NovelToon NovelToon
You Can Run, But You'Re Still Mine

You Can Run, But You'Re Still Mine

Status: tamat
Genre:Action / Kehidupan Tentara / Nikahmuda / Karir / Persahabatan / Menyembunyikan Identitas / Tamat
Popularitas:229.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Raska dikenal sebagai pangeran sekolah, tampan, kaya, dan sempurna di mata dunia. Tak ada yang tahu, pendekatannya pada Elvara, gadis seratus kilo yang kerap diremehkan, berawal dari sebuah taruhan keji demi harta keluarga.
Namun kedekatan itu berubah menjadi ketertarikan yang berbahaya, mengguncang batas antara permainan dan perasaan.

Satu malam yang tak seharusnya terjadi mengikat mereka dalam pernikahan rahasia. Saat Raska mulai merasakan kenyamanan yang tak seharusnya ia miliki, kebenaran justru menghantam Elvara tanpa ampun. Ia pergi, membawa luka, harga diri, dan hati yang hancur.

Tahun berlalu. Elvara kembali sebagai wanita berbeda, langsing, cantik, memesona, dengan identitas baru yang sengaja disembunyikan. Raska tak mengenalinya, tapi tubuhnya mengingat, jantungnya bereaksi, dan hasrat lama kembali membara.

Mampukah Raska merebut kembali wanita yang pernah ia lukai?
Atau Elvara akan terus berlari dari cinta yang datang terlambat… namun tak pernah benar-benar pergi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6. Rumah yang Tidak Pernah Adil

Nata menyandarkan punggung ke kursi. “Jadi karena belajar bersama, naik rangking, lalu Raska menyukainya?”

Gayus menggeleng pelan.

“Tidak sesederhana itu, Om.”

Ia berhenti sejenak, memilih kata. “Secara psikologis,” lanjutnya hati-hati, “Elvara bukan sekadar teman belajar bagi Raska.”

Nata menatapnya lebih fokus.

“Dia berbeda dari gadis lain,” lanjut Gayus. “Tidak caper. Tidak baper. Tidak mendekati Raska karena status, fisik, atau kekayaan. Dia cuek… dan percaya diri dengan dirinya sendiri.”

Gayus menghela napas pelan. “Elvara memperlakukan kami semua sama. Termasuk Raska.”

Ia menatap Nata lurus.

“Dan yang paling penting, dia menerima Raska apa adanya. Dengan traumanya. Tanpa merasa perlu memperbaiki, mengasihani, atau mengagungkannya.”

Vicky ikut masuk, senyum miring di wajahnya. “Cewek itu nggak pernah ngerendahin Raska, Om. Nggak peduli dia anak orang kaya, dingin, atau susah didekati.”

Ia mengangkat bahu. “Buat Elvara, Raska ya… Raska. Normal.”

Nata terdiam.

Asep yang sejak tadi gelisah akhirnya angkat suara. Kali ini tanpa bercanda. “Dan Om harus tahu satu hal.”

Nata menoleh.

“Raska itu,” lanjut Asep, suaranya lebih rendah dari biasanya, “nggak pernah ngerasa cukup buat siapa pun.”

Ia menelan ludah. “Di rumah, dia anak yang trauma. Di luar, dia cowok yang dituntut selalu kuat.”

Asep menghembuskan napas pendek. “Sama Elvara… dia cuma jadi Raska.”

Kalimat itu jatuh berat.

Gayus menutup dengan suara yang lebih tenang, tapi tajam. “Jadi kalau Om bertanya kenapa Raska menyukai Elvara,” katanya, “bukan karena rangking. Bukan karena kepintaran.”

Ia menatap Nata lurus.

“Tapi karena untuk pertama kalinya, ada seseorang yang melihatnya bukan sebagai pangeran sekolah, anak orang kaya, atau anak yang rusak, melainkan sebagai pria yang layak.”

Sunyi.

Nata tidak langsung menjawab. Tangannya mengepal perlahan di atas meja.

Untuk pertama kalinya, Nata sadar, mungkin selama ini, ia bukan tempat pulang bagi putranya.

Sunyi itu belum benar-benar pergi ketika Nata kembali menatap ketiganya.

Satu per satu. Seolah sedang menimbang kebenaran dari wajah-wajah muda di hadapannya.

