puluh dua kali kunyahan—lalu menelannya.

"Sudah, Pak," lapor Adinda.

William menepuk jidatnya. "Ya Tuhan... rasanya gimana? Enak? Asin? Pedas?"

"Teksturnya daging ayam matang. Bumbunya kacang tanah, kecap, cabai rawit, dan bawang merah. Nutrisinya cukup untuk memulihkan tenaga. Karbohidrat dari lontong juga memadai," jawab Adinda, memberikan analisis kuliner selayaknya laporan forensik.

William tertawa, tawa yang terdengar putus asa. "Kau benar-benar tidak punya tombol 'OFF' ya?"

"Emosi dan kenyamanan berlebih hanya akan menumpulkan refleks, Pak. Di jalanan, lengah satu detik saat makan bisa berarti dompet hilang atau pisau menancap di rusuk," jawab Adinda serius. Tidak ada nada bercanda di sana. Itu adalah fakta hidup baginya.

William terdiam. Ia lupa bahwa bagi Adinda, jalanan Jakarta bukan tempat wisata kuliner, tapi arena bertahan hidup selama sepuluh tahun terakhir. Hati William melembut.

Ia mengambil gelas es jeruknya, menggesernya sedikit ke arah Adinda.

"Di sini aman, Adinda. Ada saya," kata William pelan. "Mungkin terdengar lucu, CEO melindungi bodyguard. Tapi saya serius. Lihat sekeliling. Orang-orang cuma mau makan. Pria berjaket itu cuma mau ambil rokok dari sakunya. Pengamen itu cuma mau cari duit buat beli nasi."

William menatap mata Adinda lekat-lekat. "Izinkan dirimu menikmati satu tusuk sate saja tanpa memikirkan siapa yang mau membunuh kita. Satu menit saja. Buat saya?"

Adinda menatap mata William. Ada permohonan tulus di sana. Perlahan, bahu Adinda yang kaku turun satu senti. Ia menarik napas dalam, menghirup aroma asap sate yang menggugah selera, mencoba mengabaikan insting liarnya sejenak.

Ia mengambil tusuk sate kedua. Kali ini, ia memakannya lebih pelan. Ia merasakan manisnya kecap dan gurihnya daging.

"Lumayan," gumam Adinda pelan.

William tersenyum lebar, seperti anak kecil yang baru dapat mainan baru. "Nah! Gitu dong. Itu namanya menikmati hidup."

Suasana sedikit mencair. William mulai bercerita tentang masa kecilnya yang konyol, tentang bagaimana ia dulu pernah kabur dari pengasuhnya hanya untuk main layangan dan berakhir jatuh ke selokan.

Adinda mendengarkan. Wajahnya tetap datar, tanpa ekspresi berlebih. Namun, telinganya menyimak setiap kata. Sesekali, ia mengangguk kecil.

"Kamu sendiri, Adinda?" tanya William di sela makannya. "Apa yang kamu lakukan kalau lagi santai? Selain latihan bela diri atau baca buku hukum?"

"Membersihkan senjata," jawab Adinda cepat.

William tersedak es jeruknya. "Uhuk! Maksud saya hobi yang... normal. Nonton film? Belanja? Perawatan ke salon?"

Adinda tampak berpikir keras, seolah pertanyaan itu adalah soal matematika yang rumit.

"Saya suka melihat hujan," jawab Adinda akhirnya. "Kalau hujan, jalanan sepi. Orang-orang berteduh. Kejahatan berkurang. Saat itu saya bisa tidur nyenyak."

Jawaban itu sederhana, namun menyiratkan kesepian yang dalam. William menatap gadis di sampingnya ini. Di balik wajah tanpa emosi itu, tersimpan jiwa yang lelah yang hanya ingin merasa aman.

Tiba-tiba, seekor kucing kampung kurus berwarna belang tiga mendekat ke kaki meja mereka. Kucing itu mengeong pelan, menatap Adinda dengan mata bulat memelas.

