NovelToon NovelToon
TAHANAN OBSESI

TAHANAN OBSESI

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Misteri / Psikopat / Fantasi / Fantasi Wanita
Popularitas:921
Nilai: 5
Nama Author: Celyzia Putri

seorang gadis bernama kayla diculik oleh orang misterius saat sedang bereda di club malam bersama teman temannya. pria misterius itu lalu mengurung kayla di sebuah ruangan yang gelap bagaikan penjara. kayla bertanya tanya siapa pria yang menculiknya.

apa yang akan dilakukan oleh penculik itu kepada kayla yuk baca kelanjutan kisah dari tahanan obsesi.

mencari ide itu sulit gusy

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celyzia Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PRIA MISTERIUS

Kegelapan yang pekat perlahan memudar, digantikan oleh sensasi berat yang luar biasa menekan seluruh permukaan kulitnya. Kayla tidak langsung membuka mata. Hal pertama yang ia rasakan adalah rasa gatal yang hebat di lubang hidung, telinga, dan sela-sela jarinya. Sesuatu yang kering, kasar, dan dingin menyelimuti tubuhnya, seolah-olah ia sedang dibalut oleh kain kafan yang terbuat dari bumi.

Pluk.

Sebuah benda kecil jatuh tepat di kelopak mata kirinya, memaksa Kayla untuk tersentak bangun. Ia mencoba menarik napas dalam, namun yang masuk ke dalam tenggorokannya bukanlah oksigen segar, melainkan butiran-butiran halus yang membuatnya tersedak hebat.

"Uhuk! Uhuk!"

Kayla membuka matanya dengan susah payah. Pandangannya buram, tertutup debu tipis. Namun, dalam hitungan detik, ia menyadari satu hal yang mengerikan: ia tidak lagi berada di atas ranjang empuk dengan sprei sutra. Ia juga tidak lagi berada di ruang makan mewah bersama pria bertopeng itu.

Ia berada di dalam sebuah wadah kaca raksasa berbentuk silinder yang menyerupai jam pasir raksasa.

Tubuhnya terbenam hingga sebatas dada dalam tumpukan pasir putih yang halus namun sangat berat. Di atas kepalanya, sebuah lubang kecil di langit-langit wadah itu terus-menerus mengucurkan aliran pasir yang stabil—seperti air terjun maut yang tak pernah berhenti. Setiap detiknya, volume pasir itu bertambah, menekan tulang rusuknya dengan kekuatan ribuan kilogram, membuat setiap tarikan napas menjadi perjuangan antara hidup dan mati.

"Tolong! Tolong!" teriak Kayla, namun suaranya diredam oleh dinding kaca tebal yang kedap suara. Yang terdengar hanya deru halus pasir yang berjatuhan, seperti bisikan maut yang menertawakannya.

Ia mencoba menggerakkan tangannya, namun pasir itu bekerja seperti semen basah yang mengunci pergerakannya. Semakin ia meronta, semakin cepat tubuhnya tenggelam ke dalam dasar wadah. Rasa panik yang murni menghantam kesadarannya. Ingatannya tentang minuman menjijikkan berisi bola mata semalam terasa seperti halusinasi obat bius, namun rasa sesak di paru-parunya saat ini sangatlah nyata.

Pasir itu kini sudah mencapai lehernya. Butiran-butirannya mulai masuk ke dalam mulut setiap kali ia mencoba berteriak. Kayla mendongak, menatap ke arah lubang pembuangan pasir di atas. Ia bisa melihat kamera pengintai di sudut ruangan yang seolah sedang merekam setiap detik penderitaannya.

"Siapapun... tolong..." isaknya lirih, air matanya membasahi pasir yang menempel di pipinya, mengubah butiran kering itu menjadi gumpalan lumpur kecil yang kotor.

Pasir itu merayap naik. Dagu. Bibir. Hidung. Kayla harus mendongakkan kepalanya secara ekstrem agar lubang hidungnya tetap bisa menghirup udara yang tersisa di ruang sempit itu. Ia memejamkan mata, pasrah pada takdir bahwa ia akan mati terkubur hidup-hidup. Saat butiran pasir mulai menutupi pandangannya sepenuhnya dan kegelapan mulai merenggut kesadarannya—

BRAKK!

