SEQUEL ISTRI MANDUL JADI IBU ANAK CEO!
Theodore Morelli, pria cerdas dan berkharisma yang melanjutkan perusahaan teknologi keluarga, hidup dengan prinsip bersih dan profesional. Sosok yang dikenal orang sebagai pria tak kenal ampun dan ditakuti karena kesempurnaannya, harus jungkir balik ketika dia berurusan dengan seorang office girl baru di perusahaannya.
Celina Lorenzo, yang menyamar sebagai Celina Dawson, office girl sederhana, masuk ke perusahaan itu sebagai mata-mata mafia keluarganya untuk menyelidiki sesuatu di perusahaan Theo.
Awalnya mereka hanya dua orang dari dunia berbeda.
Tapi semakin dalam Celina menyelidiki Morelli Corporation, semakin ia sadar:
Theo bukan musuh yang ia cari. Dan Theo yang ditakuti justru memiliki sisi paling lembut untuk Celina.
Lalu bagaimana jadinya jika Theo yang lembut itu tahu identitas asli dari Celina yang sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23. PAMIT
Langit pagi di Los Angeles tampak lebih lembut dari biasanya. Cahaya matahari menembus sela dedaunan palem di halaman kediaman Morelli, menciptakan bayang-bayang panjang di lantai marmer putih yang mengilap.
Celina berdiri di dekat jendela besar ruang keluarga, satu tangannya masih dibalut perban tipis. Luka-lukanya belum sepenuhnya sembuh, tubuhnya masih butuh waktu untuk pulih, tetapi matanya sudah kembali menyala. Bukan cahaya ceroboh seperti dulu, melainkan cahaya yang lebih dalam. Ada sesuatu yang berubah sejak ia keluar dari rumah sakit. Ada sesuatu yang tertinggal di sana ... dan ada pula sesuatu yang tumbuh di sini.
Hari ini, Lucas, Camellia, dan Zane akan kembali ke San Francisco.
Keputusan itu datang cepat, namun tak bisa ditunda. Ada terlalu banyak hal yang menunggu mereka di sana, pekerjaan yang belum selesai, jaringan yang harus dirapikan, dan satu nama yang terus menggema dalam benak mereka semua: Elisa Hook.
Nama itu seperti bayangan panjang yang mengikuti setiap langkah Celina.
Elisa bukan sekadar sahabat. Ia adalah separuh dunia Celina yang hilang begitu saja, lenyap tanpa jejak, dan secara kejam menyeret Morelli Corporation ke pusaran kecurigaan dan skandal sunyi. Hilangnya Elisa-lah yang mendorong Celina melakukan hal paling nekat dalam hidupnya, menyusup ke Morelli Corporation, berpura-pura menjadi office girl, berbohong pada keluarganya dengan dalih liburan, dan menempatkan dirinya tepat di tengah badai.
Kini, badai itu belum sepenuhnya reda.
Lucas berdiri beberapa langkah dari Celina, mengenakan mantel panjang berwarna gelap. Wajahnya tegas, rahangnya mengeras, mata tajamnya menelusuri setiap detail di ruang itu seolah sedang menyimpan semuanya ke dalam ingatan. Ia bukan hanya seorang ayah hari ini, ia adalah penjaga, pelindung, dan ancaman bagi siapa pun yang berani menyentuh putrinya.
"Celina?"
Suara itu membuat Celina menoleh.
Lucas mendekat, lalu berhenti tepat di depannya. Tidak ada senyum. Hanya ketegasan yang dibalut kekhawatiran.
"Kau tidak akan melakukan hal nekat lagi," kata Lucas, pelan tapi tak memberi ruang untuk dibantah. "Kau akan tetap tinggal di sini sesuai rencana. Di kediaman Morelli. Sampai kau benar-benar sembuh."
Celina membuka mulutnya, hendak protes, namun Lucas mengangkat satu jarinya.
"Tidak ada tapi. Dan setelah kau pulih, baru kau boleh pulang," kata Lucas.
Zane yang berdiri tak jauh hanya menggeleng kecil, menahan senyum. Ia sudah hafal nada itu, nada Lucas Lorenzo saat menjadi ayah yang tak bisa ditawar.
Lucas menghela napas, lalu menambahkan dengan nada yang lebih rendah, hampir geli tapi tetap serius, "Jika kau pulang ke San Francisco dalam kondisi seperti ini, kediaman Lorenzo akan jungkir balik. Keluarga kita terlalu ... berisik. Terlalu protektif. Dan aku tidak ingin kau jadi pusat kehebohan dalam keadaan seperti ini."
Celina mendengus kecil. "Dad, aku bukan anak kecil."
Lucas menyipitkan mata, lalu menatapnya lama. "No, no, no, Princess. Bagiku kau selalu putri kecilku."
Celina memutar bola mata, tapi senyum kecil lolos dari bibirnya.
Lucas kemudian beralih pada Hans Morelli.
Hans berdiri dengan postur tegap khasnya, tangan diselipkan di saku jas, wajahnya tenang namun mata itu, mata seorang ayah; penuh perhatian.
"Aku titipkan Celina padamu," kata Lucas, kini nadanya berubah serius sepenuhnya. "Jaga dia. Jika ada apa pun, sekecil apa pun, katakan padaku. Aku akan datang."
Hans tidak langsung menjawab. Ia menatap Celina sejenak, lalu kembali pada Lucas.
"Aku berjanji," kata Hans mantap. "Selama dia di sini, dia adalah tanggung jawabku. Aku akan menjaganya seperti anakku sendiri."
Lucas mengangguk. Namun sebelum suasana terlalu melunak, Hans menambahkan, suaranya menurun, penuh makna, "Dan Lucas ... aku butuh bantuanmu."
