Satu like salah. Satu DM berantai. Satu hidup yang kacau.
Ardi cuma ingin menghilangkan bosannya. Kinan ingin hidupnya tetap aesthetic. Tapi ketika Ardi accidentally like foto lama Kinan yang memalukan, medsos mereka meledak, reputasi hancur, dan mereka terpaksa berkolaborasi dalam proyek paling absurd: menyelamatkan karir online dosen mereka yang jadi selebgram dadu.
#SalahFollow Bukan cinta pada like pertama, tapi malu pada like yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: JOGJA, JANJI, DAN JERITAN DI MALAM PERTAMA
Disclaimer: Bab ini mengandung pindahan yang lebih bikin stres daripada sidang skripsi, kontrakan yang ternyata nggak sesuai brosur, dan pertengkaran yang dimulai dari siapa yang bawa panci.
---
Hari-H pindahan ke Jogja itu kayak adegan film komedi murahan yang gagal total.
Mobil rental sewaan Bowo (yang dia janjiin "mobil bagus, bro") ternyata pick-up tua yang mesinnya ngerem melek kalo nanjak. Barang mereka ditumpuk kayal kayu gelondongan, diikat pake tali tambang yang udah mulai mulur. Kinan duduk di kabut sambil peluk laptop dan tanaman sukulen Sirih, mukanya pucat. Ardi nyetir, keringet bercucuran, sambil terus memaki GPS yang nyuruh muter-muter komplek perumahan.
"KATA NYA DI 'PERUMAHAN ASRI DEKAT KAMPUS'!" teriak Ardi, setir dibanting.
"LO YANG PILIH KONTRAKAN INI KAN! GUE SUDAH BILANG LIHAT REVIEW DULU!"
"REVIEW NYA BAGUS! KATA NYA 'HOMEY' DAN 'ARTISTIC VIBES'!"
"Homey" dan "artistic vibes" ternyata artinya: rumah semi-permanen yang catnya ngelupas, halaman depan dipenuhi rumput liar setinggi lutut, dan ada satu ayam jago yang kayaknya nge-klaim teras depan sebagai wilayah kekuasaannya.
Begitu pintu dibuka, aroma apek menyambut. Lantainya berdebu tebal. Ada sarang laba-laba sebesar kepalan tangan di sudut langit-langit. Listrik nyala, tapi lampunya kedap-kedip kayak lagi nge-party.
Kinan berdiri di pintu, tas tangan masih tergenggam. Matanya berkaca-kaca. Bukan karena haru. Tapi karena marah dan kecewa campur jadi satu.
"Gue... gue nggak bisa," bisiknya.
"Apa?" Ardi masih sibuk angkat kardus.
"GUE NGAK BISA TINGGAL DI SARANG LABA-LABA DAN AYAM JAGO!"
Lalu dia nangis. Bukan nangis pelan ala sinetron. Tapi nangis histeris, sambil jongkok di lantai berdebu, gaun putihnya langsung keliatan kotor. Semua stress 2 bulan terakhir persiapan pindah, urus administrasi, jual beli barang, tekanan keluarga yang nggak setuju meledak jadi satu di kontrakan culun ini.
Ardi panik. Dia turunin kardus, berusaha nenenangin. "Kin, sini... nanti kita bersihin..."
"BERSIHIN?! ARDI, INI BUKAN RUMAH! INI KANDANG! LO TAU GUE JIJAYAN SAMA LABALABA!"
"TAPI KAN HARGA NYA MURAH! KITA BISA NABUNG!"
"GUE NGGAK PEDULI MURAH! GUE MAU TIDUR MALAM INI TANPA TAKUT DIGIGIT KALAJENGKING!"
Bowo yang lagi angkat kasur, cengar-cengir. "Waduh, berantem nih. Gue tunggu di luar ya."
Pertengkaran itu intens. Berakar dari hal receh: ketidakcocokan ekspektasi vs realita. Kinan yang visual, yang butuh lingkungan estetik buat bisa kreatif. Ardi yang praktis, yang mikir function over form. Dua filosofi yang bentrok di tengah debu dan teriakan ayam jago.
---
Malam pertama mereka dihabisin bukan di kasur baru, tapi di lobby hotel budget yang jaraknya 5 km dari kontrakan. Mereka sewa satu kamar, karena kelelahan dan mental udah jebol. Suasana dingin. Kinan mandi lama banget, kayak lagi menggosok kegagalan dari kulitnya. Ardi tiduran di kasur, matanya natap langit-langit hotel yang ada noda air kekuningan.
"Gue minta maaf," kata Kinan keluar kamar mandi, suaranya serak. "Gue overreact."
"Gue juga. Gue seharusnya survey langsung, bukan percaya review doang."
"Mungkin kita terlalu maksain semuanya berjalan perfect."
"Padahal namanya mulai dari nol ya gini."
Mereka diam. Lelah yang lebih dalam dari sekedar fisik.
"Besok kita cari kontrakan baru," kata Ardi akhirnya.
"Tapi duit sewa yang udah bayar?"
"Gue yang tanggung. Itu salah gue."
"Jangan. Kita tanggung berdua. Tapi... boleh gue pilih kontrakan berikutnya? Gue yang survey langsung."
"Deal."