Suara benturan keras bergema, getarannya terasa hingga ke dalam tulang Kayla. Wadah kaca itu bergetar hebat. Kayla merasakan tekanan pasir di sekelilingnya sedikit bergeser karena guncangan tersebut.

KREEEEKKK!

Penutup wadah itu dipaksa terbuka dari luar dengan alat pengungkit besi. Sebuah bayangan besar menghalangi kucuran pasir dari langit-langit. Kayla yang sudah hampir terkubur sepenuhnya merasakan sebuah tangan yang besar dan kuat meraba-raba di dalam timbunan pasir, mencari sesuatu untuk ditarik.

Tangan itu berhasil mencengkeram kerah gaun merah Kayla yang kini sudah kotor dan penuh debu. Dengan satu hentakan tenaga yang luar biasa, tubuh Kayla ditarik keluar dari dekapan pasir yang mematikan itu.

Kayla terbatuk-batuk hebat, memuntahkan pasir dari mulutnya saat tubuhnya diletakkan di atas lantai beton yang dingin. Ia terengah-engah, dadanya naik turun dengan cepat, menghirup udara sebanyak mungkin seolah itu adalah oksigen terakhir di dunia.

"Bernapaslah pelan-pelan. Kamu aman sekarang," sebuah suara bariton yang lembut namun tegas terdengar di dekat telinganya.

Kayla perlahan mengangkat wajahnya. Di hadapannya, berdiri seorang pria yang penampilannya sangat kontras dengan penculiknya yang menyeramkan. Pria itu memiliki wajah yang sangat tampan dengan rahang yang tegas, mata berwarna cokelat gelap yang memancarkan kecemasan, dan rambut hitam yang sedikit berantakan. Ia mengenakan kemeja putih yang sudah kumal, robek di beberapa bagian, dan celana kain hitam yang dipenuhi noda oli.

"Si... siapa kamu?" tanya Kayla dengan suara serak, tenggorokannya terasa seperti tergores amplas.

Pria itu tidak menjawab secara verbal. Ia malah menempelkan jarinya di bibir, mengisyaratkan agar Kayla tetap diam. Ia menoleh ke arah kamera pengintai di sudut ruangan yang tampak sudah rusak—mungkin karena ulah pria ini yang memutus kabelnya menggunakan linggis yang kini ia pegang.

"Kita tidak punya banyak waktu sebelum sistemnya melakukan reboot dan mengirimkan peringatan ke ruang kontrol," bisik pria itu. Ia membantu Kayla berdiri. Meskipun tampak kuat, Kayla menyadari bahwa tangan pria itu memiliki bekas luka memar yang melingkar di pergelangan tangannya—bekas ikatan rantai yang sudah menahun.

Pria itu membimbing Kayla keluar dari ruangan itu melalui sebuah celah sempit di balik dinding beton yang tampaknya sengaja ia jebol secara perlahan selama berbulan-bulan. Mereka melewati lorong-lorong gelap yang dipenuhi kabel-bel yang malang melintang dan pipa-pipa beruap hingga sampai di sebuah ruangan tersembunyi.

Ruangan itu tampak seperti sel isolasi yang telah dimodifikasi menjadi tempat tinggal darurat. Ada sebuah kasur tipis tanpa sprei di lantai, tumpukan buku-buku medis tua, dan berbagai peralatan elektronik yang dibongkar pasang.

"Ini tempatku," ucap pria itu sambil mengunci pintu besi berat dari dalam menggunakan palang kayu besar.

Kayla mundur dua langkah, punggungnya menempel pada dinding yang dingin. Ia menatap pria itu dengan penuh kecurigaan, meski pria ini baru saja menyelamatkan nyawanya. "Kamu siapa? Apa ini trik lain dari pria bertopeng itu? Kamu... kamu salah satu dari mereka?"

Pria tampan itu tersenyum pahit, sebuah senyum yang penuh dengan kelelahan dan penderitaan. Ia duduk di lantai dan menyandarkan punggungnya ke dinding beton yang lembap.

"Namaku Aris. Dan tidak, aku tidak bekerja untuk monster itu," jawabnya sambil menunjukkan pergelangan tangan kirinya. Di sana, tertanam sebuah microchip kecil di bawah kulit yang berdenyut dengan cahaya kemerahan. "Aku adalah tahanan, sama sepertimu. Hanya saja, aku sudah berada di sini jauh lebih lama—mungkin hampir setahun—hingga aku belajar bagaimana cara bergerak di antara celah-celah sistem keamanannya."

