Alitza Zeefanya Bella, atau sering disapa Zee adalah seorang gadis cantik yang ceria. Seperti nama yang diberikan oleh orang tuanya yang berarti gadis cantik yang ceria yang selalu ada dalam lindungan Tuhan.
Hidupnya baik-baik saja, terlahir cantik serta besar di lingkungan keluarga kaya yang harmonis membuat dirinya tumbuh menjadi gadis ceria dan penuh kepedulian.
Semua baik-baik saja sampai dirinya harus kehilangan seluruh alasan kebahagiaan nya. Membuat dirinya harus bekerja untuk menghidupi dirinya dan seorang wanita tua yang menjadi pengasuhnya sejak bayi.
Bekerja didunia malam membuat dirinya dipandang miring oleh semua orang. Namun dirinya tak peduli, hanya dirinya yang tahu seperti apa sesungguhnya yang ia jalani.
Akankah nasib baik kembali berpihak padanya? atau justru kehidupannya semakin sulit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novia_dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pulang
"Disini? ". Tanya Zee sekali lagi. Entah sudah ke berapa kali Zee menanyakan hal itu pada Sasa.
" Kamu yakin nggak salah alamat kan? ". Meskipun Zee sudah menduga jika Sasa adalah anak orang kaya, tapi tetap saja Zee masih terkejut melihat bangunan megah didepannya ini.
Sasa tersenyum menatap Zee. Ia memencet bel yang ada disamping gerbang tinggi rumahnya. Zee hanya diam mengawasi sambil menenteng sebuah paperbag berisi pakaian Sasa.
" Ya Allah.. non Sasa akhirnya pulang". Seorang pria paruh baya yang membukakan gerbang terlihat sangat senang dan lega melihat Sasa.
"Ayo kak.. " Sasa menggandeng tangan Zee dan membawanya masuk ke halaman luas rumah orang tuanya.
"Terimakasih pak.. " Zee menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat dan ucapan terimakasih nya pada sosok yang sudah membukakan gerbang tadi.
"Biasain bilang tolong, maaf sama makasih, Sa. Kaya ke aku sama emak, kamu nggak sungkan bilang tolong, maaf, makasih. Kenapa disini enggak? ". Nasehat Zee pada Sasa. Ia benar-benar seperti melihat sosoknya dulu saat masih kecil. Periang namun arogan.
" Kan dia dibayar memang untuk pekerjaannya itu kak". Sahut Sasa cuek.
Zee menghentikan langkahnya, membuat Sasa ikut berhenti karena ia masih menggandeng tangan Zee.
"Mereka juga manusia, Sasa. Mereka kerja disini untuk cari nafkah, kita harus menghormati mereka yang lebih tua apalagi. Apapun pekerjaan mereka, kamu paham? ". Sasa menghela nafas panjang, kemudian mengangguk patuh saat lagi-lagi Zee menasehati dirinya. Selama tinggal dengan emak dan Zee, banyak hal yang Sasa pelajari. Atau lebih tepatnya banyak nasihat yang didapat nya dari Zee dan emak.
" Iya kak.. maaf.. " Zee tersenyum kemudian mengelus sayang kepala anak itu.
"Sasa??!! ". Merasa namanya dipanggil, Sasa segera menoleh. Melihat siapa yang berdiri didepan pintu sana membuatnya melepaskan tangan Zee dan berlari senang.
" Omaaaaa!!! ". Teriak Sasa
" Aaaaahhh.. cucu oma sudah pulang". Zee tersenyum melihat pemandangan didepannya. Ia lega Sasa sudah kembali pada keluarga nya.
Perlahan kakinya mendekat, ia harus menjelaskan bagaimana kisahnya bisa menemukan Sasa dan mengembalikan nya.
"Selamat siang bu.. " Sasa dan sang oma saling melepaskan pelukan saat suara Zee menginterupsi.
"Maaf mengganggu.. " Zee tersenyum sopan. Senyum yang mampu membuat oma terpikat.
"Kakak.. kenalin, ini oma aku.. " Sasa menarik Zee mendekat.
