Aruna Paramitha, gadis cantik yang memiliki bodi gores menganggap rumahnya dalam tempat yang paling aman, menjadi terganggu dengan kedatangan tetangga baru yang menyebalkan. Gavin Adnan, adalah pria garis keras dalam hal ketertiban. Aruna yang berjiwa bebas dan sedikit berantakan pun resmi menjadi musuh bebuyutan Gavin. Namun.un saat sebuah insiden salah kirim paket, mengungkap rahasia kecil Gavin yang tak terduga, tembok pertahanan pria kaku itu mulai goyah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachel Imelda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merger Rumah
Pukul 19.00 tepat. Aruna mengetuk pintu rumah Gavin. Ia tidak lagi memakai piyama wortel, melainkan gaun terusan sederhana berwarna kuning cerah yang membuat wajahnya tampak bersinar.
Pintu terbuka. Gavin berdiri di sana dengan kemeja hitam yang kancing atasnya dibuka - sebuah pemandangan langka yang hampir membuat Aruna lupa cara bernapas.
"Mas... Mas nggak mau audit baju aku dulu?" canda Aruna.
Gavin menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ada jeda panjang sebelum ia menjawab, "Tidak perlu. Secara estetika, Anda.... sudah berada di titik maksimal malam ini."
Meja makan sudah tertata seperti restoran bintang lima. Sendok, garpu dan pisau tertata sejajar dengan penggaris. Namun, di tengah meja, ada sesuatu yang membuat Aruna terharu: sebuah vas kecil berisi bunga matahari, bunga kesukaan Aruna.
"Bunga ini... nggak masuk dalam daftar barang kontaminasi?" goda Aruna.
"Sudah saya semprot dengan cairan pengawet organik," jawab Gavin sambil menarikkan kursi untuk Aruna.
Makan malam berlangsung dengan suasana yang jauh lebih hangat. Gavin mulai bercerita tentang betapa beratnya menjadi anak yang selalu di tuntut sempurna, dan Aruna bercerita tentang kegagalannya di masa lalu yang membuatnya takut akan komitmen -sampai ia menemukan tetangga yang paling menyebalkan sedunia.
Saat makanan penutup disajikan, suasana berubah menjadi sangat intim. Lampu ruang makan yang temaram dan musik jazz pelan (yang sudah melewati filter desibel Gavin) membuat segalanya terasa sempurna.
"Runa," panggil Gavin pelan. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Aruna.
"Ya, Mas?" jawab Aruna deg-degan.
"Terima kasih karena sudah menjadi 'anomali' dalam hidup saya. Tanpa kekacauan yang kamu bawa, saya mungkin hanya akan menjadi mesin yang lupa cara merasa."
Gavin mengulurkan tangan, menggenggam jemari Aruna di atas meja. Kali ini, tidak ada pengukur laser atau sarung tangan lateks. Hanya ada kulit yang bersentuhan, mengirimkan sengatan listrik yang membuat keduanya terdiam.
Gavin berdiri perlahan, memutari meja, dan berhenti tepat di depan Aruna. Ia mengulurkan tangannya, mengajak Aruna berdiri. Saat mereka berdiri berhadapan, Gavin melepaskan kacamatanya, menaruh di meja. Tanpa kacamata, tatapan Gavin terlihat sangat lembut dan jujur.
"Boleh saya melakukan sesuatu yang tidak ada dalam prosedur tetap saya?" bisik Gavin.
Aruna mengangguk kecil, jantungnya berdegup kencang. Selama itu nggak perlu laporan tertulis ke Pak RT, boleh."
Gavin tersenyum tipis - senyum tulus pertama yang pernah Aruna lihat - lalu perlahan ia menunduk dan mengecup kening Aruna dengan sangat lama. Sebuah ciuman yang penuh hormat, penuh perlindungan, dan penuh janji bahwa mulai sekarang, mereka akan menghadapi setiap "daun mangga" kehidupan bersama-sama.
Setelah itu, Aruna kembali ke rumahnya. Dia berjalan dengan sangat ringan. Seolah- olah beban berat yang ada di pundaknya sudah terangkat.
Sampai dalam kamarnya, Aruna tidak langsung tertidur. Dia duduk di depan meja riasnya memandangi wajahnya. Dia memegang keningnya yang tadi di cium oleh Gavin. Rasanya bibir lembut Gavin masih menempel di pelipisnya.
Aruna memejamkan mata sambil tersenyum kecil. Debaran di dadanya masih sangat terasa. Apalagi saat dia mengingat perlakuan manis Gavin padanya.
"Ah, ternyata dia bisa romantis juga." gumam Aruna.
