Jovita Diana Juno dikhianati oleh kekasihnya sendiri, Adam Pranadipa tepat tiga bulan sebelum pernikahan mereka. Sementara itu, Devan Manendra lekas dijodohkan dengan seorang anak dari kerabat ibunya, namun ia menolaknya. Ketika sedang melakukan pertemuan keluarga, Devan melihat Jovita lalu menariknya. Ia mengatakan bahwa mereka memiliki hubungan, dan sudah membicarakan untuk ke jenjang yang lebih serius. Jovita yang ingin membalas semua penghinaan juga ketidakadilan, akhirnya setuju untuk berhubungan dengan Devan. Tanpa perasaan, dan tanpa rencana Jovita mengajak Devan untuk menikah.
update setiap hari (kalo gak ada halangan)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisa Amara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
Devan mempersilakan tamunya, Mawar, masuk. Ia sudah duduk di sofa sambil memindai seluruh apartemen itu.
“Di mana istrimu?” tanyanya.
“Lagi mandi,” jawab Devan singkat sambil menuang air ke gelas.
Tak lama kemudian, Devan kembali dari dapur, membawa segelas minuman dingin. Ia meletakkannya di meja dengan gerakan singkat dan tanpa basa-basi.
“Maaf aku gak bisa datang ke pernikahanmu. Waktu itu aku lagi di Prancis,” ucap Mawar sambil menyilangkan kaki.
Devan hanya mendengus pelan. “Aku gak merasa mengundangmu.”
Alis Mawar terangkat, senyumnya menipis. Lalu ia terkekeh.
“Bikin orang malu itu keahlianmu ya?”
Devan tidak menjawab. Ia duduk di sofa, menjaga jarak. Baginya aneh, Mawar yang selama ini ia tolak berkali-kali, kini datang untuk memberi ucapan selamat? Aneh… dan mencurigakan.
“Apa tujuanmu datang ke sini?” tanya Devan akhirnya, nada suaranya dingin dan curiga.
“Hanya mau memberi selamat,” jawab Mawar, mengangkat bahunya santai.
Devan mendengus kecil, tak percaya. “Jangan ganggu kehidupan rumah tanggaku.”
Mawar hampir tertawa, bukan geli, tapi lebih seperti mengejek. Matanya menatap Devan lebih tajam, bibirnya terangkat sedikit.
“Hanya karena kamu menikah, kamu kira aku menyerah?”
“Jadikan aku istri keduamu,” lanjutnya tenang. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan bercanda.
Devan menatapnya tajam. Ia bahkan tidak sempat menyusun makian atau ceramahnya, karena ekspresi Mawar tiba-tiba berubah, lebih santai.
“Aku bercanda,” katanya akhirnya, tertawa kecil.
“Selera humormu… cukup aneh,” balas Devan datar. Ia menarik napas panjang, menahan emosi yang hampir meledak.
Sesaat kemudian, ponsel Devan berdering. Nama temannya muncul di layar, membuatnya berdiri dan masuk ke kamar untuk mengangkat telepon. Pintu kamar tertutup, meninggalkan Mawar sendirian di ruang tengah.
Begitu Devan menghilang dari pandangan, Mawar menyapu ruangan itu perlahan, seperti sedang menilai… atau mencari sesuatu.
Beberapa detik kemudian, suara pintu kamar terbuka. Jovita keluar. Ia terhenti mendadak ketika melihat Mawar duduk di sofa.
“Siapa kamu?” tanya Jovita, terkejut.
Mawar menoleh. Untuk sesaat ia hanya diam, memperhatikan Jovita dari ujung rambut hingga ujung kaki. Lalu matanya melirik ke arah kamar yang baru saja ditinggalkan Jovita, berbeda dengan kamar yang dimasuki Devan tadi. Senyumnya terangkat kecil.
Sebelum Mawar sempat bicara, Devan keluar dari kamarnya. Mawar mengalihkan tatapannya pada mereka berdua.
“Kalian… pisah kamar?” tanyanya. Nada suaranya ringan, tapi jelas menikam.
Devan dan Jovita sama-sama menegang.
“Itu…” Devan membuka mulut, tapi tak ada penjelasan logis yang muncul.
