Bagaimana perasaan kalian jika orang yang kalian cintai, yang selalu kalian jaga malah berjodoh dengan orang lain?
Ini kisah tentang Jean Arsa Anggasta seorang calon CEO muda yang ditinggal nikah oleh kekasihnya. Ia menjadi depresi dan memutuskan untuk tidak mau menikah namun karena budaya keluarganya apabila seorang anak laki-laki sudah berumur 25 tahun maka mereka harus segera menikah. Maka mau tidak mau ia harus menikahi Ashana Daryan Fazaira sepupunya. Seorang gadis yang juga telah dibohongi oleh kekasihnya yang telah berselingkuh dengan sahabatnya.
Lalu apa yang terjadi jika pernikahan tanpa cinta ini dilakukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Izzmi yuwandira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26
Setelah Jean berangkat ke kampus, Raniya kembali masuk kedalam kamarnya untuk berdandan. Tak lupa ia mengambil foto dirinya dan mengirimkannya pada Jean.
"Eh kamu mau kemana? Kok cantik banget?" Tanya Zarina.
"Mau shopping"
"Sama siapa? Jean kan ke kampus hari ini"
"Sendiri, tadi aku udah izin sama Jean"
"Ah gitu, yaudah. Maaf ya Tante juga gak bisa nemanin kamu"
"Gapapa Tante"
"Gimana aku udah cantik belum?" Tanya Raniya.
"Kamu selalu cantik, cantik banget. Beruntung Jean dapatin kamu"
"Tante bisa aja, Rani kan jadi malu"
Zarina mencubit gemas pipi keponakannya itu.
Seperti biasa diluar pintu kamar Raniya, Luna mendengar pembicaraan mereka.
"Ihh apa-apaan? Jean yang beruntung? Lo itu justru musibah"
Luna segera kabur ketika mendengar mereka hendak berjalan keluar.
"Hati-hati ya ran"
"Iyah Tante"
Raniya pun pergi.
***
Raka dan Mila berada di perjalanan, mereka melewati banyak pedagang kaki lima di pinggir jalan. Hingga pandangan Mila jatuh pada seorang pedagang martabak yang jaraknya tak terlalu jauh dengan tujuan mereka.
"Raka aku mau martabak" ucap Mila.
"Martabak? Dimana ada martabak?"
"Itu didepan, aku pengen banget makan martabak coklat"
Mendengar keinginan Mila, Raka pun memarkirkan mobilnya dan segera turun dari mobil untuk membelikan martabak yang di inginkan Mila.
"Tunggu ya"
Mila hanya mengangguk.
Raka pun menghampiri pedagang martabak.
15 menit kemudian Raka kembali dengan membawa plastik kantong berisi martabak. Senyuman indah terukir di wajah Mila, dia terlihat sangat senang dan segera memakan martabak itu.
"Mmm.. ini manis banget, aku suka banget"
"Iya habisin"
Tanpa sadar Raka ikut tersenyum melihat Mila makan, sesekali ia mengelap sudut bibir gadis itu.
Raka lalu membuka botol air minum dan memberikannya pada Mila.
"Pelan-pelan minum nya"
Setelah selesai minum, Mila meletakan plastik martabak di kursi belakang. Ia terkejut melihat beberapa camilan di kursi belakang.
"Itu punya kamu?" Tanya Mila.
"Oh itu, emmm.. gue baca artikel katanya di usia 5 bulan kehamilan itu pasti sering ngerasa lapar. Jadi itu gue beliin buat Lo. Tapi itu aman kok buat bayi, gue juga udah tanya-tanya dokter"
Mila sedikit terkejut mendengarnya, ia terlihat mengangguk-angguk.
"Makasih" ucap Mila.
Raka hanya tersenyum simpul.
***
Mereka pun sampai di mall.
"Mau beli peralatan bayi sekarang?" Tanya Raka.
"Nggak kok, aku cuman pengen beli baju buat aku. Soalnya kan perut aku semakin lama semakin besar"
"Oh gitu, gak sekalian beli baju bayi?"
"Emm mama ku bilang Katanya sebaiknya beli perlengkapan bayi itu di usia kandungan 7 bulan"
"Kenapa gitu?" Tanya Raka.
"Ngga tau, hehehe" jawab Mila.
"Yaudah kalau gitu"
Mereka pun terus melihat-lihat pakaian untuk ibu hamil. Setelah membeli beberapa baju Mila merasa perut nya sakit sekali, ia merintih dan Raka segera membantunya untuk duduk.
