NovelToon NovelToon
Mertua, Anak Dan Menantu

Mertua, Anak Dan Menantu

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Keluarga / Angst / Ibu Mertua Kejam / Tamat
Popularitas:101.3k
Nilai: 5
Nama Author: tompealla kriweall

"Hahaha… kamu memang tidak tahu apa-apa. Tidak heran kalau anak saya tidak senang denganmu nanti. Kamu tidak bisa memenuhi standar yang keluarga kami inginkan. Hhh!"

Nur Berliana Putri menggenggam tangannya sendiri, meremasnya karena merasa gugup. Tapi Kenzie segera menghentikan kegugupannya, dengan mengambil tangan tersebut.

Wajah Berliana mendongak ke arah suaminya, dan dia melihat bagaimana Kenzie tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali. Memberikan tanda, bahwa tidak usah menjawab atau menanggapi perkataan mamanya.

"Aku tidak pernah berharap memiliki menantu yang tidak tahu apa-apa tentang kehidupan seperti kami ini. Awas saja jika kamu membuat malu keluarga!"


***

Up hanya di Noveltoon untuk lomba menulis Novel wanita dengan tema air mata pernikahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tompealla kriweall, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keadaan Juwita

Kematian seseorang tercinta merupakan suatu pengalaman yang sangat sulit untuk dihadapi. Begitu pula yang dialami oleh Juwita setelah kecelakaan yang menyebabkan putranya, Kenzie meninggal dunia.

Rasa bersalah dan kehilangan yang mendalam membuatnya jatuh ke dalam depresi yang dalam. Namun, apa yang membuat keadaannya semakin memprihatinkan adalah adanya halusinasi yang membuatnya berpikir bahwa putranya masih ada bersamanya.

Setiap kali Juwita merasa kesepian atau sedih, dia selalu membayangkan Kenzie ada di dekatnya, seperti sebelum kecelakaan terjadi. Dia bisa merasakan kehangatan pelukan anaknya dan mendengar suaranya yang lembut. Namun, setiap kali Juwita mencoba memeluk atau memanggil namanya, Kenzie tiba-tiba menghilang.

Juwita sangat kesulitan menerima kenyataan bahwa anaknya telah meninggal dunia. Dia merasa sangat bersalah karena dia yang ada bersama dengan Kenzie saat kecelakaan terjadi. Dia sering mengalami mimpi buruk dan merasa sangat bersalah karena dia merasa telah gagal melindungi putranya dari bahaya.

Halusinasi tersebut membuat Juwita merasa lebih baik dan tenang untuk sementara waktu, namun kembali merasa kesepian dan sedih saat dia menyadari bahwa Kenzie hanya ada dalam imajinasinya. Dia merasa kesulitan untuk membedakan antara kenyataan dan khayalan.

“Kenzie, tolong jangan tinggalkan mama lagi,” kata Juwita dengan suara bergetar. “Aku merindukanmu, sayang.”

Juwita merasakan sesuatu yang menyerupai sentuhan pada lengannya dan ia segera berbalik, berharap bisa melihat anaknya.

Namun, tidak ada siapa-siapa di sekitarnya. Juwita merasa semakin terpuruk dalam kesedihan dan kehilangan. Dia merasa seperti hidup dalam dunia yang berbeda dari semua orang lain.

Pada suatu hari, Juwita merasa benar-benar putus asa dan tidak bisa mengatasi perasaannya yang kacau. Dia mulai mengeluh kepada Alice. Anak gadisnya, yaitu adiknya Kenzie.

“Mama tidak bisa melupakan Kenzie. Dia selalu ada di sini dengan mama dan mama merasa seperti kehilangan bagian dari diri mama sendiri."

Calista yang khawatir terhadap mamanya segera memberitahu dokter mengenai keadaan Juwita.

"Ma, sadar ma!"

Setelah menjalani beberapa tes, dokter mendiagnosis Juwita menderita gangguan stres pasca-trauma (PTSD) dan depresi mayor. Dia diresepkan obat dan disarankan untuk mengunjungi seorang terapis untuk membicarakan tentang perasaannya.

Terapis mengajak Juwita untuk berbicara lebih lanjut tentang perasaannya dan membantunya memahami bahwa apa yang dia alami adalah normal dan dapat diatasi. Terapis juga membantu Juwita untuk membangun kembali kepercayaan dirinya dan membangun kembali hubungan dengan keluarga dan teman-temannya.

