NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Anak Duda Kaya

Terjebak Cinta Anak Duda Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Trauma masa lalu / Keluarga / Diam-Diam Cinta / Romantis / Ibu Pengganti
Popularitas:16k
Nilai: 5
Nama Author: Shalema

Kanara, enam tahun, memilih diam dan takut pada cermin.

Nura datang hanya untuk menolong, tapi malah terikat pada Elang, ayah Kanara, duda kaya yang menyimpan luka dan penyesalan.

Di antara tangisan dan kasih yang tumbuh perlahan, cinta hadir tanpa rencana. Namun saat masa lalu mulai terkuak, Nura harus memilih, pergi untuk melindungi diri atau bertahan mencintai dua hati yang sama-sama terluka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shalema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Antisipasi

Elang tidak menunggu reaksi ibunya lebih lama lagi. Setelah memberikan penghormatan terakhir yang tulus kepada keluarga Pak Hendra dan menjanjikan tunjangan pendidikan bagi cucu almarhum, ia menuntun Nura pergi.

Namun, tujuannya bukan ke rumah. Amarah yang membakar di dadanya butuh penyaluran, dan hanya satu tempat yang menjadi pusat kekacauan ini, Wiratama Group.

“Ra, tunggu di mobil sama Rian. Aku tidak akan lama,” ucapnya setibanya di lobi kantor. Suaranya terdengar datar, namun sorot matanya sedingin es.

Nura memegang lengan Elang sejenak. “Mas… tolong kendalikan diri. Jangan biarkan kemarahan memandu langkahmu.”

Elang hanya mengangguk singkat, lalu keluar dari mobil dengan langkah panjang. Ia tidak menyapa siapapun. Lift eksekutif membawanya langsung ke lantai paling atas, ruang kerja ayahnya, Darmawan Wiratama.

Tanpa mengetuk, Elang menghempaskan pintu kayu jati besar itu, hingga menghantam dinding.

Brak!

Pria tua yang sedang duduk di balik meja besar itu bahkan tidak terkejut. Pak Darmawan hanya menurunkan kacamata bacanya, menatap putra tunggalnya dengan ketenangan yang mengintimidasi.

“Sangat tidak sopan, Elang. Apa itu yang diajarkan di sekolah bisnis luar negeri?” tanya Pak Darmawan tenang.

“Sopan santun sudah mati bersama Pak Hendra pagi ini,” Elang membanting amplop berisi surat wasiat Pak Hendra ke atas meja ayahnya. “Ayah tahu kan?! Ayah tahu kalau dia diancam! Ayah tahu kalau bukan dia pelakunya, tapi Ayah membiarkanku menjebloskannya ke penjara.”

Pak Darmawan melirik amplop itu tanpa menyentuhnya. “Dunia bisnis bukan tempat untuk orang yang mengandalkan perasaan, Elang. Pak Hendra adalah tumbal yang diperlukan untuk menjaga stabilitas saham kita. Kalau bukan dia yang masuk, maka penyelidikan akan mengarah ke posisi yang lebih tinggi. Keluarga kita.”

Elang tertawa getir, matanya memerah. “Jadi, itu alasannya? Ayah mengorbankan orang paling setia di perusahaan ini demi menutupi kesalahan orang lain? Atau… demi menutupi kesalahan Ayah sendiri?”

Pak Darmawan, aura kekuasaannya menyelimuti ruangan. “Jaga bicaramu! Aku melakukan ini untuk masa depanmu, untuk warisan yang akan kamu pegang.”

“Aku tidak butuh warisan yang berlumuran darah,” Elang memajukan tubuhnya, menumpu kedua tangan di meja. “Pak Hendra bilang iblis itu sangat dekat. Sekarang aku sadar, iblis itu bukan hanya orang yang mengancamnya, tapi orang yang diam saja saat tahu ada ketidakadilan terjadi. Siapa yang Ayah lindungi? Kenapa Ayah membiarkan bukti-bukti fiktif itu sampai di tanganku?”

Pak Darmawan terdiam, matanya menyipit. “Sejak kematian Tari, otakmu jadi tumpul.”

“Jangan bawa-bawa Tari dalam masalah ini,” desis Elang penuh penekanan.

“Kenapa tidak? Rasa bersalahmu pada Tari jadi kelemahanmu. Dan, di gedung ini kelemahan adalah target empuk,” Pak Darmawan mendekat, menepuk bahu Elang keras. “Pulanglah. Bersihkan dirimu dari bau pemakaman itu. Soal Pak Hendra, biarkan pengacara perusahaan yang mengurus santunannya. Jangan mengorek lubang yang bisa menenggelamkanmu sendiri.”

Elang menepis tangan ayahnya. Ia menyadari satu hal, ayahnya mungkin tidak menarik pelatuknya, tapi ayahnya adalah orang yang menyediakan senjatanya.

