NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Dosen Killer

Istri Rahasia Dosen Killer

Status: tamat
Genre:Dosen / Nikahmuda / Aliansi Pernikahan / Pernikahan Kilat / Beda Usia / Tamat
Popularitas:28.1M
Nilai: 4.8
Nama Author: Desy Puspita

Niat hati mengejar nilai A, Nadine Halwatunissa nekat mendatangi kediaman dosennya. Sama sekali tidak dia duga jika malam itu akan menjadi awal dari segala malapetaka dalam hidupnya.

Cita-cita yang telah dia tata dan janjikan pada orang tuanya terancam patah. Alih-alih mendapatkan nilai A, Nadin harus menjadi menjadi istri rahasia dosen killer yang telah merenggut kesuciannya secara paksa, Zain Abraham.

......

"Hamil atau tidak hamil, kamu tetap tanggung jawabku, Nadin." - Zain Abraham

----

Plagiat dan pencotek jauh-jauh!! Ingat Azab, terutama penulis gamau mikir dan kreator YouTube yang gamodal (Maling naskah, dikasih suara lalu up seolah ini karyanya)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desy Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32 - Satu Sama

"Sakit?"

Enteng sekali dia bicara, padahal kini sang istri sampai keluar air mata dan mengusap pipinya, jelas saja sakit. Bukan hanya diusap dengan tangan, tapi justru batu es. Entah hanya gemas atau melancarkan misi balas dendam hingga sampai hati menggigit sang istri.

Sebenarnya tidak sadar juga, Zain tidak menduga jika gigitannya akan sekuat itu. Nadin yang kesal sama sekali tidak berniat membalas, dia memilih diam seraya menatap pantulan wajahnya di cermin.

"Nad," panggil Zain setelah cukup lama menunggu dan belum direspon juga, agaknya sang istri memang tidak bercanda dan dia sangat marah.

"Sayang ayolah ...." Dua kali, sengaja Nadin diamkan demi memberinya pelajaran.

Tidak mengapa, kapan lagi dia balas dendam? Dulu saja sewaktu Nadin meminta keringanan lantaran telat 27 detik Zain memilih pura-pura tuli walau dirinya sudah memohon. Kini, dengan beralasan marah usai digigit, mendadak Nadin ingin memberikan pelajaran pada pria yang dulu dia kenal tak berperasaan ini.

Hal itu jelas saja berhasil, Zain sampai gusar lantaran Nadin memilih diam. Diminta membalas dia enggan, marah juga tidak. Hanya diam dan fokus meredakan rasa nyeri akibat gigitan sang suami.

Sejak dulu siapapun tahu, Zain adalah pria tegas dengan kesabaran paling tipis. Jika keinginannya tidak segera dia dapatkan, mana mungkin bisa tenang. Saat ini, dia butuh sang istri bersedia untuk bicara dan tidak mengabaikannya.

Zain yang kesal lantaran diabaikan sontak melempar batu es yang berbalut kain tipis itu ke sembarang arah. Cepat sekali dia bergerak, tentu saja hal itu dia lakukan tanpa izin hingga Nadin memutar bola matanya malas.

"Kenapa?"

"Harusnya aku yang bertanya ... sebelum aku, kamu yang lebih dulu main gigit dan rasanya lebih sakit, lihat bekasnya masih ada bahkan sampai biru!!" selorohnya sampai terhenti sebentar lantaran hendak kembali mengambil napas. "Dan, apa aku pernah marah? Punggungku sampai berdarah apa ada aku cuek? Tidak kan?"

Iya juga, Nadin seketika mengatupkan bibir. Sebenarnya dia diam bukan semata-mata lantaran marah digigit. Melainkan ada alasan lain yang jika Nadin sebutkan besar kemungkinan justru akan semakin menjadi masalah.

Cukup lama Zain menatapnya, memasang wajah datar yang tidak bisa Nadin simpulkan sebenarnya sedang marah atau hanya bercanda. Namun, yang jelas Nadin ciut karena merasa Zain seolah tengah mengulitinya.

Tak ingin Zain marah sungguhan akibat dia yang coba-coba balas dendam, Nadin segera beranjak dan memerintahkan Zain berganti pakaian. Saat ini sang suami memang masih menggenakan celana jeans lengkap dengan kaos hitam dan juga jaketnya, pakaian buru-buru karena minim persiapan.

.

.

