Novel ini berdasarkan kisah nyata.
Nama tokoh, nama tempat, atau nama daerah sudah diganti demi menjaga kerahasiaan identitas asli.
Apabila terdapat kesamaan nama tokoh, tempat, laku tirakat tertentu, profesi tertentu, atau latar daerah tertentu dengan para pembaca semua, mohon dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HAWA PANAS
Setelah beberapa waktu, akhirnya kami semua sampai di rumah Pak Handoyo. Di sana ternyata sudah ada beberapa tetangga yang datang untuk menjenguk.
Pak Handoyo adalah sosok yang dikenal baik oleh banyak orang, kepribadiannya yang sederhana, pekerja keras, bahkan dikenal jarang mengeluh dalam setiap kesehariannya. Dan dia juga disukai oleh anak-anak karena jajanan yang dijualnya enak-enak. Malah sering bercanda juga sama anak-anak. Sehingga tak heran rasanya jika banyak orang yang merasa kasihan dan menjenguk saat Pak Handoyo sakit tiba-tiba seperti itu.
Ustadz Furqon dan bapak-bapak yang datang duduk di ruang tamu, mulai saling menyapa, saling mengobrol, dan bergantian masuk ke dalam kamar Pak Handoyo dimana ia terbaring merasakan sakit di perutnya. Sedangkan Bu Fatimah langsung menuju dapur dimana ibu-ibu juga berkumpul di sana. Membantuk menyiapkan suguhan untuk tamu yang datang meski hanya segelas teh hangat saja.
Aku, Dinda, dan Ningrum, kami bertiga duduk di kursi yang telah disediakan keluarga Pak Handoyo di halaman rumahnya. Tepat di depan kamar Pak Handoyo. Sesekali kami bertiga mendengar suara Pak Handoyo yang mengerang merasakan sakit. Dan juga terdengar suara istrinya sesenggukan menangis.
"Yaa Alloh, aku gak tega kalo denger suaranya kayak gitu..." ucap Ningrum.
"Iya Rum, aku juga... Aku gak kebayang kalo misalnya itu kejadian sama bapakku." timpal Dinda.
"Heh, istighfar! Gak boleh bayangin kayak gitu." ucapku sambil menepuk tangan Dinda.
"Ya bukannya aku bayangin Nis, aku juga gak mau lah bapakku sakit kayak gitu." jawabnya.
"Emang awal sakitnya kenapa sih?" tanya Ningrum padaku.
"Ya aku juga gak tau Rum, aku aja tau dari Bu Marsinah tadi pagi pas dia lewat sama Bu Giyem dan Bu Nini. Kalo mereka gak ngomong, ya aku juga gak bakal tau. Itu juga cuma sekedar bilang kalo Pak Handoyo sakit." jelasku.
"Kalo kata bapakku, perutnya Pak Handoyo tuh tiba-tiba bengkak tadi pagi. Makanya dia gak datang ke mushollah buat sholat shubuh jama'ah." jawab Dinda.
"Oooh... Begitu..." respon Ningrum sambil mengangguk.
"Lagian kok bisa ya tiba-tiba bengkak perutnya? Masuk angin kali Pak Handoyo." ucap Ningrum kemudian.
"Ya kalo cuma masuk angin gak mungkin sampe bikin geger begini Rum, kamu tuh gimana sih?" balas Dinda.
"Kalo masuk angin kan tinggal minum jamu tolak angin. Wes ewes-ewes! Bablas angine! Hihihihi..." ucap Dinda lagi sambil cekikikan, Ningrum juga malah ikut cekikikan denger candaan Dinda.
"Heh! Kalian gimana sih? Malah bercanda... Pak Handoyo tuh lagi sakit, kita ke sini diajak buat jenguk, malah ketawa-ketiwi!" ucapku sambil mengerutkan alis ke arah Dinda dan Ningrum.
"Nyee... Nyee... Nyee... Iya ustadzah Nisa..." balas Ningrum sambil menurunkan bibirnya ke arahku.
"Yeeeh... Ngeledek kamu ya..." balasku sambil agak melotot sedikit.
"Kualat nanti kamu bercandain orang tua lagi sakit, baru tau rasa kamu!" ucapku lagi sambil sedikit menunjuk ke Ningrum.
Ketika kami bertiga sedang mengobrol itu, bapaknya Ningrum ke luar dari dalam rumah sama bapakku.
"Kalian mau jenguk ke dalem gak? Sambil ucap doa buat Pak Handoyo sana..." kata bapaknya Ningrum.
"Iya tuh, jangan malah ngerumpi aja kalian." tambah bapakku sambil menyalakan rokok kreteknya.
"Ayok Din, Rum, masuk yuk sebentar. Aku juga penasaran mau lihat." kataku.
Akhirnya aku, Dinda, dan Ningrum, bergegas masuk ke dalam rumah. Dinda masuk duluan sambil ucap salam, kemudian disusul Ningrum di belakangnya.
Aku yang di paling belakang, ketika hendak melangkahkan kaki kananku masuk, tiba-tiba...
Seperti ada hembusan angin berhawa panas menerpa tubuhku... Sejenak aku berhenti, tak jadi masuk ke dalam rumah Pak Handoyo. Aku merasa aneh dengan hembusan angin berhawa panas itu.