Rani, seorang pembalap motor berjiwa bebas, menentang keras perjodohan yang diatur ayahnya dengan seorang ustadz tampan bernama Yudiz. Meskipun penolakan itu tak digubris, pernikahan pun terjadi. Dalam rumah tangga, Rani sengaja bersikap membangkang dan sering membuat Yudiz kewalahan. Diam-diam, Rani tetap melakoni hobinya balapan motor tanpa sepengetahuan suaminya. Merasa usahanya sia-sia, Yudiz akhirnya mulai mencari cara cerdik untuk melunakkan hati istrinya dan membimbing Rani ke jalan yang benar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Rani tertawa meremehkan suaminya, suaranya nyaring di antara deru mesin motor teman-temannya yang mulai mengerumuni mereka.
Ia menatap Yudiz dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Pria ini tampak tampan dengan jaket kulitnya, tapi sirkuit bukan tempat untuk pamer ketampanan.
“Kamu mau balapan sama aku? Di lintasan tanah ini? Pakai motor sport itu?” ucap Rani sambil menunjuk tangannya ke motor Yudiz yang lebih cocok untuk aspal mulus daripada gundukan lumpur.
“Kenapa? Takut kalah dari seorang ustadz?”
Tantangan itu memicu harga diri Rani saat mendengar perkataan dari suaminya.
“Oke, apa taruhannya?”
Yudiz menatap mata Rani dengan serius, kilatan matanya menunjukkan bahwa ia tidak sedang bercanda.
“Jika aku menang, kamu harus mulai menghafal Al-Qur'an dari Juz pertama. Kamu harus menyetorkannya padaku setiap malam. Dan yang paling penting, kamu harus patuh pada suamimu tanpa banyak alasan lagi.”
Rani sempat terdiam karena taruhan itu sangat berat bagi jiwanya yang bebas.
Namun, rasa percayanya pada kemampuannya di lintasan jauh lebih besar.
“Dan kalau aku yang menang?” tanya Rani menantang.
“Jika aku kalah, aku tidak akan melarangmu balapan lagi. Aku akan membiarkanmu melakukan hobimu sesukamu tanpa tuntutan untuk berubah jadi santriwati dalam semalam. Bagaimana?”
Rani tersenyum lebar saat mendengar perkataan dari suaminya.
Baginya, ini adalah tiket emas menuju kebebasan.
“Setuju! Siapkan telingamu buat dengar suara knalpotku dari belakang, Ustadz!”
Rani menganggukkan kepalanya dengan mantap, benar-benar tergiur dengan kesepakatan itu.
Teman-teman komunitasnya mulai bersorak, menyiapkan garis start.
Dua motor berjajar di garis awal. Satu motor trail merah yang lincah dan satu motor sport hitam yang tampak berat namun bertenaga buas.
Yudiz sedikit menurunkan posisi tubuhnya, pandangannya lurus ke depan.
“Satu... dua... TIGA!”
Rani melesat lebih dulu. Ia menguasai medan tanah dengan sempurna.
Di tikungan pertama yang penuh lumpur, Rani melakukan sliding cantik, meninggalkan kepulan debu di depan wajah Yudiz.
Ia yakin kemenangan sudah di tangannya dan ia akan bebas melakukan apa saja.
Namun, di lintasan lurus setelah gundukan kedua, ia mendengar raungan mesin yang berbeda.
Motor sport hitam milik Yudiz melesat dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
Yudiz mengendalikan motornya dengan teknik yang sangat profesional, seolah ia sudah biasa berada di atas mesin bertenaga besar.
“Dia bisa bawa motor secepat itu?!” gumam Rani kaget.
Saat memasuki tikungan tajam terakhir, Rani mencoba menutup jalur, namun Yudiz lebih cerdik.
Ia mengambil sisi dalam dengan kemiringan yang ekstrem, nyaris menyentuh tanah, lalu memacu gasnya habis-habisan tepat sebelum garis finis.
Yudiz melewati garis finis lebih dulu, hanya selisih satu ban dari motor Rani.