“Karena kita punya preferensi suhu yang beda,” potong Jovita cepat. “Aku gak suka panas. Devan gak suka dingin.” Ucapannya meluncur terburu-buru, hampir tidak diberi jeda.
Mawar menatap mereka lama, tanpa berkedip. Lalu mengangguk perlahan, seolah menerima tapi jelas tidak benar-benar percaya.
“Kalian kelihatan kayak habis ketahuan bohong,” komentarnya sambil menyeruput minuman. Senyumnya tipis, menyindir.
Itu memang tujuannya datang, melihat langsung seperti apa pernikahan mereka… dan apa yang mereka sembunyikan.
“Aku sama Jovita harus pergi sekarang,” ucap Devan akhirnya, suaranya terdengar tidak sabar. “Kalau kamu mau di sini sendirian, silakan.”
Mawar menghela napas panjang, terdengar kesal karena hampir diusir. Namun ia tetap berdiri. Sebelum melangkah keluar, ia sempat menatap Devan lagi.
“Katakan aja apa yang kalian butuhkan. Aku bakal beliin,” ujarnya, lalu pergi tanpa menunggu jawaban.
Pintu tertutup.
Beberapa detik kemudian, Jovita langsung menoleh ke Devan, wajahnya penuh tanya.
“Dia siapa?”
Ia hanya pernah melihat Mawar sekali, itupun sekilas. Wajar jika dia tidak mengingatnya.
“Temanku,” jawab Devan akhirnya. Entah kenapa dia tidak bisa mengatakan kalau Mawar yang dijodohkan dengannya.
***
Devan dan Jovita tiba di galeri milik Rio, teman Devan. Mereka berjalan berdampingan. Mata Jovita sibuk menelusuri satu per satu karya yang mereka lewati. Saking fokusnya, langkahnya beberapa kali melambat tanpa sadar.
Devan memperhatikan itu, lalu tanpa pikir panjang menggenggam tangan Jovita agar ia tidak tertinggal. Jovita sedikit tersentak, namun tidak menepis.
“Devan!” seru salah satu temannya yang sudah melihat mereka datang.
Refleks, Devan melepaskan genggaman itu dan maju untuk memeluk temannya. Di belakangnya, Jovita mengedip pelan, mencoba memulihkan diri dari kejutan kecil tadi.
“Apa kabarmu abis nikah?” goda teman yang lain.
Devan melirik sekilas ke arah Jovita sebelum menjawab dengan senyum sok santai.
“Yah… begitulah.”
“Udah datang juga?” Rio muncul dengan wajah penuh semangat, lalu menjabat tangan Devan dan teman-temannya satu per satu.
“Selamat buat pembukaan galerinya,” ucap Devan.
“Makasih. Galeri ini kecil, tapi dibangun dengan penuh perjuangan,” kata Rio sambil menatap sekelilingnya dengan bangga.
Jovita baru teringat ia membawa buket bunga untuk Rio sejak keluar rumah tadi. Ia mengulurkan bunga itu.
“Ini… buat kamu.”
Rio sempat terlihat heran, tapi senyumnya langsung muncul. “Makasih banyak.”
“Tadinya dia mau simpan bunga itu buat dirinya sendiri,” potong Devan santai. “Tapi karena hari ini penting buat kamu, dia rela berbagi.”
Jovita menoleh cepat, wajahnya jelas memancarkan ancaman halus. Ia mencondongkan tubuh, menarik ujung baju Devan.
“Kenapa kamu ngomong itu di sini?” bisiknya penuh tekanan.
Devan cuma menahan tawa.
Para teman mereka langsung tersenyum-senyum melihat interaksi itu.
“Kalau begitu ambil aja ini,” timpal Rio sambil mengulurkan kembali buket itu. “Aku juga dapat banyak bunga hari ini.”
Jovita buru-buru mengibaskan tangan. “Gak perlu, dia cuma asal ngomong.”
Lalu tanpa ragu ia mencubit siku Devan dari belakang, cukup kencang untuk membuat pria itu meringis, tapi masih tersenyum geli.