"Sebentar, jangan mengalihkan pembicaraan," ucap Zain menahan pergelangan tangan sang istri.

Nadin terlalu lancang bermain-main, dia lupa siapa suaminya. Mengandalkan kedekatan dan sikap Zain yang selalu mengalah beberapa hari terakhir ternyata membuatnya terjebak dalam permainan sendiri.

"Bukannya begitu, Mas, tapi kan memang sudah hampir tengah malam ... buruan ganti baju, kita sama-sama ngantuk."

"Minta maaf dulu."

"Hah?" Nadin mengerutkan dahi, jelas-jelas pria itu yang bersalah, tapi dia justru menuntut Nadin untuk meminta maaf segera.

Walau begitu, Zain tetap keras kepala dan enggan melepaskan Nadin sebelum kata maaf usai mengabaikannya itu terucap dari bibir mungil sang istri. "Minta maaf, apa ucapanku kurang jelas?" tanya Zain seraya menunduk demi menyesuaikan tinggi sang istri.

"Kenapa harus?"

"Haruslah, barusan kamu mengabaikanku seolah patung dan aku tidak suka," jawab Zain dengan entengnya membuat Nadin berada di posisi salah.

Sebagai seseorang yang merasa dirinya tidak salah, mana mau Nadin mengikuti kemauan sang suami dengan segera. "Aku tidak mau, mas yang salah kenapa aku yang harus minta maaf?"

"Ah kamu tidak merasa salah? Aku sudah meminta maaf, tapi kamu yang cueknya luar biasa ... kalau begitu, bagaimana jika kita minta pendapat umi saja?"

Menyebalkan sekali, Nadin mengepalkan tangan begitu mendengar pembelaan diri Zain. Saat ini, sang suami memang mendapatkan dukungan penuh dari Umi Fatimah. Sebelum pulang juga Nadin sudah dinasihati untuk patuh dan jangan sampai membuat suaminya marah.

Andai saja Zain benar-benar menyampaikan hal ini pada Umi Fatimah, besar kemungkinan dia yang akan dianggap salah. "Iya-iya maaf," tutur Nadin pada akhirnya.

Dia tidak ingin masalah kian panjang, oleh karena itu rasanya lebih baik mengalah. "Yang ikhlas," celetuk Zain lantaran merasa kurang puas dengan cara minta maaf yang sang istri lakukan.

Tanpa bertanya bentuk meminta maaf yang ikhlas bagaimana, Nadin mengecup punggung tangan Zain seraya berucap lembut. "Maaf ya, Mas, aku keterlaluan." Begitu lembut Nadin berucap, saat ini tidak ada yang bisa dia lakukan selain menurut saja.

Cara itu cukup berhasil, Zain sampai menggigit bibir demi menahan tawa. Sejak tadi memang tidak marah, hanya saja dia kehilangan akal untuk membujuk sang istri hingga memakai jurus terakhir dalam menaklukan wanita, yaitu balik marah.

"Hm, dimaafkan," jawabnya tetap berpura-pura cuek karena sudah telanjur akting marahnya sungguhan.

Usai mendapatkan maaf dari sang suami, Nadin tetap tidak lupa akan perintah awalnya. Tidak lain dan tidak bukan ialah perintah untuk ganti baju karena memang malam sudah larut dan sudah waktunya untuk tidur.

Jika sebelumnya Zain membantah, kali ini dia menurut. Detik itu Nadin meminta dia ganti baju, detik itu pula Zain melepas jaket dan bajunya. Awalnya tidak ada yang mencurigakan, hingga ketika Nadin baru saja kembali usai mengambilkan piyama untuknya, wanita itu seketika memalingkan muka lantaran Zian menanggalkan celana dan menyisakan boxer hitam polos yang melekat di tubuhnya.

Dibilang boxer, tapi terlalu pendek hingga Nadin malu sendiri melihatnya. Terlebih lagi, pria itu bertelanjang dada hingga memperlihatkan dengan jelas otot-otot di tubuh kekarnya.

Kendati demikian, Nadin tetap berusaha untuk tidak berteriak karena khawatir tetangga kembali mengetuk pintunya. Wanita itu menyerahkan piyama yang telah dia siapkan untuk sang suami segera.

"Tidak mau, aku maunya begini saja?"

Bukan hanya bicara, Zain dengan santainya menghempaskan tubuh ke atas tempat tidur dengan penampilan seperti itu. Nadin yang masih berdiri di hadapannya berdegub tak karu-karuan karena ini kali pertama Zain tidur dengan pakaian terbuka semacam itu.