"Kamu kenapa? Perut kamu sakit? Kita kerumah sakit sekarang?"
"Nggak kok gapapa, aku baik-baik aja"
"Tapi tapi kamu kesakitan gitu? Kita kerumah sakit sekarang ya?"
Mila menarik lengan Raka.
"Aku gapapa, kamu duduk sini" ucap Mila.
Raka pun duduk disampingnya.
"Sini tangan kamu"
Raka mengulurkan tangannya dan Mila meletakan tangan Raka di atas perutnya. Raka merasa kan tendangan kecil dari bayi itu.
"Bayi nya nendang" ucap Mila.
Raka terlihat terharu, matanya berkaca-kaca.
"Ini beneran?" Raka terlihat tak percaya.
Mila hanya mengangguk.
"Heii kenapa kamu nendang perut bunda mu terus? Bundamu tadi kesakitan, jangan jadi anak nakal ya?" Ucap Raka.
Mila terlihat menyeka air matanya, Raka terus mengelus perut Mila dan mencium perut Mila.
"Jadi anak baik ya" ucap Raka.
"RAKA???" panggil seorang gadis.
Suara itu mengagetkan mereka dan segera menoleh ke sumber suara.
"Raniya?" Raka sangat terkejut.
"Dia siapa?" Tanya Raniya.
"Dia..." Raka bingung ingin menjawab apa.
"Kenapa Lo ngelus perut perempuan itu?" Tanya Raniya.
"Ini bayi gue" jawab Raka spontan dan membuat Mila dan Raniya terkejut.
"Raka kamu ngomong apa barusan?" Tanya Mila.
"Bayi Lo? Maksud Lo apa?" Raniya tidak mengerti, ia sangat bingung.
"Iya ini bayi gue"
"Kalian ada hubungan apa? Lo gila ya? Lo mau nikah bentar lagi !! Dia siapa???" Raniya kesal.
"Dia Mila, calon ibu dari anak gue" ucap Raka.
Bagai tersambar petir di siang bolong, Raniya tak dapat menerima pernyataan yang barusan ia dengar. Apa yang terjadi jika Raka meninggalkan Shan? Jean pasti tidak akan menikahi dirinya.
Flashback
Malam itu didalam mobil sebelum mereka hendak pulang, Raniya bertanya pada Jean.
"Kalau aku boleh tau, kenapa tiba-tiba kamu ajak aku nikah Je?"
"Karena gue pikir, Gue harus mencoba buka hati buat orang lain"
"Ah gitu..."
"Lagian Shan juga udah mau nikah kan? Jadi gue rasa gue juga harus menikah"
"Kenapa kamu bawa-bawa Shan?"
"Shan itu sepupu gue, dari kecil sampai sekarang gue selalu lindungin dia, gue bakalan sedih kalau dia sedih, gue bakal ikut terluka juga kalau sesuatu yang buruk terjadi sama dia"
"Ya meskipun kelihatannya Shan agak benci mungkin sama gue, tapi gue akan selalu lindungi dia"
Raniya memegang kedua tangan Mila.
"Gue mohon, Raka harus tetap nikah sama Shan. Gue gak mau kehilangan Jean"
"Gue gak bisa kehilangan Jean, gue mohon sama Lo. Gue mohon"
"Lo pasti kenal Shan ya?" Tanya Mila.
"Shan itu calon istrinya Raka"
"Gue tau. Shan sahabat gue. Tapi Ini semua gak seperti yang Lo bayangkan, gue gak akan gagalin pernikahan Raka" ucap Mila
"Lo serius?? Gue bakal bayar berapapun. Tapi gue mohon, Raka harus tetap nikah sama Shan"
"Kita udah sepakat, bahwa gue akan tetap bertanggungjawab sampai anak gue lahir. Tapi gue akan tetap nikahin Shan" ucap Raka.
"Sorry kalau gue egois, tapi gue gak mau kehilangan Jean" ucap Raniya.
"Lo tenang aja, gue juga gak akan ganggu kebahagiaan Shan. Sebagai rasa penyesalan gue, Raka akan tetap menikah dengan Shan" ucap Mila seraya menatap mata Raka dengan penuh arti.
"Gue janji, gue juga bakal bantuin Lo bertanggungjawab atas anak Lo ini" ucap Raniya.
