NovelToon NovelToon
KEKASIH GELAP WALI KOTA

KEKASIH GELAP WALI KOTA

Status: sedang berlangsung
Genre:POV Pelakor / Selingkuh / Percintaan Konglomerat / Cinta Terlarang / Konflik etika / Balas Dendam
Popularitas:284
Nilai: 5
Nama Author: Wen Cassia

Dalam setiap imaji tentang masa depan, Summer tidak menemukan gambaran selain Denver dan mata cokelat gelapnya yang hangat. Hidupnya dijejali dengan fantasi manis bahwa kehidupan tentram, jauh dari carut-marut dan kutukan, hanya bisa ia dapatkan jika Denver bersamanya.

Namun, Summer lupa satu hal: Obsesi selalu berkelindan erat dengan kemuakan. Denver akhirnya menemukan cara untuk lepas dari tali kekang Summer, mengesampingkan harga yang harus perempuan itu tanggung agar Denver bisa bernapas dengan leluasa.

Sayangnya, kalkulasi Denver agak meleset kali ini. Summer memang terperosok ke penjara lembap dan dingin, namun di tempat itu pula ia menjelma menjadi iblis yang melafalkan syair pembalasan dendam setiap malam. Dan agar bisa berdiri di podium pemenang, tersenyum congkak layaknya mimpi buruk, Summer harus bisa memenangkan hati Archilles Meridian, sang wali kota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wen Cassia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5 | KONSTELASI TRAGEDI

Pucat yang mengingatkan Summer kepada mayat Gabriel kini melekat di wajah Denver. Kelumpuhan pertahanan pria itu yang ditandai dengan mata yang menyorot nanar, nyaris kosong, mengukuhkan kemenangan Summer satu tingkat lebih tinggi. Detik demi detik berdetak menyenangkan, membisikkan kejayaan.

“Dari mana kita harus mulai? Saat kau mendatangiku di taman belakang—ah tidak, tidak. Kita harus mulai saat kau menyaksikan pembunuhan yang dilakukan oleh Allura Sanders … awal segala kekacauan ini.”

Hawa memberat menyesakkan seperti ada bayang-bayang yang menggerayangi dinding dan langit-langit ruangan. Denver merasakan tubuhnya terkepung dingin menyengat, untuk menelan ludah pun ia tidak mampu.

“Entah kau mendengar teriakan atau tidak sengaja lewat di depan gudang terpencil keluarga Amory, di mana suara teredam oleh kebisingan pesta, yang jelas, kau menjadi saksi pertama pembunuhan Allura terhadap Gabriel Miller,” kata Summer memulai. “Saat menyaksikan pemandangan mengerikan itu, kau tahu kau seharusnya memanggil polisi. Namun, otakmu memberikan opsi lain … opsi gila yang entah bagaimana caranya menjadi solusi terbaik yang kau punya untuk menyingkirkanku dari hidupmu.”

Summer sedikit menelengkan kepala, senyum tipis tersungging di bibirnya yang terpoles merah lembut.

“Mudah menyimpulkan apa yang terjadi dengan Gabriel dan Allura. Mereka bersahabat, tapi pria tolol itu sudah lama ingin meniduri tuan putri keluarga Sanders yang jelita. Di bawah pengaruh alkohol, hasrat itu semakin tidak tertahankan. Maka dia membawa Allura ke tempat paling jauh dari keramaian, berharap akan memiliki Allura sepenuhnya. Sayangnya dia tidak mempertimbangkan adanya variabel lain: pisau lipat tukang kebun.”

Pening berdenyut-denyut di kepala Denver, perutnya bergejolak menyalurkan perasaan seperti ingin meluah.

“Katakan padaku, Denver, sebenarnya sejak lama kau sudah tertarik dengan Allura, bukan? Aku sering melihatmu mencuri pandang pada perempuan itu.” Intonasi Summer sangat terkendali, matanya menyorot hangat dengan cara yang ganjil. “Jawab saja, aku tidak akan marah. Siapa pula yang tidak suka pada Allura Sanders? Luar biasa cantik, pintar, lemah lembut. Kalau aku laki-laki, aku pasti akan tertarik pada gadis semanis itu juga.”

