Kisah seorang gadis bernama Adelia Maheswari yang kehilangan tunangannya dihari pernikahannya, dan mengharuskan dia menikahi lelaki arogan, dingin dan kaku dihari itu juga.
Apakah aku bisa jatuh cinta dengan lelaki kasar, dingin dan arogan seperti dia. Lelaki yang telah merenggut kebahagiaanku?
Ikuti kisah mengharukan mereka ya, di lengkapi dengan kisah komedi, cinta manis, cemburu dan perasaan terharu membuat kalian baper, meleleh dan senyum - senyum sendiri.
IG: dewimutiawitular922
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Mutia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dasar Wanita Tidak Perhatian
Hai Aku Dewi.
Maaf kalau alurnya buat kalian bosan dan agak lambat ya, aku sengaja buat begitu karena di novel pertamaku di bilang alurnya terlalu cepat. Di novel pertama aku pakai alur campuran, jadi di novel kedua sampai yang kelima ini aku pakai alur maju dan kubikin lelet biar ngga di bully lagi.🙏🏻😊
🌹SELAMAT MEMBACA🌹
Adelia berjalan pelan menuju Ruang Kerja Reqy. Wajahnya terlihat gugup memegang baju suaminya itu. Ia tak ingin menemui lelaki dingin dan arrogant seperti suaminya. Ia masih tegang ketika Reqy berbicara padanya sewaktu di kamar.
Ketika sampai di sana, ia melihat pintu Ruang Kerja Reqy terbuka lebar.
“Apa aku langsung masuk saja. Tapi kalau aku langsung masuk, apa dia akan memarahiku?” Gumam Adelia. Ia mengintip melihat ke dalam ruangan.
Di sana ia melihat suaminya tengah berdiri di depan jendela kaca tepat di belakang meja kerjanya. Reqy menunggu kedatangan Adelia, ia menghisap rokoknya sambil menatap luar jendela rumahnya. Sementara Pak Osmar berdiri di belakang tuannya menunggu perintah.
Pak Osmar sadar akan kehadiran Adelia yang berada di luar ruangan. Ia menengok ke belakang melihat Adelia. Ia menganggukkan kepalanya pada Adelia yang juga sedang melihatnya. Ia memberikan kode pada Nyonya Mudanya itu untuk masuk ke dalam.
Adelia pun masuk ke dalam Ruang Kerja suaminya dengan langkah pelannya. Ia langsung berdiri tepat di samping Pak Osmar dengan memegang baju tidur suaminya. Pak Osmar kembali melihat Adelia, ia mengangguk – nganggukkan kepalanya diikuti matanya sesekali memejamkan matanya memberikan kode pada Adelia untuk bicara pada Reqy.
Adelia mengerti maksud Pak Osmar, ia menghela nafasnya di sana. Matanya tertuju ke depan tepatnya di punggung suaminya. Ia menatap punggung Reqy yang terlihat lebar itu.
“Kenapa dia tidak kunjung berbalik ke sini. Apa benar aku harus memanggilnya?” Dalam hati Adelia yang terus menatap punggung suaminya.
Ia menarik nafasnya lalu membuangnya secara pelan.
“Ka-Kak Reqy, Aku sudah membawa baju gantinya.” Adelia sudah tak bicara formal lagi pada suaminya. Ia mendengarkan ucapan Reqy kepadanya.
Reqy melirik ketika mendengar suara istrinya. Ia membalikkan badannya melihat Adelia yang tengah berdiri. Di sana ia melihat Adelia sudah tak menunduk lagi tapi tetap saja bola matanya melihat ke bawah.
Reqy mematikan rokoknya di asbak yang ada di atas meja kerjanya. Ia terus melihat istrinya yang berdiri di depan mejanya. Tempat Adelia berdiri agak jauh karena memang ruangan itu sangat luas.
Banyak lemari buku yang berjejer di sana. Tempatnya seperti perpustakaan. Banyak sekali buku memenuhi isi lemarinya.