“Kalau begitu,” ucapnya akhirnya, suaranya tenang, terlalu tenang, “kenapa Elvara pergi?”

Pertanyaan itu jatuh pelan. Namun beratnya terasa seperti batu.

Asep, Vicky, dan Gayus saling pandang. Tak satu pun langsung menjawab.

Ada keraguan di mata mereka. Bukan karena tak tahu, melainkan karena tahu terlalu banyak.

Untungnya, pintu VIP kembali terbuka. Pramusaji masuk, mendorong troli berisi hidangan yang sejak tadi dipesan.

Piring-piring disusun rapi. Aroma makanan hangat memenuhi ruangan, memecah ketegangan yang hampir mencekik.

Nata mengalihkan pandangan sejenak. “Kita makan dulu,” katanya. “Nanti kita lanjut.”

Kalimat itu bukan perintah. Lebih seperti penangguhan.

Mereka mengangguk.

Makan berlangsung dalam keheningan yang sopan. Sendok dan garpu bergerak. Tidak ada yang benar-benar menikmati rasa.

Sesekali Asep melirik Vicky. Vicky membalas dengan tatapan singkat. Gayus hanya menunduk, seolah sedang merangkai kalimat di kepalanya.

Ketika piring-piring mulai kosong dan minuman tinggal separuh, Gayus meletakkan sendoknya lebih dulu.

Tanpa diminta.

“Om,” katanya pelan.

Nata mengangkat wajah.

“Soal pertanyaan Om tadi…” Gayus berhenti. Menoleh ke Asep dan Vicky.

Dua anggukan kecil menjawabnya.

Nata tidak menyela. Tangannya terlipat di atas meja, menunggu.

Gayus menarik napas lebih dalam sebelum akhirnya berbicara. Nada suaranya tetap tenang, namun kini terasa jauh lebih berat.

“Awalnya… Raska mendekati Elvara bukan karena ingin belajar bersama. Bukan pula karena perasaan.”

Sunyi kembali turun.

“Dia melakukannya karena taruhan.”

Alis Nata sedikit berkerut.

“Taruhan?”

Gayus mengangguk.

“Dengan Roy.”

Nama itu menggantung di udara. Tak diucapkan keras, tapi cukup untuk membuat dada Nata mengencang seketika.

Asep menelan ludah, lalu ikut bicara, kali ini terdengar lebih serius dari sebelumnya.

“Roy bilang, Raska gak pantes digelari pangeran sekolah. Karena, masih ada satu cewek di sekolah kami yang sama sekali nggak peduli sama Raska.”

Ia berhenti sejenak.

“Elvara.”

“Kami sudah berusaha mencegah,” sambung Vicky pelan. “Tapi Roy tahu persis tombol mana yang harus ditekan.”

Gayus menatap Nata lurus-lurus. “Taruhan itu bukan soal Elvara, Om.” Ia menarik napas pelan. “Tapi soal warisan.”

Ruangan terasa menyempit.

Nata menatap mereka bergantian.

“Warisan?”

Tak ada yang langsung menjawab.

Asep, Vicky, dan Gayus saling pandang, seolah memastikan keputusan yang sama.

Vicky akhirnya bersuara. Ia menyandarkan punggung, suaranya rendah, hampir dingin.

“Yang kalah harus menandatangani surat pernyataan. Legal. Sah di mata hukum.”

Ia berhenti.

“Nggak akan menuntut sepeser pun dari warisan keluarga. Saham. Properti. Apa pun yang Om punya.” Ia mengangkat bahu tipis. “Hidup murni pakai kemampuan sendiri.”

Tangan Nata mengepal erat di atas meja. Rahangnya mengeras. Darahnya mendidih, bukan karena taruhan itu sendiri, melainkan karena siapa yang memulainya.

“Masalahnya,” sambung Gayus, suaranya kini lebih pelan, “Raska gagal di satu hal.”

“Apa?” Suara Nata hampir tak terdengar. “Dia jatuh sungguhan?”

Asep mengangguk. “Parah, Om.”

Vicky tersenyum tipis, pahit. “Elvara nggak pernah tahu soal taruhan itu. Dan Raska… nggak pernah cukup berani buat jujur.”

Gayus menutup dengan satu kalimat yang jatuh pelan, namun menghantam tepat sasaran.

