Percayalah, bahwa bahagia akan datang pada akhirnya. Kamu hanya perlu bersabar dan selalu bersyukur untuk setiap napas yang kamu hirup setiap harinya.
Ini kisah kehidupan seorang Queenesya, gadis yang tidak pernah di anggap ada oleh keluarga Petter dan tak hayal mendapat bullying dari Aurel, putri tunggal keluarga Petter.
Siapa yang akan menyangkan bahwa ia adalah putri tunggal dari pengusaha yang tidak bisa dianggap remeh dan merupakan cucu dari ke-empat keluarga besar yang sangat berpengaruh di dunia yang diculik oleh pesaing bisnis Vondrienty ketika baru seminggu ia lahir ke dunia.
karya ini hanya Fantasi Author saja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Angelica Maria Vianney, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30 Pilihan
Malam hari di sebuah mansion yang megah, seorang gadis sedang menuruni anak tangga, menuju ke dapur mengambil beberapa cemilan yang ada di kulkas dan hendak ingin menghampiri teman-temanya yang sekarang ini sedang bersantai di ruang keluarga.
"Ini makanlah" ucap gadis itu sambil meletakkan cemilan tadi di atas meja
"Terima kasih Zee" ucap semuanya dengan bersamaan
Zee hanya mengangguk lalu memilih untuk mengambil tempat duduk didekat Esya, yang sekarang melamun sejak mereka tiba di mansion tadi.
"Sya, ada apa?" Tanya Zee yang mulai penasaran dengan tingkah gadis itu
"Apa kau masih memikirkan orang itu?"
Sekarang Gion yang mulai bertanya, yang secara tidak langsung membuyarkan lamunannya
"Ah,Ti-dak"
Mendengar jawaban itu, seluruh pandangan mata kini tertuju pada Gion dan Esya. Ini sudah lebih dari beberapa jam yang lalu namun baru sekarang mereka menyadarinya.
Selama ini, sejak kembali tadi mereka semua sibuk dengan kegiatannya masing-masing, Ken dengan game di ponselnya, lalu Ginta dan Eve yang sibuk bergosip tentang idola mereka lalu Dion dan Gion yang hanya sibuk dalam diam.
Tidak biasanya Gion akan diam seperti ini, terkadang jika dalam situasi seperti ini Gionlah yang paling banyak bicara bersamaan dengan Ken yang selalu menciptakan lelucon recehnya.
Namun, dibalik diamnya Gion terdapat sesuatu yang sedang mengganggu pikirannya yang tidak bisa ia utarakan pada mereka. Gion merasa pernah melihat lelaki sore tadi, tapi entah dimana.
Ingatan Gion memang kuat hanya saja untuk suatu hal yang penting dalam hidupnya, diluar itu Gion tidak akan mau mengingat hal yang sama sekali tidak penting.
"Apa maksud perkataanmu tentang orang itu?" tanya Zee yang penasaran
"Mau tau aja atau mau mau tau banget"
ucap Ken menanggapi pertanyaan Zee
"Hei.. aku tidak bertanya padamu"
ucap Zee memalingkan pandangannya pada Ken
Gion hanya diam, malas untuk menanggapi keduanya. Hari ini mood Gion sepertinya sedang buruk, dan Dion selaku saudara kembarnya itu bisa lebih mengerti.
"Apa sebaiknya kita pulang sekarang?"
tanya Ken pada kedua lelaki yang sedari tadi hanya diam saja
Ken sedikit hawatir dengan nasib mereka nanti, pasalnya tak ada satupun yang meminta izin ke mansion bahwa mereka akan menginap semalaman di mansion keluarga stone.
"Aku baru ingat jika kita tidak mengatakan pada orang rumah bahwa semalam kita nginap di sini" ucap Ken lagi, yang langsung berhasil membuyarkan lamunan keduanya
"Hah!!! Bukannya kemarin kau sudah menghubungi mereka" ucap Dion
"Kapan?" Tanya Ken sembari mengingat-ingat malam tadi
"Kemarin saat kau mengangkat telpon"
"Itu bukan telpon dari rumah" ucap Ken dengan santainya
"Lalu dari siapa?" Tanya Dion
"Alamat palsu" jawab Ken yang emang kemarin malam ia tidak menerima telpon dari keluarga melainkan dari seseorang bapak tua yang mengira dirinya adalah seorang pembersih toilet.
