"Aku pikir, kamu malaikat baik hati yang akan membawa kebahagiaan di hidupku, ternyata kamu hanya orang sakit yang bersembunyi di balik kata cinta. Sakit jiwa kamu, Mas!"
Kana Adhisti tak menyangka telah menikah dengan lelaki sakit jiwa, terlihat baik-baik saja serta berwibawa namun ternyata di belakangnya ada yang disembunyikan. Akankah pernikahan ini tetap diteruskan meski hati Kana akan tergerus sakit setiap harinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Double Date
Suasana di meja makan menjadi semakin tegang. Ratu tersenyum sinis mendengar pengakuan Awan. "Oh ... benarkah? Kalian pernah jadi sepasang kekasih? Aku kira kalian hanya teman biasa."
Kana hanya diam, ia memilih menundukkan pandangannya seraya memainkan makanan di piringnya. Kana tidak ingin terlibat dalam percakapan yang tidak penting, sementara Adnan terus menatap Kana dengan tatapan yang menyeramkannya. Adnan tidak susah payah menyembunyikan ketidaksukaannya pada Awan.
"Itu dulu. Sekarang kami masih dalam tahap berteman," jawab Awan seraya melirik Adnan yang kini menatapnya dengan tajam.
"Kini? Wah, kamu masih berharap untuk balikan sama Kana ternyata? Kana sendiri bagaimana?" Ratu melihat kesempatan di depan matanya. Ia sengaja memanasi suasana.
"No comment." Awan tertawa renyah, tak peduli pada Kana yang nampak tak nyaman. "Ratu, aku dengar kamu sedang mengerjakan proyek baru?"
Ratu mengangguk bangga. "Iya, aku sedang membuat film. Maunya sih main di film yang kamu sutradarai, kamu keren loh kemarin memenangkan penghargaan."
"Terima kasih. Kamu juga keren. Kamu masuk daftar artis papan atas negeri ini yang ingin aku ajak kerja sama loh. Nanti ya kita kerja sama bareng," jawab Awan.
"Ah, bisa saja kamu, Mas. Aku juga pengen banget bisa main film yang kamu sutradarai." Ratu melirik Kana yang sejak tadi diam. "Kana ... kok kamu diam saja sih?" Ratu kini mulai menyerang Kana. "Kenapa? Kamu kaget ya tiba-tiba melihat aku datang bersama Adnan?"
Kana mengangkat wajahnya, menatap tajam ke arah Ratu lalu tersenyum. "Kenapa harus terkejut? Kamu dan Mas Adnan memang sejak dulu berteman, bukan? Kenapa aku harus terkejut melihat kalian datang bersama?"
Ratu tertawa sinis. "Oh, begitu? Memangnya kamu tak masalah kalau aku dan Mas Adnan semakin dekat?"
Kana melirik Adnan yang terus menatapnya dengan lekat. Kana mengangkat kedua bahunya. "Tak masalah. Itu urusan kalian. Aku tak berhak mencampurinya. Oh iya, kalian tidak ada yang mau memesan makanan? Kasihan kafe ini kalau kalian cuma numpang ngobrol tanpa membeli. Maaf aku bukan bermaksud menyinggung. Aku pengusaha kafe juga jadi aku tahu betapa menyebalkannya pengunjung yang hanya datang tanpa membeli." Kana tersenyum lebar.
Awan tertawa kecil mendengar jawaban Kana. Kana memang cerdas. Ia tahu bagaimana cara membalas orang yang mengganggunya.
"Kami akan memesan, tenanglah. Kami bukan pengunjung yang akan merugikan kafe ini. Tujuan kami datang ke kafe ini adalah untuk makan siang, bukan sekedar nongkrong." Adnan meminta pelayan mengambilkan buku menu. Ia terus menatap Kana. Adnan tak bisa menolak pesona Kana yang terus menerus mengusiknya sejak ia datang ke negara ini lagi. Kana semakin mempesona. Diam namun bisa membalas ucapan orang dalam sekali ucapan.
"Kebetulan sekali ya kita bisa bertemu di kafe ini." Awan mengambil alih pembicaraan sambil menunggu makanan Adnan dan Ratu disajikan. "Jujur aku tak menyangka bisa satu meja dengan Pak Adnan. Waktu Pak Adnan menjadi politikus dulu, aku banyak berharap loh sama Bapak."
"Adnan-ku ini memang banyak yang mengharapkan. Dia adalah politikus yang pro rakyat." Dengan bangga Ratu mengatakan seolah Adnan adalah miliknya seorang.
"Sayang sekali saat Bapak tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Bapak seolah pamit dari dunia politik. Kabar terakhir tentang Pak Adnan adalah saat Bapak datang di sidang cerai, setelah itu Bapak bak hilang ditelan bumi. Apa Bapak benar-benar pergi meninggalkan dunia politik yang selama ini membesarkan nama Bapak?" tanya Awan sambil menatap Adnan dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.