Lucas menoleh.
"Helix Dynamic," lanjut Hans. "Mereka menduplikasi proyek AI kami. Proyek yang bahkan tidak diketahui banyak orang di internal perusahaan. Itu artinya ... ada tikus."
Wajah Lucas mengeras. Zane langsung menegakkan tubuhnya.
"Aku ingin kau membantuku menyelidiki mereka melalui jaringanmu," kata Hans. "Dan carikan tikus yang bersembunyi di Morelli."
Tidak ada ragu di mata Lucas. "Akan segera kulakukan."
Zane menyeringai tipis. "Kami juga mencium pergerakan yang tidak wajar. Bukan hanya di teknologi. Tapi juga di kedokteran. Ada sesuatu yang lebih besar sedang bergerak. Dunia bisnis mengarah ke satu hal yang memiliki jejak suram dari masa lalu," katanya.
Hans menghela napas panjang. "Maka kita berada di jalur yang sama. Aku juga merasakan ada pergerakan aneh di dunia ekonomi Los Angeles akhir-akhir ini."
Di sisi lain ruangan, Camellia mendekati Celina. Sentuhannya lembut seperti biasa, seolah ia selalu tahu seberapa keras dunia bisa menyakiti, dan memilih menjadi kebalikan dari itu.
"Aku titipkan Celina," kata Camellia dengan senyum hangat, menatap Hans dan Elena bergantian. Lalu Cemellia menoleh pada Celina. "Dan jika kau berbuat aneh-aneh ... beri tahu aku."
Celina langsung mendongak, protes, "Mom?!"
Camellia hanya tertawa kecil, lalu menepuk lembut pipi Celina. "Aku bercanda. Sedikit."
Lucy tiba-tiba muncul dengan energi yang meledak-ledak. "Aku yang akan menjaganya, Auntie!" serunya penuh semangat. "Akhirnya aku punya teman perempuan di rumah ini!"
Leo menyusul, matanya berbinar. "Aku juga! Aku ingin belajar dari Celina. Dia itu seperti idola, tahu!"
Camellia tersenyum hangat. "Kalian berdua mengingatkanku pada si kembar Lorenzo saat muda. Penuh semangat seperti kalian."
Celina terkekeh, terharu tanpa sadar.
Elena mendekat, menggenggam tangan Celina dengan lembut. "Tenang saja," katanya hangat. "Rumah ini akan menjagamu. Aku justru bersyukur. Semakin ramai dan bertambah perempuan di rumah akan sangat menyenangkan."
Elena lalu berbisik pada Camellia, senyum nakalnya muncul, "Dan sepertinya ada sesuatu antara Theo dan Celina."
Camellia tersenyum penuh arti. Membiarkan bisikan itu hanya menjadi hiburan dua ibu tersebut.
Zane kemudian melangkah ke arah Theo. Dengan gerakan santai namun penuh makna, ia meninju pelan dada Theo.
"Jaga adik perempuanku yang nakal ini," kata Zane sambil tersenyum. "Pastikan dia tidak berbuat aneh-aneh lagi."
Theo tertawa kecil. "Aku janji. Aku akan memastikan dia baik dan aman. Kecuali kalau dia diam-diam seperti kucing yang mengejar makanan."
Zane tertawa lepas. "Kalau begitu ... kunci saja dia di kamar."
"Zane!" Celina memukul lengan kakaknya. "Kau menyebalkan. Jangan racuni pikiran Theo!"
Zane hanya mengacak rambutnya. "Hati-hati kau bisa melukai tanganmu yang sudah terluka iru, Brat. Jaga diri baik-baik. Jangan khawatir soal Elisa. Aku dan Lucas akan mencarinya."
Lucas kemudian berdiri di depan Theo. Tatapannya tajam.
"Jangan sentuh putriku sembarangan," kata Lucas dingin. "Jaga dia. Jika dia terluka atau menangis, aku akan memberimu pelajaran."
"Yes, Sir!" seru Theo.
Camellia, Hans, dan Elena tertawa mendengarnya.
"Dad!" Celina berseru.
Lucas mengangkat alis. "Aku akan membuat pengecualian untuk putra Hans ini. Tapi ingat ..."
Camellia menarik lengan Lucas sambil tertawa, menyudahi ceramah Lucas yang entah sudah ke berapa kalinya dalam tiga hari ini. "Sudah waktunya kita pulang."
Perpisahan terjadi di depan rumah. Mobil keluarga Lorenzo perlahan meninggalkan halaman. Hingga detik terakhir, Lucas masih memberi gestur 'aku mengawasimu' pada Theo.
Hans hanya tertawa. "Tidak pernah berubah."
Lucy menggandeng tangan Celina. "Ayo masuk. Kita nikmati hari santai."
Celina menoleh sekali lagi ke arah jalan yang kini kosong.
Rumah ini bukan miliknya.
Namun untuk sementara ... di sinilah ia akan belajar pulih. Dan mungkin belajar tinggal.
Dan di kejauhan, di balik bayang-bayang kota dan rahasia yang belum terungkap, nama Elisa Hook masih menunggu untuk ditemukan.
Yang mana Theo kelak akan melumuri tangannya dengan darah untuk pertama kali ketika sesuatu yang tak diduga terjadi.
semoga gak terlambat menyelamatkan twins
lo jual gw beli
maaf ye,bukan kita yg mulai, ini namanya mekanisme perlindungan diri.
kan..bukan aku yg mulai🤣🤣
mulut mu
tapi bener lah
dibully malah menikmati sensasi nya🫣
bagus
bagus
bagus
bagus thooorr...
q suka...q suka❤️❤️❤️❤️❤️