Di Jepang modern yang tampak damai, monster tiba-tiba mulai bermunculan tanpa sebab yang jelas. Pemerintah menyebutnya bencana, masyarakat menyebutnya kutukan, dan sebuah organisasi bernama Justice tampil sebagai pahlawan—pelindung umat manusia dari ancaman tak dikenal.
Bagi Shunsuke, atau Shun, dunia itu awalnya sederhana. Ia hanyalah pemuda desa yang hidup tenang bersama orang tuanya. Sampai suatu hari, semua kedamaian itu runtuh. Orang tuanya ditemukan tewas, dan Shun dituduh sebagai pelakunya. Desa yang ia cintai berbalik memusuhinya. Berita menyebar, dan Shun dicap sebagai “Anak Iblis.”
Di ambang kematian, Shun diselamatkan oleh organisasi misterius bernama Nightshade—kelompok yang dianggap pemberontak dan ancaman oleh Justice. Perjalanan Shun bersama Nightshade baru saja dimulai.
PENTING : Cerita ini akan memiliki cukup banyak misteri, jadi bersabarlah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bisquit D Kairifz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebenaran
CHAPTER 31
Di siang hari yang terik, sebuah mobil berwarna putih melaju cepat, dikendarai oleh seorang wanita bernama Akari. Akari mengenakan seragam organisasi Justice pada umumnya.
Di perjalanan, pikiran Akari berkecamuk, tentang perkataan Shun saat mereka bertarung. Ya, tentang Justice yang membuat monster.
Akari mencoba untuk melupakannya, namun tidak bisa. Perkataan Shun selalu menghantuinya. Yang membuat Akari memutuskan untuk menyelidiki Justice.
Tidak lama kemudian, Akari sampai di salah satu markas organisasi Justice. Akari masuk perlahan. Di dalam markas itu, ada cukup banyak anggota yang bercanda.
"Ya, benar.... Tidak mungkin Justice sejahat itu," ucap Akari dalam hati, berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
Tidak lama kemudian, salah satu anggota menyapa Akari. "Yo... Akari."
"Bagaimana kabar Gin?" Lanjutnya.
Akari menunduk, membuat orang itu tidak bertanya lebih karena sudah paham dengan situasinya.
Akari berjalan-jalan untuk melapor ke atasannya. Sesampainya di ruang itu, Akari perlahan membuka pintu dan saat masuk, dia langsung hormat karena...
Atasan Akari adalah salah satu dari Sepuluh Jari Voda, yaitu: Six.
Akari melaporkan tentang penyerangan Nightshade dan kematian Gin. Six hanya diam, tidak menanggapi laporan Akari.
Akari memutuskan untuk pergi. Saat ingin memegang gagang pintu, Six berkata dengan dingin, "Apa ada anggota Nightshade yang mati?"
Akari menunduk. "T-tidak ada."
"Begitu ya," ucap Six tenang. "Mengecewakan," lanjutnya.
Akari meminta maaf dan langsung keluar dari ruangan. Akari berniat ingin pergi berlatih karena dia merasa belum cukup kuat.
Saat di perjalanan mendekat ke ruang pelatihan, Akari tiba-tiba berhenti karena ia mendengar suara yang menyerupai raungan monster.
Suara itu berasal dari dalam pintu yang menuju ke ruang bawah tanah, ruangan yang tidak pernah Akari masuki sejak ia masuk ke Justice.
Rasa ingin tahu Akari melonjak tinggi, ditambah perkataan Shun saat itu kembali teringat, yang membuat Akari sulit untuk memutuskan, mencari tahu atau tidak.
Sampai akhirnya, Akari memutuskan untuk mencari tahu kebenaran. Perlahan, Akari membuka pintu itu dan melangkah pelan.
Semakin ia ke bawah, ruangan semakin gelap. Suara langkahnya menggema yang membuat suasana semakin menegangkan.
Sampai akhirnya, Akari sampai ke ruang bawah tanah. Ruangan itu tidak gelap, namun juga tidak terang. Saat berada di sana, Akari lega karena tidak ada eksperimen monster.
Tapi, kelegaan itu hanya bertahan sebentar karena suara raungan yang menyerupai monster terdengar di ruangan sebelah kanan yang tertutup.
"J-jangan bilang!?" Gumam Akari.
Akari berlari mendekat ke ruangan itu. Saat sampai di depan, Akari tidak bisa membuka pintunya karena membutuhkan izin.
Tidak lama, seseorang memegang bahu Akari. Akari yang terkejut melompat waspada, namun orang yang memegang bahunya adalah orang yang menyapanya saat baru masuk markas tadi.
"Yo, Akari... Kita bertemu lagi," Sapanya sambil tersenyum. "Kenapa kau di sini? Apa jangan-jangan...."
Akari panik karena pikirnya dia ketahuan kalau diam-diam masuk ke ruang bawah tanah tanpa izin.
"A-ah, T-tida—" Ucap Akari gemetar.
Orang itu memotong ucapan Akari. "Jangan-jangan kau mau ikut juga!?"
Ikut? Kata-kata itu membuat Akari semakin yakin. Akari langsung mengatakan kalau ia diperintah Six untuk ke ruangan bawah tanah.