Reqy lalu bicara pada Pak Osmar yang masih berdiri di samping Adelia.
“Paman ke bawah saja, aku bisa melakukan rapatnya sendiri.” Perintah Reqy dengan datarnya.
“Baik Tuan Muda.” Pak Osmar membungkuk di depan Reqy. “Saya permisi.”
“Eem” Balas Reqy dengan datarnya.
Adelia terlihat khawatir melihat Pak Osmar pamit pada Reqy. Ia menengok ke samping Pak Osmar melihat lelaki tua itu membalikkan badannya.
“Pak Jangan pergi. Jangan tinggalkan saya di sini.” Dalam hati Adelia yang memasang wajah kasihannya pada Pak Osmar.
“Itu sudah tugas Anda nyonya. Semoga Anda terbiasa menghadapi tuan.” Dalam hati Pak Osmar yang juga menatap Adelia. Bibirnya tersenyum melihat wanita itu di sampingnya. Ia lalu berjalan keluar dari Ruang Kerja Reqy sambil menutup pintunya.
“Ya tuhan....kenapa bapak itu juga menutup pintunya?” Dalam hati Adelia yang terlihat takut.
“Bawa bajunya ke sini.” Ucap Reqy.
Adelia kembali fokus ke depan melihat suaminya. “Baik.” Ia berjalan pelan menghampiri Reqy yang tengah berdiri di dekat kursi kerjanya. Ketika sudah berada di depan meja kerja Reqy, ia langsung meletakkan baju tidurnya di atas meja.
Reqy terlihat mengerutkan keningnya melihat baju yang di bawa Adelia. Ia belum memegangnya tapi sudah tahu kalau itu bukan baju yang muat di tubuhnya. Itu baju tidurnya ketika ia masih remaja.
“Apa kau tidak bisa memilih baju dengan benar?” Tanya Reqy dengan kesal.
“Apa?” Adelia melihat Reqy dengan wajahnya yang kaget. “Aku sudah mengambil baju sesuai yang di katakan Pak Osmar.” Adelia berusaha membela dirinya di depan Reqy.
“Lihat baik – baik bajunya, apa muat di tubuhku. Melihat sekilas saja sudah tahu kalau baju itu tidak muat di badanku.” Reqy menatap dingin istrinya. Ia kesal melihat istrinya yang tidak memperhatikan dirinya.
“Maaf....aku benar – benar tidak tahu.” Adelia terlihat bersalah. Ia menganggukkan kepalanya meminta maaf pada Reqy.
“Kau tidak tahu atau tidak perhatikan dengan benar. Lihat tubuhku dengan benar.” Kesalnya.
“Maaf...aku akan menukarnya kembali dengan yang lain.”
“Tidak usah. Biar aku saja, memilih baju saja tidak becus. Lain kali perhatikan baik – baik.”
“Baik.”
"Lihat saja besok malam. Setelah acara pesta selesai, aku akan membuatmu melihat dan merasakan semua tubuhku. Dasar wanita tidak perhatian." Dalam hati Reqy yang terus menatap Adelia.
Reqy kembali bicara pada istrinya.
“Buatkan kopi sana.” Perintah Reqy dengan suara tegasnya.
“Baik.”
Adelia membalikkan badannya meninggalkan Reqy di sana. Ia keluar dari Ruang Kerja suaminya dengan perasaan kesal. Ia menutup pintu ruangan Reqy sambil mengelus – elus dadanya.
“Sabar....sabar.....sabar Adel.” Gumamnya sambil memejamkan matanya menahan kekesalannya.
Ia berjalan menuju lantai bawah menggunakan tangga rumahnya. Ia menggerutu sendiri dalam hatinya mengingat kejadian tadi.
“Selama aku hidup, baru kali ini aku merasa sangat kesal dengan seseorang. Orang itu, kenapa bukan dia sendiri sih yang mengambilnya tadi. Mana aku tahu kalau itu baju lama, bajunya yang ada di lemari itu semuanya baru. Ternyata itu semua baju yang tidak di pakai lagi, banyak sekali sampai seisi lemari.” Dalam hati Adelia.