"Leganya ... sini," ajak Zain usai menemukan posisi nyaman di atas tempat tidur Nadin yang lebih kecil dibandingkan ranjang di rumah utama, bahkan ranjang kost-an sekalipun.

Namun, hendak bagaimana lagi, toh memang adanya ini. Nadin yang juga ngantuk tak punya waktu untuk banyak berpikir dan segera berbaring di sisi Zain.

Tempat tidurnya sangat sempit, terlebih lagi Zain yang sengaja mengambil posisi lebih besar membuat Nadin hanya kebagian sedikit. "Mas," panggil Nadin menatap sang suami yang juga tengah melihat ke arahnya.

"Hm, kenapa?"

"Geseran dong," pinta Nadin setelah mengumpulkan keberanian sejak tadi.

"Geser? Okay." Patuh sekali, tapi sayang patuh ya patuh saja, tanpa peduli bagaimana maunya Nadin. Diminta bergeser agar sedikit jauh, Zain justru mendekat hingga Nadin hanya bisa menghela napas panjang. "Bukan begini maksudnya, Mas."

"Oh." Tanpa diduga-duga Zain justru menarik pinggang Nadin hingga keduanya tak lagi berjarak, dengan posisi ini degub jantung Nadin bahkan mungkin bisa terdengar oleh sang suami. "Begini?" tanya Zain tersenyum tipis dengan mata yang tak melepaskan Nadin walau sedetik saja.

.

.