“Aku akan melakukan audit independen. Bukan melalui orang-orang Ayah. Jika aku menemukan satu jejak bahwa keluarga ini terlibat dalam ancaman terhadap cucu Pak Hendra… aku sendiri yang akan menyerahkan bukti itu ke pihak kepolisian. Meskipun itu artinya aku harus menghancurkan nama Wiratama.”

Elang berbalik pergi, namun suara ayahnya kembali menghentikannya di ambang pintu.

“Elang… mengenai hubunganmu dengan terapis itu, jangan berharap bisa melanjutkan pada sesuatu yang serius. Dan, jangan sampai media tahu. Kamu tahu betul apa yang bisa dilakukan ibumu.”

Elang tidak menoleh, melangkah keluar dan menutup pintu di belakangnya dengan keras. Ia kembali ke dalam mobil dengan napas memburu memburu. Begitu duduk di kursi belakang, ia menyandarkan kepalanya di bahu Nura, menggenggam tangannya.

“Mas?” bisik Nura khawatir.

“Kita pulang, Ra,” suara Elang terdengar sangat lelah.

**********

Mobil yang membawa mereka akhirnya membelah gerbang rumah besar itu. Selama perjalanan, Elang hanya membisu, memejamkan mata sambil terus mengenggam tangan Nura seolah takut kehilangan sesuatu yang membuatnya tetap waras.

Begitu pintu mobil terbuka, terdengar suara langkah kaki kecil yang berlari di atas lantai marmer.

“Ayah! Kak Nura!”

Kanara berlari menghampiri dengan wajah berseri-seri. Ia mengenakan piyama bermotif kelinci, rambutnya sedikit berantakan karena baru saja terbangun dari tidur siangnya. Di belakangnya, Bu Yati berjalan tergesa-gesa mencoba mengejar sang gadis.

Melihat putrinya, gurat ketegangan di wajah Elang perlahan luruh. Ia berlutut, merentangkan tangan untuk menerima tubrukan hangat dari tubuh mungil Kanara.

“Hai, Sayang… Kanara sudah bangun?” bisik Elang, menciumi pucuk kepala Kanara berkali-kali. Aroma sabun bayi dari tubuh Kanara seolah menjadi obat penenang yang lebih ampuh dari apapun.

Kanara melepaskan pelukannya, lalu beralih menatap Nura dengan mata bulatnya yang penuh rasa ingin tahu. “Kak Nura… sedih?” tanya Kanara terbata, jemari kecilnya menyentuh pipi Nura.

Nura tersentak. Ia tidak menyadari bahwa sisa kesedihan di matanya masih terlihat jelas oleh bocah enam tahun itu. Nura segera memaksakan sebuah senyum hangat, meski hatinya masih terasa sesak. “Enggak, Kak Nura cuma… cuma kangen sama Kanara.”

Kanara kemudian meraih tangan Elang dan tangan Nura, menyatukan keduanya dalam genggaman tangannya yang mungil. “Ayah… Kak Nura, jangan pergi lama-lama lagi. Kanara mau ikut…”

Elang tertawa kecil. “Iya, Ayah janji. Kita akan sama-sama terus,” ucap Elang lembut, matanya menatap Nura dengan intensitas yang dalam, seolah memberikan janji yang sama kepada wanita itu.

Bu Yati mendekat dengan wajah lega namun tetap tampak khawatir. “Bapak, Mba Nura, syukurlah sudah pulang. Tadi non Kanara sempat rewel nyariin, untungnya bisa diajak tidur siang sebentar.”

“Terima kasih, Bu Yati. Tolong minta siapkan makan malam,” intruksi Elang.

Ia kemudian bangkit sambil menggendong Kanara di satu lengannya, sementara tangan lainnya merangkul bahu Nura, menuntun mereka masuk ke dalam rumah.

Malam itu, setelah Kanara kembali terlelap dan Elang mengurung diri di ruang kerjanya, Nura akhirnya memiliki waktu untuk dirinya sendiri. Ia memilih duduk di atas balkon kamarnya, matanya menatap ke depan tapi pikirannya tidak berada di sana.

Ia membutuhkan seseorang untuk mendengar semua kegilaan ini. Tangannya bergerak mencari nomor Zoya. Panggilan itu hanya berdering dua kali sebelum suara melengking Zoya menyapanya.

📞 “Nura, ya ampun, akhirnya! Aku baru mau telepon kamu.”

📞 “Zoy… aku rasa aku harus menyiapkan hati buat pergi.”

Nura berkata tanpa basa-basi.

📞 “Hah? Pergi? Ra, jangan bercanda! Bukannya kamu bilang progres Kanara lagi bagus-bagusnya? Terus, Pak Elang juga udah mulai ‘nempel’ kayak perangko, kan?”

Nura memejamkan mata, teringat bagaimana hangatnya napas Elang di ceruk lehernya saat ia terbangun tadi pagi.

📞 “Justru itu masalahnya, Zoy. Semuanya berkembang terlalu cepat… Mas Elang—”

📞 “Apa… Apa? Kamu udah mulai manggil Mas?”