“Ketika Elvara akhirnya tahu sebagian kebenaran, dia pergi bukan karena merasa dibohongi.”

Ia menatap Nata lurus.

“Tapi karena dia sadar… sejak awal, keberadaannya dipertaruhkan.”

Sunyi.

Nata tak bergerak. Tangannya mengepal semakin erat, seolah menahan sesuatu yang hendak pecah di dadanya.

Untuk pertama kalinya, ia melihat garis yang selama ini terputus, antara Roy, ibu Roy, Raska… dan dirinya sendiri.

Dan untuk pertama kalinya pula, ia menyadari satu kebenaran yang lebih menyakitkan dari kesalahan Raska mana pun.

Taruhan itu tak muncul tiba-tiba. Ada sesuatu di rumah ini yang sejak lama retak.

***

Nata duduk sendiri di ruang kerjanya.

Lampu meja menyala redup, memantulkan bayangan tegas di wajahnya. Beberapa berkas terbuka di hadapannya, namun tak satu pun benar-benar ia baca.

Ketukan pelan terdengar di pintu.

“Masuk.”

Roy muncul setelah mendapat izin. Sikapnya rapi, wajahnya datar seperti biasa, topeng yang selalu ia pakai di hadapan Nata.

“Ada apa, Pa?” tanyanya.

“Duduk,” ucap Nata singkat.

Roy menarik kursi dan duduk berhadapan dengannya, dibatasi meja kerja besar yang selama ini menjadi jarak tak kasatmata antara ayah dan anak.

Nata menatap Roy lama, terlalu lama.

“Papa menyekolahkanmu agar kau cerdas,” katanya akhirnya, suaranya datar dan terkendali. “Bukan untuk berjudi.”

Roy mengernyit tipis. “Apa maksud Papa?”

Nata tersenyum kecil. Senyum yang tak menyentuh mata. “Kalau kau begitu suka taruhan,” lanjutnya pelan, “Papa bisa beri kau uang satu miliar.”

Roy membeku.

“Ambil uang itu. Pergi dari rumah ini.” Nada Nata tetap tenang. “Dan jangan pernah menginjakkan kaki lagi di sini.”

Tangan Roy mengepal di atas pahanya. Rahangnya mengeras, tapi ia masih berusaha menjaga suara tetap stabil.

“Papa serius?”

Nata mengangguk kecil. “Jangan berpura-pura tak tahu. Kau bertaruh dengan kakakmu.” Tatapannya menajam. “Mempertaruhkan warisan… bahkan sebelum Papa mati.”

Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan. “Di sekolah, kau belajar apa? Atau sekarang mata pelajaran favoritmu judi online?”

Roy tertawa pendek. Bukan geli, lebih seperti ejekan.

“Raska ngadu, ya?” katanya dingin. “Kekanakan sekali.”

Tatapan Nata mengeras. “Kakakmu tak pernah mengadu,” balasnya tenang. “Papa tahu dari orang kepercayaan Papa.”

Roy tertawa lagi. Kali ini lebih pahit. “Wajar,” katanya. “Papa memang selalu mengawasinya. Anak kesayangan Papa.”

Nada suaranya naik satu oktaf, meski masih tertahan. “Papa tahu nggak rasanya dibandingkan terus?” lanjut Roy. “Papa nggak adil.”

Nata tak menyela. Dan untuk pertama kalinya, Nata sadar, ia tak lagi mengenali anak yang berdiri di hadapannya.

“Dia tinggal di apartemen mewah,” Roy melanjutkan, semakin emosional. “Sementara aku di rumah ini, uang jajan dibatasi. Minta motor disuruh nabung.”

Nata menatapnya tajam. “Apartemen itu milik mendiang ibunya,” katanya dingin. “Mobil itu juga.” Ia menahan napas. “Kau tidak berhak iri.”

Roy berdiri setengah, emosinya akhirnya tumpah. “Tentu saja aku iri!” suaranya meninggi.

“Ibunya punya segalanya! Tapi Papa nggak pernah kasih apa-apa ke aku dan Mama!

Kalau Papa kira ini selesai malam ini,” suara Roy bergetar, “Papa salah.”

...🔸🔸🔸...

...“Tidak semua luka lahir dari kebencian....

...Sebagian tumbuh dari perlakuan yang tidak pernah benar-benar adil.”...

...“Yang paling kejam dari sebuah taruhan...

