"Aku bersumpah akan membalas semua penghinaan dan rasa sakit ini."
Tivany Wismell, seorang penipu ulung dari dunia modern bertransmigrasi ke zaman peradaban China kuno. Mengalami ketidakadilan dan nasib yang tragis, Tivany menolak menyerah dan akan membalas dendam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellisa Gottardo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
salah paham
Seperti yang di katakan oleh Wei sebelumnya, setelah Lin berumur 4 bulan dia benar-benar sudah bisa berlarian. Dia memiliki mata yang tajam, energi yang tidak ada habisnya, kepekaan yang diluar nalar manusia, insting yang mengerikan tapi dia belum bisa bicara.
Lin masih minum ASI, seperti bayi yang sudah lari-larian penuh energi. Meyleen awalnya takut, dia bahkan sampai tidak mau menyusui Lin karena takut akan pertumbuhannya. Wei tidak memaksa, dia memberikan waktu bagi Meyleen untuk beradaptasi. Lin sempat minum susu sapi selama dua Minggu, karena Meyleen masih syok berat tapi berangsur mulai menerima.
Wei akan membawa Lin dan Meyleen ke sebuah tempat khusus untuk berlatih. Kin dan beberapa pengawal ikut untuk menjaga, mereka akan memulai pelatihan untuk sang tuan muda kecil.
Saat sedang memeriksa barang bawaan, Meyleen merasa berdebar. Ini hal asing yang akan dirinya lakukan untuk pertama kalinya, dia akan melihat anaknya yang masih bayi di latih seperti hewan. Meyleen kesulitan menerimanya, karena bagaimanapun di dunia asalnya manusia tidak bisa di samakan dengan hewan.
"Apa perlu sampai seperti ini? aku ingin dia tumbuh seperti manusia normal. Aku tidak masalah jika dia kuat, tapi aku ingin dia berperilaku seperti manusia pada umumnya." Lirih Meyleen, dia sedikit baby blues.
"Bukankah Lin normal? dia makan menggunakan tangan dan berjalan menggunakan dua kaki." Ujar Wei.
"Wei, kau tidak mengerti. Aku sering melihat Lin menggeram sambil berjongkok, mengais tanah dengan tangannya atau bahkan mengoyak daging panggang seperti hewan. Itu terlalu menakutkan untukku, aku pikir dulu kau tidak seperti itu. Kau terlihat sangat normal, tapi kenapa semakin lama semakin terlihat aneh." Jujur Meyleen.
"Itu naluri hewan buas, aku selama ini terlihat normal karena hidup berdampingan dengan manusia. Jika aku memperlihatkan sisi buas ku, mereka pasti akan merasa curiga dan membenciku. Lin masih bayi, dia belum tau apakah dia manusia atau serigala karena itu aku akan melatihnya." Ucap Wei.
"Melatihnya menjadi hewan?." Sinis Meyleen.
"Sebenarnya apa yang kau pikirkan? sampai kau merasa aku akan menjadikan Lin seperti anjing peliharaan?." Wei ingin tau isi pikiran Meyleen saat ini.
"Kau mengatakan akan mengajari dia berburu di hutan, bukankah artinya kau akan melatihnya menggigit buruan dengan giginya. Atau berlari kencang menggunakan dua tangan dan dua kaki seperti serigala?." Ucap Meyleen.
"Mana mungkin." Wei terlihat terkejut.
"Lalu apa? sebenarnya yang selama ini kau maksud itu seperti apa?." Bingung Meyleen, apakah ada kesalahpahaman diantara mereka.
"Kau pernah melihatku berburu saat dalam pelarian. Apa kau melihat aku melakukan hal seperti yang kau katakan tadi?." Tanya Wei tenang.
"Hmm tidak sih." Meyleen mengingat.
"Dengan apa aku menangkap buruan? apa dengan gigiku?." Tanya Wei.
"Tidak, kau menggunakan pedang atau ranting runcing." Ucap Meyleen.
"Berburu seperti itu yang aku maksud, berlatih di dalam hutan sangat bagus. Karena tidak bisa di prediksi, hutan itu luas di penuhi semak belukar dan pepohonan rindang. Melatih kepekaan dari intaian musuh, menghadang serangan dari jarak jauh, menghindari serangan dari titik buta. Melatih indra penciuman agar lebih berhati-hati dalam bertindak, semuanya sangat bagus di lakukan di dalam hutan." Ucap Wei menjelaskan.
"Jadi, Lin akan tumbuh seperti anak manusia?." Ucap Meyleen menatap Wei.
