Empat tahun menikah tanpa cinta dan karena perjodohan keluarga, membuat Milea dan Rangga Azof sepakat bercerai. Namun sebelum surat cerai diteken, Rangga mengalami kecelakaan hebat yang membuatnya koma dan kehilangan ingatan. Saat terbangun, ingatannya berhenti di usia 22 tahun. Usia ketika ia belum menjadi pria dingin dan ambisius.
Anehnya, Rangga justru jatuh cinta pada Milea, istrinya sendiri. Dengan cara yang ugal-ugalan, manis, dan posesif. Di sisi lain, Milea takut membuka hati. Ia takut jika ingatan Rangga kembali, pria itu bisa kembali menceraikannya.
Akankah cinta versi “Rangga 22 tahun” bertahan? Ataukah ingatan yang kembali justru mengakhiri segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 31.
Kata rumah sakit membuat tenggorokan Milea tercekat.
Ia masih membungkuk di depan wastafel toilet restoran, kedua telapak tangannya menekan pinggiran porselen dingin. Cermin besar di hadapannya memantulkan wajah pucat dengan mata yang berkilat bukan karena air mata, melainkan kewaspadaan.
Ia tahu, ini bukan ajakan biasa.
Ini jebakan lanjutan.
Ethan berdiri di belakangnya, cukup dekat hingga Milea bisa mencium aroma parfumnya—aroma yang dulu pernah ia anggap menenangkan, kini berubah menjadi ancaman.
“Aku baik-baik saja, nggak perlu ke rumah sakit,” ucap Milea, suaranya dibuat setenang mungkin. “Mungkin hanya masuk angin.”
Ethan tersenyum, senyum yang terlalu penuh perhatian untuk disebut tulus. “Tidak, aku nggak mau ambil risiko. Kau kelihatan sangat tidak sehat.”
Tangannya masih bertahan di punggung Milea, sedikit menekan.
Milea menegakkan tubuh perlahan, lalu berbalik. Ia menatap pria itu, membiarkan raut rapuh kembali menguasai wajahnya.
“Kau terlalu berlebihan, aku lebih tau tubuhku sendiri.”
Ethan menggeleng. “Kau tidak pernah pandai menjaga diri sendiri, Lea.”
Milea menahan napas.
“Baik,” katanya akhirnya, menurunkan bahu seolah menyerah. “Kalau itu membuatmu tenang.”
Ethan terlihat puas.
Dan Milea tahu, ia baru saja masuk satu tingkat lebih dalam ke permainan berbahaya.
Dari kejauhan, Rangga melihat semuanya.
Ia berdiri di balik pilar luar restoran, topi ditarik rendah, wajahnya tegang. Ketika melihat Ethan masuk ke toilet wanita, darahnya serasa berhenti mengalir.
“Dia masuk,” gumamnya.
Arga langsung menegang. “Itu sudah melewati batas.”
Jenny menutup mulutnya. “Rangga, kita nggak bisa bertindak gegabah. Kalau Ethan sadar kita ada di sini—”
“Aku suaminya!” suara Rangga pecah tertahan. “Aku tidak akan diam saat pria itu masuk toilet bersama istriku!”
“Tunggu,” tahan Arga keras. “Lihat dulu apa yang terjadi.”
Beberapa menit terasa seperti berjam-jam.
Ketika akhirnya Milea dan Ethan keluar, wajah Milea terlihat lebih pucat tapi langkahnya masih stabil. Namun Rangga melihat sesuatu yang membuat dadanya diremas ketakutan.
Cara Milea menunduk, cara wanita itu membiarkan Ethan memegang lengannya saat berjalan keluar. Itu membuat hatinya... nyeri.
Di dalam mobil Ethan, Milea duduk di kursi penumpang. Pintu terkunci otomatis.
Klik.
Bunyi kecil itu cukup untuk membuat jantung Milea berdegup lebih cepat.
“Kau gemetar,” kata Ethan sambil menyalakan mesin. “Aku bilang juga apa, kau butuh diperiksa.”
“Aku hanya tidak suka rumah sakit,” jawab Milea cepat.