...bukan siapa yang kalah,...

...melainkan siapa yang dijadikan objek.”...

...“Kesalahan orang tua jarang berhenti pada satu anak....

...Ia diwariskan, diam-diam, pada yang lain.”...

...“Rumah bisa melahirkan cinta....

...Dan pada saat yang sama, menumbuhkan iri.”...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Wardi's
terimakasih untik karyanya.., bagus nya pake banget. diawal gregetannya pake greget yg banget2..,

sukses untuk karya ini dan karya2 selanjutnya..,
Tiara Bella
akhir yg bahagia makasih Thor banyak ilmu yg dipelajari dr cerita ini ... 😍
Sri Hendrayani
cerita novelmu keren2 smua thor😍
Dew666
🌻🌻🌻🌻🌻
abimasta
trimakasih thor
Sugiharti Rusli
sekarang pun dia juga akhirnya mau mengakui si Roy sebagai seorang meski mereka tidak ada hubungan darah sama sekali,,,
Sugiharti Rusli
dulu ketiga sahabatnya dia percayakan mengelola aset" nya di saat di sibuk di pendidikan militer dan terjun di sana
Sugiharti Rusli
di balik sikap Raska yang terkesan dingin dan kaku, sejatinya dia pribadi yang hangat dan kekeluargaan yah,,,
Anitha Ramto
terimakasih kak Nana...
akhirnya Happy Ending
Eka Burjo
Aamiin,
Alfatihah.
terimakasih. ditunggu novel novel berikutnya👍
🌠Naπa Kiarra🍁: Sama-sama Kak 🤗🙏
total 1 replies
asih
ternyata bener kak Nana Dari keluarga tentara,
cara menulis selalu keren bahasanya juga jelas 👍👍👍
semangat berkarya kak
4_amiraa_ Tadzkiyaa_
makasi tthor.. gak cuma foksi n halu aha.. tp tambah Ilmu baca kisah inii.....semua sukaa cerita2nyaaa... 😍👍🙏
🌠Naπa Kiarra🍁: Sama-sama Kak 🤗🙏
total 1 replies
Anindita keisha
keren bgt ceritanya
Angelia nikita Sumalu
Tetap semangat berkarya 💪🏻💪🏻
🌠Naπa Kiarra🍁: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
susilawatiAce
Terimakasih kak Nana sudah memberikan karya terbaik mu untuk para pembaca....... smoga kedepanya lebih sukses lagi...
🌠Naπa Kiarra🍁: Aamiin. Terima kasih KK 🤗🙏🙏
total 1 replies
Angelia nikita Sumalu
Keren sekali ceritanya...
menyampaikan fakta dan realita bagaimana kehidupan para prajurit yg menjaga negara... bagaimana cara hidup mereka dalam memperjuangkan kedamaian serta rasa aman bagi kita...
tetap semangat authornya💪💪
ditunggu karya³ lainnya
🌠Naπa Kiarra🍁: Terima kasih KK 🤗🙏🙏
total 1 replies
⚔️⃠🧸🍁𝐘𝐖❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱
Mkch, Ade, utk crita keren ny & dtunggu karya slanjutny ❤️🤗😘
⚔️⃠🧸🍁𝐘𝐖❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱: Cama², Ade ❤️🤗️😘
total 2 replies
Felycia R. Fernandez
Keren kk Thor Nana 👍👍👍👍
dari cerita ini aku tau gimana rasanya menjadi seorang prajurit...
gimana rasanya konflik bercampur dengan urusan kerjaan...
tapi Raska punya jiwa yang kuat di bangun dari dasar trauma yang mendalam...
semoga kk othor Nana selalu sehat dan semangat untuk menghadirkan cerita cerita seru lain nya...
makasih kk Thor Nana 🙏🌹♥️
Felycia R. Fernandez: ma sama kk☺️
Tinggal nunggu part Reza nangis darah dalam penyesalan kk 🤣
total 2 replies
Fadillah Ahmad
Luar Biasa
🌠Naπa Kiarra🍁: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Fadillah Ahmad
Ah Akhirnya... Cerita ini telah Selesai aku baca 🙏🙏🙏 Terima Kasih Kak Nana... 🙏🙏🙏😁
🌠Naπa Kiarra🍁: Sama-sama Kak 🤗🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!