Devan dan teman-temannya tenggelam dalam obrolan panjang, membahas hal-hal yang tidak terlalu menarik bagi Jovita. Setelah beberapa menit berdiri di antara mereka, Jovita perlahan mundur. Tak ada yang menyadari ketika ia akhirnya memisahkan diri.
Ia berjalan menyusuri galeri, memperhatikan lukisan-lukisan di dinding. Di meja pojok, tersaji makanan ringan dan beberapa minuman. Tanpa ragu ia mengambil gelas, lalu disusul camilan kecil. Setiap kali ia lewat, gelasnya selalu kembali terisi.
Sementara itu, Rio terus disibukkan tamu baru. Ia melangkah ke sana kemari, menyapa, menyalami, dan menjelaskan galeri barunya.
Di sisi lain, temannya Devan mulai membuka topik yang lebih pribadi.
“Jujur, aku sedikit kaget waktu dapet undangan darimu,” ujar salah satu temannya sambil menyesap minuman. “Selama ini aku gak pernah dengar kamu dekat sama perempuan, tiba-tiba… nikah.”
“Aku juga,” sambung yang lain. “Terakhir yang aku tahu… kamu cuman pacaran sama… siapa namanya?”
“Gita?”
“Iya, Gita. Itu juga udah lama, waktu kita kuliah.”
Devan mendesah pelan, jelas malas membahas masa lalu. “Kenapa bahas itu?” katanya datar. “Aku dan istriku sudah kenal lama. Dari SMA.”
Semua langsung menoleh.
“Serius?”
“Hm.”
“jodoh emang gak ada yang tau.”
Seketika percakapan hening sebentar, sebelum salah satu temannya kembali membuka suara.
“Ngomong-ngomong… kalian ada dengar kabar Gita? Aku udah lama gak liat dia.”
Mereka serempak menggeleng. Lalu, tanpa sadar tapi kompak, pandangan mereka semua beralih ke Devan.
Ekspresinya berubah jengkel. “Kenapa liat aku? Aku udah gak komunikasi sama dia sejak lama,” tegasnya.
Belum sempat suasana kembali cair, Rio datang menghampiri mereka dengan langkah tergesa.
“Devan,” panggilnya, suaranya terdengar mendesak.
Devan menoleh cepat. “Kenapa?”
Rio mendekat sedikit, menurunkan suaranya. “Aku liat istrimu banyak minum. Kayaknya dia mulai mabuk.”
Mata Devan membulat kaget. Tanpa buang waktu, ia langsung melangkah pergi, mencari Jovita di antara keramaian galeri.
Sementara itu, Jovita berdiri terpaku di depan meja yang penuh kue. Matanya terlihat tidak fokus, pipinya memerah lembut. Di tangannya masih ada gelas champagne yang hampir kosong.
“Mana lagi yang harus kucoba...” gumamnya sambil menatap kue-kue itu seolah semuanya memanggil namanya.
“Jovita.” Devan memanggil dari belakang, langkahnya cepat dan terdengar gelisah.
Jovita menoleh. Matanya menyipit, lalu mendadak menyeringai lebar. “Heh… kenapa kamu ada dua? Satu Devan aja udah nyusahin, ini malah dua…” keluhnya.
Devan membeku. “Hah? Aku nyusahin?” tanyanya tak percaya.
Jovita mengangguk mantap. Ia hendak meneguk champagne lagi, tapi Devan lebih cepat merebut gelasnya.
“Jangan minum lagi. Kamu udah mabuk,” katanya sabar, menaruh gelas itu jauh dari jangkauan.
Melihat Jovita berdiri saja sudah goyah, Devan akhirnya memutuskan untuk mengajaknya pulang. Ia memegang lengan Jovita, menuntunnya keluar galeri dan menuju mobil.
Setelah membuka pintu penumpang, Devan membantu Jovita masuk. Ia mencondongkan tubuh, menunduk untuk memasangkan seatbelt. Saat ia menoleh… mereka hanya terpisah sejengkal.
Napas Devan tertahan. Jantungnya berdetak lebih hangat dari biasanya. Mata mereka saling bertemu.
“Kenapa liat aku kayak gitu…” gumam Jovita bingung, kepalanya sedikit miring. “Kamu mau cium aku lagi?” tebaknya asal, dengan senyum kecil yang tidak sepenuhnya sadar.