Kayla perlahan jatuh terduduk di depan Aris, mulai merasa bahwa pria ini benar-benar dipihaknya. "Kenapa dia melakukan ini? Kenapa dia menyiksa gue? Semalam... semalam dia memaksa gue meminum sesuatu yang... yang isinya bola mata manusia. Itu gila!"

Ekspresi Aris berubah menjadi sangat gelap dan serius saat mendengar tentang "jamuan" semalam. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Dia menyebutnya 'Eksperimen Pemurnian'. Dia tidak hanya ingin menyiksa fisikmu, Kayla. Dia ingin menghancurkan jiwamu, membuatmu kehilangan akal sehat hingga kamu tidak lagi merasa sebagai manusia."

Aris menatap mata Kayla dalam-dalam, seolah sedang mencari sisa-sisa keberanian di sana. "Kamu adalah 'Subjek Kesembilan'. Delapan orang sebelum kamu... mereka tidak bertahan lama. Ada yang mati karena serangan jantung karena ketakutan, ada yang mengakhiri hidupnya sendiri, dan ada yang benar-benar menjadi gila dan dibawa ke 'ruang pembuangan'."

Kayla merasakan hawa dingin yang luar biasa merayapi punggungnya. Ia menyadari bahwa ia berada di dalam fasilitas penelitian pribadi milik seorang psikopat yang memiliki sumber daya tak terbatas.

"Lalu kenapa kamu masih di sini? Kenapa kamu selamat?" tanya Kayla ingin tahu.

Aris menunduk, menatap telapak tangannya yang kapalan. "Karena aku berguna baginya. Sebelum diculik, aku adalah seorang teknisi sistem keamanan. Dia menggunakan pengetahuanku untuk membangun tempat ini. Tapi sekarang, setelah fasilitas ini hampir sempurna, aku tahu waktuku juga hampir habis."

Aris kemudian berdiri, mendekati sebuah monitor kecil yang ia rakit sendiri dari barang-barang rongsokan. Di layar itu, terlihat denah gedung yang sangat rumit.

"Pria itu... dia tidak pernah bicara, kan?" tanya Aris tanpa menoleh.

Kayla menggeleng. "Dia cuma pakai gerakan tangan. Dan penutup wajah hitam yang mengerikan."

"Itu karena dia ingin dianggap sebagai Tuhan di sini. Tanpa identitas, tanpa suara, hanya kekuasaan mutlak," Aris menjelaskan dengan nada benci. "Tapi dia punya satu kelemahan. Dia sangat terobsesi dengan jadwal. Dan saat ini, dia sedang berada di ruang observasi atas untuk memantau 'kematianmu' di jam pasir tadi. Dia belum tahu kalau kamu sudah keluar."

Aris mengambil sebuah obeng panjang yang telah diasah menjadi sangat tajam dari tumpukan alatnya. Ia menyerahkan sebuah pisau kecil kepada Kayla.

"Kita harus pergi ke sayap barat gedung ini. Di sana ada lift barang yang terhubung langsung ke gudang permukaan. Tapi jalannya dipenuhi sensor gerak," Aris menjelaskan rencananya dengan cepat.

Kayla menggenggam pisau itu dengan tangan gemetar. Ia menatap Aris, pria asing yang tiba-tiba menjadi satu-satunya harapan hidupnya. "Kenapa kamu menolongku? Kamu bisa saja kabur sendiri tanpa beban."

Aris berhenti sejenak, menatap Kayla dengan tatapan yang sulit diartikan—antara iba dan tekad yang kuat. "Karena aku sudah melihat delapan orang mati sia-sia. Aku tidak akan membiarkan orang kesembilan mengalami hal yang sama. Kita keluar dari sini bersama, atau kita mati mencoba melawan."

Suasana di ruangan sempit itu menjadi hening. Di balik dinding beton, mereka bisa mendengar suara alarm samar-samar mulai berbunyi. Pria bertopeng itu tampaknya sudah menyadari bahwa jam pasirnya telah kosong tanpa ada mayat di dalamnya.

"Waktunya pergi," bisik Aris sambil membuka palang pintu.

1
Agus Barri matande
semangat thor
Thecel Put
omg saya sangat suka cerita dengan genre seperti ini❤️‍🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!