- To Be Continued -

1
Siti Sopiah
Jihan ni pun satu buzy body.dah di kasih dalil pun masih tak faham jg.kan dah kena
Siti Sopiah
betul2 novelmu thor.takda paragraf tanpa tawa .ngakak pula tu sampai kering gusiku 😄😄😄😄
Siti Sopiah
ya Allah zain.pembaça pun sdh kau buat melayang lalu kau hempaskan gitu je.patutlah pesantren kilat.lulusan pondok kok jek nenggak alkohol.santri semprul
Siti Sopiah
ya komat Kamit kaya mbah dukun baca mantra
Siti Sopiah
kurang ajar zain.dasar iblis
Nizar Ayesha
ya Allah, ngekek terus dari tadi 🤣🤣
Marlina Prasasty
A++
Marlina Prasasty
aduh mau menghindar mala tdk bisa🤦
Maya Ratnasari
hepi aku Baca novel ini, semua straight to the point, mengedepankan kejujuran dengan lugas, meski kadang memalukan, hehehee. masalah juga segera diurai satu persatu. keren lah Thor, bisa memberikan insight buat kita pembacanya.
Maya Ratnasari
qiqiqii, pilih Salah satu aja kak: have a nice day, atau have a good day. kalo have a nice good day jadi salfok menikmati kopi good day
Nurul Aisyah
nah loh ditagih kan wkwkwk 🤣
Zaara
aska bikin bengek mulu🤣🤣🤣
Zaara
serius q bacanya ngakak ga jdi sedih 🤣🤣🤣
Nurul Aisyah
cie cie wkwkwk
Bucinnya Baekhyun🐶
bener bener sih zain 🤣🤣🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙡𝙖𝙝 𝙣𝙖𝙙𝙞𝙣𝙚 𝙠𝙖𝙩𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙡𝙞𝙢 𝙩𝙥 𝙣𝙜𝙪𝙢𝙥𝙖𝙩𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙖𝙢𝙥𝙚 𝙠𝙖𝙩𝙖 𝙝𝙚𝙬𝙖𝙣 𝙜𝙞𝙩𝙪 𝙠𝙖𝙣 𝙖𝙣𝙚𝙝 𝙩𝙧𝙨 𝙢𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙣𝙮𝙖𝙡𝙖𝙝𝙞𝙣 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙡𝙖𝙞𝙣 𝙡𝙖𝙜...
mira maryati
kerennnn musibah membawa berkah 🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙥𝙖𝙡𝙞𝙣𝙜 𝙜𝙖 𝙨𝙪𝙠𝙖 𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙮𝙜 𝙣𝙜𝙖𝙠𝙪𝙣𝙮𝙖 𝙩𝙚𝙢𝙚𝙣 𝙙𝙚𝙠𝙚𝙩 𝙩𝙥 𝙨𝙚𝙜𝙖𝙡𝙖 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙚𝙣 𝙩𝙖𝙪 𝙖𝙡𝙞𝙖𝙨 𝙩𝙚𝙧𝙡𝙖𝙡𝙪 𝙤𝙫𝙚𝙧 𝙠𝙚𝙥𝙤𝙣𝙮𝙖 𝙢𝙖𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙥𝙧𝙞𝙗𝙖𝙙𝙞 𝙩𝙚𝙢𝙚𝙣𝙣𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙚𝙣𝙙𝙞𝙧𝙞 𝙮𝙜 𝙨𝙚𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨𝙣𝙮𝙖 𝙟𝙞𝙝𝙖𝙣 𝙣𝙜𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙠𝙖𝙡𝙖𝙪 𝙣𝙖𝙙𝙞𝙣𝙚 𝙜𝙖 𝙢𝙖𝙪 𝙘𝙚𝙧𝙞𝙩𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙖𝙧𝙩𝙞 𝙜𝙖 𝙪𝙨𝙖𝙝 𝙩𝙧𝙨2𝙖𝙣 𝙣𝙮𝙚𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙚𝙣 𝙩𝙖𝙪 𝙠𝙧𝙣 𝙞𝙩𝙪 𝙣𝙖𝙢𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙜𝙖 𝙥𝙪𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙙𝙖𝙗.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙨𝙮𝙪𝙠𝙪𝙧𝙡𝙖𝙝 𝙜𝙖 𝙜𝙖𝙣𝙜𝙜𝙪 𝙡𝙜 𝙝𝙖𝙢𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙡𝙖𝙜𝙞𝙖𝙣 𝙗𝙡𝙤𝙠𝙞𝙧 𝙨𝙖𝙟𝙖 𝙨𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙩𝙚𝙣𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙖𝙣𝙩𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙡𝙖𝙪 𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙜𝙖 𝙥𝙚𝙣𝙩𝙞𝙣𝙜 𝙢𝙖𝙝 𝙣𝙜𝙖𝙥𝙖𝙞𝙣𝙨𝙝 𝙙𝙞𝙨𝙞𝙢𝙥𝙖𝙣 𝙯𝙖𝙞𝙣 𝙣𝙤 𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙢𝙚𝙙𝙨𝙤𝙨𝙣𝙮𝙖.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙨𝙖𝙢𝙖2 𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝, 𝙣𝙖𝙙𝙞𝙣𝙚 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙩𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙗𝙖𝙞𝙠 𝙗𝙖𝙞𝙠 𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙯𝙖𝙞𝙣 𝙟𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙡𝙖𝙣𝙜𝙨𝙪𝙣𝙝 𝙢𝙖𝙧𝙖𝙝 𝙩𝙖𝙣𝙥𝙖 𝙗𝙞𝙘𝙖𝙧𝙖 𝙥𝙚𝙡𝙖𝙣2 𝙙𝙪𝙡𝙪 𝙢𝙖𝙚𝙣 𝙟𝙖𝙢𝙗𝙖𝙠 𝙩𝙧𝙨 𝙯𝙖𝙞𝙣 𝙟𝙪𝙜𝙖 𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝𝙣𝙮𝙖 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙞𝙨𝙩𝙧𝙞𝙗𝙨𝙚𝙙𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙚𝙧𝙞𝙪𝙨 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨𝙣𝙮𝙖 𝙩𝙖𝙣𝙜𝙜𝙖𝙥𝙞 𝙙𝙜𝙣 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙗𝙚𝙧𝙘𝙖𝙣𝙙𝙖 𝙠𝙧𝙣 𝙖𝙙𝙖 𝙢𝙖𝙨𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙨𝙚𝙧𝙞𝙪𝙨 𝙣 𝙗𝙚𝙧𝙘𝙖𝙣𝙙𝙖 𝙗𝙚𝙙𝙖 𝙟𝙜𝙣 𝙖𝙥𝙖2 𝙙𝙞 𝙖𝙣𝙜𝙜𝙖𝙥 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙡𝙚 𝙩𝙞𝙖𝙥 𝙖𝙙𝙖 𝙮𝙜 𝙨𝙚𝙧𝙞𝙪𝙨/𝙣𝙚𝙧𝙘𝙖𝙣𝙙𝙖 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙗𝙞𝙟𝙖𝙠 𝙣𝙮𝙞𝙠𝙖𝙥𝙞 𝙥𝙙 𝙩𝙚𝙢𝙥𝙖𝙩𝙣𝙮𝙖.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!