Rani mengerem mendadak hingga debu beterbangan.
Ia melepas helmnya dengan napas terengah-engah dan wajah yang merah padam antara lelah dan tidak percaya.
Yudiz menghentikan motornya, membuka helm, dan mengusap rambutnya yang basah oleh keringat.
Ia menatap Rani dengan senyum kemenangan yang sah.
“Janji adalah hutang, Rani,” ucap Yudiz sambil tersenyum tipis.
Rani terdiam seribu bahasa, ia menatap motor merahnya, lalu menatap suaminya. Ternyata, "Ustadz CEO" ini memiliki sisi lain yang jauh lebih liar daripada dirinya sendiri jika sudah di atas mesin.
“Mulai besok malam, siapkan hafalanmu. ayat pertama sampai sepuluh surat Al-Baqarah,” lanjut Yudiz sambil mengulurkan tangan untuk mengajak Rani pulang.
Rani menghela napas panjang dan untuk pertama kalinya, sang penguasa sirkuit harus takluk. Ia menyambut tangan Yudiz dengan pasrah.
“Curang, kamu.Kamu pasti dulu pembalap ya?” gumam Rani kesal.
Yudiz hanya terkekeh kecil saat mendengar perkataan dari istrinya.
"Ada banyak hal tentang suamimu yang belum kamu tahu, Rani. Sekarang, ayo pulang. Abi dan Umi sudah menunggu.”
Perjalanan pulang menuju rumah Kyai Abdullah terasa berbeda.
Deru mesin motor mereka membelah kesunyian malam menuju fajar.
Sesampainya di sana, Kyai Abdullah yang sedang duduk di beranda hanya tersenyum tipis, seolah sudah tahu bahwa "singa betina"-nya telah dijinakkan oleh sang putra.
Namun, tidak dengan Nyai Salmah yang tidak suka dengan Rani.
Beliau menghampiri Rani yang masih berbau matahari dan debu sirkuit.
"Wah, pengantin baru jam segini baru pulang? Habis balapan nyawa atau balapan pahala, Rani?" sindir Nyai Salmah sambil merapikan letak hijabnya.
Rani hanya terdiam, harga dirinya sedikit tercubit, namun Yudiz segera merangkul bahu istrinya.
"Yudiz masuk dulu ya, Umi. Rani perlu istirahat," pamit Yudiz tenang.
Di dalam kamar, Rani langsung melemparkan jaket kulitnya ke kursi.
Ia merasa asing dengan dirinya sendiri yang baru saja kalah taruhan.
Yudiz berdiri di depan pintu yang sudah tertutup, menatap Rani dengan kewibawaan yang baru.
"Rani, mulai sekarang panggil aku Abi. Bukan Mas, apalagi Yudiz," ucapnya tegas namun lembut.
Rani baru saja hendak memprotes saat suara Adzan Subuh menggema dari menara pesantren, memutus kalimat di ujung lidahnya.
“Ayo, wudhu. Kita sholat subuh dulu,” ajak Yudiz.
“Sholat subuh tuh tiga rakaat ya, Abi?” tanya Rani polos.
Abi memutar badan dan menatap istrinya yang benar-benar buta soal ibadah ini.
Ia langsung menyentil dahi Rani dengan gemas.
“Dua rakaat, wahai ratu sirkuit. Dua! Bukan Maghrib.”
Rani meringis sambil memegangi dahinya yang memerah.
“Biar ingat. Yuk, ambil wudhu. Pahala pertama hari ini.”
Rani berdiri diam sejenak, lalu mengangguk kecil dan berjalan menuju kamar mandi dengan langkah gontai.
Di balik rasa malasnya, ada sesuatu yang mulai bergetar di hatinya; jalan dari sirkuit menuju sajadah benar-benar telah dimulai.
Di depan keran air, Rani tampak kebingungan. Ia melepaskan sisa perlengkapannya dan menatap air yang mengalir.
“Masak sih ini yang dipake buat wudhu kayak gini?” gumam Rani sambil membasuh mukanya asal-asalan.
