NovelToon NovelToon
Dia Yang Hadir Di Pintu Terakhir

Dia Yang Hadir Di Pintu Terakhir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:54
Nilai: 5
Nama Author: yuliza sisi

DIA YANG HADIR DI PINTU TERAKHIR
Sejak kapan sebuah rumah terasa paling asing, dan luka menjadi satu-satunya yang jujur?
Aira Maheswari dibesarkan di bawah atap yang megah, namun penuh kebisuan dan rahasia. Ia terbiasa menyembunyikan diri di balik topeng, sebab di rumahnya, kejujuran hanyalah pemicu keretakan. Pelarian Aira datang dari Raka, Naya, dan Bima, tiga sahabat yang menjadi pelabuhan sementaranya. Namun, kehangatan itu tak luput dari kehancuran—ketika cinta terlarang dan pengorbanan sepihak meledak, ikatan persahabatan mereka runtuh, meninggalkan Aira semakin sendirian.
Saat badai emosi merenggut segalanya, hadir Langit Pradana. Lelaki pendiam ini, dengan tatapan yang memahami setiap luka Aira, menawarkan satu hal yang tak pernah ia dapatkan. Cinta mereka adalah tempat perlindungan, sebuah keyakinan bahwa Langit adalah tempat pulangnya.
Namun, hidup Aira tak pernah sesederhana itu. Akankah Aira menemukan tempat pulang yang sesungguhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuliza sisi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25

HAL-HAL YANG TIDAK DIMINTA, NAMUN TETAP TINGGAL

Mobil berhenti pelan di depan rumah itu.

Rumah yang sama.

Rumah yang lama terasa kosong meski masih berdiri utuh.

Rumah yang menyimpan terlalu banyak kenangan dan terlalu banyak kesunyian.

Kartik turun lebih dulu. Ia membuka pintu belakang dengan hati-hati.

“Pelan, Tan,” katanya lembut.

Aira segera menghampiri, refleks memegangi lengan ibunya.

“Bu, pegangan sama Aira ya.”

Ibunya tersenyum. “Iya, Nak.”

Langkah mereka pelan, nyaris sinkron. Kartik berjalan di sisi lain, siap menopang kapan saja, tapi tidak mengambil alih. Ia tahu kapan harus membantu, dan kapan harus memberi ruang.

Begitu ibu Aira sampai di ruang tamu dan duduk di sofa lama yang kainnya sudah sedikit Berdebu, napas Aira terasa lebih lega.

Ibunya memejamkan mata sebentar.

“Rumah kita masih wangi,” katanya lirih. “Seperti dulu.”

Aira tersenyum kecil.

“Iya, Bu.”

Kartik berdiri di ambang pintu.

“Saya ambil barang-barangnya dulu Tan .”

“Iya, Nak. Terima kasih,” jawab ibu Aira.

Aira berdiri. “Aku bantu.”

Mereka melangkah kembali ke arah mobil.

Senja turun perlahan, menyisakan cahaya jingga yang memantul di kaca jendela.

Kartik membuka bagasi.

Di dalamnya ada koper Aira dan ibunya.

Yang lama.

Kartik meraih gagangnya di saat yang sama Aira melakukan hal yang sama.

Tangan mereka bertemu.

Jari Aira refleks menarik, tapi terlambat.

Kartik juga terdiam.

Sepersekian detik.

Waktu seperti menahan napas.

Aira mendongak. Kartik menunduk.

Mata mereka bertemu.

Tidak ada kata.

Tidak ada senyum lebar.

Hanya keheningan yang terlalu terasa.

“Maaf,” ucap mereka hampir bersamaan.

Aira cepat menarik tangannya.

“Aku bisa sendiri.”

Kartik mengangguk pelan.

“Iya.”

Ia tetap mengangkat koper itu, seolah beban fisik lebih mudah daripada beban yang baru saja singgah di dadanya.

Saat semua barang sudah dikeluarkan dan ditaruh rapi di ruang tamu, Kartik berdiri tegak.

“Saya pamit, Tan,” katanya sopan.

Ibunya menatapnya lama.

“Kamu nggak mau duduk dulu?”

Kartik tersenyum tipis.

“Lain kali.”

Aira berdiri dengan tangan terlipat di dada.

Sejak tadi ia menahan sesuatu. Dan sekarang, itu mendesak keluar.

“Kartik.”

Ia berhenti melangkah.

“Aku mau ngomong.”

Ibunya menoleh. “Aira?”

“Nggak apa-apa, Bu,” potong Aira cepat. “Sebentar hanya ingin berterimakasih.”

Mereka berdiri di teras.

Langit sudah berubah gelap.

“Apa?” tanya Kartik tenang.

Aira menghela napas panjang.

“Aku nggak suka caramu.”

Kartik tidak bereaksi.

“Kamu datang di saat keluargaku berantakan,” lanjut Aira cepat. “Bayar ini itu. Urus semuanya. Seolah kamu penyelamat.” Aira tertawa kecil, pahit. “Aku nggak minta.”

