Dewi seorang istri yang di tinggal merantau suaminya Abi ke Kalimantan dan harus tinggal di kampung merawat mertua dengan uang kiriman seadanya dari sang suami, Dewi pun harus bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidup dengan sang mertua.
Hingga suatu ketika Dewi mendapati sebuah rahasia besar dari teman Abi, ternyata Abi diam-diam menikah lagi, hati Dewi hancur dan dia pun nekat ke Kalimantan untuk memastikan sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bundae safiq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kiriman dari suami
Pagi-pagi sekali terdengar notif di hp Dewi saat dia sedang memasak di dapur, buru-buru dia mengambil hp yang tergeletak di atas meja dan segera membukanya.
"1juta, alhamdulillah ya Allah, aku bisa tebus obat ibu hari ini" ucap Dewi lirih dengan perasaan penuh syukur dalam hati.
Sudah dua hari ini Dewi kehabisan uang untuk menebus obat bu Raminah sang mertua yang sudah lima tahun ini di rawatnya.
"Ada apa Wi kok kelihatanya seneng banget?" tanya Bu Raminah, wanita paruh baya dengan sebuah tongkat di tangannya untuk bantu jalan karena tubuh yang lemah akibat sakit-sakitan.
"Anu bu, dapat kiriman dari mas Abi, nanti Dewi tebus obat buat ibu di apotik ya bu" jawab Dewi dengan lembut dan penuh kasih pada sang ibu mertua.
Dewi sudah jadi yatim piatu sejak usia 15 tahun dan tinggal bersama kerabat sebelum menikah dengan Abi.
"Nggak usah Wi, uangnya buat makan saja, ibu bosen minum obat setiap hari" tolak Bu Raminah.
"Buuuu, ibu harus minum obat, kalau nggak gimana Dewi harus menjawab saat mas Abi pulang nanti, di kira Dewi nggak mau ngerawat ibu, lagian kalau nggak minum obat gimana ibu bisa sembuh" jawab Dewi dengan tegas.
"Tapi uang dari Abi hanya segitu mana cukup buat kita makan sama berobat wi, hah...." Bu Raminah mendesah dengan wajah pasrah dan lesu.
"bu...jangan khawatir, Dewi masih kuat dan masih bisa kerja untuk kita makan" ucap Dewi untuk menghibur hati Bu Raminah.
Mata Bu Raminah berkaca-kaca, tangan keriputnya membelai wajah ayu sang menantu yang selama ini menemaninya itu.
"Maaf yo nduk,Abi belum bisa membahagiakanmu bahkan kamu harus repot-repot merawat ibu yang sakit sakitan ini" ucap Bu Raminah dengan rasa sedih dan kasihan pada sosok perempuan yang di nikahi anaknya lima tahun yang lalu itu.
"Bu...Dewi yakin kehidupan kita ini akan berubah, mas Abi kan sudah lama kerja di Kalimantan mungkin dia sudah nyisihin duit buat di tabung makanya dia hanya ngirim kita uang 1 juta" ucap Dewi dengan yakin dan penuh harap, namun dalam hati Bu Raminah justru merasa ragu tapi beliau tak berani mengungkapkan keraguan hatinya pada sang menantu.
Dulu sebelum menikah Abi selalu mengirim uang pada Bu Raminah sebesar 1,5 juta rupiah tapi sekarang setelah menikah Abi malah hanya mengirim 1 juta saja padahal itu untuk makan Dewi dan Bu Raminah.
"Sarapan sudah matang, Dewi tinggal dulu ya bu, hari ini banyak pesanan di toko Bu Mandor Dewi di suruh ke sana sekarang" pamit Dewi setelah selesai menata hidangan di atas meja, Dewi pun bergegas pergi ke pasar sembari mencangklong tas ransel di punggungnya kemudian mencium tangan sang mertua setelah itu dengan menaiki sepeda ontel Dewi pun berangkan mengais rejeki.
Bu Raminah mengusap air mata di pipinya yang tak sengaja menetes.
"Duh nduk semoga suamimu nggak berbuat macam-macam di belakang, entah mengapa perasaanku kok nggak enak" ucap Bu Raminah sembari mengelus dada.
Beberapa lama kemudian Dewi pun sampai di pasar besar yang ada di kampung di mana dia tinggal selama ini, Dewi segera memarkir sepeda ontelnya di tempat biasa dia memarkir. Kemudian Dewi segera pergi ke toko Bu Mandor yang sedang ramai pengunjung.
"Pagi Bu Bos!" sapa Dewi dengan wajah cerianya.
"Ae Dewi....sini-sini buruan itu pesanan pk Kades tolong kamu pindahin ke mobil, owh sekalian ajak si Dadang tadi lagi ngopi katanya di sebelah nungguin kamu datang!" ucap Bu Mandor sembari sibuk melayani pembeli.
