Apa jadinya jika seorang Scientist Gila mendapatkan Sistem Pertanian?
Elena adalah seorang ilmuwan kimia gila yang mati dalam ledakan laboratorium dan terbangun di tubuh gadis desa yang tertindas. Berbekal "Sistem Petani Legendaris", ia tidak lagi bermain dengan cairan asam, melainkan dengan cangkul dan benih ajaib. Di tangan seorang jenius gila, ladang pertanian bukan sekadar tempat menanam padi, melainkan laboratorium maut yang bisa mengguncang kekaisaran!
Ingin mencuri hasil panennya? Bersiaplah menghadapi tanaman karnivora dan ledakan reaksi kimia di ladangnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29 (sangalikur)
Pagi itu, atmosfer di dalam benteng tembok batu Han Jia terasa sedikit berbeda. Matahari bersinar cerah, namun Han Jia berjalan dengan langkah waspada, sesekali mendongak ke langit-langit gubuk atau menatap sudut-sudut gelap dengan curiga. Kunjungan mendadak sang Othor yang syemok dan narsis semalam meninggalkan trauma tersendiri bagi ego Han Jia yang biasanya setinggi langit.
"Hera," bisik Han Jia sambil mengikat tali sepatu bot kulitnya dengan kencang. "Lakukan pemindaian spektrum penuh. Apakah ada tanda-tanda 'Entitas Narsis' itu akan turun lagi? Aku tidak mau dia tiba-tiba muncul saat aku sedang ganti baju."
"Negatif, Profesor. Sinyal Othor sudah hilang sepenuhnya dari radar," jawab Hera. Suara AI itu terdengar sangat sopan dan patuh, sisa-sisa ketakutannya pada sang Pencipta. "Namun, beliau meninggalkan residu energi berwarna merah muda di sistem navigasi Anda. Sepertinya itu adalah... emmm... 'Buff Keberuntungan' sebagai hadiah perpisahan."
Han Jia mendengus keras, membuat debu di meja beterbangan. "Hadiah? Cih! Dia pasti merasa bersalah setelah menghina ukuran dadaku di depan asistenku sendiri. Dia mencoba menyuapku dengan keberuntungan receh!"
Di sudut ruangan, Feng Shura sedang bergulat dengan masalahnya sendiri. Pria yang dulunya Jenderal Besar itu kini berdiri di depan ember air, mematut dirinya yang tampak konyol. Ia mengenakan rompi kulit berbulu kasar yang agak kekecilan, celana kain gombrong yang ditambal di lutut, dan yang paling menyiksa sebuah jenggot palsu lebat yang ditempel menggunakan getah pohon karet super lengket racikan Han Jia.
"Han Jia..." keluh Shura sambil menggaruk pipinya. "Lem ini... rasanya panas. Dan kumis ini masuk ke mulutku setiap kali aku bernapas. Apakah penyamaran ini mutlak diperlukan?"
"Mutlak, Mamat!" Han Jia menekankan nama samaran itu. Ia berbalik, menatap Shura dengan tatapan kritikus mode. "Dengar, di Ibu Kota, wajah aslimu itu terpampang di poster pencarian orang hilang atau mungkin poster idola para gadis. Jika kau ketahuan, kita akan dituduh makar, lalu dipenggal sebelum sempat menjual satu biji jagung pun."
Han Jia berjalan mendekat, merapikan letak tahi lalat palsu di pipi kiri Shura. "Mulai sekarang, lupakan tata krama jenderalmu. Kau adalah Mamat. Kau kasar, kau garang, dan kau hanya bicara kalau ada yang menawar harga terlalu rendah. Mengerti?"
Shura menghela napas pasrah, bahunya merosot. "Mengerti, Bos. Namaku Mamat. Hobiku makan batu."
"Bagus. Sekarang, masukkan barang dagangan!"
Han Jia menunjuk tumpukan hasil panen jumbo di lantai. Dengan kekuatan fisik barunya, Shura mengangkat Labu Raksasa seberat anak sapi itu dengan mudah dan memasukkannya ke dalam Inventory Bag (tas karung jelek yang sebenarnya terhubung ke ruang dimensi sistem).
"Dua Labu Kencana, satu karung Apel Semangka, dan sepuluh ikat Wortel Paha," hitung Han Jia. "Cukup untuk sampel. Sisanya kita jual lewat sistem Pre-Order biar terlihat eksklusif."
Tiba-tiba, lonceng notifikasi berbunyi nyaring di udara, disertai confetti digital yang meletup.
[Ding! Misi Baru Terdeteksi: Invasi Pasar Ibu Kota]
[Deskripsi: Pasar Utama Kekaisaran sedang lesu. Guncang ekonomi mereka dengan produk agrikultur super. Buatlah keributan viral dan tarik perhatian para bangsawan pelit.]
[Target: Profit Bersih minimal 5.000 Tael Perak.]
[Hadiah: Upgrade Modul Teleportasi (Cooldown berkurang 50%) & Kotak Misteri Bibit Bunga.]
Mata Han Jia berbinar liar saat membaca angka '5.000 Tael'. Lidahnya membasahi bibir seolah baru melihat hidangan lezat.
"Lima ribu tael..." desisnya. "Itu cukup untuk membeli reaktor kaca murni dan AC portabel! Mamat! Kita berangkat sekarang!"
