Ketika semua hanya bisa di selesai dengan uang. Yang membuat ia melakukan apa saja untuk bisa mendapatkan uang, juga termasuk menju*l tubuhnya sendiri.
Tidak mudah menjadi seorang ibu tunggal. di tengah kerasnya sebuah kehidupan yang semakin padat akan ekonomi yang semakin meningkat.
Ketika terkuaknya kebenaran jati diri putrinya. apakah semua akan baik-baik saja? atau mungkin akan bertambah buruk?
Ikuti kisahnya dalam. Ranjang Penyelesaian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bunda Qamariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terungkap
Dave sudah tiba di markas. Kalau sebelumnya Aulia ke sana mengambil waktu sampai beberapa jam. Namun Dave cuma butuh 2 jam sudah tiba di markas Vegam.
Bagaimana tidak. Ia mengemudi mobil seperti sudah siap melenyapkan nyawanya sendiri akibat di bendung amarah membara pada Vegam.
Tiba di gerbang. Dave berteriak. "Buka, Vegam!"
Gerbang terbuka lebar dan Dave segera melangkah masuk ke dalam.
Banyak anak buah Vegam yang menjaga namun tidak ada yang menghentikan Dave, karena mereka semua sudah kenal dengan Dave sahabat Bos-nya.
"Mana Bos mu!" Tanya Dave pada Alex.
"Bos ada di pusat pelatihan. Mari saya antar, Tuan." Sopan Alex mengantar Dave.
Selang beberapa menit akhirnya mereka sudah tiba di pusat pelatihan.
"Vegam!" Teriak Dave berjalan mendekati Vegam dengan amarah menggebu-gebu.
Vegam tidak menunjukkan reaksi dengan sikap Dave yang tiba-tiba datang sambil marah-marah.
Dave mendekat ingin meninju wajah Vegam. Namun belum sempat ia melakukannya, semua anak buah Vegam menghunus-nya senjata api yang siap menghancurkan daging-dagingnya.
"Ada apa?" Tanya Vegam berjalan santai sembari menyuruh anak buahnya untuk menurunkan senjata api.
Dave urung niat ingin meninju wajah Vegam. Memang siapa yang mau mati sia-sia?
"Kalau anda punya masalah dengan Bos kami. Anda bisa bicarakan baik-baik. Jangan sampai tindakan anda merenggut nyawa anda sendiri." Ucap Alex berpesan pada Dave.
Setelah itu Alex bersama yang lainnya pergi meninggalkan mereka berdua.
Kembali ke kediaman Dave.
Setelah melalui perjalanan yang cukup macet. Akhirnya Aulia bisa tiba di rumah Dave.
Wanita itu segera berlari masuk ke dalam dan berjalan naik ke lantai paling atas menuju kamar putrinya.
Brak!
Lutut Aulia bergetar melihat putrinya yang sudah bersimbah darah segar terjatuh dari atas ranjang.
Perlahan kakinya mendekati Asya yang sudah tidak bergerak.
"A.........A..sya..." Bibirnya bergetar matanya seketika basah melihat putrinya yang sepertinya sudah tewas.
Aulia mengangkat tubuh Asya dan memeriksa nadinya dengan tangis pecah.
"Asya!!"
Ternyata pisau yang Lusia gunakan untuk membunuh Asya tidak ada di tubuh gadis kecil itu.
Tentu saja Lusia tidak mungkin meninggalkan jejak sehingga membuat dirinya akan tertangkap.
Aulia mengeluarkan ponsel segera menghubungi Dave.
Markas.
Drrt drrt drrt
Belum sempat Dave membahas pada Vegam tentang apa yang di perlihatkan oleh Aron. Tiba-tiba ponselnya berdering.
Dave segera mengangkat, karena Dave melihat Aulia yang menghubunginya.
"Ya, Aulia?"
"Mas! Asya di bunuh seseorang di rumah.." ucap Aulia melalui panggilan telepon dengan tangisan takut kehilangan Asya.
"Apa!"
"Aku pulang sekarang."
"Aku ikut." Tawar Vegam sempat mendengar apa yang dibilang Aulia tadi.
"Tidak usah!" Tolak Dave.
"Kau harus ikut denganku. Aku tahu jalan menuju rumahmu agar kita bisa tiba secepat mungkin," ujar Vegam.
Mau tidak mau. Dave terpaksa harus mengikuti Vegam.
Di kediaman Dave. Aulia segera melarikan Asya ke rumah sakit berharap putrinya masih bisa di selamatkan meskipun itu akan sangat mustahil.
"Dokter! Tolong tangani putri saya, dokter!" Teriak Aulia seperti orang kesetanan.
Dokter segera menyambut Asya dan dibawa ke ruang UGD.
Aulia sudah seperti setrika terus menangis takut kalau terjadi sesuatu pada Asya. Lantas bagaimana dengannya? Bisakah dia hidup tanpa gadis kecil itu?
Sudah lebih dari sejam. Namun dokter belum keluar juga dari ruang UGD.
Aulia sudah tidak sabar ingin memastikan apakah putrinya masih bisa diselamatkan.
"Aulia?" Panggil Dave yang datang bersama Vegam di belakang Dave.
Entah sadar atau tidak karena terlalu panik. Aulia tiba-tiba berlari memeluk Dave.
Dave balas memeluk Aulia. Vegam mundur sedikit kebelakang seperti tidak ingin mengganggu mereka. Entah tidak ingin mengganggu, atau sedang cemburu karena Aulia memeluk Dave. Hanya Vegam sendiri yang tahu isi hatinya.
"Kenapa Aulia? Ada apa dengan Asya?" Tanya Dave mengusap-usap punggung belakang istrinya.
"Aku nggak tahu, tapi saat pulang tadi. Tiba-tiba Asya sudah bersimbah darah..," jelas Aulia.
"Tenang dulu. Kita tunggu dokter keluar." Dave menenangkan Aulia sembari mengusap air matanya.
Pintu ruangan UGD akhirnya terbuka.
"Bisa bicara dengan keluarga kandung pasien?" Tanya dokter.
"Iya, saya, dok." Ucap Aulia takut dengan apa yang ingin disampaikan oleh dokter.
"Pasien banyak kehilangan darah. Dan kami butuh darah dari keluarga kandung pasien lebih baik," jelas dokter.
"Dia, dia ayah kandung Asya, dokter," ucap Aulia menunjuk Dave.
Jelas saja kenyataan itu membuat Dave kaget. "Aku?" Dave menunjuk dirinya sendiri.