Menurut Azalea Laire, dirinya mempunyai bapak kolotnya minta ampun. Jaman sekarang masih saja dijodoh-jodohkan, mana pakai ada ancaman segala, dimana kalau tidak mau dijodohkan, dirinya akan ditendang bukan lagi dari keluarga, tapi di depak dari muka bumi.
Azalea geram di tagih perjodohan terus oleh bapaknya, sehingga dia punya niat buat ngelabrak pria yang mau dijodohkan olehnya agar laki-laki itu ilfeel dan mundur dari perjodohan. Tapi eh tapi, ketika Azalea merealisasikan niat itu yang mana dia pergi ke desa untuk menemui sang jodoh, ternyata dia melakukan kesalahan.
Ternyata jodoh dia adalah Lurah.
Terus kira-kira masalah apa yang udah dibikin oleh Azalea? Kira-kira masalah Azalea ini bikin geram atau malah bikin cengar-cengir?
Nyok kita pantengin aja ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zenun smith, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pentas Part satu
Hari pentas yang dinanti akhirnya tiba.
Sejak pagi tadi sebelum berangkat ke studio, suasana di markas tim sudah seperti pasar tumpah. Sibuknya bukan main. Semua orang berlarian menyiapkan detail, mulai dari wardrobe, hingga printilan kecil seperti bros, selendang, dan aksesori rambut yang akan dikenakan.
Hagia dan Azalea yang semalam sempat larut dalam momen manis penuh perhatian, kini tampak seperti dua orang asing. Mereka saling menjauh secara profesional. Tidak ada lagi sisa-sisa layaknya mereka ketika berdekatan. Hagia dengan wibawa sebagai ketua tim, memimpin briefing terakhir dengan nada bicara yang lugas. Azalea mendengarkan di barisan anggota, mengangguk patuh seolah-olah pria di depannya itu bukan pria yang semalam menangkap tubuhnya saat hampir terjengkang.
Ngomong-ngomong terjengkang, semalam harusnya usapan lembut tangan Azalea di pipi Hagia membuat pria itu yang tertidur. Tapi justru Azalea yang diserang kantuk luar biasa. Gara-gara itu, ponselnya sampai terlepas dari genggaman, dan tubuhnya terkulai hampir jatuh jika saja tangan Hagia tidak sigap menangkapnya.
Mata ketemu mata, mengalirlah getaran cinta. Sayang seribu sayang, mulut tak dapat mengucap kata cinta.
Hp Azalea yang jatuh tadinya mau dipungut Hagia, namun segera buru-buru diambil Azalea dengan gerakan yang gelagapan, seakan takut Hagia melihat isi hpnya. Karena insiden itu juga lah akhirnya Hagia mempersilakan Azalea untuk masuk ke dalam kamar beristirahat. Begitulah lanjutan cerita tadi malam yang baru kita ketahui sekarang.
Kini,
Hagia yang tampan dengan tatanan rambut rapi dibelah pinggir, serta baju pentas yang mempertegas auranya, memberi arahan ini itu kepada tim yang terlibat tak terkecuali Azalea. Tim mereka segera tampil, namun sedang iklan dulu sehingga tim panitia kompetisi mengarahkan tim Hagia untuk bertata letak diatas panggung. Properti sudah disiapkan, tinggal nunggu stage dimulai selesai jeda iklan. Azalea baru tahu kalau lomba ini disiarkan ke televisi meskipun tv daerah, bukan tv nasional.
Oh mungin Hagia tidak bilang agar Azalea tak merasa deg-degan, soalnya Azalea bilang kalau ia deg-degan saat mau tampil. Begitu pikirnya. Namun sesungguhnya deg-degan nya Azalea lebih mengarah dimana ia berdekatan dengan Hagia.
Panggung Dimulai.
Lampu studio padam total. Musik gamelan yang dikolaborasikan dengan denting piano yang melankolis mulai mengalun. Sang narator dengan suara bariton mulai membacakan narasi pembukaan.
"Alkisah, hiduplah seorang Putri jelita dari Kerajaan Galuh. Kecantikannya bak rembulan, namun hatinya tertambat pada sosok yang tak semestinya. Ia adalah seorang abdi setia, penjaga raga dan jiwanya. Cinta mereka tumbuh di antara sela-sela pagar istana, cinta yang terlarang oleh kasta, cinta yang tak direstui semesta..."
Lampu spotlight menyala, menyorot Hagia yang berperan sebagai Setya, sang abdi, yang berdiri di belakang Azalea yang memerankan Candrakirana, sang putri. Mereka sedang berada di taman rahasia.
"Tuan Putri," ucap Hagia dengan suara rendah, pandangan selalu tertunduk tak berani menatap wajah sang Tuan Putri.
"Malam makin larut. Angin malam tak baik bagi kesehatan Tuan Putri. Mari hamba antar kembali ke peraduan."
Azalea berbalik, menatap Hagia dengan mata yang berkaca-kaca, akting yang sempurna karena ia memang sedang terbawa suasana.
"Kakak... berapa kali harus kukatakan? Di tempat ini, tak ada sekat kasta. Jangan panggil aku begitu."
"Hamba hanyalah abdi, Tuan Putri. Tugas hamba adalah menjaga" balas Hagia sesuai naskah. Dialog manis itu membuat penonton mulai berbisik gemas.
Namun suasana berubah tegang saat masuk ke adegan di mana berita tentang perintah Raja datang. Seorang prajurit (pemeran pembantu) datang memberi tahu bahwa Putri harus segera kembali ke istana untuk dijodohkan, dan Setya diperintahkan untuk tidak pulang ke istana.
