Selamat datang kembali, Pembaca Setia!
Terima kasih karena telah melangkah sejauh ini bersama Aulia. Jika kamu ada di sini, artinya kamu telah menjadi saksi bisu betapa perihnya luka yang ia simpan selama lima tahun, dan betapa kuatnya ia saat mencoba berdiri di atas kakinya sendiri di buku pertama.
Di "Bintang Jatuh Dan Sepotong Hati 2", perjalanan ini akan menjadi lebih menantang. Kita akan menyaksikan bagaimana Aulia mengubah rasa sakitnya menjadi kekuatan, bagaimana rahasia kelam masa lalu mulai terkuak satu per satu, dan ke mana arah hatinya akan berlabuh.
Terima kasih telah setia menanti dan mendukung karya ini. Mari kita lanjutkan perjuangan Aulia sampai akhir!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Tulus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HIPOTESIS YANG MENYAKITKAN
Devan bukanlah pria yang memiliki cadangan kesabaran untuk menenangkan orang lain. Namun, meski kali ini nada suaranya terdengar lebih rendah—sebuah anomali bagi seorang penguasa sepertinya—Scarlett tidak lagi merasa luluh. Hatinya sudah menjadi tanah gersang yang tidak bisa lagi ditumbuhi oleh benih-benih harapan.
Ia tahu persis jenis empati yang sedang ditunjukkan Devan. Itu bukan cinta; itu hanyalah rasa iba yang dangkal. Seperti seseorang yang merasa kasihan melihat anjing terluka di pinggir jalan, lalu melemparkan sepotong tulang hanya untuk memuaskan hati nuraninya sendiri sebelum melanjutkan perjalanan.
Scarlett menatap langit-langit kamar rawat yang putih hampa, lalu melontarkan pertanyaan yang telah lama mengendap dan membusuk di benaknya. "Bagaimana kalau diagnosis dokter itu benar? Bagaimana kalau aku seratus persen tidak bisa punya anak lagi, Devan?"
Ia sudah membulatkan tekad untuk bercerai, namun bagian terkecil dari jiwanya—sisa-sisa Scarlett yang dulu mencintai pria ini—ingin mendengar sebuah jawaban yang mungkin bisa menghapus sedikit lukanya.
Devan menjawab dengan nada tidak acuh, seolah itu adalah perkara sepele yang bisa diselesaikan dengan selembar cek. "Kalau begitu, kita tidak perlu punya anak. Masalah selesai."
Scarlett tersenyum samar, senyum yang penuh dengan pahitnya kenyataan. "Ibumu tidak akan setuju, Devan."
Violeta mungkin tidak terlihat seperti ibu mertua yang kolot, tetapi Scarlett tahu betapa besar ambisi wanita itu agar ia memiliki anak untuk "mengunci" posisi Keluarga Laksmana di puncak Nordigo.
Violeta selama ini diam hanya karena tahu Devan sendiri yang tidak sudi Scarlett mengandung. Namun, jika Scarlett benar-benar dinyatakan mandul, Violeta pasti akan menjadi orang pertama yang menendangnya keluar demi kelangsungan garis darah Laksmana.
Devan terdiam sesaat, tatapannya beralih dengan agak canggung ke arah jendela. "Hal itu belum terjadi. Tidak perlu membebani dirimu dengan pikiran yang belum tentu terjadi."
Scarlett terkekeh pelan, suaranya terdengar kering dan menyayat. "Lalu, bagaimana jika hal yang sama terjadi pada Vivian? Apa yang akan kamu lakukan jika dia yang berada di posisiku sekarang?"
Seketika, rahang Devan mengeras. Alisnya bertaut tajam, memancarkan ketidaksenangan yang instan. "Kenapa kamu harus selalu menyeret nama orang lain? Scarlett, ini urusan kita berdua. Jangan libatkan orang yang tidak bersalah ke dalam konflik ini."
Tidak bersalah? Scarlett menahan tawa dingin yang nyaris meledak dari dadanya.