Adnan tersenyum kecil. Ia tak suka dengan Awan. Selain fakta kalau Awan adalah mantan kekasih Kana yang mungkin sudah merenggut kesucian Kana, Adnan melihat kalau Awan ingin Kana kembali padanya. Pertanyaan yang dilontarkan Awan juga terkesan menyudutkannya.
Adnan sudah biasa menghadapi lawan politik yang keji dan pintar memutarbalikkan fakta. Menghadapi orang seperti Awan sih kecil bagi Adnan. "Hmm ... rasanya aku seperti sedang diwawancarai wartawan saja." Adnan tertawa kecil. Sikapnya begitu tenang, sama sekali tak terintimidasi.
"Aku tidak sepenuhnya meninggalkan dunia politik. Aku hanya istirahat sejenak. Break, kalau kata anak jaman now. Aku tahu banyak masyarakat yang kecewa dan sedih saat aku tak lagi aktif di kancah politik, mereka banyak berharap pada pemimpin yang amanah, sepertiku contohnya. Jadi ... aku akan kembali ke dunia politik lagi ... secepatnya." Kini Adnan melirik Kana yang nampak tak peduli dengannya.
Di dalam sorot mata Kana terdapat luka yang ia pendam sendiri. Terdapat ribuan rasa kecewa yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Pengorbanan yang sia-sia serta rasa sakit karena ditinggalkan. Semua berkumpul jadi satu.
Tiba-tiba ponsel Ratu berdering. Ratu mengangkatnya lalu wajahnya terlihat terkejut, mulutnya sampai terbuka. "Yang benar? Oke, aku lihat dulu," kata Ratu. Ratu mengakhiri panggilannya lalu melakukan pencarian di ponsel miliknya. "Oh My God! Ternyata benar!"
Adnan seolah tak peduli dengan Ratu. Ia malah sibuk menatap Kana yang terlihat tak nyaman terus ditatap Adnan. Kana merasa risih. Ia sampai salah tingkah sendiri. Tatapan Adnan seolah mengulitinya hingga ke dalam tulang.
"Ada apa?" tanya Awan.
"Aku dan Adnan viral." Ratu menunjukkan layar ponselnya pada Adnan. "Ada yang mengambil foto kita saat di dekat lampu merah."
Adnan membaca berita yang ramai di akun gosip. "Ratu si artis cantik dan Adnan si politikus tampan terlihat sedang melarisi dagangan anak jalanan. Nampak mereka tertawa bersama. Apakah mereka sedang menjalin hubungan khusus?"
"Gosip murahan," cibir Adnan.
Ratu memanyunkan bibirnya mendengar ucapan Adnan. "Ish, kamu tuh kebiasaan deh kalau masuk berita. Ini tuh bukan hanya gosip murahan. Bisa saja gosip ini digoreng sampai jadi skandal. Kalau kamu tak percaya, tanya saja pada Kana yang pernah terkena skandal narkoba meski hasil testnya negatif tetap saja jadi skandal. Bukan begitu, Kana?"
Kana menatap Ratu dengan tatapan tajam. Ia menaruh garpu dan pisau di atas piring. Tak ada lagi selera makannya yang tersisa. "Kenapa harus kasusku yang jadi contoh? Sepertinya ... kamu senang sekali ya saat aku ada yang jebak? Perlu kamu ketahui, aku sudah bertemu Mas Rio. Dia mengaku kalau ada yang menyuruhnya memasukkan barang haram tersebut ke saku jaketku. Hmm ... kira-kira siapa ya orangnya? Bagaimana kalau kulaporkan ke polisi saja ya agar kasus skandalku kembali mencuat ke publik? Kayaknya aku sudah muak deh dengan orang yang menjebakku. Harus kuberi pelajaran apa ya, agar tangan dan mulutnya tidak kurang ajar?"
Senyum di wajah Ratu menghilang. Ancaman Kana tidak main-main. Kana bahkan berhasil menemukan Rio meski sudah ia suruh pergi sejauh mungkin. Kini Kana yang gantian tersenyum. "Kamu kenapa? Kok tiba-tiba jadi diam? Bukannya tadi kamu sok kaget ya saat tahu kamu viral ya?"
Adnan tersenyum kecil. Kana di depannya memang luar biasa. Sungguh berbeda dengan Kana penurut yang ia kenal dulu suka ia suruh mengenakan lingerie seksi. "Hmm ... aku jadi makin tertarik sama kamu, Kana," batin Adnan. "Bersiaplah, Kana. Aku akan mendapatkanmu lagi!"
****
Adnan sedang memancing Kana tentang kematian Rio, . samlai dima Kana dapat informasi perihal Rio