---
Pencarian kontrakan hari kedua berjalan lebih waras. Kinan yang pegang kendali. Dia datengin langsung, foto detail, tanya tetangga. Akhirnya nemu tempat: ruang atas (loteng) sebuah rumah tua di daerah Baciro. Pemiliknya keluarga seniman yang jarang di rumah. Harganya agak lebih mahal, tapi bersih, penuh cahaya, ada balkon kecil yang menghadap ke pohon-pohon rindang. "Artistic vibes" yang beneran.
Mereka pindah hari itu juga. Dengan bantuan Bowo dan uang rokok buat tukang angkut di pasar, semua barang pindah ke tempat baru. Kinan langsung bersih-bersih sambil nyetel playlist lagu indie. Ardi rakit rak dan lemari yang second. Kali ini, mereka kompak. Nggak ada teriakan. Ada tertawa kecil waktu Ardi salah pasang paku dan temboknya bolong.
Sorenya, mereka duduk di balkon, makan nasi kotak, lihat matahari terbenam di antara pepohonan.
"Kapan terakhir kali lo liat sunset beneran?" tanya Ardi.
"Nggak inget. Terlalu sibuk ngurusin pindahan."
"Kalo dipikir-pikir, kita kemarin kayak orang kesurupan. Maaf ya."
"Gue juga. Tapi mungkin itu perlu. Biar kita tau, kita nggak se-harmonis yang kita kira."
Itulah pelajaran pertama Jogja: membangun dari nol itu nggak romantis. Nggak aesthetic. Penuh debu, salah paham, dan kemungkinan bertemu ayam jago yang galak. Tapi setelah badai reda, ada kepuasan aneh: bahwa mereka berhasil melewatinya, tanpa ada yang kabur.
---
Hidup baru pelan-pelan terbentuk. Kinan mulai meeting kecil-kecilan dengan komunitas desain Jogja. Ardi ikut kopdar komunitas musik digital. Mereka sepakat punya "me time" masing-masing 3 hari dalam seminggu, biar nggak melulu diem berdua di kontrakan.
Tapi tantangan baru muncul: kesepian di tengah kebersamaan.
Di Bandung/Jakarta, mereka punya temen, punya tempat wajib, punya rutinitas. Di Jogja, mereka cuma punya satu sama lain. Itu berat. Kadang Kinan lagi mood cerita panjang lebar tentang klien, Ardi lagi kecapekan dan cuma bisa ngangguk. Kadang Ardi pengin keluar cari inspirasi, Kinan lagi pengin diem di rumah. Mereka harus belajar memberi ruang, bukan karena pengen, tapi karena kebutuhan.
Pertengkaran kedua lebih halus, tapi menusuk. Soal uang lagi. Uang mereka terbatas. Ardi nawarin buat jual salah satu gitar koleksinya buat tambah modal studio Kinan.
"Jangan. Itu gitar favorit lo," kata Kinan.
"Tapi lo perlu iMac buat desain. Laptop lo udah lemot."
"Gue bisa nabung pelan-pelan."
"Tapi lama. Kesempatan nggak nunggu."
"JADI SEKARANG LO YANG MAU KORBANIN DIRI? KEMARIN KAN KATA NYA NGGAK ADA YANG MENGALAH?"
"Ini nggak mengalah! Ini... investasi!"
"Investasi di gue? Jadi lo anggap ini investasi?"
Lagi-lagi, beda persepsi. Bagi Ardi, berkorban adalah wujud cinta. Bagi Kinan, dikasihani adalah bentuk ketidaksetaraan.
Akhirnya mereka nemu solusi tengah: gitar nggak dijual, tapi dipakai buat jaminan pinjam ke koperasi simpan pinjam kampus Jogja. Itu kompromi: Ardi nggak kehilangan gitar, Kinan dapet modal tanpa merasa dikasihani. Mereka belajar: bantu itu boleh, asal nggak bikin yang dibantu merasa jadi proyek amal.
---
Minggu keempat, kehidupan mulai ada polanya. Pagi, mereka sarapan bareng di warung dekat rumah. Siang, kerja masing-masing. Sore, kadang jalan-jalan ke pasar seni atau cari makan malam di angkringan. Malam, nonton film atau sekadar duduk di balkon, ngobrolin hal-hal kecil.
Suatu malam, Kinan nyeletuk, "Kalo dulu ada yang bilang gue bakal tinggal di loteng Jogja, pacaran sama anak band yang suka debat soal laba-laba, gue bakal bilang mereka gila."
"Dan sekarang?"
"Sekarang gue bilang... hidup emang nggak pernah sesuai skenario. Tapi skenario yang nggak direncanain ini... nggak buruk juga."
Ardi tersenyum, pegang tangan Kinan. Di kejauhan, suara kereta api lewat menggema. Jogja pelan-pelan berhenti jadi "tempat baru yang asing", mulai jadi "tempat mereka".
---
LAST LINE: Di dinding loteng, mereka tempelin peta Jogja butut, dan tancapan pin-pin warna-warni di tempat-tempat yang udah mereka datengin: angkringan, pasar seni, toko kaset lawas, bahkan kantor kelurahan buat urus KTP. Peta itu belum penuh. Masih banyak area kosong. Tapi setiap pin itu cerita. Ada yang ceritanya lucu, ada yang ceritanya bikin kesel, ada yang cuma biasa aja. Dan mungkin, hubungan yang sehat itu bukan tentang nge-plot jalan lurus di peta. Tapi tentang berani masuk ke daerah yang belum ada petanya, lalu bilang: "Ayo kesana. Siapa tau asik. Kalo nggak asik, paling-paling kita nyasar. Tapi kita nyasar bareng."* 🚂🗺️