Raka tak dapat berkata apapun lagi. Rasanya ia berada di posisi yang sulit, ia mencintai Shan tapi Mila? Raka juga sudah mulai merasa nyaman berada di dekat Mila. Bahkan saat tak memegang perut Mila lagi, tendangan kecil dari bayi itu masih bisa dirasakannya.
***
"Kenapa kamu bilang kalau ini anak kamu di depan Raniya tadi?" Tanya Mila saat mereka berada di dalam mobil.
"Terus kalau bukan anak gue, anak siapa?"
"Bilang aja kalau aku adik kamu, atau siapa pun. Dengan gitu Raniya gak bakal tau. Dia gak memohon pun aku gak bakal minta kamu buat nikahin aku"
"Lo berubah pikiran?" Tanya Raka.
"Waktu awal aku tau kalau aku hamil, aku marah, aku ngerasa murahan, aku pengen banget kamu tanggung jawab sama aku. Aku bahkan gak segan-segan untuk berniat jahat sama Shan. Tapi setelah kita lakukan tes DNA, semua itu berubah.. aku justru merasa bersalah sama Shan. Tadinya aku pengen banget kamu nikahin aku, tapi sekarang sebagai bentuk penyesalan aku sama Shan. Aku gak akan ganggu kebahagiaan dia"
"Terus gimana dengan kebahagiaan Lo?" Tanya Raka.
"Kalau Shan bahagia, aku jauh lebih bahagia"
"Gimana kalau gue berubah pikiran dan nikahin Lo?" Tanya Raka lagi.
"Aku akan tanya kamu sekali lagi, kamu cinta sama Shan? Kalau kamu mencintai dia nikahin dia"
Raka hanya diam mendengar jawaban Mila. Ia sudah tidak ingin mengajukan pertanyaan lagi, karena isi kepalanya sedang bergaduh saat ini. Jadi Raka hanya fokus menyetir walau isi pikirannya kacau balau.
Disisi lain, Shan dan ibunya telah selesai berbelanja.
"Kita kerumah om mu dulu ya"
"Kenapa gak langsung pulang aja sih ma? Aku tuh capek" Shan merengek.
"Kalau capek, Kamu juga bisa istirahat disana" ucap Sanara.
Shan menghela nafas, ia pun pasrah saja karena ibunya yang mengemudikan mobil.
Setelah sampai dirumah Anggasta, mereka lalu berbincang-bincang dengan Amira dan Hanin diruang tamu.
"Wahh sebentar lagi Shan bakal jadi seorang istri" ucap Hanin.
"Aku juga gak tau apa Shan bisa ngurus suami nya nanti atau nggak? Tingkahnya aja masih kayak anak-anak gini mbak" ucap Sanara.
"Nanti juga berubah kok san" ucap Amira.
"Oh Iyah Jean belum pulang yah mbak?" Tanya Sanara.
"Iyah belum, akhir-akhir ini dia sering pulang terlambat. Study nya kan bentar lagi mau selesai" jawab Amira.
Tak lama kemudian Jean pulang bersama farel.
"Nah itu dia yang lagi di omongin" ucap Amira.
"Ehh kenapa nih? Lagi ngomongin siapa?" Tanya farel.
"Yang bentar lagi wisuda" jawab Hanin.
"Ohh yang bentar lagi juga bakal nikah ya ma?" Kekeh farel.
Jean menatap sinis saudaranya itu, lalu kemudian pandangannya mengarah pada seorang gadis yang duduk diam di samping tantenya.
"Eh tumben kalian diam-diam man?" Tanya Hanin sambil melirik Jean dan Shan.
"Jadi harus gimana Ma?" Tanya Jean.
"Kak ini tuh pertanyaan yang gak biasa, kalian berantem lagi yah?" Tanya farel.
"Udah gede juga ngapain berantem? Ya kan?" Jean menyenggol kaki Shan.
"Iyaaaa" Shan malas sekali meladeni Jean.
"Sebentar lagi kalian bakal menikah, dan akan mempunyai kehidupan masing-masing. Otomatis bakal jadi jarang ketemu juga yah kan?" Ucap Hanin.
"Iyah, gak terasa ya mereka udah pada dewasa. Cepat banget, perasaan baru kemarin aja mereka lulus SD" Amira menimpali.
"Aku juga bakal sulit banget ngelepas Shan, masih cemas bisa gak dia menjalani kehidupan rumahtangga" ucap Sanara.
Ketika orang tua mereka sibuk berbincang Jean berbisik lirih pada Shan.
"Nih.." Jean memberikan paper bag kecil berwarna coklat pada Shan
"Apaan nih?" Tanya Shan.
