Keputusan itu telah final. Keluarga besar Hartono menemukan anak kandung mereka yang tertukar selama 21 tahun. Tanpa ragu, Mama Linda nyonya Hartono menjemput Rhea dan membawanya pulang ke rumah megah Hartono. Kepulangan Rhea disambut hangat, bahkan Reno kakak tertua, memeluknya penuh kasih. Namun tanpa disadari, mereka melupakan Aresha anak yang telah dibesarkan sejak bayi. Sejak saat itu, Rhea memperlakukan Aresha dengan kejam, menyiksa bahkan menyiksa demi memvalidasi statusnya. Hingga sebuah perjamuan investor berakhir tragedi, Rhea mendorong Stefani adik dari Samba CEO terkaya di negara M hingga koma dan menuduh Aresha. Nyonya Linda mengetahui kebenaran, menghapus semua bukti tetap memilih mengorbankan Aresha demi melindungi anak kandungnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon richa dhian p., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nama yang Disebut dalam Darah
Rumah keluarga Sambadono malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Lampu kristal di lorong memantulkan cahaya kekuningan yang hangat, berbanding terbalik dengan tubuh Aresha yang gemetar dalam gendongan Samba.
Samba mendorong pintu kamar tamu dengan bahunya, lalu meletakkan Aresha perlahan di atas ranjang empuk berlapis seprai putih bersih. Kontras yang menyakitkan seprai itu terlalu bersih untuk tubuh yang penuh luka.
Ia berjongkok tepat di hadapan Aresha.
Sontak Aresha kaget, punggungnya menegang.
“Aku hanya melepaskan sepatumu, tidak lebih,” ucap Samba tenang, mendongakkan kepalanya agar tatapan mereka sejajar.
Aresha tetap diam. Wajahnya menunjukkan persetujuan yang pasrah, seolah tak lagi punya tenaga untuk melawan apa pun.
Samba membuka sepatu itu perlahan, satu per satu, sangat hati-hati, seakan takut menyentuh bagian yang bisa menambah rasa sakitnya.
Namun ketika sepatu terakhir terlepas, Aresha tak lagi mampu menahan perih di punggungnya. Rintihan kecil lolos dari bibirnya.
Samba menegang.
Tanpa banyak bicara, ia meraih resleting baju di bagian belakang. Refleks, Aresha menahan tangannya. Mata mereka bertemu. Ada ketakutan di sana.
“Aku hanya akan membantumu membersihkan lukamu, tidak lebih,” ucap Samba, membalas tatapannya.
“Kamu pasti sakit sekali. Aku akan memberimu obat dulu.”Tangannya yang bebas membelai rambut Aresha perlahan.
“Kenapa kamu seperti ini? Aku masih tersangka sekarang,” jawab Aresha pelan, menundukkan kepala, menghindari tatapan itu.
Samba segera meraih dagunya agar kembali menatapnya.
“Status itu akan hilang saat Stefani bangun,” ucapnya tegas.
“Kamu percaya bukan aku yang melakukan ini?” tanya Aresha, menatap tajam, seolah hidupnya bergantung pada jawaban itu.
“Aku percaya.” Samba mengangguk mantap. Tangannya masih menopang dagu Aresha.
Air mata jatuh tanpa izin.
“Kenapa… kenapa kamu percaya, sedangkan keluargaku saja tidak ada yang percaya?” Suaranya pecah. Jerit itu bukan hanya suara itu serpihan jiwa yang runtuh.
Samba tak menjawab. Ia langsung memeluk Aresha erat.
Dengan gerakan cepat namun hati-hati, ia menyobek bagian belakang pakaian Aresha agar luka-luka itu terlihat.
Samba terdiam.
Luka lebam membiru, bekas cambukan memerah, goresan panjang yang belum kering. Tatapannya membeku, rahangnya mengeras.
“Akhhh…” Aresha merintih, membuyarkan lamunan gelap di kepala Samba.
