NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Perpustakaan: Cinta Tanpa Izin

Rahasia Di Balik Perpustakaan: Cinta Tanpa Izin

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Harem / Dark Romance
Popularitas:333
Nilai: 5
Nama Author: Khang Adhie

Kesempurnaan adalah ilusi.
Dan Tasya Andarini hidup dari ilusi itu.

Sebagai mahasiswi teladan dengan masa depan yang sudah tersusun rapi, Tasya percaya bahwa disiplin dan kendali adalah segalanya. Sampai dosen pembimbing memaksanya berpasangan dengan Dimas Ramadhan—playboy kampus dengan reputasi buruk, kecerdasan tersembunyi, dan masa lalu yang tak pernah benar-benar ia tinggalkan—untuk mengerjakan skripsi eksperimental yang menentukan kelulusan mereka.

Sejak awal, mereka saling membenci.
Tasya muak dengan sikap Dimas yang sembrono, tatapan tajam yang terlalu berani, dan cara bicaranya yang selalu menguji batas.
Dimas, sebaliknya, terganggu oleh sikap Tasya yang dingin dan perfeksionis—namun tak bisa mengabaikan ketegangan yang muncul setiap kali ia berdiri terlalu dekat.

Di antara deadline, aturan, dan hasrat yang tak lagi bisa disangkal, Tasya harus memilih: mempertahankan kesempurnaan yang rapuh, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta tanpa izin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khang Adhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana Tasya

Sesampainya di apartemen, Tasya diseret masuk ke dalam kamar oleh dua anak buah Andreas. Tak satu pun orang berani menoleh, apalagi membantu. Pintu kamar ditutup keras, lalu dikunci dari luar.

“Maaf, Non. Kami terpaksa bertindak tegas. Ini semua perintah Pak Andreas,” ujar salah seorang dari mereka datar, sebelum langkah kaki menjauh.

“Akh!” teriak Tasya.

Ia mengacak-acak meja, menyapu segala yang ada di atasnya hingga jatuh berserakan ke lantai. Kertas-kertas beterbangan, buku-buku tergeletak tak beraturan. Dadanya sesak, napasnya terengah. Perlakuan kedua orang tuanya terasa kian menindih, tanpa celah untuk bernapas.

Akhirnya, Tasya terduduk di sudut ruangan. Lututnya ditarik ke dada, kepalanya tertunduk. Tangisnya pecah tanpa suara, menyisakan isak yang tertahan dan tubuh yang gemetar.

Tak ada ponsel. Tak ada laptop. Televisi pun tak menyala. Keheningan kini menjadi satu-satunya teman—menertawakan kegagalannya melangkah ke bab berikutnya.

Di luar kamar, Gaudy mondar-mandir gelisah. Setelah cukup lama tak mendengar suara apa pun, ia memberanikan diri mengirim pesan.

Pak Andreas, sepertinya Non Tasya sudah tidak bersuara. Saya khawatir terjadi sesuatu.

Balasan datang singkat.

Biarkan saja. Anak itu perlu diberi pelajaran karena sudah berani melawan.

Gaudy menghela napas panjang. Hingga malam tiba, ia hanya duduk di sofa, menunggu. Sesekali ia menempelkan telinga ke pintu kamar Tasya—sunyi. Terlalu sunyi.

Akhirnya, ia membuka pintu perlahan.

Tasya terlihat duduk lemas di dekat kasur. Wajahnya pucat, matanya sembap, tubuhnya seolah kehilangan tenaga.

“Non Tasya,” panggil Gaudy pelan sambil mendekat.

“Tinggalin gue sendiri,” lirih Tasya.

“Biarin gue mati dalam keadaan kayak gini.”

Ia menunduk, kedua tangan terlipat di depan dada, kaki menekuk tak berdaya.

“Udah jam delapan malam, Non,” ucap Gaudy hati-hati.

“Non Tasya belum makan apa-apa.”

“GUE NGGAK BUTUH APA-APA!” bentak Tasya sambil mengangkat wajah kusutnya.

Suara itu membuat dua anak buah Andreas yang berjaga di luar langsung menerobos masuk. Gaudy refleks mengangkat telapak tangan, memberi isyarat agar mereka berhenti.

“Keluar,” katanya tegas. “Biar saya yang urus.”

Setelah mereka pergi, Gaudy keluar kamar. Ia mengambil sepiring nasi dan beberapa makanan kecil, lalu meletakkannya di dalam kamar Tasya sebelum kembali mengunci pintu.

Pagi harinya, Gaudy masuk lagi. Piring itu masih utuh, tak tersentuh sedikit pun.

Tasya kini terbaring di lantai, tubuhnya lemah. Wajahnya kusut, napasnya berat, kulitnya terasa panas saat Gaudy menyentuh keningnya.

Ia segera mengirim pesan.

"Pak, sepertinya Non Tasya perlu dibawa ke rumah sakit. Badannya demam."

Balasan datang tak lama kemudian.

"Kau urus saja anak itu. Siang ini kami datang ke Jakarta."

Gaudy menelan ludah. Ia segera memanggil dua orang penjaga di depan pintu.

“Bantu saya angkat Non Tasya,” ucapnya.

“Kita ke rumah sakit sekarang.”

Mereka bergerak cepat, membawa Tasya keluar kamar—menuju sesuatu yang entah akan menyelamatkan atau justru semakin menghimpit hidupnya.