Tanpa basa-basi, orang itu membuka pintu ruangan. Pintu ruangan perlahan terbuka, Akari terlihat gugup dan menyiapkan diri.
Saat sudah terbuka, Akari terkejut karena melihat beberapa meja yang di atasnya ada manusia yang pingsan. Akari mencoba bertanya ke orang tadi.
Jawaban orang itu membuat Akari gemetar dan seakan tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Tidak lama, salah satu anggota Justice membawa semacam suntikan yang berisi energi Ten berwarna hitam dan ungu.
Orang itu menyuntikkan ke manusia yang di dekatnya. Lagi-lagi, Akari terkejut dan tidak percaya. Manusia itu perlahan menjadi monster, namun gagal.
Manusia itu meledak dan hancur. Cipratan darahnya mengenai pipi Akari. Akari ingin muntah. Ia keluar ruangan, beralasan kalau tidak enak badan.
Akari mencoba mencerna semua yang ia lihat hari ini. Satu per satu, ia memahami semuanya dan akhirnya Akari kembali tenang dan memercayai Shun.
Tanpa pikir panjang, Akari memutuskan untuk melarikan diri dari Justice dan mencari keberadaan Nightshade. Namun, mencari keberadaan Nightshade bukanlah perkara mudah.
Di sisi lain....
Shun yang baru saja selesai berlatih dengan Riot terlihat kelelahan. Mereka duduk dan bersandar di bebatuan, meminum air dan mengatur napas.
Retsu sejak tadi melihat latihan Shun dan Riot. Retsu mendekat dan duduk di dekat mereka.
Ini adalah sebuah kesempatan bagi Shun untuk menanyakan tentang Retsu kemarin. Shun menyiapkan diri untuk bertanya, menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan.
Sampai akhirnya...
"R-Rets—"
"Oi, Shun, kau kenapa? Paru-parumu rusak?" Ucap Riot memotong ucapan Shun. "Jangan merokok, biar sehat," lanjutnya.
"Woi! Sialan, siapa yang merokok!" Shun marah karena Riot memotong ucapannya tadi.
Mereka berdebat sebentar. Setelah tenang, Shun menyiapkan diri lagi dan akhirnya Shun berhasil bertanya. Retsu ingin menjawab pertanyaan Shun.
Namun, dia lupa kalau ada urusan dan pergi begitu saja menuju tempat Suika.
Riot tertawa terbahak-bahak melihat Shun yang dipermainkan oleh Retsu. Shun hanya bisa menahan malu dari ejekan dan tawa Riot yang menyebalkan.
Menunggu dengan sabar sampai Riot berhenti mengejek dan tertawa. Namun, itu adalah sebuah kesalahan karena dua jam kemudian, Riot baru berhenti mengejek dan tertawa.
Riot mengatur napasnya karena tertawa begitu lama. Sampai akhirnya, Riot mengatakan, "Retsu memang begitu, dia malu kalau menceritakan masa lalunya sendiri," Riot menahan tawanya. "Biar ku ceritakan saja, bagaimana?"
"Tapi ada syaratnya," lanjut Riot.
Shun bertanya syaratnya apa.
Mata Riot tajam. "Hibur Yuzuriha. Saat bertemu dengan Three, dia selalu diam di kamar," Ucap Riot. "Bahkan tidak latihan," lanjutnya.
Shun sedikit terkejut, orang seceria Yuzuriha ternyata bisa mengurung diri di kamar. Pastinya, Shun akan melakukannya.
Riot tersenyum dan mulai menceritakan tentang Retsu sedikit.
Retsu dulunya adalah seorang yang sangat mengagumi Justice dan bermimpi menjadi petinggi di Justice.
Saat Retsu bergabung, semuanya berjalan lancar. Sampai akhirnya, dia diberi misi untuk melepas monster ke perkotaan.
Waktu itu, Retsu mencoba menolak, namun ia tidak bisa karena yang memberinya misi adalah Voda.
Berjam-jam telah berlalu. Retsu baru saja melepas monsternya tidak terlalu jauh. Saat melepasnya, Retsu merasakan bersalah yang dalam.
Ia merasa kalau dirinya gagal untuk melindungi masyarakat. Namun, tidak lama Retsu terkejut karena tiba-tiba kepala monster yang ia lepas terpotong begitu saja.
"Kenapa kau merasa bersalah?" Suara pria 20 tahunan terdengar di telinga Retsu.
Orang itu berada tepat di belakang Retsu. Retsu berbelok dan di hadapannya, seorang pria berambut putih yang memegang katana yang tampak karatan berdiri.
"S-siapa kau?" Retsu gugup karena tidak percaya orang yang dihadapannya bisa membunuh monster dengan mudah.
Orang itu berbelok dan memperlihatkan wajahnya. "Aku? Pemimpin Nightshade, Mochizuki Kai!" Tatapannya tajam menusuk Retsu.
Itulah pertemuan pertama kali Kai dan Retsu. Sejak saat itu, Retsu melarikan diri dari Justice dan bergabung ke Nightshade.
Setelah mendengar itu, Shun tidak terkejut karena dia sudah terbiasa mendengar sesuatu yang tidak biasa.
Namun, ia berpikir apa harus seperti Kai supaya Shun bisa menyelamatkan Akari?.