Devan hampir tersedak udara. “Aku… boleh?” tanyanya sambil tertawa kecil, tak yakin ia sedang bercanda atau serius.
Jovita tersenyum samar, seperti menyembunyikan sesuatu. Tangannya perlahan naik, jari-jarinya menyentuh pipi Devan. Sentuhan ringan itu membuat Devan langsung membeku. Ia menelan ludah, dadanya bergemuruh.
Beberapa detik terasa sangat panjang.
Devan menatapnya, mencoba membaca maksud di balik senyum itu, tapi mabuk membuat Jovita mustahil diprediksi.
Lalu, tanpa peringatan, Jovita terkekeh dan mendorong pelan wajah Devan ke samping.
“Ada banyak orang, apa yang kamu lakukan…” katanya setengah kesal, setengah malu.
Devan menghela napas panjang, berusaha mengembalikan akalnya. Ketika melihat beberapa tamu galeri curi-curi pandang ke arah mobil, ia akhirnya menutup pintu penumpang dan segera berpindah ke kursi pengemudi.
Jovita tertidur sepanjang perjalanan pulang. Begitu tiba di parkiran, Devan menggendongnya turun dari mobil. Tubuh Jovita terasa ringan, kepalanya bersandar di bahu Devan, napasnya teratur dan hangat. Sampai di kamar, ia menurunkan Jovita perlahan ke tepi kasur.
Saat Devan berlutut dan mulai melepas sepatunya, Jovita tiba-tiba membuka mata.
“Apa yang kamu lakukan?” tanyanya tajam.
“Lepasin sepatumu. Kamu mau tidur pakai sepatu?” sahut Devan santai.
Jovita memandangnya kosong beberapa detik, lalu duduk perlahan. Ia menendang sepatunya ke sudut kamar. Setelah itu, ia kembali menatap Devan dengan ekspresi curiga.
“Kalau kamu ngambil kesempatan… berarti kamu laki-laki brengsek,” bisiknya, suaranya kecil tapi menusuk.
Devan tertawa pelan. “Kamu pikir aku kayak gitu?”
Jovita menyipitkan mata, seolah ingin memastikan. Devan menepuk bahunya perlahan, mendorongnya untuk kembali berbaring. Namun belum sampai tiga detik, Jovita sudah duduk lagi seperti pegas.
“Apa lagi? Tidur aja,” ucap Devan, nada lelah tapi tak bisa menyembunyikan geli.
“Gak mau,” jawab Jovita keras kepala. “Kalau aku tidur… kamu pasti bakal ngelakuin sesuatu ke aku.”
Devan terdiam sejenak. Tatapannya melembut, melihat Jovita yang kepalanya berat, wajahnya merah, matanya tak fokus tapi tetap berusaha melawan kantuk. Sesuatu di dadanya hangat, bercampur lucu.
Jovita sudah setengah terpejam, tubuhnya goyah, tetapi masih berusaha menatap Devan seolah sedang menjaga diri. Devan hanya bisa menghela tawa pelan.
Jovita memelototinya lagi, atau mencoba memelototi.
Namun perlahan tatapan Jovita berubah, melembut, merendah, dan lebih hangat.
Tanpa memberi aba-aba, ia mengangkat kedua tangannya, meraih wajah Devan dengan sangat hati-hati. Gerakan itu membuat Devan tertegun. Ia benar-benar membeku, tak tahu apa yang sebenarnya akan Jovita lakukan.
Lalu, tanpa sepatah kata pun, Jovita menutup jarak di antara mereka. Bibirnya menyentuh bibir Devan. Ia mengecupnya lembut, lalu sedikit menekan dan melumat bibirnya dengan ritme pelan yang membuat Devan kehilangan napas sejenak.
Devan sempat tidak bergerak, matanya membesar karena kaget. Tapi hanya sebentar. Reaksi itu segera luluh, berganti dengan balasan yang sama lembut dan sama hati-hati.
Tangan Jovita kemudian terulur ke kerah baju Devan, mencengkeramnya. Tarikan kecil itu membuat mereka kehilangan keseimbangan. Dalam hitungan detik, tubuh mereka terjatuh ke kasur.
To be continued