Kartik mengangguk pelan.

“Aku tahu.”

“Kamu pikir aku nggak curiga?” suara Aira meninggi.

“Aku lagi lemah. Keluargaku lagi jatuh. Dan kamu… kamu masuk begitu saja.”

Kartik diam. Hanya mendengarkan.

“Aku nggak bodoh,” lanjut Aira, napasnya bergetar. “Aku nggak suka orang yang ambil keuntungan di saat orang lain hancur.”

Kartik akhirnya bicara. Suaranya rendah.

“Kalau saya mau ambil keuntungan, saya akan minta sesuatu.”

“itu yang ku maksud, mungkin bukan sekarang tapi nanti” tantang Aira.

“terserah kamu ingin berpikir apa tentang saya” ujar Kartik.

Aira terdiam.

Kartik menatapnya lembut, tapi tidak memohon. “Saya tidak datang untuk disukai.”

Ia mengambil napas. “Saya datang karena karna ingin membantu.

Aira tertegun.

“Dan karena kamu… tidak sekuat yang kamu kira,” lanjut Kartik pelan.

Hening jatuh berat.

“Saya pamit,” katanya lagi. Ia masuk ke ambang pintu menoleh ke pintu rumah Aira

“Tan, jaga kesehatan. Kalau butuh apa pun...”

Ibunya memotong, suaranya gemetar.

“Tante akan hubungi kamu, semoga Allah selalu menjaga kamu nak.”

Kartik menunduk hormat.

“Assalamualaikum.”

Ia pergi.

Aira berdiri mematung.

Ada rasa menang.

Ada rasa bersalah.

Dan entah kenapa, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya yang tidak ia akui.

Siang sudah berganti malam Ponsel Aira bergetar.

Langit menelepon.

“Aira,” suaranya langsung tinggi. “Gimana pulangnya?”

“Sudah sampai,” jawab Aira lelah.

“Sama siapa?”

“Kartik.”

Hening.

Lalu suara langit berubah dingin.

“Kamu serius?”

“Iya.”

“Kamu ngobrol apa aja ke dia?”

“Kamu sengaja, ya?” ujar langit memborong semua pertanyaan. Yang langsung di potong oleh Aira

“Aku cuma pulang, Langit.”

“Kamu cari perhatian?” bentaknya. “Kamu mau bikin aku kelihatan nggak berguna?”

Aira refleks mengecilkan suara.

“Aku cuma butuh bantuan.”

“Aku bilang apa kemarin? Jauhi dia!”

Aira terdiam. Jantungnya berdetak keras.

“Jawab!” bentak Langit.

“Iya,” kata Aira pelan. “Iya, aku salah.”

Langit menghela napas puas.

“Kamu harus minta maaf besok.”

“Ke kamu?”

“iya ke siapa lagi”

Telepon ditutup.

Aira duduk di tepi ranjang.

Tangannya gemetar.

Ia baru sadar,

selama ini ia tidak sedang dicintai.

Ia sedang dikendalikan.

Aira naik kendaraan umum.

Biasanya ada sopir.

Biasanya ada kenyamanan, walaupun ia tetap memilih naik kendaraan umum tapi Hari ini tidak.

Ia berdiri di antara orang-orang asing, memegang tas erat. Di kepalanya, angka-angka berputar.

Uang tinggal berapa.

Kerja di mana.

Bagaimana bayar uang rumah sakit yang telah di bayar Kartik.

bukan hanya uang masalah nya sekarang tapi, Ia bahkan tidak punya nomor Kartik.

Di kampus, hari berjalan biasa. Terlalu biasa untuk hati yang sedang runtuh.

Saat pulang, Langit sudah menunggu.

Wajahnya tegang.

“Kamu kenapa lama?”

“Kamu ke mana saja?”

Wajah Aira lelah di berondong pertanyaan bahkan ia belum sempat mengatur napasnya yang tersengal-sengal akibat terburu-buru

“Kamu harus minta maaf,” kata Langit tajam.

“Dan kamu harus janji satu hal.”

“Apa?”

“Jauhi laki-laki itu siapaa namanya? Oh iya Kartik.”

Aira menatapnya lama.

ayahnya memang sereng menuntut sesuatu.

Tapi ayahnya selalu menjelaskan kenapa.

Selalu dengan suara rendah.

Langit tidak.

“Aku minta maaf,” kata Aira akhirnya.

“Iya. Aku janji.”

Langit tersenyum menang.

Aira menunduk.

Di dalam hatinya, sesuatu patah.

Tapi Aira segera menepis nya, mungkin langit hanya cemburu karna itulah yang berlebihan.

Aira berjalan keluar gerbang kampus dengan langkah pelan. Tas disampirkan di bahu, kepalanya sedikit menunduk. Tatapannya kosong, seperti seseorang yang tubuhnya berjalan, tapi pikirannya tertinggal jauh di belakang.

Di saat yang sama, sebuah mobil hitam memasuki area kampus.

Kartik.