Denver masih bergeming, perutnya semakin berpilin-pilin menyakitkan. Secara spontan kepalanya memutar skenario kehancuran hidupnya. Lemparan telur busuk, wartawan yang menyeruak mengerubunginya seperti lintah kelaparan, lalu bagian terburuk: mendekam di penjara.

“Sekali tepuk dua lalat.” Suara Summer kembali setelah lengang panjang, terdengar seperti nyanyian malaikat maut. “Kau menyingkirkanku, sekaligus mendapatkan Allura. Dia sepenuhnya berada di genggamanmu setelah kau memastikan polisi tidak bisa menyentuhnya. Keputusan yang cerdas.”

Summer berdecak takjub pelan, sorot matanya berseri. “Kau mengamankan Allura setelah memergoki kejahatannya, meminjamkan jasmu untuk menutupi jejak darah di gaun jingganya. Setelah itu kau bergerak secepat dan seefektif mungkin untuk membersihkan tempat kejadian perkara, menghapus sidik jari Allura di senjata pembunuhan. Namun, sidik jari Allura jelas sudah tersebar di banyak titik di gudang itu. Bukan masalah besar, kau punya jalan keluar untuk masalah ini.”

Bagi Denver, aroma lembut pewangi ruangan mengantarkan bau kematian. Sendi-sendinya sepenuhnya kaku, mulutnya tidak mau bergerak meskipun seharusnya ada banyak celah dari ucapan Summer yang bisa ia bantah, sesuatu untuk menyelamatkan situasi.

“Seakan langit mengamini rencanamu, malam itu aku sudah cukup mabuk, duduk menyendiri di taman belakang—seperti yang selalu kulakukan saat mendatangi pesta. Dan kau tahu kebiasaanku itu dengan sangat baik. Ini membuatku tidak punya alibi; semua orang akan bilang tidak melihatku di pesta pada waktu pembunuhan.” Summer tertawa hambar. “Aku ingat kau mendatangiku di taman belakang, diam-diam kau menuangkan obat tidur di gelas anggurku, bukan? Obat tidur yang kau peroleh dari saku Gabriel, obat yang tidak sempat diberikan laki-laki itu pada Allura karena didesak oleh gairah yang meminta dilepaskan segera.

“Aku yang sudah cukup mabuk akan langsung tidur pulas tak lama setelah aku meminumnya. Sisanya mudah, kau tinggal membawaku ke gudang, melakoni tugas sebagai sutradara andal. Kau menaruh sidik jariku di mana-mana: senjata pembunuhan, lantai, kardus, dinding … lalu kau juga yang menggerakkan tangan Gabriel yang sudah mati untuk melukai lenganku, membuat DNA-ku tertinggal di kukunya, sehingga polisi akan berkesimpulan terjadi perkelahian sebelum aku membunuhnya—”

“Berhenti beromong kosong ….” Denver tidak kuasa menemukan tenaga yang cukup, sehingga suara yang keluar dari bibirnya selirih desau angin. Ia merasa lemas sekali, kakinya yang bergetar mengancam akan rubuh.

“Kau tahu aku mengatakan yang sesungguhnya—”

“Kalau yang kau katakan benar, kenapa tidak kau katakan semuanya pada polisi, hah?!” Seperti baru saja dirasuki sesuatu, Denver mengubah ketakutan dan keputusaannya menjadi energi untuk membentak Summer. Ia melotot dengan napas menderu.

Hanya alis Summer berkerut, tidak ada gerakan mundur selangkah pun. Ia tidak terlihat gentar oleh kemarahan Denver. “Langkah terakhirmu yang membuatku tidak punya pilihan,” jawabnya.

Denver tertegun.

“Harus kuakui, kau melakukan pekerjaanmu dengan baik, Denver. Drama penutup dengan Allura sebagai pemeran utamanya sangat mengesankan, membuatku mati langkah,” kata Summer takjub. “Kau tahu Allura tetap akan diperiksa polisi sebagai saksi. Namun, jejak darah Gabriel di gaunnya jelas akan membuatnya ditetapkan sebagai tersangka sekali polisi melihatnya. Dan berganti baju tentu adalah keputusan bodoh, hanya akan membuat penyidik curiga.

