Menikah di masa muda karena perjodohan memang adalah hal klise. Namun, kenyataan nya hal klise seperti itu yang di jalankan oleh Dea Amelia Wijayanto. Mengubahnya menjadi gadis yang tidak terurus hanya karena mengurus seorang anak dan suami. Pengkhianatan menghancurkan hidup Dea.
Lucas Sandoro, suami yang dingin dan tak mencintai Dea. Kehidupan seperti apa yang sebenarnya pernikahan itu?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fara Dela Sandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31
31
------------Selamat_Membaca----------------
"Bagaimana caranya manusia hidup tampa udara? Sama halnya aku, bagaimana bisa aku hidup jika tampa dirimu?! Karena kau adalah udara ku."
~Lucas Sandoro~
.
.
.
.
.
Santi menatap wajah tenang sang Putra dengan wajah pucat. Satu minggu lebih sudah Putranya tak sadarkan diri. Mungkin lebih tepatnya, ia berserta sang Suami memutuskan membuat dirinya tidur panjang untuk sementara waktu.
Bagaimana tidak? Saat ia sadar yang ia katakan adalah dimana Istri berserta anaknya. Bahkan ia mengamuk dan berusaha terjun dari atap rumah sakit. Tak satu pun orang yang bisa menunjuk Lucas. Maka dari itu membuatnya tidur adalah pilihan terbaik.
"Apa masih tidak ada tanda-tanda keberadaan Dea mau pun Bintang, sayang?" tanya Santi dengan suara pelan.
Terdengar jelas desahan putus asa dari Anto Sandoro. Ia tak bisa menjawab pertanyaan sang Istri. Mendengar sang Suami mendesah tampa menjawab. Santi sudah mendapatkan jawabannya.
"Jika Dra tidak juga di temukan maka bagaimana dengan Lucas kita Sayang? Apa dia akan terus tidur seperti ini selama-lamanya?" Ucap Santi lalu terisak.
Anto memeluk Santi dengan erat. Ini juga berat untuknya, bagaimana bisa semuanya berubah menjadi sekacau ini. Menantu dan cucunya menghilang. Dan Putra satu-satunya menjadi nyaris gila bunuh diri.
"Aku percaya Dea dan Bintang akan kembali sayang. Jadi kita harus menunggu cukup lama. Lucas akan kita bangun di saat itu tiba," ujar Anto dengan suara berat.
Di balik pintu kamar yang terbuka sedikit, Mutia Wijayanto membeku. Dadanya terasa begitu sakit, sangat-sangat sakit. Ia merasa dunianya seketika hancur. Ia menatap kosong wajah Lucas yang tergeletak di ranjang pesakitan.
"Apa sudah merasa puas, Mutia?" Sinis suara berat yang berada di belakang tubuh Mutia.
Wanita itu berbalik perlahan menatap lelaki pucat dengan bibir memutih itu dengan pandangan lemah.
"Apa maksud mu, hah!" Balas Mutia menghapus kasar air matanya.
"Kau jelas tau apa maksud ku, Mutia Wijayanto! Dan apa kau lupa perbuatan mu padaku saat itu. Kau bahkan menabrak tubuh ku saat aku akan melaporkan perbuatan mu pada Dea?" Cibir lelaki Cina itu.
Ke dua tangan Mutia bergetar kala lelaki satu Ayah dengan Dea itu mengingatkan nya pada masa lalu. Ia memang pernah menabrak Kris hinga kepalanya cedera parah.
"Dan kau tau akibat yang kau timbulkan kemudian hari pada ku?" Bentak Kris dengan suara rendah namun tak bisa menyembunyikan amarahnya.
"Karena kecelakaan itu ada pembekuan darah di dalam otakku aku sering mengalami kejang dan akibatnya aku harus menderita kanker stadium akhir. Kau tau kenapa? Itu karena benturan yang kau sebabkan. Dan tak cukup puas kau menyakiti aku. Kau malah menyakiti adikku satu-satunya." Ucap Kris dengan mata tajam.
Mutia terduduk di lantai Rumah Sakit menerima kenyataan yang Kris beberkan. Kris tersenyum sinis melihat keterkejutan Mutia.
