Albie Putra Dewangga, 32 tahun.
Dokter bedah trauma—pria yang terbiasa berdiri di antara hidup dan mati, tapi justru kalah saat menghadapi percintaan.
Kariernya gemilang. Tangannya menyelamatkan nyawa.
Namun hatinya runtuh ketika Alya, kekasihnya yang seorang model, memilih mengejar mimpi ke Italia dan menolak pernikahan.
Bagi Albie, itu bukan sekadar perpisahan melainkan kegagalan.
Di malam yang sama, di sebuah bar ia bertemu Qistina Aulia, 22 tahun.
Mahasiswi cantik dengan luka serupa, ditinggal pergi oleh pria yang ia cintai.
Dua hati yang patah.
Dua gelas yang terus terisi.
Hadir satu keputusan gila yang lahir dari mabuk, kesepian, dan rasa ingin diselamatkan.
“Menikah saja denganku. Aku cowok kaya dan tampan,dan bisa membahagiakan mu."
Kalimat itu terucap tanpa rencana, tanpa cinta atau mungkin justru karena keduanya terlalu lelah berharap.
Apakah pernikahan yang dimulai dari luka bisa berubah menjadi cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perihal Jodoh
*
*
*
Makanan Albie masih setengah, saat Naufal masuk ke ruangannya.
"Aku bawain kopi dari kafe tempat Qistina kerja. Semoga bisa nemenin jam malam kamu." Menaruhnya di meja.
Albie tersenyum tipis, lalu meraih cup kopi itu.
"Makasih, kopi ini emang enak."
"Aku beli tiga tadi aku kasih Adrian. Tapi dia kayak ada yang di pikirin Bie."
"Dia mau lamaran, bentar lagi."
"What? Nggak salah denger? Kapan seorang Adrian pacaran?"
"Di jodohkan."
Jawaban dari Albie tadi sukses membuat mata Naufal semakin membesar.
"Masih ada, tradisi perjodohan itu?"
"Jalan orang bertemu jodoh kan beda-beda, Naf "
Naufal ikut duduk di sofa, badannya sedikit miring menghadap Albie.
"Tapi, Bie. Kamu percaya jodoh itu rencana Tuhan?"
Albie menghela nafas, menyeruput kopi sebentar lalu menaruhnya lagi di meja.
"Percaya, karna aku yakin jodoh itu sudah jadi ketentuan Tuhan."
"Jadi antara kamu dan Alya, karna Tuhan nggak menakdirkan kalian berjodoh?"
"Begitulah, aku semakin sadar bahwa takdir nggak bisa kita atur sendiri. Kejadian di rumah sakit ini sudah cukup buat bukti, mau sekeras apa kita berusaha kalau Tuhan menakdirkan untuk terjadi ya pasti terjadi."
"Sama dengan kematian maksud kamu?"
Albie mengangguk, "Nggak ada yang bisa menahan kalau Tuhan sudah berkehendak kan?"
Naufal mengangguk, wajahnya seperti sedang berfikir. Albie meliriknya sekilas, 'tumben'.
"Bie, kamu yakin kalau suatu saat bakal ketemu jodoh?"
"Yakin"
"Walaupun cara bertemu kita nggak seperti yang kita mau? Ketemu di bar dalam keadaan mabuk misalnya." Naufal sambil tertawa.
Albie tahu arah bicara Naufal, menyesal tadi sudah menganggap dia bisa serius membicarakan hal yang selama ini menurutnya tidak perlu di bahas.
"Kamu nggak pengen ketemu Qistina lagi Bie?"
"Nggak, buat apa?"
"Ya, kalau gitu aku mau jadiin dia adik-adikan nya aku gitu Bie."
"Adik-adikan. Aku tau otak busukmu Naf!"
"Suudzon aja nih orang, gini ya...aku tadi ketemu dia pas pulang dari kampus. Katanya dia mau langsung berangkat kerja ke kafe. Dia kuliah di Universitas Cendikia, kamu tahu kan di mana. Jarak antara kampus ke kafe itu lumayan jauh Bie, tapi Qistina milih jalan kaki. Aku salut banget sama kegigihan nya. Kalo aja dia umurnya dia atas 25, Udah pengen banget aku nafkahin dia. Nafkah lahir batin pokoknya."
Albie menoleh lagi ke arah Naufal, kali ini dia serius mendengarkan. Albie akui bahwa jauh di sudut hatinya begitu kagum dengan cara Qistina menghadapi kehidupan, bisa di bilang Qistina termasuk perempuan tangguh yang nggak mengalah begitu saja dengan keadaan.