Akhirnya dia pun membersihkan dirinya, mengganti gaunnya dengan piyamanya lalu tertidur dengan bahagia.
******
Keesokan paginya, ketika Aruna sedang menyiram tanaman di halamannya, tiba-tiba sebuah suara membuatnya kaget.
"Ciee yang semalam abis Dinner. Udah nggak musuhan lagi nih ceritanya?"
Aruna memalingkan wajahnya ke arah suara tersebut, ternyata Bu Tejo yang menghidangkan
"Ih, apaan sih, Bu Tejo?" jawab Aruna, wajahnya memerah.
"Udah nggak mau cari dukun lagi buat tetangga garis kerasnya?" tanya Bu Tejo lagi.
Komentar bu Tejo adalah bumbu penyedap paling tajam di kompleks Perumahan Harmoni. Dengan daster batik dan selang air di tangan (yang kali ini benar-benar menyala), ia sudah siap dengan sesi interogasi pagi yang lebih mendalam daripada audit manapun
"Aduh, Mbak Runa," lanjut Bu Tejo dengan nada bicara yang naik dua oktaf. "Jangan merah gitu dong mukanya. Kemarin saya lihat Mas Gavin dandan rapi banget. Wangi parfumnya kucium sampe ke rumah saya yang beda tiga blok. Pakai kemeja item, ya kan? Yang kencingnya dibuka dikit?"
Aruna pura-pura sibuk menyemprot daun mangga. "Kebetulan aja itu, Bu. Mas Gavin cuma bantu saya...membuat laporan keuangan toko."
"Laporan keuangan toko kok pakai bunga matahari di atas meja?" Sahut Bu Tejo sambil tertawa renyah. "Saya lihat dari celah jendela saya, itu vas bunganya di letakkan pakai penggaris, ya? Tapi cara dia narik kursi buat Mbak Runa itu lho... duh. Kayak adegan drama korea 'Audit in Love'!!"
Tiba-tiba pintu sebelah rumah terbuka. Gavin keluar dengan kaos polo abu-abu yang - tentu saja- simetris sempurna. Ia berhenti sejenak, menatap Bu Tejo, lalu menatap Aruna.
"Selamat pagi, Bu Tejo," sapa Gavin datar. "Suara tawa Anda pagi ini mencapai 75 desibel! Secara teknis, itu melampaui batas kebisingan lingkungan perumahan di jam istirahat."
Bu Tejo tidak takut, malah semakin bersemangat. "Aduh, Mas Gavin! Pagi-pagi sudah hitung desibel! Gimana semalam? Masakan Mbak Runa enak? Atau Mas Gavin yang masak pakai timbangan digital supaya bumbunya pas nol koma sekian miligram?"
Gavi terdiam sejenak. Ia melirik Aruna yang sedang berusaha keras menyembunyikan wajah di balik dahan pohon mangga.
"Menu semalam telah memenuhi standar gizi empat sehat lima sempurna, Bu," jawab Gavin tanpa ekspresi, walau telinganya mulai berubah warna menjadi merah muda. Dan Mbak Aruna adalah tamu yang... sangat kooperatif terhadap protokol makan malam saya."
"Kooperatif atau bikin baper, Mas?" goda Bu Tejo sambil menyemprot kaki kucing yang lewat.
Aruna akhirnya menyerah dan mematikan keran air. "Bu Tejo, udah ah. Jangan digodain terus. Nanti Mas Gavin kirim surat peringatan ke rumah Ibu gara-gara 'interferensi urusan pribadi!"
"Bukan surat peringatan, Runa," potong Gavin tiba-tiba.
Aruna dan Bu Tejo menoleh serempak. Gavin berjalan mendekati pagar pembatas, menatap Aruna dengan tatapan yang lebih hangat daripada biasanya.
"Saya justru sedang menyiapkan draf baru untuk grup WA warga, " kata Gavin pelan.
"Draf apa, Mas?" tanya Aruna penasaran.
"Usulan penggabungan dua lahan teritorial," jawab Gavin sambil menunjuk ke arah pagar pembatas mereka. "Secara administratif, pagar ini tidak efisien. Jika kita bongkar, sirkulasi udara, dan... ruang gerak hati akan lebih luas."
Bu Tejo langsung histeris kegirangan. WADUH! KODE KERAS! PAK RT! PAK RT!! Ada yang mau merger rumah nih!!"
Aruna melongo, jantungnya kembali melakukan marathon seperti semalam. Sementara Gavin hanya memperbaiki posisi kacamata, menyembunyikan senyum tipis yang sangat langka, dan masuk kembali ke rumah untuk mengambil penggaris lasernya -mungkin kali ini untuk mengukur jarak menuju pelaminan.
Bersambung....