Samba segera mengambil air putih di meja samping, melarutkan tablet pereda nyeri, lalu meminumkannya perlahan. Tangannya menyangga kepala Aresha dengan lembut.
Kemudian antiseptik dibuka. Cotton bud dicelupkan.
Sentuhan pertama membuat Aresha mencengkeram seprai kuat-kuat.
“Akhhh…” Samba meniup pelan luka itu, suaranya nyaris bergetar.
“Tahan sebentar… sedikit lagi.” Lanjut Samba.
Setelah selesai, ia menutup punggung Aresha dengan jasnya sendiri, menyelimuti tubuh itu seakan ingin menutup semua luka yang tak terlihat.
Ia kembali menarik dagu Aresha yang terus menunduk.
Wajahnya mendekat.
Napas mereka beradu.
Jarak itu begitu tipis...
“Tok… tok…” Suara pintu.
Keduanya terkejut.
“Aresha, aduh ya Allah, kenapa seperti ini!” teriak Nenek Samba yang tiba-tiba masuk, berlari mendekat.
Samba segera melepaskan tangannya dan berdiri di samping ranjang.
“Cucuku, siapa yang menyakitimu seperti ini?” tanya Nenek, mengelus tangan Aresha yang dingin.
“Cucu kurang ajar! Bukankah sudah aku perintahkan kamu untuk membawa Aresha dengan aman? Kenapa jadi seperti ini?” bentaknya pada Samba, tangan tuanya terangkat gemetar.
Samba menunduk. “Maaf, Nek.”
Nenek duduk di samping Aresha, menatapnya penuh kesedihan.
“Aresha, kamu anak yang aku lihat tumbuh dewasa. Kamu paling pengertian dan baik. Aku tahu kamu bukan pelakunya.” Tangan keriput itu menggenggam tangan Aresha dengan lembut.
Aresha menatapnya, mata yang tadi kosong kini kembali berair.
“Nenek punya satu permintaan. Menikahlah dengan Samba. Jadilah cucu menantu nenek.” Ucap Nenek menatap Aresha penuh Harap.
Ruangan mendadak sunyi.
“Tinggallah di sini bersama nenek… atau kamu boleh memilih vila keluarga Sambadono,” lanjutnya.
Samba hanya diam. Namun detak jantungnya seakan terdengar jelas di seluruh ruangan.
“Keluarga Hartono sangat buta. Putri yang mereka besarkan sendiri malah diperlakukan seperti ini,” gumam Nenek geram.
Aresha membelai tangan Nenek, tetapi tak menjawab.
“Aresha, kamu telah menderita bertahun-tahun. Apakah kamu membenci nenek?” tanya Nenek lirih.
Aresha menggeleng pelan, tersenyum tipis.
Nenek mengeluarkan sebuah kalung mutiara berkilau.
“Ini untukmu. Kalung pernikahan nenek. Jika kamu mau menikah dengan Samba, pakailah.” Ucap Nenek.
Samba menahan napas.
“Ambillah,” Nenek mengangguk mantap.
Dengan ragu, Aresha mengambil kalung itu. Jemarinya gemetar.
Belum sempat ia memakainya sendiri, Samba sudah meraih tangannya dan membantu mengaitkan pengait di belakang lehernya.
Kalung itu jatuh tepat di tulang selangka Aresha.
Indah.
Namun juga berat.
“Tok… tok…” Pintu kembali diketuk.
“Tuan, saya dokter pribadi,” suara dari luar.
“Masuklah,” jawab Samba.
Dokter masuk dengan koper medisnya. Nenek berdiri, mempersilakan.
“Silakan, Dokter.”
Pemeriksaan berlangsung hening. Tekanan darah. Suhu tubuh. Luka-luka dibersihkan ulang dengan lebih profesional.
“Luka di punggung cukup dalam. Harus diobservasi. Jika infeksi, bisa berbahaya,” ujar dokter serius.
Samba berdiri kaku di samping ranjang.
“Apakah dia bisa dirawat di sini?” tanya Samba.