Ia baru saja keluar dari parkiran fakultas hukum. Niatnya sederhana, mengantar berkas tambahan ke pengacara yang menangani kasus ayah Aira. Tapi niat sering kali kalah oleh kenyataan bukan hanya itu alasannya, Kartik bisa saja menyuruh pengacara datang menemuinya tapi ia juga ingin memastikan Aira baik-baik saja.

Di depan sana, di balik kaca mobilnya, Kartik melihat Aira.

Berjalan sendiri.

Menunduk.

Dan terlihat… terlalu sendirian.

Kartik memperlambat mobil.

Lalu memutar setir.

Ia mengikuti Aira dari belakang dengan jarak aman. Beberapa meter. Tidak menekan. Tidak tergesa.

Ia membunyikan klakson pelan.

Aira terkejut. Menoleh.

Mobil hitam itu berhenti di sampingnya.

Kaca jendela turun.

“Naik,” kata Kartik singkat.

Aira mengerjap.

“Kartik?”

“Masuk.”

Aira menggeleng cepat. “Nggak usah. Aku bisa pulang sendiri.”

“Kamu jalan kaki kan?"

“Aku biasa.”

“Kamu kelihatan capek Aira"

“Aku baik-baik saja.”

Kartik mematikan mesin.

Membuka pintu.

Ia turun.

Aira refleks mundur setapak. “Ngapain turun?”

Kartik berdiri di depannya. Tingginya membuat Aira harus mendongak.

“Kamu naik,” ulangnya.

“Aku bilang nggak mau.”

Kartik menatapnya lama.

Lalu berkata tenang, datar, tanpa nada bercanda:

“Kalau kamu masih keras kepala, aku gendong.”

“Apa?” mata Aira membesar.

“Kamu terlalu ringan. Tidak akan susah.”

“Kartik!”

“Pilihannya dua,” katanya serius. “Naik sendiri. Atau aku gendong.”

Beberapa mahasiswa mulai melirik.

Aira memerah.

“Kamu keterlaluan Kartik!”

“Lima detik,” ucap Kartik pelan. “Satu.”

Aira mendengus.

Dua.

Tiga.

“YA SUDAH!”

Ia membuka pintu mobil dengan kesal dan masuk.

Kartik menutup pintu tanpa berkata apa-apa.

Ia kembali ke kursi pengemudi.

Mobil melaju.

Sunyi.

Tidak ada musik.

Tidak ada basa-basi.

Aira menatap jendela, rahangnya mengeras.

Kartik fokus ke jalan, kedua tangannya stabil di setir.

Beberapa menit berlalu sebelum Aira akhirnya bicara.

“Aku akan bayar.”

Kartik tidak menoleh.

“Bayar apa.”

“Uang rumah sakit ibu ku.”

Ia menarik napas. “Tapi setelah aku dapat kerja.”

Kartik mengangguk kecil.

“Baik.”

Tidak ada penolakan.

Tidak ada penyangkalan.

Tidak ada ceramah.

Aira menoleh heran.

“Kamu… nggak bilang nggak usah?”

“Kalau saya bilang begitu, kamu akan marah.”

Aira terdiam.

“Saya tidak mau berdebat,” lanjut Kartik. “Kamu sudah cukup lelah.”

Mobil berbelok.

Aira mengernyit.

“Ini bukan jalan ke rumah.”

“Iya.”

“Kita ke mana?”

Kartik tidak langsung menjawab.

Mobil melambat di depan sebuah gerbang tinggi. Kawat berduri. Pos penjagaan. Papan bertuliskan LAPAS.

Aira membeku.

“Kartik…” suaranya bergetar. “Kenapa kita ke sini?”

Kartik mematikan mesin.

Menoleh padanya.

“Turun.”

“Kenapa?”

“Ayahmu pasti rindu sama anak nya yang keras kepala ini.”

Dada Aira sesak.

“Ini mendadak.”

“Rindu juga datang mendadak,” jawab Kartik pelan.

Aira turun dengan langkah gemetar. Setiap langkah menuju ruang kunjungan terasa berat. Jantungnya berdetak terlalu keras.

Ayahnya.

Sudah hampir seminggu ia tidak bertemu, ia masih takut untuk bertemu ayahnya takut untuk di mintak jawaban ia memilih langit atau ayah nya.

Di balik kaca tebal itu, ayah Aira duduk. Rambut ayahnya lebih putih. Wajahnya lebih tirus.

Tapi saat matanya bertemu Aira

Wajah itu Tersenyum.

“Aira…”

Aira menutup mulutnya. Air mata jatuh begitu saja.

“Ayah…”

Ia mengangkat telepon dengan tangan gemetar.

“Ayah… maaf…”

Ayahnya tersenyum, meski matanya basah.

“Kamu datang. Itu sudah cukup.”

Aira menangis. Tidak terisak. Tapi hancur perlahan.

Di belakangnya, Kartik berdiri diam.

Menjaga jarak.

Memberi ruang.

Karena cinta yang tulus tahu kapan harus hadir dan kapan harus menyingkir.

Bersambung.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!