"Oma.. kenalin. Ini kak Zee.. "
"Kak Zee yang udah nolongin aku kemarin waktu aku tersesat". Jelas Sasa. Rupanya gadis itu paham apa kekhawatiran Zee.
" Perkenalkan bu.. nama saya Zeefanya. Panggil saja Zee.. " Zee mengulurkan tangannya, namun oma hanya menatapnya saja.
Zee paham, mungkin oma dari Sasa memandang dirinya sebelah mata. Ia hendak menarik kembali tangannya yang terulur, namun sesaat kemudian ia terkejut saat oma menarik tangannya dan memeluk dirinya begitu erat.
"Aah.. terimakasih banyak sudah menemukan cucu kesayanganku". Zee yang sempat terkejut akhirnya membalas pelukan oma setelah berhasil menguasai diri.
...☘️☘️☘️☘️☘️...
" Ayo Zee diminum.. " Zee mengangguk sambil tersenyum canggung.
Tadi ia berniat langsung pulang setelah memastikan jika Sasa sudah bertemu dengan keluarga nya. Namun kini ia malah terjebak di dalam rumah besar ini karena Sasa memaksanya masuk dan sang oma menyetujui.
"Oma tinggal sebentar ya.. " Pamit oma pada Zee dan Sasa yang duduk berdampingan.
"Papa sama mama kamu mana? ". Tanya Zee pada Sasa setengah berbisik.
" Ini rumah oma aku, kak. Mama sama papa di rumah mungkin". Zee melongo tak percaya, ia pikir ini rumah orang tau Sasa. Namun ternyata rumah neneknya.
"Kenapa nggak bilang.. aku kira rumah papa sama mama kamu". Sasa hanya nyengir saja, ia masih sedikit kesal pada kedua orang tuanya hingga memutuskan pulang kerumah neneknya.
" Loh kok masih utuh minumannya, ayo diminum Zee.. " Setelah beberapa saat menghilang, oma kembali ke ruang tamu.
"Iya bu, terimakasih banyak.. " Zee meraih gelas berisi cairan berwarna merah yang terlihat menyegarkan itu.
"Kamu tuh bikin heboh seantero rumah, Sa. Besok lagi jangan diulang". Omel oma pada Sasa yang hanya mengangguk saja.
" Om kamu sampai kalang kabut nyari kamu, sampai urusan kantor juga jadi nggak keurus maksimal cuma karena mikirin kamu". Zee menaikkan sebelah alisnya melihat cara oma Sasa mengomel.
"Aku kesel sama mama sama papa oma. Mereka mikirin kerjaan mulu nggak inget aku". Keluh Sasa dengan wajah memberengut.
" Micin.. " Zee menepuk pelan paha Sasa yang langsung menghela nafas panjang. Sementara oma terlihat sedikit kaget mendengar panggilan Zee untuk cucu tersayang nya.
"Iya kak.. iya.. " Sahut Sasa pelan saat tahu jika Zee menegurnya.
"Maaf oma, besok lagi nggak akan aku ulangi". Kerutan di kening oma semakin nampak. Ada perubahan dari sikap cucu nya.
"Sasaaaaa.. " Yang dipanggil justru mengalihkan pandangannya pada sang oma.
"Oma telpon mama ya? ". Tanya Sasa dengan mata memicing.
" Mama mu khawatir Sa.. " Jelas oma menatap teduh cucunya, kemudian menatap Zee yang langsung tersenyum canggung.
Tak lama seorang wanita dengan penampilan anggun terlihat berlari kearah Sasa. Zee yang sadar segera menggeser tubuhnya menjauh dari Sasa. Memberi ruang bagi wanita yang Zee yakini sebagai ibu dari anak itu.
"Aaah.. ya ampun anak mama". Wanita cantik itu langsung memeluk Sasa dan menghujani wajahnya dengan kecupan.
" Mama.. ih.. " Sasa merasa tidak nyaman, bukan pada pelukannya, namun pada kecupan bertubi yang mampir di wajahnya.