“Bisa. Tapi dia tidak boleh stres.”
Aresha menutup mata.
Tidak stres?
Bagaimana caranya?
Setelah dokter selesai dan pergi, kamar kembali sunyi.
Nenek berdiri, menatap keduanya bergantian. “Nenek akan keluar sebentar. Istirahatlah.”
Pintu tertutup.
Kini hanya mereka berdua.
Samba duduk di tepi ranjang. “Kalau kamu tidak ingin menikah karena kasihan atau terpaksa, lepaskan kalung itu sekarang.”
Aresha menatapnya lama.
“Aku lelah sendirian,” bisiknya.
Samba menegang.
“Tapi aku tidak ingin jadi beban siapa pun.”
“Kamu bukan beban.”
Hening.
Angin malam menggerakkan tirai tipis.
“Aresha,” suara Samba lebih rendah dari sebelumnya.
“kalau kamu memilih tinggal di sini… bukan karena nenek. Bukan karena kalung itu. Tapi karena kamu memilihku.” Tatapan mereka kembali bertaut.
Samba dengan refleks memeluk Aresha dengan pennuh kehangtan.
Disisi lain Reno berada di penjara negara M.
Lorong penjara itu lembap dan pengap. Bau karat bercampur darah memenuhi udara ruang hukuman yang tertutup rapat.
Reno berdiri di sana dengan napas memburu, jas mahalnya kontras dengan suasana kelam di sekelilingnya.
“Ahhhhh!” teriak ketua gangster perempuan yang dulu satu sel dengan Aresha.
“Tolong… maafkan saya, Tuan!” jeritnya dengan suara serak.
“Brak!” Tendangan Reno menghantam tubuh wanita itu tanpa ampun. Ia tersungkur, wajahnya sudah lebam, sudut bibirnya berdarah.
“Ahhh… ampuni saya!” tangisnya pecah.
“Sreeekkk…” Tongkat besi yang diseret Reno beradu dengan lantai semen, menimbulkan suara mengerikan yang membuat bulu kuduk berdiri.
“Brak! Brak!” Hantaman besi itu jatuh tepat di kakinya.
“Ahkkkk!” jeritnya lagi, suaranya hampir habis.
Reno tidak berhenti. Tatapannya kosong, dingin, seperti seseorang yang sudah kehilangan batas. Ia menghantam tanpa belas kasihan seolah setiap pukulan adalah bayangan luka di punggung Aresha.
“Katakan, siapa yang telah menyuruhmu membully Aresha?!” teriak Reno tak terkendali.
Wanita itu terkapar, tubuhnya gemetar. Darah mengalir di lantai.
“Katakan siapa?!” bentaknya lagi, menginjak kaki yang sudah tak berbentuk.
“Nona Rhea… ya, Nona Rhea! Dia yang menyuruh saya!” jerit wanita itu putus asa.
Reno membeku sesaat.
“Putri keluarga kami bukan penjahat yang bisa melakukan seperti itu,” jawab Reno pelan, namun kakinya tetap menekan luka itu. Reno tidak percaya Rhea adik kandungnya yang telah melakukanya.
“Bukan… bukan dia… tolong lepaskan hidupku…” ratap wanita itu histeris.
“Sial!” Reno melempar tongkat besi itu ke sudut ruangan dan berbalik pergi.
Di luar ruang hukuman, dua penjaga berbisik pelan.
“Ini sudah keterlaluan… kalau sampai keluarga Hartono tahu…”
“Diam. Jangan campur urusan para penguasa.”
“Ini pertarungan para penguasa… aku hanya orang kecil yang dijebak dan mencoba meraih sedikit keuntungan. Apakah aku salah? Hahaha…” Dari dalam ruangan terdengar tawa pahit bercampur tangis.
Langkah Reno terhenti di ambang pintu.
Kata-kata itu menggema di kepalanya.
Dan untuk pertama kalinya malam itu
keraguan tentang Rhea mulai meretakkan keyakinannya sendiri.