"Jika kau merasa bersalah, ah tidak! Jika kau masih punya hati maka kembalikan Dea pada Lucas. Aku tau kau dalang dari menghilangnya Dea. Sebelum terlambat maka lakukan itu." Ucap Kris lalu melangkah pergi meninggalkan Mutia yang masih terduduk di lantai Rumah Sakit.
Sedangkan di lain tempat Dea terlihat begitu bahagia bersama Bintang. Ke dua wanita cantik Ibu dan anak itu berlomba menghabiskan sate yang berada di atas meja.
Bara hanya tersenyum melihat antusias ke duanya. Bara tak keberatan menerima Bintang menjadi anaknya. Karena semua bagian dari Dea akan ia terima dengan tulus.
"Bibi! Tambah beberapa makan lagi berikan aku nasi goreng, satu dua porsi dan juga Pecel satu porsi. Dan jangan terlalu lama ya Bibi !" Teriak Dea di warung makan sederhana itu.
Bintang dan Bara menatap Dea dengan pandangan tak percaya bagaimana bisa Dea memesan banyak makan. Padahal makan di meja belum habis. Bukannya apa Bara tak masalah, tapi ia takut Dea akan sakit perut jika makan makanan sebanyak itu.
"Mama kenapa memesan makan sebanyak itu. Apa makanya akan habis jika Mama memesan sebanyak itu?" Tanya Bintang dengan pandangan Polos.
Dea menarik ke dua sudut bibirnya ke atas.
"Tentu saja, Mama akan menghabiskan semua makanan yang ada di atas meja ini dan makanan yang baru saja Mama pesan!" Dea berucap penuh semangat.
"Apa kau tak takut gendut?" Goda Bara membuat Dea mendengus.
"Tidaklah. Jika aku gendut sekali pun, semua lelaki akan tetap menyukaiku karena aku cantik. Walau dengan tubuh berisi sekali pun." Ucap Dea penuh percaya diri.
"Tentu saja, Mama akan selalu cantik apa pun keadaanya." Dukung Bintang dengan ke dua jempol tangan terangkat.
Bara pura-pura berdecak tak suka. Membuat Bintang dan Dea tersenyum lebar. Satu jam berlalu, Dea telah menyandarkan punggungnya ke kursi plastik restoran kecil itu. Sedangkan Bara menatap gemas Dea. Bintang memainkan ponsel Bara bermain game ular di sana.
"Wah! Apa yang kau katakan memang benar. Kau bahkan menghabiskan semua makannya." Ucap Bara tajub.
"Tentu! Siapa dulu, Dea Amelia Wijayanto!!" ucap Dea bangga.
Meski sebenarnya ia merasa agak sesak napas. Bagaimana tidak perutnya terisi dengan penuh. Ia tak tau satu minggu ini ia merasa nafsu makanya begitu besar. Ia memakan banyak makan laut. Ia bahkan merasa lapar hanya dalam hitungan jam. Dan berat tubuhnya bertambah dalam hitungan hari saja.
Ke duanya pulang berjalan kaki ke arah Villa setelah Dea merasa perutnya agak baikan. Bintang di gendong di atas pundak oleh Bara. Dari kejauhan dua orang lelaki berpakain serba tertutup mengawasi ke duanya.
Ia mengambil potret ketiganya dan langsung mengirimkan ke pada sang tuan. Sedangkan yang satunya lagi mengawasi orang-orang yang lalu lalang.
"Wah ! Butuh waktu lama hanya untuk menemukan jejak Dokter muda itu. Dia benar-benar begitu rapi dalam bersembunyi." Tutur Lelaki berjeket kulit coklat itu.
"Benar, dia adalah orang pertama yang berhasil menyulitkan pencarian kita yang biasanya dalam hitungan jam bisa menemukan target kita." Timpal yang berjeket hitam memasukan Ponselnya ke saku jaket.
"Iya benar. Apa sudah di balas oleh Bos?" Tanya yang berjeket coklat.