"Mama khawatir banget sama kamu". Sasa menghela nafas lagi, tatapan matanya bertemu dengan Zee yang mengangguk pelan.
" Maafin aku, ma. Besok lagi nggak akan Sasa ulangi" Sasa membalas pelukan sang ibu.
Meidina, ibunda Sasa baru menyadari keberadaan Zee setelah beberapa saat. Ia mengucapkan terimakasih berulang kepada Zee yang justru merasa tidak enak.
"Sudah sewajarnya kita sesama manusia saling menolong, bu". Jawaban Zee membuat Meidina dan oma Sasa tersenyum.
" Biii... aku haus.." Sasa berteriak memanggil asisten rumah tangga dirumah sang oma. Namun sesaat kemudian gadis itu bangkit.
"Nggak jadi bi.. aku ambil sendiri aja. Maaf udah teriak-teriak manggil bibi". Meidina dan oma tertegun mendengar gadis itu meminta maaf pada asisten rumah tangga nya. Sementara Zee tersenyum melihat Sasa.
" Kakak mau tambah minumnya? ". Tawar Sasa pada Zee saat melihat gelas didepan Zee hanya tersisa setengah.
" Nggak usah.. makasih". Sasa mengangguk dan berlalu dari ruang tamu. Meninggalkan sejuta tanya dibenak ibu dan neneknya.
"Zee.. " Yang dipanggil segera mengalihkan pandangannya.
"Iya bu.. " Jawab Zee sopan.
"Kepala cucu saya kepentok? Atau terbentur sesuatu mungkin saat tinggal sama kamu 2hari ini? ". Alis Zee berkerut, ia coba mengingat lagi namun sepertinya tidak ada kejadian apapun yang menimpa Sasa.
" Sepertinya tidak bu. Saya malah yakin tidak terbentur apapun". Jelas Zee sungguh-sungguh karena memang seingatnya kepala Sasa aman-aman saja.
"Aku kira juga dia tadi kepalanya kepentok sesuatu mi.. " Meidina juga berpikir sama seperti ibunya
"Maaf kalau saya lancang. Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran ibu? ". Tanya Zee ragu.
" Ah, bukan sesuatu yang penting Zee.. "
"Eh tapi penting juga sih". Zee tampak bingung melihat ibu dari anak yang ia temukan beberapa hari lalu itu. Ah entahlah, Zee pusing sendiri jadinya.
" Kak.. kakak makan disini ya? " Sasa kembali dari dapur dan langsung mengajak Zee untuk makan siang.
"Nggak bisa micin.. "
"Micin? ". Seru oma dan Meidina bersamaan membuat Zee memejamkan matanya sejenak.
" Hehe.. maaf bu, maksudnya Sasa.. "
"Ternyata bukan cuma dia yang panggil anak aku micin mi". Meidina tak menanggapi Zee, ia malah tertawa bersama ibunya.
" Kamu nggak marah dipanggil micin? ". Tanya oma pada Sasa.
" Enggak, kata kak Zee itu panggilan sayang dia buat aku". Jelas Sasa dengan raut wajah senang, membuat oma dan ibunya saling pandang.
"Maaf ya bu, habisnya waktu dengar nama Sasa yang saya inget cuma merk msg". Zee menggaruk keningnya yang sebenarnya tidak gatal, ia merasa tidak enak sudah memanggil anak orang seenaknya.
" It's oke Zee.. bukan cuma kamu aja kok yang panggil dia micin". Meidina menggenggam lembut tangan Zee.
...¥¥¥°°°¥¥¥...
...Good Zee, keputusan benar mulangin si micin ke rumah mak bapaknya, takut-takut disangka nyulik kalo kelamaan🤭😁...
...Kasih langsung double up buat readers kesayangan nya mak othor😍❤ jangan lupa ritualnya ya bestieee.. like komen nya jangan kasih kendor walaupun emang belum banyak yg baca🥲 but its okay, othor tetap semangat menulis🤩🫰...
...Sarangheyo readers kuhhh 🥰😘😘😘❤💋❤🤩🫰🫰🫰😍😍😍😘💋❤😘😘...