Adinda menatap kucing itu. William mengira Adinda akan mengusirnya karena dianggap gangguan.

Namun, Adinda melakukan hal yang tak terduga.

Tanpa mengubah ekspresi wajahnya yang datar, Adinda mengambil potongan daging ayam dari tusuk satenya—bagian yang paling besar—meniupnya sebentar agar tidak panas, lalu menunduk dan memberikannya pada kucing itu.

Kucing itu melahapnya dengan rakus. Adinda mengulurkan tangan, mengusap kepala kucing itu dengan jari telunjuknya. Satu kali usapan lembut.

"Makan yang banyak. Jangan sampai kalah kelahi rebutan wilayah," bisik Adinda pada kucing itu.

William terpaku melihat pemandangan itu. Itu adalah momen paling lembut yang pernah ia lihat dari Adinda. Ternyata, gadis ini bukan tidak punya emosi. Dia punya, sangat banyak malah. Dia hanya memberikannya pada makhluk yang senasib dengannya: terlantar dan berjuang sendirian.

"Kau suka kucing?" tanya William lembut.

Adinda segera menarik tangannya, kembali duduk tegak seolah tertangkap basah melakukan kejahatan. "Kucing memiliki insting bertahan hidup yang bagus, Pak. Hanya respek sesama petarung jalanan."

William tersenyum miring, tidak ingin menggoda Adinda lebih jauh karena wajah gadis itu sudah sedikit memerah.

"Oke, sesama petarung," William memberi isyarat pada pedagang untuk minta bon. "Sudah kenyang? Kita pulang sekarang. Besok pagi saya ada rapat, dan saya butuh 'robot' saya kembali dalam kondisi prima."

Adinda mengangguk, segera berdiri dan kembali ke mode siaga. Matanya kembali tajam memindai jalanan menuju mobil.

Saat mereka berjalan menuju mobil, William berjalan sedikit lebih dekat ke Adinda daripada biasanya. Bahu mereka hampir bersentuhan.

"Terima kasih sudah menemani saya makan, Adinda," ucap William saat membukakan pintu mobil untuk asistennya sebuah gestur yang terbalik, tapi William bersikeras melakukannya.

"Sama-sama, Pak. Terima kasih asupan proteinnya," jawab Adinda kaku.

William tertawa kecil sambil masuk ke kursi pengemudi. Ia menyalakan mesin mobil yang menderu halus.

Malam itu, William menyadari satu hal. Meruntuhkan tembok es Adinda tidak bisa dilakukan dengan palu godam. Itu harus dilakukan perlahan, dengan kehangatan, tusuk sate, dan mungkin... seekor kucing jalanan. Dan William Bagaskara, pria yang suka tantangan, siap mendedikasikan waktunya untuk membuat Adinda tersenyum, senyum yang sesungguhnya.

Bersambung...

1
Dede Dedeh
lanjutttt......
Nurhartiningsih
lanjuuut...dikit amat up nya
gina altira
jd sedihhh,, cinta yang tulus dan berbesar hati
gina altira
galak tapi ngangenin ya,🤭
Nurhartiningsih
lanjuuut....mkin penasaran
Nurhartiningsih
kereeeennn aku suka.. aku suka
Nurhartiningsih
ah knp banyak bawang disini??
Nurhartiningsih
ya ampun... sesulit apa hidupmu dindaa
Nurhartiningsih
ah suka deh sama cerita yg ceweknya badas
Nurhartiningsih
kereeeen....ah knp baru Nemu nih novel
Raditya Gibran
aku menanti episode selanjutnya bestii
terimakasih
Fenti Fe
Ceritanya mulai menarik, gaya bahasa dan tulisannya rapi. Semangat Author...
PENULIS ISTIMEWA: Terima kasih qha qha.. 😍
total 1 replies
Kavina
Kalo novel ini di bwt movie nya pasti seru abiss, thank ya Thor dh UP byk 😘😘💪💪
PENULIS ISTIMEWA: 😍😍 Kak Kavina bisa aja deh.. 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!