Shura menegang. Ia melihat Han Jia sudah mengulurkan tangan.
"Tunggu, Han Jia. Kita jalan kaki, kan? Atau naik gerobak sapi Pak Kepala Desa?" tanya Shura penuh harap.
"Jalan kaki 50 kilometer? Kau pikir kakiku terbuat dari roda traktor?!" Han Jia menyeringai lebar. "Kita akan menggunakan metode transportasi kaum intelektual. Teleportasi!"
Wajah Shura memucat di balik jenggot palsunya. "Tidak lagi... Terakhir kali kau bilang begitu, kau nyangkut di atap kandang ayam. Setelah itu, kita jatuh ke sungai. Han Jia, aku belum mau mati konyol dengan tubuh menyatu dengan tembok kota!"
"Jangan cengeng! Itu dulu!" Han Jia menarik paksa tangan Shura. "Hari ini beda! Othor si Narsis itu sudah memberikan patch update pada sistem navigasiku. Akurasinya sudah 99,9%! Deviasi spasialnya di bawah satu milimeter!"
"Tapi 0,1% itu masih berisiko—"
"LOMPATAN KUANTUM AKTIF! TARGET: GANG BELAKANG PASAR UTAMA!"
WOOSH!
Dunia di sekitar mereka melengkung. Pemandangan gubuk reyot itu terhapus oleh pusaran cahaya biru neon. Shura merasakan sensasi aneh, seolah seluruh tubuhnya ditarik memanjang menjadi mi, lalu diputar-putar dalam mesin cuci raksasa.
Di dalam pusaran itu, Han Jia tetap membuka mata, menatap deretan angka koordinat yang berjatuhan seperti hujan matriks.
"Kalkulasi variabel X... Stabil. Variabel Y... Stabil. Tekanan atmosfer tujuan... Normal. Pendaratan dalam 3... 2... 1..."
ZAP!
Keheningan mendadak.
Kaki mereka menapak di atas permukaan yang keras dan padat. Tidak ada air. Tidak ada lumpur. Tidak ada suara ayam.
Han Jia membuka matanya perlahan. Ia menarik napas dalam-dalam. Bau yang tercium bukanlah bau belerang atau bau hutan, melainkan bau ragi roti yang sedang dipanggang, bercampur dengan bau selokan kota yang khas, dan aroma samar rempah-rempah.
Mereka berdiri di sebuah gang sempit yang diapit oleh dua bangunan bata merah yang tinggi. Di ujung gang, terlihat keramaian orang berlalu-lalang.
"Hah!" Han Jia tertawa lepas, suaranya menggema di gang sempit itu. "Lihat, Mamat! Sempurna! Aku tidak bohong, kan? Koordinat presisi! Kaki kita menapak tanah, kepala kita tidak tertukar, dan kita kering!"
Shura meraba-raba seluruh tubuhnya dengan panik. Ia mengecek tangannya, kakinya, bahkan meraba pantatnya sendiri.
"Aku... aku masih utuh," gumam Shura takjub. "Dan kita benar-benar ada di kota? Dalam sekejap mata?"
"Tentu saja! Selamat datang di Ibu Kota Kekaisaran, tempat di mana uang berputar!" Han Jia merapikan jubah pedagangnya. "Hera, beri nilai 10 untuk Othor kali ini. Buff-nya lumayan berguna."
(Cih!! Berterimakasih lah dengan cara yang benar nona Han Jia)
Shura melihat sekeliling. Di sudut gang, ada sebuah gerobak kayu tua yang rodanya sedikit miring, sepertinya ditinggalkan pemiliknya karena rusak.
"Han Jia, kita butuh lapak," kata Shura.
"Kita pakai itu," Han Jia menunjuk gerobak rusak itu. "Mamat, gunakan otot barumu. Perbaiki as rodanya. Kita akan jadi pedagang kaki lima."
Hanya dengan sekali hentakan tangan, Shura membengkokkan kembali besi as roda gerobak itu hingga lurus. Ia meletakkan karung-karung barang dagangan di atasnya.
Han Jia mengeluarkan Labu Raksasa dan meletakkannya paling atas sebagai centerpiece (pusat perhatian). Labu oranye sebesar roda gerobak itu bersinar tertimpa sinar matahari yang masuk ke celah gang.
"Dengar strateginya," bisik Han Jia saat mereka mulai mendorong gerobak menuju keramaian. "Kita bukan pedagang yang memohon pembeli. Kita adalah 'Distributor Eksklusif'. Pasang wajah sombongmu. Kalau ada yang tanya harga, jawab dengan nada meremehkan."
"Nada meremehkan?" Shura melatih ekspresinya. "Seperti ini?"
Shura mengangkat dagu, menyipitkan mata, dan mendengus kasar. Wajah tampannya yang tertutup berewok kini benar-benar terlihat seperti preman pasar yang siap memalak orang.
"Sempurna!" puji Han Jia. "Ayo, Mamat! Saatnya kita ajari orang-orang kota ini apa itu inflasi harga pangan!"
Mereka pun keluar dari gang gelap itu, mendorong gerobak berisi sayuran raksasa, langsung menuju jantung keramaian pasar di mana para bangsawan dan rakyat jelata berbaur. Tanpa mereka sadari, kemunculan labu sebesar roda itu akan segera memicu kehebohan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah kuliner kekaisaran.