Nura bisa membayangkan mata Zoya terbelalak di seberang sana.

📞 “Iya, dia minta aku nggak manggil pak.”

Nura menyahut cepat.

📞 “Mas Elang mulai bergantung sama aku. Bukan cuma soal Kanara, tapi soal hidupnya, soal masalah kantornya yang ternyata kotor banget.”

📞 “Ya bagus, dong? Itu artinya dia percaya sama kamu!”

📞 “Gak sebagus itu, Zoya. Tadi di pemakaman salah satu karyawannya Mas Elang, ibunya Mas Elang kasih peringatan lagi.”

📞 “Tunggu… tunggu. Maksudnya kamu diajak Mas, eh Pak Elang ke pemakaman salah satu karyawannya? Yang juga banyak kolega bisnisnya?”

📞 “Iya.”

Zoya menarik napas panjang.

📞 “Wah, Nura… kamu bener! Ini memang terlalu cepat, sih.”

📞 “Kalau aku terus di sini, aku bisa jadi beban buat Mas Elang yang udah punya terlalu banyak masalah.”

📞 “Ra, tapi kamu cinta sama dia, kan?”

Suara Zoya terdengar serius.

📞 “Itu dia ketakutan terbesarku.”

Suara Nura bergetar.

📞 “Aku mulai cinta. Sama Kanara, sama Elang. Dan karena aku sayang mereka, aku mikir… mungkin aku harus pergi sebelum semuanya makin berantakan. Sebelum aku dipaksa pergi dengan cara yang lebih menyakitkan sama keluarganya.”

📞 “Kamu mau nyerah gitu aja?”

📞 “Ini bukan nyerah, Zoy. Ini antisipasi.”

Zoya menghela napas panjang. Ia sudah terlalu mengenal Nura.

📞 “Terus kamu mau gimana? Langsung cabut?”

📞 “Nggak sekarang. Aku harus selesaikan sesi Kanara sampai dia benar-benar stabil. Tapi, Zoy… tiap kali Mas Elang menggenggam tanganku, hatiku sakit, karena aku tahu ada masa kaladuwarsanya.”

Nura menyeka air mata yang jatuh di pipinya.

📞 “Aku ingin Kanara sembuh… Mas Elang sembuh. Kalau setelahnya aku harus hilang… mungkin itu jalan yang paling benar.”

📞 “Nura… dengerin aku. Jangan ambil keputusan pas lagi capek begini. Kamu lihat dulu gimana reaksi Pak Elang besok. Dia pria dewasa, Ra. Dia pasti tahu risiko yang dia ambil pas mutusin untuk dekat sama kamu.”

📞 “Tapi dia nggak tahu betapa takutnya aku.”

Nura memutuskan sambungan.

Setelah menutup telepon, Nura tetap diam di balkon. Ia menoleh ke arah koridor di mana kamar Kanara dan ruang kerja Elang berada. Di sana, di balik dua pintu itu, ada dunia yang sangat ingin ia miliki. Namun terasa mustahil untuk ia pertahankan.

1
Meee
Yeay, selamat kepada Elang dan Nura 🥳 akhirnya Kanara punya Ibu, hihi.
Alfatia🌷
Paniknya Kanara sama sakitnya Ayah Elang, nembus layar banget.
Alfatia🌷
Ayah Elang gimana sih, Kanara masih tahap pengobatan, kenapa dibiarin sekolah. Nggak ambil home schooling dulu apa.
GreenForest
panas banget kalau othor budak bikin kaya gini mah 🤭
GreenForest
gak jadi nikah siri berarti ya
Rivella
kayaknya Elang mulai suka sama Nura deh🤭
Icha sun
selamat ya Nura, moga bahagia terus
Icha sun
gitu dong Ra, harus jadi wanita kuat jgn gampang nyerah
Icha sun
ortunya Elang nih egois bgt deh
Icha sun
rasa bersalah itu jauh lebih menyakitkan ya Ra
Icha sun
Nura aslinya sayang bgt sama kalian😢
suryani duriah
jangan2 mentari n aditya mencurigakan bgt🤔🤔lanjuut👍👍
imel
tiba tiba banget Barra 🤭
Nuri_cha: hahahaha.... salah novel. makasih kak udah detail
total 1 replies
WDY
lho kenapa gak nikahi di KUA aja dulu. kenapa harus siri si pak elang
WDY
Wah... elang otw halalin Nura dok🤭🤭🤭
WDY
ya Allah thor kasihan banget sama Kanara😭😭😭
WDY
Oalaaa.... Siska Siska dasar edan. bisa bisa nya lu 😤😤😤😤
D'Mas0712
mantap... lanjutkan bro halalin
D'Mas0712
waduh kasian kanara. syo sadar kak nura uda dateng
D'Mas0712
siska wanita edan.. elang ringkus aja tuh dia
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!