"Siap Bu Bos!" jawab Dewi yang kemudian segera ke warung sebelah memanggil temannya yang juga sebagai kuli sekaligus sopir di toko Bu Mandor.
"Itu kuli sampean ya bu?" tanya salah satu pembeli pada Bu Mandor.
"Owh iya bu, anaknya rajin cekatan dan juga kuat lowh" jawab Bu Mandor dangan bangga.
"Walah padahal perempuan lowh kok jadi kuli, kenapa nggak kerja aja di kota" ucap pembeli tersebut dengan rasa penasaran, Bu Mandor pun tersenyum.
"Dia sudah menikah bu, suaminya kerja di Kalimantan sedang dia harus ngerawat mertuanya yang sakit-sakitan di rumah makanya sembari kerja ikut saya, kalau ke kota nanti gimana nasib mertuanya itu" jawab Bu Mandor dengan santai.
"Oalah begitu towh ternyata, hemmm gadis yang baik, beruntungnya punya menantu pengertian dan berbakti seperti itu, semoga Tuhan selalu memberkatimu nak" ucap pembeli itu dengan tulus.
"Ini pesanan ibu, total 250 ribu ya bu, terima kasih sudah berbelanja di toko saya, jangan kapok ya bu lain kali datang lagi!" ucap Bu Mandor sembari menyerahkan nota bon pada pembeli itu dengan ramah, kemudian pembeli tersebut segera membayarnya, dia puas dengan pelayanan di toko Bu Mandor.
Tak berapa lama kemudian Dewi pun datang bersama Dadang, keduanya segera mengangkat barang belanjaan pak Kades ke mobil.
"Wi sudah nyarap belum nanti pingsan ngangkut sebanyak ini" ucap Dadang menggoda Dewi.
Dewi pun memukul bahu Dadang yang terasa keras karena kapalan akibat sering mengangkati barang di pundak.
"Jangan ngeremehin Dewi kang, tak jamin nanti siapa yang loyo duluan!" jawab Dewi dengan percaya diri sembari berkacak pinggang.
"Oke siapa takut, mari kita buktikan!" jawab Dadang yang sudah terpancing dengan kata-kata Dewi.
Keduanya pun berlomba-lomba mengangkut barang ke atas mobil sebanyak-banyaknya. Bu Mandor hanya tersenyum melihat kedua kulinya sedang bersaing menjadi yang terkuat.
"haaah......haaah.....haaah...aduh nafasku mau putus Wi!" keluh Dadang sembari mengibas-kibaskan tangannya di depan wajah dan mencoba mengatur nafas.
"Hahahahaha...tadi siapa yang ngeremehin Dewi, sekarang malah ngeluh nafas mau putus, awas ntar pingsan lowh!" ledek Dewi sembari mengangkut karung di punggungnya dengan penuh semangat.
"kowe pancen jossss Wi, aku ngaku kalah wes haaah....haduwh capek aku ngaso dulu bentar..." ucap Dadang sembari duduk berselonjor dan menyederkan tubunya di dinding.
"Kamu ini apa sih Dang Dadang, mosok kalah sama cewek, badan aja gede tapi tenaga melempem kayak peyek!" sindir Bu Mandor sembari mengulurkan tangan memberikan minuman dingin pada Dadang dan Dewi.
"Makasih Bos...bukanya kalah Bos, tapi semalem istri minta jatah lebih alhasil tenaga udah terkuras abis" kilah Dadang.
"Eleh alesan itu mah...ya nggak Bu Bos!" sahut Dewi sembari meneguk minuman dingin dari tangan Bu Mandor.
"Ho oh Wi, emang Si Dadang aja nggak mau ngaku" jawab Bu Mandor membela Dewi.
"Wah Bu Bos pilih kasih ini, saya nggak di belain, si Dewi kan suaminya nggak ada Bos jadi dia nggak ngerasain gimana rasanya kerja siang malam!" protes Dadang.
"Hahahaha....dasar kamu Dang Dadang, kamu kan laki-laki harusnya tenaganya 2x lipatnya Dewi lah, mosok kalah" jawab Bu Mandor yang kemudian berlalu meninggalkan Dewi dan Dadang.
Selasai mengangkut barang Dewi dan Dadang pun mengantarkan pesanan tersebut ke rumah pak Kades setelah itu Dewi pergi ke apotik buat nebus obat sang mertua.
Hari-hari berat di lalui Dewi dengan senang hati, di mana para istri lain menikmati kehidupan yang manja dan nyaman di bawah lindungan suami tapi Dewi malah bekerja banting tulang dari tulang rusuk jadi tulang punggung, namun Dewi tak pernah mengeluh.
cinta boleh wi gobloogg jangan