"Hari pernikahan Lo sebentar lagi, kurangin makan coklat lihat tuh jerawat gede di kening Lo" bisik Jean pelan.
Shan langsung memeriksa kening nya, dan benar saja ketika dipegang rasanya sakit.
Shan mengambil paper bag itu.
"Kok Lo tau gue jerawatan? Bukannya beberapa hari ini kita jarang ketemu ya? Atau Lo pasang kamera tersembunyi ya dikamar gue?"
Jean menyentil kening Shan.
"Kurangin imajinasi kotor Lo tentang gue, kurang kerjaan banget gue pasang kamera tersembunyi di kamar Lo"
"Ya terus kenapa Lo bisa tau?"
"Beberapa hari ini gue sering ketemu Lo, gue perhatiin Lo makin rakus. Apa aja Lo makan, gak merhatiin apa yang Lo makan itu sehat atau nggak, yang penting kenyang ya kan?"
"Ihh Lo ketemu gue? Terus kenapa gak nyamperin gue?"
"Kenapa? Lo kangen sama gue?" Kekeh Jean.
"Mulai deh tingkat kepedean Lo itu, jijik banget gue"
"Sorry sorry, gue sibuk jadi gak bisa nyamperin Lo"
Shan hanya mengangguk.
"Kaya nya semenjak menjalin hubungan sama Raniya Lo jadi berubah total ya?"
"Gue? Berubah total gimana?"
"Jadi makin perhatian, pasti Lo sering perhatian juga kan ke Raniya?"
Jean menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Iyalah udah seharusnya kan?"
Shan hanya tersenyum, entah apa makna dari senyumannya itu.
Meski Jean membenarkan pertanyaan Shan, tapi kenyataannya tidak begitu. Jean masih sama seperti yang ia kenal, masih bodoh karena sampai saat ini ia masih mencintai Luna.
*Seminggu setelah Jean mengumumkan bahwa ia akan menikahi Raniya.
Jean pulang kerumah dengan keadaan mabuk, syukurlah semua orang sudah pada tidur. Jean berjalan sempoyongan naik keatas tangga dan hampir menabrak beberapa furniture diruang tamu. Kepalanya terasa berat, ia rasanya ingin menjatuhkan dirinya di lantai saat itu juga. Mengingat kamarnya berada di lantai atas. Ia harus tetap fokus berjalan, hingga saat ia hampir terjatuh Luna datang membopongnya.
"Ngapain Lo disini?"
"Kamu kenapa mabuk-mabukan kaya gini sih?"
"Bukan urusan Lo"
Luna membantu Jean naik keatas tangga dengan bersusah payah akhirnya mereka sampai di kamar Jean.
Luna membuka pintu kamar Jean dan membaringkan pria itu di sofa.
"Sebelum mas Wira datang, lebih baik aku pergi" ucap Luna.
Wanita itu juga merasa takut apabila ketahuan oleh Wira.
Saat Luna hendak pergi Jean menarik lengannya.
"Lun..." Panggil Jean.
Luna menoleh dan melihat Jean mengigau.
"Kenapa kita gak bisa bersatu?"
Pertanyaan itu sontak membuat hati Luna nyeri.
"Lo yang jahat atau tuhan yang jahat?" Tanya Jean.
"Luna gue cinta banget sama Lo, selalu"
"Gue berusaha buat menyangkal setiap pertanyaan yang Lo kasih, gue berusaha buat lupa tapi kenapa Lo selalu hadir di sini?" Jean menyentuh kepalanya.
"Gue gak bisa mencintai orang lain bahkan sampai detik ini gue masih cinta sama Lo Luna"
Entah kenapa rasanya saat itu Luna merasa terluka dengan perkataan Jean. Apa yang Jean pikirkan tentang dirinya semua itu salah, Luna tidak sebaik yang ada di pikiran Jean.
Luna duduk di lantai mendengarkan semua ocehan Jean.
"Gue gak bisa nikah sama orang lain, tapi gue terpaksa. Tolong Lo lihat luka gue lun, gue belum sembuh"
Luna menyentuh pipi Jean yang dingin, Jean membuka matanya perlahan-lahan. Samar-samar ia melihat wajah cantik Luna di hadapan dirinya.
"Lo jahat lun, jahat"
"Aku memang jahat, aku gak akan biarin kamu menikah dengan orang lain. Kalau aku gak bisa nyentuh kamu, maka orang lain juga gak bisa sentuh kamu"
***