"Setya, ikutlah bersamaku. Aku akan bicara pada Ayahanda Raja." seru Tuan Putri Candrakirana, menatap sosok Setya dengan penuh kekhawatiran.
"Hamba tidak bisa, Tuan Putri."
"Kenapa?"
"Ini perintah Raja yang harus hamba kerjakan. Sebaiknya Tuan Putri segera pulang ke istana bersama para pengawal."
"Jangan panggil aku Tuan Putri lagi, Setya. Ubahlah panggilanmu. Panggil aku dengan namaku, atau apa saja yang membuatku merasa menjadi wanita biasa di matamu. Bahkan aku sudah memanggilmu Kakak."
Setya terdiam. Ia tertunduk dimana sang Tuan Putri menunggu panggilan dari sosok Setya. Hagia mengambil jeda tiga detik yang terasa sangat lama. Penonton pun serasa ikutan menunggu.
"Baiklah kalau begitu, Adinda sayang."
Penonton di studio langsung riuh. "HUA! CIEEEE!" teriakan itu menggema, dibarengi tepuk tangan yang heboh.
Azalea kedapatan membuang muka ke arah lain untuk menyembunyikan senyumnya. Untungnya, momen itu pas dengan masuknya intro lagu, yang Azlaea harap tak ada seorang pun menyadari aksi spontanitasnya itu.
Hagia mulai bernyanyi. Suaranya yang merdu membawakan lagu cinta tentang seseorang yang mendamba kekasihnya seperti pungguk merindukan bulan. Penonton makin histeris. Chemistry mereka bukan lagi akting, tapi sudah seperti kenyataan yang tumpah ke panggung.
Setiap kali Hagia melakukan gerakan mendekat atau mengucapkan dialog puitis, sorakan "Hiyaaa!", "Uhuuuy!", dan "Cieee!" tak henti-hentinya terdengar. Rupanya banyak penonton yang sudah mengenal Hagia sebagai ketua komunitas seni yang populer. Kehadiran Azalea sebagai partner barunya dianggap sebagai pelengkap yang sempurna. Di kolom komentar media sosial (yang nanti baru mereka ketahui), netizen sudah ramai membuat tagar #Halea (Hagia-Azalea).
Namun sesuai judul ceritanya, kebahagiaan itu hanya sesaat. Adegan berpindah ke peperangan dan perpisahan. Sang Putri dipaksa menikah, dan sang Abdi gugur saat mencoba melindunginya cinta mereka.
Di akhir cerita, Hagia terkapar tak berdaya. Azalea berlari memeluk tubuh itu, menangis sejadi-jadinya. Isak tangis Azalea terdengar sangat nyata di seluruh penjuru studio. Ia meratapi nasib cinta yang tak sampai. Penonton yang tadinya bersorak, kini ikut terisak. Habis dibuat cengar-cengir kini dibuat mengsedih. Bahkan beberapa juri terlihat menyeka air mata dengan tisu. Lampu pelan-pelan meredup hingga gelap total, menandakan pertunjukan usai.
Saat lampu kembali menyala terang (lighting normal), Hagia dan Azalea bangun dari posisi akting mereka. Mereka berdiri berdampingan, membungkuk memberi hormat kepada penonton yang memberikan standing ovation. Riuh rendah tepuk tangan memenuhi ruangan.
Host acara naik ke panggung, "Luar biasa! Penampilan yang sangat menyentuh dari perwakilan Watuasih. Mari kita dengar komentar dari para juri."
Salah satu juri yang mana merupakan seniman senior di daerah tersebut, mengambil mikrofon. Namun alih-alih menilai teknik akting, ia malah tersenyum penuh arti ke arah Azalea.
"Sebelum saya kasih komentar, saya mau tanya sama pemeran Tuan Putri Candrakirana terlebih dulu, tapi jawab yang jujur ya, Nduk," kata sang juri.
Azalea yang masih sedikit mengatur napas setelah akting menangis, langsung merasa tegang. Ia pun menjawab. "Iya, Bu... silakan."
"Tadi saya melihat ada perubahan raut wajah kamu saat adegan yang sebelum... itu lho, yang sebelum Hagia bernyanyi di lagu pertama. Pas adegan manis yang--" Juri itu terlihat berpikir sejenak, mencoba mengingat detailnya.
Host membantunya, "Yang Setya panggil dengan sebutan baru bukan Bu? Yang bikin penonton di studio sini kelepek-klepek, yang itu kan?"
"Nah, yang itu!" seru sang juri sambil menunjuk ke arah mereka. "Coba ceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Apa memang ada di script-nya atau bagaimana? Karena saya melihatnya itu seperti di luar prediksi BMKG, lho. Hehehe. Maksud saya, kagetnya kamu itu alami sekali. Seperti kaget yang benar-benar masuk ke hati. Coba kamu jelaskan itu sebenarnya bagaimana?"
Azalea mendadak membeku, ternyata ada yang ngeh juga soal itu. Ia melirik ke samping, menatap Hagia seolah meminta bantuan atau setidaknya persetujuan untuk menjawab. Melihat Azalea yang meminta persetujuan, Hagia justru melangkah sedikit mendekat, lalu membisikkan sesuatu ke telinga Azalea yang jaraknya sangat dekat.
"WAAAAA!" Penonton kembali berteriak histeris melihat interaksi bisik-bisik itu. Suasana studio makin panas dengan godaan dari penonton. Host dan juri pun ikut teriak menggoda, sengaja ingin mengerjai kedua orang ini karena chemistry mereka yang kelewat menggemaskan.
Bisik-bisik Hagia adalah bilang ke Azalea untuk jawab jujur apa adanya.
Azalea berdeham, ia mendekatkan mikrofon ke bibirnya lalu mulai menjawab.
.
.
Bersambung.