Meskipun Juwita masih merasa kesulitan untuk menerima kenyataan bahwa Kenzie benar-benar sudah tidak ada lagi.

Kehilangan Kenzie membuat Juwita merasa sangat bersalah dan menyalahkan dirinya sendiri. Namun, dia juga memiliki perasaan yang sangat negatif terhadap Berliana.

Juwita merasa bahwa Berliana tidak menyukainya dan tidak menghormati perannya sebagai mamanya Kenzie. Juwita merasa bahwa Berliana tidak peduli dengan kesejahteraan Kenzie dan membiarkannya sendirian dengan pergi dari sisi anaknya.

Setiap kali Juwita merenungkan tentang kecelakaan itu, dia selalu berbicara dengan keras tentang bagaimana Berliana gagal menjaga Kenzie dan bagaimana dia seharusnya melakukan sesuatu untuk mencegah kecelakaan itu terjadi.

"Kalau saja Berliana lebih peduli dan lebih hati-hati, Kenzie masih bisa hidup sekarang," kata Juwita dengan nada yang tajam.

Dia merasa sangat marah dan kecewa dengan Berliana, dan ini membuatnya semakin sulit untuk melepaskan rasa bersalahnya sendiri. Juwita merasa bahwa dia tidak bisa menerima kenyataan bahwa kecelakaan itu terjadi dan bahwa dia tidak bisa melindungi anaknya.

"Kenapa aku tidak bisa melindungi anakku? Mengapa aku tidak bisa menghindari kecelakaan itu? Aku merasa sangat gagal," keluh Juwita.

Terapisnya mencoba membantu Juwita untuk memahami bahwa menyalahkan orang lain tidak akan membantu mengurangi rasa sakit dan kesedihannya. Dia mencoba membantu Juwita untuk fokus pada perasaannya sendiri dan merawat dirinya sendiri agar bisa pulih dari trauma dan depresinya.

Namun, Juwita masih sering menyalahkan Berliana dan merasa sangat kesal dan frustrasi ketika berbicara tentang kecelakaan itu. Dia merasa bahwa Berliana tidak pernah merasakan rasa sakit yang sama dengan yang dirasakannya dan tidak bisa mengerti perasaannya.

"Aku tidak bisa memaafkan Berliana untuk apa yang terjadi pada Kenzie. Dia tidak bisa merasakan rasa sakit yang sama dengan yang aku rasakan," ujar Juwita dengan nada tajam.

Meskipun terapisnya terus membantunya untuk memahami bahwa menyalahkan orang lain tidak akan membantunya untuk pulih, Juwita masih sangat sulit untuk melepaskan perasaannya. Dia masih merasa kesal dan frustasi ketika berbicara tentang kecelakaan itu dan masih merasa bahwa Berliana harus bertanggung jawab atas kematian Kenzie.

Situasi ini sangat sulit bagi Juwita, karena rasa bersalah dan kemarahan yang terus-menerus membuatnya sulit untuk pulih dari kehilangan Kenzie. Terapisnya mencoba membantunya untuk mengatasi perasaannya dan membantunya memahami bahwa kecelakaan itu terjadi dan bahwa tidak ada yang bisa mengubah kenyataan itu.

"Dia pergi dan tidak akan pernah kembali. Kita tidak bisa mengubah masa lalu, tetapi kita bisa memilih untuk memulai dari sekarang dan melangkah maju," kata terapisnya.

Juwita masih membutuhkan banyak waktu dan bantuan untuk pulih dari trauma dan depresinya.

Kehilangan Kenzie dan kepergian Calista yang tidak peduli membuat keadaan Juwita semakin buruk. Dia terus merasa sendirian dan kesepian di rumah besar mereka.

Meskipun ada beberapa pembantu yang bekerja di rumah, Juwita seringkali marah dan mengamuk pada mereka.

"Kalian ini semua tidak berguna! Aku sendirian di sini dan kalian tidak bisa membantuku!" teriak Juwita pada para pembantu.

Para pembantu merasa takut dan cemas ketika Juwita marah seperti itu. Mereka mencoba untuk tetap tenang dan melakukan tugas-tugas mereka sebaik mungkin, meskipun mereka tahu bahwa Juwita tidak akan pernah puas dengan pekerjaan mereka.