Dalam drama tragis ini, Vivian adalah sutradara sekaligus pelakunya. Kecelakaan yang merenggut calon bayinya dipicu oleh intrik Vivian. Karena Vivian pulalah Devan memilih untuk membiarkan nyawa anak mereka melayang demi menyelamatkan "luka ringan" wanita itu. Namun, Scarlett sadar, berteriak tentang kebenaran sekarang hanya akan membuatnya terlihat seperti wanita pencemburu yang gila di mata Devan.
"Aku tanya sekali lagi, Devan," Scarlett mendesak, matanya menatap tajam, menembus manik mata suaminya. "Jika orang yang kehilangan kemampuan untuk hamil itu adalah Vivian, apa yang akan kamu lakukan?"
Dahi Devan semakin berkerut. Ia jelas tidak berniat menjawab pertanyaan hipotetis yang dianggapnya merusak suasana rekonsiliasi yang ia coba bangun.
Melihat kebungkaman itu, Scarlett memberikan jawabannya sendiri dengan nada yang sangat tenang. "Kamu pasti akan mengerahkan seluruh sumber daya dunia untuk menyembuhkannya. Kamu akan melindunginya dengan seluruh nyawamu, bahkan jika harus mengorbankan nyawa orang lain, bukan?"
Devan berdiri dengan kasar, kursi kayu itu berderit tajam di atas lantai porselen yang dingin. "Scarlett, kamu benar-benar tidak masuk akal!" geramnya.
Ia datang dengan niat baik—bahkan sempat menerima pukulan memar dari Mavin—hanya untuk menjenguk. Namun, Scarlett justru menyulut api dengan membawa nama Vivian sebagai provokasi.
"Sebenarnya aku yang tidak masuk akal," Scarlett membalas tanpa emosi, "atau kamu yang marah karena aku baru saja mengatakan kebenaran yang tidak ingin kamu akui di depan cermin?"
Devan terdiam, napasnya memburu karena amarah yang tertahan di tenggorokan. Ia tidak bisa membantah, tapi harga dirinya menolak untuk membenarkan. Tanpa kata lagi, ia berbalik dan melangkah keluar dengan hentakan kaki yang penuh emosi, meninggalkan kamar itu dalam kesunyian yang mencekam.
Di koridor rumah sakit, udara pendingin ruangan mulai mendinginkan kepala Devan yang panas. Ia baru sadar bahwa tujuannya ke sini bukan untuk bertengkar. Ia ingin menanyakan tentang kecelakaan itu. Dokter Ryan menyebutkan peristiwa itu belum lama terjadi, dan anehnya, waktunya hampir bersamaan dengan kecelakaan yang menimpa Vivian.
Ada perasaan janggal yang mulai mengusik naluri bisnisnya yang tajam. Mengapa dua wanita di dekatnya mengalami kecelakaan di waktu yang hampir bersamaan? Mengapa Scarlett tidak pernah bercerita?
Namun, egonya telanjur terluka oleh lisan Scarlett. Ia tidak sudi kembali ke kamar itu sekarang. Sambil berjalan menuju parkiran, Devan mengeluarkan ponselnya dan menghubungi asisten kepercayaannya.
"Fadil," suara Devan terdengar berat dan sangat berbahaya. "Selidiki setiap detail kecelakaan yang menimpa Scarlett beberapa minggu lalu. Jangan lewatkan satu pun rekaman CCTV, laporan polisi, atau saksi mata. Aku ingin tahu siapa yang sebenarnya berada di balik kemudi hari itu... dan apa yang sebenarnya terjadi."
Penyelidikan resmi dimulai! Devan kini berada di persimpangan jalan: akankah ia menemukan keterlibatan Vivian dan keculasan Meli, ataukah semua bukti telah lenyap ditelan kekuasaan yang ia berikan sendiri pada Vivian?
emang apa prestasinya Melati, Ken...
kasihan tau Aulia... udah capek capek mikir, mau di sabotase.
weeeesss angel... angel...
Sampek kurang turu lhooo sangking mau menunjukkan keberhasilan dr tantangan Henry.
Ndak usah mikirin hal hal yg bikin kita jatuh.
padahal tadi yang jemput Pamela di rumah Rizki Khan Violetta.