Franceska wanita cerdas berpendidikan tinggi, berparas cantik dan berprofesi sebagai guru matematika. Suatu kombinasi yang melengkapi penampilannya yang good looking, cemerlang dan bersinar dari keluarga sederhana.
Prestasi akademik, serta kecerdasannya mengola waktu dan kesempatan, menghentarkan dia pada kesuksesan di usia muda.
Suatu hari dia mengalami kecelakaan mobil, hingga membuatnya koma. Namun hidupnya tidak berakhir di ruang ICU. Dia menjalani penglihatan dan petualangan dengan identitas baru, yang menghatarkan dia pada arti kehidupan sesungguhnya.
》Apa yang terjadi dengan Franceska di dunia petualangannya?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Petualangan Wanita Berduri."
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. PWB
...~•Happy Reading•~...
Ketua yayasan diam sejenak, memikirkan apa yang telah dilakukan kepala sekolah dan dampaknya bagi sekolah.
Kepala sekolah melihat ketua yayasan sambil menunggu, sebab sudah tidak bisa mundur atau cancel pendaftaran.
Ketua yayasan kembali menarik nafas panjang. "Berarti sebentar lagi kita akan mendengar hinaan dan cercaan dari pelita."
"Bisa seperti itu, Pak. Kadang orang mencari kambing hitam untuk buang kesalahan yang mereka lakukan."
"Anda berpikir, mereka sedang melakukan kesalahan?" Tanya ketua yayasan serius.
"Kalau dari sudut pandang saya yang mengikuti prestasi Hernita, mereka sedang lakukan kesalahan."
"Jadi saya tidak mau lakukan kesalahan atau kecerobohan yang sama dengan kepala sekolah pelita. Membiarkan begitu saja aset sekolah dibuang."
"Akan sangat berbeda, kalau dia sudah lulus. Tapi ini dibiarkan keluar pada saat yang penting dan genting."
"Jadi saran saya, Pak ketua tenang dan tunggu hasilnya. Saya minta dukungan yang bisa sekolah berikan bagi kami." Kepala sekolah coba melunakan hati ketua yayasan.
"Saya bilang ini, karena baru pertama kita mengutus murid ikut kompetisi sebesar ini. Saya yakin, ini juga yang diharapkan Ibu Franceska saat bicara dan meyakinkan saya untuk mengutus murid ikut kompetisi."
"Saya tidak mau usahanya mengajari kelompok yang dipersiapkan sia-sia." Kepala sekolah dan ketua yayasan jadi ingat Ibu guru Franceska yang sedang koma di rumah sakit.
"Tapi tidak ada guru yang sekaliber Ibu Franceska untuk mempersiapkan mereka. Guru matematika yang ada sangat standar, hanya untuk murid pada umumnya. Bukan buat ikut kompetisi seperti ini."
"Iya, Pak. Saya tahu. Tapi sepertinya Hernita sangat siap. Mungkin selama ini, Ibu Franceska mengajar dan membekali mereka dengan cukup di pelita."
"Karena kita terlalu lama berpikir dan memutuskan mau menerima saran Ibu Franceska untuk ikut kompetisi dengan mengutus murid kita."
"Jadi kita terlambat mendapatkan porsi binaan dari beliau."
"Jadi menurut anda, Hernita akan mau membagi ilmu yang dia dapat kepada Jefas?"
"Saya tidak bisa menjawab itu, Pak. Nanti kita lihat pada hari H. Tapi saya yakin satu hal, jika dia mau teamnya menang, dia harus membagi ilmu yang dia punya kepada Jefas."
"Kalau untuk perorangan, kita serahkan pada masing-masing. Kalau Hernita menang pun, sekolah kita yang bergema." Ucap kepala sekolah optimis dan penuh semangat.
"Ok. Kalau Pak Elmat seyakin itu, saya mendukung. Kita bersama dan satu suara hadapi tuduhan atau apa pun dari pelita...." Ketua yayasan jadi bersemangat.
"Berikan apa yang mereka butuhkan untuk kompetisi ini. Saya akan buat surat keputusan...." Ketua yayasan memberikan instruksi apa yang perlu dipersiapkan kepala sekolah.
"Terima kasih, Pak. Saya di sini bicara dengan bapak, mereka berdua sedang gunakan ruangan saya untuk persiapan. Karena dalam waktu singkat ini, mereka berdua harus atur strategi hadapi lawan dari berbagai sekolah."
"Minggu depan sudah mulai babak penyisian. Jadi kita membiarkan mereka konsentrasi untuk ikut kompetisi. Nanti pelajaran yang lain mereka susul kemudian."
"Ok. Pak Elmat atur saja. Saya mendukung." Ketua yayasan makin semangat setelah mendengar pemaparan kepala sekolah.
~▪︎▪︎~
Di tempat lain ; Di sekolah SMA Pelita, kepala sekolahnya seperti berada dalam ruangan yang temboknya dilapisi bara api setelah mengetahui Hernita sebagai salah satu utusan dari SMA Harapan.