Dari kejauhan, Dimas melihat Tasya terkulai dalam pangkuan salah seorang anak buah Andreas. Sejak semalam, ia sengaja menunggu di depan apartemen, menahan dingin dan kantuk demi memastikan keadaan Tasya. Saat mobil itu melaju, Dimas menyalakan motornya dan mengikuti dari jarak aman hingga akhirnya berhenti di sebuah rumah sakit.

Tasya segera dinaikkan ke atas ranjang dorong yang sudah disiapkan petugas jaga, lalu dibawa masuk ke dalam. Dimas memarkir kendaraannya tak jauh dari pintu IGD, kemudian merogoh ponsel dan menghubungi Nina.

"Temuin gue sekarang di Rumah Sakit Cahaya Mulya. PENTING!"

Pesan itu terkirim tanpa basa-basi.

Dengan jaket kulit yang biasa ia pakai sejak menjadi debt collector, masker menutup separuh wajah, dan topi hitam ditarik rendah, Dimas menyelinap masuk ke rumah sakit. Ia duduk di ruang IGD, berpura-pura menunggu pasien lain, sambil memasang telinga dan mata.

“Apa kamu sudah telepon Pak Andreas?” tanya salah seorang anak buah Andreas.

“Siang ini mereka datang ke Jakarta,” jawab Gaudy.

“Yang penting Non Tasya sudah dapat tindakan. Kalau terjadi apa-apa, kita nggak terlalu disalahkan.”

Gaudy lalu berpamitan sebentar menuju toilet.

Dimas bangkit perlahan dan mengikuti dari belakang. Ia menunggu di balik dinding. Begitu Gaudy keluar dari kamar kecil, Dimas langsung menarik lengannya, membekap mulutnya, dan menyeretnya ke sudut lorong yang sepi.

“Lo apain Tasya?” desis Dimas sambil mendorong tubuh Gaudy ke dinding.

“Kamu siapa!” Gaudy berteriak panik.

Dimas memperlihatkan pisau kecil yang terselip di balik jaketnya.

“Gue nggak segan ngabisin lo di sini. Jadi jawab jujur.”

Tatapan matanya dingin, tanpa ruang untuk kebohongan.

“Se-semalam Non Tasya nggak makan sama sekali,” jawab Gaudy gugup.

“Tadi pagi saya temuin dia udah lemas. Makanya kami bawa ke rumah sakit.”

“Kita bakal ketemu lagi, Gaudy,” bisik Dimas.

Ia segera menjauh ketika melihat dua petugas keamanan rumah sakit berjalan ke arah lorong itu.

Gaudy menghela napas panjang, tubuhnya masih gemetar. Rasa lega bercampur cemas memenuhi dadanya, karena masalahnya belum selesai sampai di situ—ia tahu Andreas dan Ivone pasti akan menegurnya keras karena Tasya sampai harus dilarikan ke rumah sakit.

Pukul satu siang, Andreas tiba di rumah sakit. Ia langsung menuju ruang VIP, tempat Tasya sudah dipindahkan setelah kondisinya sedikit membaik.

“Anak kita sudah terkontaminasi bajingan itu,” ucap Andreas dingin saat melihat Tasya terbaring lemah.

“Kita harus segera pindahin dia ke Surabaya,” sahut Ivone dari sofa di seberang ranjang.

“Papi harus usahakan gimanapun caranya. Mami nggak mau Tasya jadi anak liar dan nggak beretika.”

“Sore ini papi temui pemilik Universitas Permata Bangsa,” lanjut Andreas.

“Kita urus surat kepindahannya sekarang juga.”

Ia lalu duduk di samping Ivone, menunggu Tasya sadar.

Diam-diam, Tasya mendengar semua pembicaraan itu. Ia sengaja tetap memejamkan mata. Tubuhnya lemah, tapi pikirannya jernih. Ia tahu, begitu membuka mata, yang menunggunya bukan empati—melainkan amarah.

Sore hari, Andreas berpamitan untuk menemui pemilik universitas. Di dalam kamar hanya tersisa Ivone dan Gaudy.

“Kamu sudah ketemu Dimas?” tanya Ivone, menatap Gaudy tajam.

“Belum pernah, Bu,” jawab Gaudy menunduk.

“Saya sama sekali nggak pernah ketemu dia.”

“Dia nggak datang ke apartemen?”

“Selama saya dampingi Non Tasya, nggak ada siapa pun yang menemuinya.”

Ivone mengangguk kecil, lalu bangkit dan mendekat ke ranjang Tasya. Ia menatap wajah putrinya yang pucat dan muram. Sekilas, ada keraguan di matanya—namun ego yang tinggi dengan cepat menenggelamkan sisa rasa iba.

“Malam ini kamu boleh kembali ke Surabaya,” ujar Ivone kepada Gaudy.

“Gaji kamu akan saya transfer sekalian.”

Ia kembali ke sofa, mengambil ponsel dari dalam tas, dan mengirimkan uang ke rekening Gaudy.

Di balik kelopak mata yang terpejam, Tasya menangkap setiap kata itu.

Ia tahu—ini adalah celah.

Kesempatan terakhir untuk keluar dari lingkaran ini, sebelum dirinya benar-benar dipaksa kembali ke Surabaya dalam keadaan kalah.

"Gaudy, saya cari makan sebentar tolong titip Tasya dan pastikan dia nggak macem-macem," kata Ivone sambil mendelik ke arah Tasya.

Jantung Tasya berdegup kencang, ia merasa jika Ivone sudah mengetahui jika dirinya sedang berpura-pura memejamkan mata hanya untuk menghindar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!