“Untuk itulah kalian yang pertama muncul di ambang pintu gudang. Untuk itulah Allura berteriak histeris dan memeluk mayat Gabriel yang bersimbah darah alih-alih bersembunyi dan membersihkan diri. Karena jejak darah lama akan ditutupi dengan jejak darah baru; mengacaukan penyelidikan forensik. Karena semua orang akan tahu jika jejak darah di gaun Allura adalah akibat dia memeluk mayat Gabriel, bukan karena dia menikam laki-laki itu. Ini sekaligus sebagai jawaban pamungkas mengapa sidik jari Allura tetap ditemukan di beberapa titik—karena dia sempat berada di gudang itu untuk menangisi sahabat terbaiknya yang mati dengan mengenaskan, polisi tidak akan mencurigainya. Benar-benar skenario yang cerdik.

“Apa pun yang kukatakan pada polisi tidak akan berguna, karena kau sudah merancang segalanya dengan sempurna. Semua bukti mengarah padaku, ada terlalu banyak saksi yang melihatku di gudang itu. Maka aku tidak ingin membuang-buang tenagaku untuk sesuatu yang tidak berguna, karena aku tahu, aku tetap akan dipenjara bagaimanapun aku mencoba menyangkal.”

Suara Summer yang melesap dalam nada rendah di kalimat terakhir menjadi komando kebisuan di dalam ruangan itu. Waktu mendenyutkan senyap ketika Summer menjatuhkan pandangannya ke lantai dengan muram. Summer akui ia sedikit terbawa suasana, dadanya terasa nyeri sehingga diam-diam ia mencoba mengatur napas.

“Aku tahu mengapa kau tidak memberi tahu polisi,” Denver yang mengoyak hening, intonasinya cenderung datar. Summer mengangkat wajah untuk menatap pria itu lurus-lurus. “Karena semua itu hanya imajinasimu, harapan liarmu. Tidak ada bukti yang mendukung argumenmu. Kau tahu tidak ada gunanya mengatakannya pada polisi karena mereka hanya akan menganggapmu tidak waras. Pada akhirnya, kau memilih label ‘pembunuh’ dengan menutup mulutmu, daripada mendongeng dan mendapat label ‘pembunuh dan sakit jiwa’. Begitulah caramu hidup sejak dulu.”

Kata-kata tajam Denver yang mengindikasikan kepercayaan dirinya berangsur kembali, membuat Summer mengepalkan tangannya di samping tubuh.

“Sudah cukup aku membuang waktuku untuk hal bodoh macam ini.” Denver mendengus sembari mengalihkan pandangan pada lukisan abstrak di depan sana. “Jangan berani menghubungiku lagi kalau tidak mau aku menghancurkan hidupmu.”

Denver menyempatkan untuk menghunjamkan tatapan sengit penuh ancaman pada Summer sebelum berbalik dan melangkah menuju pintu. Namun, belum sempat jemarinya menyentuh gagang pintu, suara Summer di belakang sana menghentikan seluruh gerakannya.

“Ah … bukti, ya? Bagaimana kalau aku bilang aku punya satu bukti kuat?”

Tengkuk Denver meremang, gelenyar ngeri kembali merayapi dadanya bersamaan dengan datangnya dengung yang mengerubungi saluran pendengarannya. Sesaat, Denver yakin ia akan ambruk karena kepalanya pening luar biasa. Namun, yang ia dapati adalah tubuhnya yang bergerak memutar menghadap ke arah Summer tanpa benar-benar ia kehendaki, menemukan perempuan itu menyeringai puas.

Summer bersedekap, memancarkan aura kewenangan yang membuat Denver merasa dirinya menjadi kerdil di hadapan perempuan itu. “Sekali aku memutuskan untuk menjatuhkan bukti itu, kau—kalian—akan tamat saat itu juga.”

...****...

1
Amaya Fania
jujur paling suka kalo kian muncul. ketawa mulu kalo lagi berantem sama summer, saling ejek, tapi diem diem sayang adek
Amaya Fania
penasaran lanjutannya, ayo lanjut kak
aspidiske ☆: okaii 😳
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!