Ketika sedang berusaha menurunkan emosi dan gusar, pintu ruangan dibuka tanpa diketuk. Kepala sekolah jadi marah dan hendak berteriak. Tapi jadi tertahan saat melihat ketua yayasan masuk ke dalam ruangan dengan wajah memerah.
"Apa yang terjadi? Mengapa Hernita bisa jadi utusan harapan?" Ketua yayasan menyembur pertanyaan dengan suara menggelegar. Para guru yang berada di ruangan saling menatap, lalu mengeluarkan ponsel untuk mencari informasi.
"Mengapa bapak tanyakan itu sekarang? Bukannya ini sudah bapak prediksi saat mencoret dia dari peserta sekolah ini?" Kepala sekolah jadi melampiaskan emosinya kepada ketua yayasan kerena ingat awal peristiwa dan dia tidak bisa melakukan sesuatu sebagai kepala sekolah.
《 Sebelumnya.
...Ketika Lenox, Niclas dan Juke ribut dengan Hernita, Kepala sekolah dipanggil menghadap ketua yayasan. Ketika masuk ke dalam ruangan ketua yayasan, kepala sekolah sangat terkejut melihat Mama Lenox dan Mama Juke sedang duduk menunggu....
..."Pak, ada kejadian apa di sekolah ini yang anda tidak lapor pada saya." Ketua yayasan langsung bertanya....
..."Kejadian apa, Pak?" Kepala sekolah bertanya, walau sudah bisa tebak maksudnya....
..."Anda juga mau bilang tidak tahu anak kami dipukul?" Mama Lenox tidak mau berbasa-basi....
..."Itu hanya kenakalan remaja, Bu. Semua sudah ditangani dengan baik." Kepala sekolah coba bersikap tenang....
..."Ditangani dengan baik, tanpa memberi hukuman kepada anak yang menyentuh anak-anak kami?" Tanya Mama Juke....
..."Bu, justru anak-anak ibu yang melukai dia..." Kepala sekolah menjelaskan bahwa Hernita yang terluka dan dibawa ke klinik sekolah untuk diobati....
..."Kami tidak peduli dia terluka. Dia sudah berani menyentuh anak kami. Dia tidak bisa dibiarkan seenaknya menyentuh anak-anak kami." Mama Lenox emosi....
..."Ibu-ibu mau pukul dia atau minta anak-anak ibu pukul dia lagi di dada, supaya impas?" Kepala sekolah tidak tahan melihat gaya Mama Lenox dan Mama Jeku....
..."Ibu-ibu, biarkan semua berlangsung sesuai aturan yang berlaku. Nanti saya evaluasi lagi, kalau murid Hernita lakukan kesalahan. Kami akan panggil dan beri hukuman sesuai aturan sekolah." Ketua yayasan coba melerai....
..."Pak ketua tidak dengar yang kami bilang? Segera keluargakan dia dari daftar peserta kompetisi, atau keluarkan dari sekolah ini." Mama Lenox menyatakan sikap, diikuti oleh Mama Juke....
..."Apa pendapatmu Pak kepala sekolah?" Tanya ketua yayasan, karena tidak berdaya menghadapi Mama Lenox dan Mama Juke....
..."Apa pendapat saya masih perlu dan ada manfaatnya? Silahkan Pak ketua putuskan. Saya tunggu di ruangan. Permisi." Kepala sekolah langsung keluar dari ruangan ketua yayasan....
...Akhirnya, keputusan diterima kepala sekolah lewat pengumuman peserta kompetisi yang ditempelkan asisten ketua yayasan di dinding lorong sekolah....
Sekarang 》
Ketua yayasan terkejut mendengar yang dikatakan kepala sekolah. Tapi sudah tidak bisa mengendalikan emosinya. "Saya tanya, mengapa dia keluar dari sekolah ini? Bukan dari peserta olimpiade." Ketua yayasan makin emosi.
"Kalau yang itu, bapak tanyakan pada Ibu Sance. Beliau lebih tahu penyebabnya." Kepala sekolah tidak memiliki jawaban yang masuk akal, karena tidak bisa menahan Hernita pergi dari sekolah.
"Sance yang mengeluarkan dia? Lalu tugas anda apa di sini?"
"Bapak menyetujui keinginan Mama kedua anak itu, apa pertimbangannya? Bapak berpikir bisa mengurung prestasi Hernita di sini? Bapak kira dia anak kecil, jadi tidak bisa melawan?" Kepala sekolah tanya beruntun, karena tidak mau disalahkan.
"Lebih baik Pak ketua kumpul semua guru untuk bahas, kalau menganggap kepergian Hernita menimbulkan masalah dan berpengaruh bagi sekolah ini."
"Perintahkan semua guru ke ruang rapat." Perintah ketua yayasan lalu keluar dari ruangan dengan membanting pintu dengan kuat.
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~•○¤○•~...