"Nyonya Juwita sedang tidak baik-baik saja akhir-akhir ini. Kami mencoba untuk membantunya dengan cara yang kami bisa, tetapi dia terus marah dan mengamuk," kata salah satu pembantu pada temannya.

"Mungkin dia membutuhkan seseorang untuk menemaninya. Tapi sayangnya non Calista tidak ada di sini," tambah pembantu lain.

Para pembantu merasa sedih melihat keadaan Juwita yang sedang menderita, tetapi mereka juga merasa tidak tahu harus melakukan apa. Mereka mencoba untuk tetap profesional dan melakukan pekerjaan mereka dengan sebaik mungkin, meskipun mereka tahu bahwa Juwita akan terus marah dan mengamuk.

"Mungkin kita bisa mencoba untuk memahami situasinya dan mencoba untuk membantunya dengan cara yang kita bisa," kata pembantu yang pertama.

"Mungkin itu ide yang baik. Kita bisa mencoba untuk berbicara dengan Nyonya Juwita dan membantunya merasa lebih tenang dan nyaman," kata pembantu yang kedua.

Para pembantu memutuskan untuk mencoba untuk mendekati Juwita dan membantunya merasa lebih tenang dan nyaman di rumah. Mereka memasak makanan kesukaannya dan membantunya dengan tugas-tugas rumah tangga. Mereka juga mencoba untuk mendengarkan keluhan dan rasa sakit hatinya, meskipun kadang-kadang Juwita masih mengamuk pada mereka.

"Maafkan aku karena sering mengamuk pada kalian. Aku hanya merasa sangat sedih dan kesepian," kata Juwita pada salah satu pembantu.

"Tidak apa-apa, nyonya Juwita. Kami mengerti situasinya dan kami ingin membantu sebisa mungkin," jawab pembantu tersebut.

Para pembantu terus berusaha membantu Juwita merasa lebih nyaman dan merawatnya sebaik mungkin. Mereka sadar bahwa Juwita sedang membutuhkan seseorang yang bisa menemaninya dan membantunya melewati masa sulit ini.

Sementara itu, Juwita terus berbicara dengan Kenzie yang telah meninggal dunia, seolah-olah dia masih hidup dan berada di sampingnya.

"Kenzie, apa kabarmu hari ini? Aku merindukanmu," ujar Juwita pada bayangan anaknya.

Para pembantu merasa sedih melihat keadaan Juwita yang merasa kesepian dan depresi. Mereka mencoba untuk memberikan dukungan dan perhatian yang Juwita butuhkan, meskipun mereka tahu itu tidak berguna.

1
Atik Bunga
thor jodohkan berliana dg dilan saja bagaimana
Atik Bunga
kok alice bukannya adiknya kenzie itu calista ya
Atik Bunga
kenzie mengambil keputusan yg tepat mengajak berliana keluar dari rumah itu
Atik Bunga
sabar berlian suatu saat mertuamu oasti sadar aku dulu jg mengalami hal sama seperti dirimu malah lebih kejam trus mertuaku mulai sakit2an yg dicari malah menantu yg dibeci ini trus baik sama menantu yg tdk dihargai keberadaannya ini
kuta senasib berlian
Ummy Ima
lembek banget to mbak ber
Andriyani Al Ibtisam
best
Aerik_chan
Lah kematian nggak ada yang tahu...
Aerik_chan
jadi keinget kecelakaan yang di luar negeri yang mobil tesla....orangnya dah meninggal mobilnya masih jalan
Aerik_chan
good
Aerik_chan
nah loh
by your side..
Aerik_chan
Semangat kak thor...
by your side, hadir
Aerik_chan
Semangat kak...maaf baru mampir lagi

yuk saling dukung, By Your Side
Aerik_chan
Kalau berubah jadi baik nggak apa-apa kan ya...

Yuk saling dukung, *By Side You
Elisabeth Ratna Susanti
suka 😍
mama Al
keren Thor
mama Al
lah kenapa ngga nikah sama anakmu, bu.
mama Al
Kenzie juga tidak bisa menengahi antara ibu dan istrinya
mama Al
ibu mertua perlu di geprek nih
mama Al
bagus nih ceritanya

salam dari kekasihku menantuku
Elisabeth Ratna Susanti
lanjut 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!