"Ya. Bos bilang awasi ke duanya sementara waktu. Katanya Bos sendiri yang akan menjemput Nona Dea ke pulau ini." Jawab Jeket hitam.
"Ayo kita cari tempat persembunyian dulu sampai Bos datang." Ucap yang memakai Jaket coklat.
Ke duanya pergi meninggalkan Villa mewah itu menuju penginapan terdekat.
* * *
Malam sudah cukup larut, namun wanita yang tertidur di atas tempat tidur mewah itu terlihat gelisah. Tubuhnya sudah mandi keringat, ia tersentak dengan wajah ke takutan. Beruntung sang Putri yang tidur di sampingnya tak terpengaruh dengan pekikan singkatnya.
Ia turun dari ranjang dan melangkah menuju ruangan meja makan. Ia membuka gulkas perlahan dan menarik satu botol air dingin guna membasah tengorokannya. Dan menuangkannya di gelas kaca.
Mimpi buruknya terasa begitu nyata. Jantungnya bahkan masih berpacu dengan gerakan tak normal. Ia meneguk habis air putih yang ia isi ke dalam gelas kaca. Dea melangkah ke arah kursi meja makan. Ia mendudukan tubuhnya di atas kuri kayu terbuat dari pohon jati itu.
"Apa yang terjadi pada mu, Kak Lucas. Kenapa aku bisa memimpikan mu terbunuh ?" tutur Dea pelan.
Ia terlihat begitu tertekan, mimpi Lucas tak bernyawa membuat ia merasa hancur. Bukankah seharusnya ia senang jika Lucas menderita atau mati sekali pun. Namun ia tak bisa jika itu benar-benar terjadi pada lelaki itu.
Ia mencintai! Sangat mencintai Lucas Sandoro. Lelaki yang akan ia gugat cerai atas tuduhan perselingkuhan dan penghianatan.
Akh !
Perutnya tiba-tiba terasa begitu sakit. Dea berdiri dari duduknya, baru dua langkah ia berjalan. Ia merasa di ke dua kakinya basah. Saat itu Dea langsung menghidupkan lampu di ruangan meja makan.
Ruangan yang awalanya temaram hanya di sinari oleh cahaya rembulan itu kini terlihat jelas. Dea menundukan wajahnya guna melihat apa yang meleleh dari selangkanya.
Ke dua matanya membulat melihat darah segar yang keluar begitu deras. Dea melangkah dengan cepat dan mengedor pintu kamar Bara. Lelaki itu membuka pintu kamarnya dengan mata yang sedikit tertutup.
"Kak Bara tolong aku!" ucap Dea dengan suara panik.
Bara langsung membuka ke dua matanya dan menatap Dea dengan wajah heran. Dea menujuk ke arah kakinya yang masih di banjiri oleh darah. Kini baju tidur berawana biru itu sedikit berubah menjadi merah.
Bara membawa Dea masuk ke dalam kamarnya. Ia membantu Dea merebahkan tubuhnya secara perlahan. Ia bahkan tak memperdulikan alas kasurnya terkotori oleh darah Dea.
Bara membuka laci nangkasnya dengan gerakan panik. Ia mengeluarkan semua alat ke Dokteranya. Ia memeriksa denyut nadi
Dea terlebih dahulu. Dengan sedikit terburu-buru ia membuka bungus suntik dan langsung menancapkanya pada botol kecil berisi cairan bening.
Ia menyuntikanya pada pingang sebelah kiri Dea. Dengan telaten Bara memberikan Dea penanganan dini. Dea perlahan mulai merasakan sakit di perutnya menghilang perlahan.
"Bagaimana perasaan mu?" Tanya Bara memberikan Dea sulplemen untuk Dea minum di bantu oleh Bara.
"Sudah agak baikan Kak. Terimakasih atas pertolongannya." Ucap Dea tulus di sertai senyum.
"Kau pasti penasaran apa yang terjadi bukan?" tutur Bara yang tau apa yang Dea pikirkan.
"Ya." Jawab Dea cukup singkat.
"Kau hamil." Ucap Bara pelan.
"Benarkah?" Tanya Dea antusias.