Mengingat yang terjadi kemarin malam, Ken tidak habis pikir bisa-bisanya ada orang di dunia ini yang menyamakan wajah tampannya ini dengan seorang pembersih toilet, pekerjaan yang bahkan paling rendah dari seorang pengemis jalanan.
"Pasrah saja untuk hari ini" ucap Ken lagi yang sudah tau apa yang akan menimpah diri mereka selepas tiba di mansion nanti, pastinya mereka akan diintrogasi oleh keempat tetua yang bisa memecahkan gendang telinga mereka.
Ken mulai menatap Esya yang masih saja sibuk dalam lamunannya lagi, entah apa yang terjadi dengan dirinya sore tadi. Yang jelas Gion juga masuk dalam lamunan Esya, dimana Lelaki asing itu datang dan sok akrab dengan dirinya, lalu Gion yang datang dan langsung memeluk pinggang Esya, tatapan mata Gion pada lelaki tadi seperti mengintimidasi korbannya saja.
Esya tahu, jika Gion bahkan kedua saudaranya itu sudah menganggap Esya sebagai adiknya sendiri, dan begitupun sebaliknya Esya juga menganggap mereka sebagai kakaknya sendiri.
Tapi Esya sangat tidak terbiasa dengan perlakuan manis yang mereka berikan, Esya suka hanya saja Esya juga tau akan siapa dirinya dan siapa pula mereka, terlebih ketika Esya mengetahui apa marga keluarga mereka, Esya tidak ingin terlalu merepotkan teman-temannya, Esya merasa tidak enak hati. Pada mereka.
"Sya, bagaimana kalau kamu ikut bersama kami?" Ucap Gion yang refleks membuat kedua saudaranya menoleh.
Gion tau jika ini belum waktunya, hanya saja jika membiarkan Esya diluar tanpa penjagaan Gion takut jika sesuatu yang buruk akan terjadi pada Esya, belum lagi karena keluarga Petter yang mengira bahwa Esya adalah penyebab dari masalah yang sedang menimpah keuangan mereka.
Yah, kemarin malam Dion sudah menceritakan mengenai penyebab terusirnya Esya dari sana dan alasan mengapa Dion menyuruh ayah mereka untuk mencabut saham yang sudah di tanam pada perusahaan mereka.
Esya tidak tahu harus bagaimana ia menjawab tawaran dari Gion, apakah ia menerima atau justru menolak, pasalnya jika ia menerima tawaran itu Esya akan merasa semakin merepotkan mereka, namun jika ia menolak maka lain sisi justru akan merepotkan para sahabatnya.
"Bagaimana Sya?" Tanya Dion, yang memang setuju dengan tawaran Gion barusan.
"Ikut sajayah Sya, di mansion juga sepi gak ada anak perempuan, biar bisa nemenin sekumpulan wanita gaul itu" ucap Ken panjang lebar, dengan antusias
Ken menyebut mereka sebagai wanita gaul karena memang wanita-wanita yang notabene nya adalah keluarganya sendiri, memiliki penampilan yang seperti anak muda saja terlebih lagi kedua Oma mereka.
"Gitu-gitu juga keluargamu" ucap Eve membalas perkataan Ken
"Hn" gumam Ginta
"Jadi bagaimana Sya?" tanya Zee lagi pada Esya yang masih saja berargumen dengan pikirannya.
Ketiga remaja laki-laki itu hanya fokus menatap Esya, menunggu jawaban dari gadis itu. Dan begitu Besar harapan yang mereka inginkan agar Esya mau ikut pulang bersama mereka.
Selain itu, dengan ikutnya Esya maka suasana rumah akan semakin lengkap, terlebih lagi rasa rindu yang sudah lama membekas didalam hati mereka akan mulai terbayar, penantian mereka akan segera berakhir dengan hadirnya Esya didalam kehidupan mereka.
Namun, akankah ini adalah waktu yang tepat untuk mereka katakan pada seluruh anggota keluarga mereka, terlebih lagi pada Bunda melan dan ayah Lukas, serta seluruh Oma dan opa mereka. Yah, Dion dan Gion belum tahu benar apakah ini merupakan waktu yang pas.
sukses...semangatthor
mksh