"Oh ..ya Bie, aku lihat jadwal kayanya kamu mempertimbangkan saran aku."
"Begitulah, aku sadar kemarin aku terbawa perasaan. Justru aku bertindak pengecut, terlalu takut menghadapi kesepian."
"Bagus deh, kalo gitu kan kita bisa ke club. Siapa tahu ketemu yang bisa menghilangkan kesepian."
"Naf, kamu kan tahu aku udah nggak mau lagi yang begitu. Cukup pengalaman satu kali itu aja. Aku nggak berniat buat ulangi."
"Tapi kan Bie, kamu butuh sesuatu buat melepaskan kesepian kamu itu."
Albie mulai mengeraskan rahang, Saran Naufal benar-benar sudah tidak bisa ia terima.
"Iya..iya, Mamas Albie. Bercanda doank." Kata Naufal akhirnya. Ia paham ia sudah tidak bisa meneruskan candaan yang bagi Albie tidak lucu itu.
***
Pukul 20.00 wib, shift Qistina di kafe sudah habis. Sesuai perintah Albie kemarin ia tidak lagi mengambil lembur. Ia memutuskan untuk langsung pulang saja.
Di depan Kafe, Bapak sudah menunggu di atas motor bebek yang baru saja di tebus setelah selesai service.
Qistina langsung mendekat,
"Bapak, udah lama nunggu?"
"Nggak lama kok, ini pakai jaketnya nya dulu..." Sambil menyerahkan jaket berbahan parasut berwarna pink,
"...helm nya juga pake."
Qistina menerima pemberian Bapaknya itu, sambil terus tersenyum. Senang, merasa di perhatikan.
Qistina naik ke boncengan ketika jaket dan helm sudah terpasang. Tidak begitu lama motor bebek itu sudah membawa Qistina dan Bapak meninggalkan Parkiran.
"Pak, beliin Ibuk sate yang di sana ya." Tunjuk Qistina.
Bapak mengangguk, terus melakukan motor lalu berhenti di kedai sate Padang yang di tunjuk Qistina tadi.
Bergegas menuju kedai itu, Qistina memesan tiga bungkus sate Padang favorit Ibunya.
"Berapa semua bang?" Ia sambil merogoh dompet di Tote bag nya. Menyerahkan selembar uang seratusan ribu.
"Rp 60.000, Neng" Penjual sate menerima uang tadi lalu memberikan kembaliannya.
Qistina sudah hendak melangkah keluar kedai, tapi pandangannya tertumbuk dengan seorang gadis kecil berusia sekitar sepuluh tahun. Di tangannya memegang kantong plastik berwarna hitam, sedang tangan satunya memegangi perut. Wajah anak itu kuyu, jelas terlihat kalau ia sedang menahan lapar.
"Dek, kamu mau sate nya?" Qistina menawari.
Ragu-ragu gadis kecil itu mengangguk, "Iya kak, aku lapar."
Qistina mengambil satu bungkusan sate untuk ia berikan pada gadis kecil itu. "Ini buat kamu, kamu makan ya." Ucapnya lembut.
Gadis itu menerimanya dengan senyum mengembang. Tampak sekali ia menerima dengan penuh kebahagiaan. "Terimakasih kak"
"Iya sama-sama. O... ya nama kamu siapa?"
"Namaku Rania kak, kalau kakak siapa?"
"Qistina, panggil aku kak Qis ya.
"Kakak cantik juga baik, aku do'akan kakak menikah sama dokter ganteng dan baik. Yang sering datang kesini juga."
"Dokter ganteng dan baik? Memangnya siapa?"
"Ada kak, Mas Dokternya sering kemari. Bagi-bagi makanan. Kadang juga mainan, sama buku-buku cerita dan pelajaran juga. Cuma, beberapa hari ini Mas Dokter belum datang-datang. Nggak tahu kenapa."
"Ehm...mungkin karna sibuk, dokter kan biasanya sibuk. Ya udah, kalau gitu kakak pulang dulu ya."
"Iya kak, terimakasih sate nya."
"Sama-sama."
Rania melambaikan tangannya pada Qistina, senyumnya masih belum hilang. Bungkusan sate ia peluk seperti barang berharga yang tidak boleh terlepas.
Motor bebek yang di kemudian oleh Bapak terus menembus jalanan kota yang gemerlap oleh lampu warna warni. Membawa mereka menuju rumah kontrakan yang cukup untuk sekedar menjadi tempat pulang.
*
*
*
~Salam hangat dari Penulis🤍
Ringan dan menarik.👍
Rekomend...👍