Dea bahkan melupakan jika fakta kehamilanya ini akan cukup membuat Lucas menahannya. Ia lupa jika Lucas telah menghianati nya. Karna saat ini ia berpikir bagaimana ekpresi bahagia Lucas jika ia tau ada kehidupan di perutnya.
"Berapa usianya?"
"Tiga minggu." Jawab Bara jujur.
"Apa Kakak selama ini tau jika aku hamil?" tanya Dea penasaran.
Jika dia memang tengah hamil tiga minggu itu otomatis saat pemeriksaannya beberapa minggu yang lalu Bara sudah tau. Karena ia memeriksakan kesehatan tubuh dan juga rahim nya pada Bara.
"Ya, aku tau." Jawab Bara lagi.
Dea hanya terdiam mendengar perkataan Bara. Ia mengelus perutnya yang rata. Entah apa yang akan terjadi ke depannya. Tak satu pun yang tau bukan.
☔ ☔ ☔
"Apa kau akan tetap pada keputusan mu?" Ucap suara serak basah bermata bulat itu.
"Ya, maafkan aku, Kak." Jawab Dea dengan wajah tampa ekpresi.
"Apa kau akan merubahnya jika tau Lucas sekarang tengah koma." Tutur Lelaki tinggi menjulang itu lagi sedikit berbohong.
Dea tertegun! Dari awal lelaki bermarga itu datang ia hanya meminta Dea pulang tampa mengatan ke adaan sang suami. Dea tak tau bagaimana caranya Chandra mendapatkan posisi nya berada. Bara masih berada di kamarnya di paksa masuk oleh ke dua body guart yang Chandra bawa, satu jam yang lalu.
Bara berteriak tak jelas di kamar. Sedangkan Bintang di bawa keluar oleh sekretaris Chandra. Chandra yang melihat Dea terdiam dengan mata terluka merasa perasan yang sama.
"Apa ada alasan yang membuat kau keukeh menceraikan Lucas selain alasan ia berselingkuh?" Ucap Chandra lagi.
Dea menatap Chandra dengan wajah ragu. Chandra memang sudah di angab sebagi kakak lelakinya oleh Dea. Ia tau Chandra tak akan berbuat jahat padanya. Atau merencanakan hal yang akan merugikanya. Namun Dea tak dapat menampik jika Chandra adalah Sahabat Lucas yang otomatis membela Lucas.
"Aku tidak mencintainya lagi." Itu adalah jawab tergila yang pernah di dengar oleh ke dua telinga caplang Chandra
Chandra terkekeh kecil mendengar perkataan Dea.
"Apakah ada orang yang tak mencintai lelaki yang akan tertegun bahkan merasa terluka saat aku mengatakan lelaki yang sudah tak ia cintai koma?" Balas Chandra masih dengan kekehan.
"Sudahlah, Kak. Aku tak peduli apa pun yang terjadi padanya." Jawab Dea lalu berdiri dari duduknya dan melangkah menuju kamarnya.
"Dia mencoba bunuh diri dengan mengiris nadinya dan bahkan ia melompat dari gedung Rumah Sakit. Ia berkata akan mati jika kau tak kembali," teriak Chandra lantang.
Langkah kaki Dea terhenti, air mata jatuh dengan deras. Jika lelaki itu mencintainya mengapa ia berhianat dan menikahi wanita lain. Jika Wanita itu bukan Mutia maka Dra akan masih baik-baik saja. Tapi dia adalah Mutia sepupu dirinya sendiri yang sudah di angab sebagi kakak kandung oleh Dra sendiri.
Sebenci apa pun Dea pada Mutia ia tak mampu menyakiti Wanita itu lebih kejam lagi.
Chandra berdiri dari duduknya ia mendekati Dea dan berdiri tepat di belakang tubuh Dea.
"Apakah kau hanya akan pulang melihat nya jika ia sudah menjadi jasad saja De?" Kata-kata yang Chandra lontarkan membuat kepala Dea pening dan kehilanggan kesadaran.
Untungnya Chandra berada di belakang tubuh Dea. Hinga bisa menangkap tubuh Dea yang tumbang.