“Kau dulu juga begitu,” ujar Ethan santai. “Tapi kau selalu menuruti kata-kataku.”
Milea menoleh ke luar jendela, menyembunyikan rahang yang mengeras.
Mobil melaju. Dan tanpa Milea sadari, rute yang diambil bukan arah rumah sakit.
“Ethan, apa ini jalan ke RS?” Tanya wanita itu yang tiba-tiba curiga.
Ethan tersenyum. “Aku punya dokter langganan, jadi bisa lebih privat.“
Milea diam-diam meraih ponsel di tas, mengaktifkan perekam suara. Layar dibiarkan gelap.
“Kalau aku hamil,” kata Milea tiba-tiba, nadanya bergetar, “Kau akan melakukan apa?”
Ethan terdiam sesaat, lalu tertawa kecil. “Kau terlalu berandai-andai.”
“Itu pertanyaan serius,” tekan Milea.
“Tentu saja, aku akan menjagamu dan anakmu,” jawabnya cepat. “Aku juga akan menjauhkan mu dari orang-orang yang bisa menyakitimu.”
“Termasuk Rangga?”
“Terutama dia.”
Jawaban itu direkam dengan jelas. Sementara itu, mobil Rangga mengikuti dari jarak jauh.
“Kenapa mobil mereka belok ke arah sana?” Rangga menggenggam setir keras.
Jenny panik. “Rangga… Milea kelihatannya kurang baik.”
Rangga menelan ludah. “Dia sendirian menghadapi pria itu.”
“Tidak, dia tidak sendirian. Kita di sini, bersamanya!” Ujar Arga.
Namun di dalam hatinya Arga tahu, Milea sendirian secara emosional. Dan itu yang paling berbahaya.
Rumah sakit yang Ethan tuju sepi, itu rumah sakit kecil dengan lampu temaram. Tidak ada pasien lain, tidak ada resepsionis terlihat di depan.
“Kau yakin ini tempat yang aman?” tanya Milea, matanya berkeliaran memeriksa tempat itu.
“Tentu.”
Seorang pria paruh baya muncul dari balik pintu, mengenakan jas dokter. Ia mengangguk pada Ethan, lalu menatap Milea sekilas.
“Silakan masuk.”
Milea melangkah, napasnya dijaga tetap stabil. Dalam benaknya, ia mengulang rencana.
Jangan panik.
Jangan memicu kecurigaan Ethan, dia harus kumpulkan bukti.
Di dalam ruangan, dokter itu mulai bertanya pertanyaan standar. Milea menjawab seperlunya.
“Apakah ada kemungkinan kehamilan?” tanya dokter.
“Tidak,” jawab Milea cepat.
Ethan menoleh padanya. “Kau yakin?”
Milea menatap balik. “Sangat.”
Dokter mengangguk. “Kalau begitu kita akan lakukan pemeriksaan ringan.”
Ethan berdiri. “Aku tunggu di luar.”
Saat pintu tertutup, Milea langsung berdiri.
“Dia berbahaya, tolong selamatkan saya,” bisiknya cepat pada dokter.
Dokter itu terkejut. “Apa maksud Anda?”
Milea menatap Dokter itu, tekadnya mengeras. “Bantu saya... saya sudah mengumpulkan banyak bukti. Saya hanya butuh satu hal lagi, saksi seperti Anda. Berapapun yang Anda minta, saya akan bayar.“
Dokter itu terdiam beberapa detik, lalu akhirnya mengangguk.
Ketika Ethan masuk kembali, Milea duduk dengan wajah tenang.
“Bagaimana?” tanya Ethan.
Dokter menjawab lebih dulu. “Belum bisa dipastikan apa pun, tapi saya sarankan pasien menghindari stres.”
Ethan tersenyum puas. “Lihat? Kau harus menjauh dari hal-hal yang menyakitimu.”
Milea menatapnya. “Termasuk kau?”
Ethan tertawa kecil. “Kau masih suka bercanda. Lea, kalau aku benar-benar jahat… kau pikir kau masih bisa berdiri bebas di sini?”