Ketika Adelia berjalan menuruni tangga, ia di kagetkan dengan semua dekorasi rumah yang begitu indah dan mewah. Semua pelayan yang ia lihat terlihat sibuk mendekor rumahnya.
Saat sampai di lantai bawah pun, ia melihat Pak Osmar dan Emir sibuk mengarahkan beberapa pelayan yang tengah memperindah ruangannya.
Adelia terlihat bingung melihat semua yang ada di depan matanya. Ia berjalan mendatangi kedua bawahan Reqy itu.
“Maaf pak.”
Pak Osmar dan Emir langsung menengok ke arah Adelia yang berjalan ke arahnya.
“Nyonya....apa Anda butuh sesuatu?” Tanya Emir.
Adelia tak menanggapi ucapan Emir, ia hanya menanyakan tentang keadaan yang di lihatnya sekarang.
“Kenapa rumahnya menjadi begini. Apa di sini ada pesta?” Tanya Adelia melihat Pak Osmar dan Emir secara bergantian.
“Besok malam ada pesta di sini nyonya. Tuan Muda ingin mengadakan pesta pernikahannya di rumah ini. Beliau sudah mengundang banyak rekan – rekan bisnisnya ke sini.” Jelas Pak Osmar dengan serius.
“Jadi pestanya di sini.” Adelia kembali bertanya.
“Iya nyonya.” Balas Emir.
Adelia terlihat diam memikirkan pesta pernikahannya.
“Apa dia harus melakukan semuanya ini. Kenapa dia ingin menunjukkan pada semua orang kalau dia sudah menikah. Perasaanku tidak nyaman dengan semua ini. Aku belum mengetahui alasannya menikah denganku yang tidak di kenalnya tapi dia sudah melakukan acara besar – besaran seperti ini?” Dalam hati Adelia.
Pak Osmar yang melihat Adelia terdiam, berjalan dua langkah mendekati Adelia. “Apa nyonya butuh sesuatu, saya akan suruh pelayan mengambilnya?” Tanya Pak Osmar sambil tersenyum pada Adelia.
Adelia kembali fokus pada mereka berdua.
“Eh...tidak perlu pak. Tolong tunjukkan saja dimana dapurnya pada saya, saya ingin membuat kopi?”
“Biar saya yang membawa nyonya ke sana.” Sahut Emir.
“Terima kasih.” Adelia membalas ucapan Emir sambil tersenyum.
“Mari nyonya.” Emir berjalan melewati Adelia meninggalkan tempatnya berdiri. Ia menghentikan langkahnya ketika berada di depan Adelia.
“Iya...” Balas Adelia yang berada di belakang Emir.
Adelia kemudian mengarahkan matanya pada Pak Osmar. “Permisi pak.”
“Silahkan nyonya.” Lelaki tua itu membungkuk hormat di depan Adelia sambil tersenyum.
Adelia berjalan mengikuti Emir menuju dapurnya, di sana ia melihat tiga pelayan sudah berdiri membungkuk padanya tepatnya di depan meja makannya.
Emir terus berjalan menuju dapur yang ada di ruangan itu sedangkan Adelia mengikutinya sambil melihat semua isi ruangan itu yang menyatu dengan dapurnya dan meja makan para pelayannya.
Bersambung.
.
.
.
.
.
Ingat tekan LIKE di bawah ya. Jangan sampai lupa lagi. Berikan VOTE nya dan Tulis KOMENT kalian. Biar Author lebih semangat lagi nulis kelanjutannya.
Terima Kasih.
baru novel ini yang ceritanya tidak bikin saya pusing.... tQ Thor berhasil membuat saya sedih, menangis, halu, dan berakhir bahagia... salam dari Aceh 😘😘
tp semakin kesana semakin gregetan Juga Alur Ceritanya N akhir cerita sdh mulai mengandung bawang 😄😂 tp tatap seru ceritanya n endingnya bahagia juga ❤️😍👍👍