"Tentu saja, aku lahir sebagai manusia dan dia pun begitu. Aku dan Lin hanya memiliki keistimewaan, keistimewaan itu bisa menjadi hal buruk jika tidak di latih dengan benar. Karena itu aku ingin melatihnya sejak kecil, agar dia tidak sepertiku." Ucap Wei menatap Lin yang sedang sibuk berlarian.
"Memangnya kau kenapa?." Tanya Meyleen.
"Mungkin di mata mu aku terlihat normal, tapi ada hal yang jauh dari kata normal dari diriku. Ini karena aku terlambat melatih keistimewaanku, emosi yang lebih dulu datang membuat semuanya kacau balau. Aku memang berhasil menjadi kuat tak tertandingi, tapi juga menjadi sosok menyeramkan." Ucap Wei, masih saja misterius.
"Jangan membuatku merinding." Meyleen jadi berpikir yang tidak-tidak.
"Jadi, daripada kau berpikir hal negatif dalam kepala kecilmu. Lebih baik kau ikut berlatih saja, kau bisa memperkuat kekuatan bawaan dari hewan kontrak. Kau bisa menjadi lebih kuat lagi, dengan begitu aku bisa jauh lebih tenang." Ucap Wei memberi saran.
"Aku bisa melakukan banyak hal saat kau tidak ada, aku merasa aku wanita yang hebat. Tapi, saat berada di sisi mu aku seperti wanita tidak berguna, aku hanya beban dan tidak membantu sama sekali." Ucap Meyleen bicara jujur.
"Itu karena perbedaan kekuatan kita terlalu jauh, saat aku berhadapan dengan manusia biasa atau keluarga mu itu. Kau pasti sudah jauh lebih unggul, tapi jika bertemu dengan musuh serigala kau hanyalah wanita lemah yang mudah mati." Ucap Wei bicara apa adanya.
"Wahh aku tidak bisa marah karena itu fakta." Meyleen mendengus sinis.
dadadadadaa
ngh..ngh.. ngh
Suara celotehan Lin membuat Wei dan Meyleen menoleh, Lin sedang berceloteh sambil melihat ke arah Wei. Dia membawa sebuah kayu ranting yang di ayun-ayunkan seperti pedang.
"Apa kau ingin berlatih pedang Lin?." Tanya Wei.
ngh..blanalala..dadaa..
Wei hanya berceloteh karena tidak paham dengan apa yang di katakan Wei, bocah itu memiliki imajinasi sendiri di otaknya. Terkadang Meyleen bahkan geram karena selalu di acuhkan, saat berusaha mengajak bicara.
"Lin, kemarilah." Panggil Meyleen.
Lin menurut dia mendekat, karena melihat gerakan tangan Meyleen yang memanggilnya. Meyleen menggendong bayi 4 bulan yang memiliki fisik bayi 8 bulan, yang sudah berlari kesana kemari.
Meyleen menggendong Lin dengan gaya m-shape menggunakan kain panjang. Perjalanan di lalui dengan jalan kaki, karena mereka akan pergi seperti menyelinap handal.
Meyleen bisa menggunakan peringan tubuh, dia melompat dan berlari mengikuti jejak Wei di depannya. Mereka pergi keluar Paviliun dan menuju lokasi berlatih, yang masih belum di ketahui ada dimana.
Sementara di kediaman Jun, saat ini Zuzu telah kembali ke stelan awalnya. Dia polos dan pendiam, dia menyayangi putrinya dengan sepenuh hati meskipun hanya pura-pura. Mengikuti arahan Ibunya yang merupakan senior pelakor.
"Putriku sayang, kau benar-benar sangat manis seperti Ibu. Kau harus terus tersenyum dan memikat banyak orang, kau akan di cintai banyak pria dan memiliki harta yang sangat banyak. Tidak ada satu pun wanita yang bisa menandingi kecantikanmu, kau adalah Dewi yang lahir atas kehendak dewa." Ucap Zuzu, sudah memberikan doktrin pada anaknya sejak kecil.
"Nona, hari ini adalah hari perayaan pesta pemberian nama untuk anak nyonya rumah. Apa anda yakin akan diam saja? anda selama ini sudah di perlakukan dengan tidak adil, anda harus membalasnya." Ucap pelayan pribadi Zuzu.
"Hahaha tenanglah, aku akan tetap diam dan menjadi wanita polos yang menyedihkan. Menarik simpati orang lain adalah keahlian ku, apalagi tidak ada pesta apapun saat putriku lahir. Jun benar-benar telah menjadi Iblis sejati." Ucap Zuzu tersenyum villain.
"Apa anda juga akan memberikan hadiah?." Tanya pelayan itu.
"Tentu saja, hadiah yang sangat spesial." Zuzu tersenyum smirk.
apa jadi lupa akan meylin dan lin....
q harap tidak ya thorrr 💪😘