Kalimat itu, ancaman yang dibungkus kepercayaan diri. Dan Milea merekamnya.
Di luar Klinik, Rangga akhirnya kehilangan kesabaran.
“Cukup! Aku akan masuk.”
“Rangga, tunggu!” Arga mencoba menahan.
Namun terlambat, Rangga membuka pintu klinik dengan kasar. Ethan menoleh, wajahnya membeku setengah detik sebelum berubah emosi. “Kau!“
Milea berbalik, tiba-tiba ia berlari dan langsung memeluk Rangga erat-erat.
Rangga terkejut, Ethan pun membeku di tempat. Di wajah Milea tidak ada rasa takut—yang ada hanya ketenangan.
“Rangga…” suaranya pelan.
“Apa yang dia lakukan padamu?” tanya Rangga dengan suara bergetar. Kedua lengannya mengurung tubuh Milea, nalurinya bergerak lebih dulu untuk melindungi istrinya.
Milea menggeleng pelan. “Aku nggak apa-apa. Aku berhasil!”
Wanita itu lalu menoleh ke arah Ethan, tatapannya tajam tanpa sisa kepura-puraan lagi. “Permainanmu sudah berakhir, Ethan.”
Milea mengangkat ponselnya dan menekan satu tombol.
“Semua sudah terekam di sini dan sudah kukirim ke email agar aman. Setiap penguntitan mu, setiap ancamanmu. Termasuk situasi saat ini.” Ia berhenti sejenak, suaranya mengeras. “Aku tahu isi kepalamu. Jika aku benar-benar hamil, kau akan melenyapkan anakku. Itu sebabnya kau sengaja membawaku ke tempat seperti ini, bukan?”
Ethan membeku, ia tak pernah menyangka Milea sudah sejauh itu melangkah.
Rangga menatap Milea dengan wajah pucat. “Kamu hamil?”
Milea menatap suaminya, suaranya bergetar meski karena tak bisa sepenuhnya disembunyikan. “Ada kemungkinan, tapi aku belum yakin. Dan soal kepergianku darimu… itu bukan karena marah. Aku tahu sandiwaramu dengan Jenny. Aku pergi untuk menjebak Ethan, supaya semua ini tidak berlarut-larut.”
Pandangan Milea tak goyah. “Aku tahu kamu punya rencana. Tapi rencanamu butuh waktu dan berisiko gagal kalau Ethan mulai curiga.”
Kesadaran itu menghantam Rangga lebih keras dari apa pun. Istrinya—yang ia kira rapuh dan membutuhkan perlindungan, ternyata berdiri di tengah api sendirian. Bahkan sejak awal, Milea sudah memegang kendali.
Tak lama kemudian, polisi datang dan langsung membawa Ethan pergi. Pria itu berteriak-teriak sambil mengutuk.
“Kau tetap akan jadi milikku, Milea!”
Suaranya makin menjauh saat tubuhnya didorong masuk ke mobil petugas. Untuk sementara, semua orang akhirnya bisa bernapas lega.
Rangga masih terdiam, ia tak mampu berkata apa-apa. Selama ini ia meremehkan kekuatan Milea—mengira trauma akan membuat istrinya rapuh. Nyatanya, Milea justru berdiri paling kokoh dan berhasil menjebak Ethan dengan caranya sendiri.
semangat berkarya ka💪💜
Makasih kak, ceritanya bagus banget... Sukses terus yah Kak, aku tunggu karya kak Re selanjutnya... 😇😇😇
Tapi oke lah, sekarang kalian udah nikah.. dan sah secara hukum dan agama.. ☺
aku senang bahagia melihat mereka berdua bahagia 😍
huaaaaaa dah tamat l, aslinya belum rela pisah dgn mereka, tapi ada pertemuan pasti ada perpisahan.
terimakasih thor ceritanya luar biasa, sukses terus dgn karya-karyanya di novel 💪
cengeng bgt deh aku, sedih seneng terharu nangis 🙈
lagian hati Nara dah buat Langit kok, dia dah mulai cemburu gitu, apalagi cintanya Langit dari dulu hanya untuk Nara 😁