Dari arah luar kamar mandi, Abi melihat semuanya.
"Rani, mulai dari tangan dulu. Cuci tiga kali, bukan tujuh kali seperti nyuci motor."
“Iya, Abi! Aku tahu!” sahut Rani ketus, meski wajahnya merona karena malu ditegur terus.
Bukannya serius, Rani malah sempat memainkan air keran, mencipratkannya ke sana kemari.
Abi yang curiga akhirnya masuk ke area wudhu dan melihat kelakuan istrinya.
"Wudhu lagi, yang benar," ucap Abi sambil tersenyum tipis, mengawasi setiap gerakannya.
Rani mencoba lagi, tapi ia malah membasuh kaki terlebih dahulu.
Abi yang berdiri di ambang pintu langsung mengoreksi
“Kaki bukan di awal, tapi di akhir.”
“Duh! Kok kayak ngisi formulir ya, banyak tahapnya!” keluh Rani frustrasi.
“Ulangi dari awal,” perintah Abi tak terbantah.
Rani mencoba lagi mulai dari berkumur, membasuh wajah, tangan sampai siku. Tapi ia lupa membasuh kepala.
Ia justru mengambil handuk kecil dan mengeringkan rambutnya yang terkena sedikit air.
“Yang penting bersih, ya kan?”
“Rani, ini bukan nyalon dan bukan hair spa. Harus ada usapan kepala. Satu kali saja, ringan.”
Rani menatap wajah suaminya yang dari tadi mengomel.
Dengan wajah masam, ia mengikuti setiap langkah demi langkah, bahkan sempat hampir tergelincir karena lantai yang licin.
Setelah selesai, ia menoleh ke arah Abi dengan wajah kuyup seperti habis kehujanan.
“Abi, ini udah sah belum? Aku capek banget.”
“Sudah, alhamdulillah. Satu perjuangan selesai,” ucap Abi lembut.
Keduanya kini berdiri di atas sajadah, Rani dengan mukena putih yang dipinjamkan Nyai Salmah terasa agak kepanjangan dan Abi dengan sarung serta koko putihnya yang sedikit kusut karena sibuk mengajari istrinya wudhu tadi.
“Kamu ikut gerakanku dulu, ya. Aku bacakan pelan. Tidak apa-apa lupa, yang penting mau belajar,” bisik Abi.
"Abi, kalau sholat tuh baca apa aja sih? Aku lupa semuanya. Bahkan Al-Fatihah saja aku lupa," aku Rani dengan suara sangat lirih, hampir tidak terdengar karena malu.
Abi tidak menghakimi istrii, ia hanya menunduk, lalu mengangkat takbir.
“Allahu Akbar…”
Rani meniru gerakan suaminya, tangannya gemetar.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, hatinya terasa diam.
Tidak ada keinginan untuk memacu gas, tidak ada keinginan untuk menang. Ia hanya ingin belajar berdiri di hadapan Sang Pencipta.
Beberapa menit berlalu, sholat Subuh pun usai. Rani duduk bersila di atas sajadah dengan mukena yang sudah miring ke kanan. Abi masih khusyuk berdoa. Namun, saat hendak menutup doanya dan menoleh ke samping...
"Rani?"
Rani sudah tertidur pulas. Kepalanya miring ke kanan, bibirnya sedikit terbuka, dan tangannya masih menggenggam ujung mukenanya.
Kelelahan setelah balapan dan "drama" wudhu membuatnya tumbang di atas sajadah.
Abi menatapnya dengan tatapan penuh kasih sayang. Tanpa suara, ia mengambil selimut dan menyelimuti bahu istrinya.
“Biar tidak sempurna, asal terus berproses itu jauh lebih indah daripada yang tidak mencoba sama sekali,” bisik Abi pelan.
Ia bangkit dan mematikan lampu kamar dan dalam fajar yang syahdu itu, sajadah yang tadinya terasa sangat asing bagi Rani, kini menjadi alas tidur ternyaman yang pernah ia rasakan.