Yang Chen berjalan di jalan yang penuh dengan bahaya dan lautan darah. meski jalan yang ia lalui penuh dengan bahaya yang bisa sewaktu-waktu merenggut nyawanya namun ia tetap teguh menghadapinya. hal ini dilakukan untuk menjadi kuat demi melindungi apa yang berharga baginya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon B.O.B, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 11. empat orang misterius
Kelompok itu terdiri dari satu orang kakek tua dengan wajah keriput, tapi ia memiliki tubuh yang tegap dan fisik yang kuat membuat ia tidak tampak seperti kakek tua. Sorot matanya yang masih tajam dan aura kuat yang menyelimutinya membuat ia terlihat sangat mengesankan.
Yang Chen menyipitkan matanya saat ia tidak bisa merasakan kultivasi dari kakek tua itu.
Ada juga dua pemuda yang terlihat masih 16 atau 17 tahun, mereka memakai pakaian berwarna putih dan ada lambang api merah dipakaian mereka berdua.
Berbeda dengan kakek tua itu, kultivasi mereka berdua langsung dirasakan oleh Yang Chen, yang berada di tahap mistik tingkat 5.
Saat melihat kakek Wu dan Ye Ting Yun, mereka berdua terlihat sopan dan menghormati mereka berdua. Tapi begitu pandangan mereka berdua tertuju pada Yang Chen, seketika wajah mereka berubah sambil menatap dengan wajah meremehkan.
Yang Chen merasakan tatapan kedua pemuda itu tapi Yang Chen berusaha untuk tidak mempedulikan mereka.
Dan terakhir ada seorang pemuda yang terlihat berusia sekitar 14 tahun. Pemuda itu terlihat cukup menawan ditambah dengan pakaian yang indah membuat ia terlihat sangat menarik perhatian.
Ia juga berpakaian sama dengan dua rekannya yang yang berwarna putih dan ada lambang api di merah terpasang jelas di jubah putihnya. Namun pakaiannya terlihat lebih indah karena dipasang berbagai pernak pernik yang cantik.
Tapi pemuda itu hanya melihat Kakek Wu dan Ye Ting Yun tanpa melirik sedikitpun pada Yang Chen.
" Oh itu ternyata saudara Yan Zong dan tuan muda Yan Yi. Sungguh tidak disangka akan bertemu dengan kalian." Ucap kakek Wu pada kakek tua dan pemuda yang terlihat berusia 14 tahun itu.
Ye Ting Yun hanya menundukkan sedikit kepalanya pada Yan Zong tanpa menyapa ketiga pemuda dihadapannya.
" Nona Ye Ting Yun masih cuek dan pendiam seperti biasanya." Melihat Ye Ting Yun tidak menyapanya membuat Yan Yi tidak tersinggung dan hanya tersenyum kecil.
Mendengar perkataan Yan Yi, Ye Ting Yun masih diam saja dan mengalihkan pandangannya.
" Hehe anak muda memang suka berbuat seenaknya." Ucap kakek Wu yang berusaha mencairkan suasana.
" Itu benar, terkadang memang sangat susah mengatur anak-anak ini." Ucap Yan Zong sambil tersenyum kecil.
" Tidak biasanya saudara Yan Zong akan pergi ke tempat sejauh ini, aku rasa kalian sedang melakukan misi yang sangat penting sampai mengharuskan anda sendiri yang harus pergi." Wajah kakek Wu masih tampak biasa saja tapi sorot matanya sedikit berubah.
" Haha sayang sekali itu tidak benar, kami hanya sedang keluar untuk membantu anak ini terbiasa hidup di dunia luar dan mencari pengalaman untuk mereka." Jawab Yan Zong sambil tersenyum kecil tapi sorot matanya juga mulai berubah tajam.
" Lalu bagaimana dengan kamu Wu fang, yang tidak biasanya juga berada ditempat yang sangat jauh dari rumah kalian. Apakah kalian sedang mengikuti kami." Ucap Yan Zong dengan wajah ramah seperti biasanya.
" Haha saudara Yan Zong memang suka bercanda, kami hanya berpetualang saja sambil mengenalkan cucuku Ye Ting Yun di dunia luar." Jawab kakek Wu dengan santai.
" Oh jadi begitu, haha kalau begitu ini sudah seperti takdir." Ucap Yan Zong
" Aku juga berpikir demikian." Jawab kakek Wu.
Percakapan mereka seperti dua teman baik yang hanya mengobrol ringan saja, tapi Yang Chen bisa merasakan dari melihat sorot mata kakek Wu dan Yan Zong yang tiba-tiba berubah membuat, ia berkesimpulan kalau ada semacam perselisihan antara mereka.
Namun mereka tidak secara langsung menunjukkan itu, entah apa alasannya.
Akhirnya Kakek Wu menawarkan mereka untuk makan bersama mendengar kalau mereka juga akan makan di paviliun ini.
Merasakan tatapan kedua pemuda yang terlihat tidak senang makan bersama Yang Chen dan juga Ye Ting Yun masih mengabaikan Yan Yi walaupun ia telah berusaha untuk mengobrol dengannya, hal ini membuat Yang Chen tidak nyaman sehingga ia tidak bisa menghabiskan makanannya.
Setelah selesai makan, kakek Wu kemudian hendak undur diri. " Kalau begitu kamu akan kembali lebih dulu, semoga saudara Yan Zong bisa menemukan apa yang sedang anda cari."
" Hehe, anda juga demikian saudara Wu fang." Balas Yan Zong sambil tersenyum ramah.
Disitu Ye Ting Yun langsung berdiri terlebih dahulu lalu segera menarik lengan Yang Chen.
" Yang Chen, ayo kita pergi."
Sikap Ye Ting Yun yang tiba-tiba ramah padanya padahal sebelumnya ia terlihat sangat cuek padanya membuat Yang Chen dibuat keheranan.
Tapi Yang Chen tetap berdiri dan ikut pergi bersama Ye Ting Yun.
Melihat sikap Ye Ting Yun yang terlihat dekat dengan dengan Yang Chen membuat ketiga pemuda itu terlihat terkejut dan juga tidak senang.
Terutama Yan Yi yang menatap Yang Chen dengan tatapan tajam.
Merasakan tatapan dari ketiga pemuda itu, membuat Yang Chen hanya menghela nafas dan berkata dalam hatinya, " sepertinya aku akan mendapatkan masalah dari hal ini."
Kemudian tiba-tiba Kakek Wu juga berjalan pergi menyusul Ye Ting Yun dan Yang Chen.
Setelah keluar dari paviliun, Ye Ting Yun kemudian melepaskan diri tangannya dari lengan Yang Chen tanpa berkata sepatah kata pun.
Yang Chen ingin bertanya mengenai sikap Ye Ting Yun tadi, tapi melihat wajah Ye Ting Yun yang kembali dingin membuat ia mengurungkan niatnya.
Setelah berjalan beberapa saat, akhirnya mereka memutuskan untuk menyewa sebuah kamar untuk tempat peristirahatan mereka.
Mereka menyewa tiga kamar, Yang Chen kemudian masuk kamarnya. Tapi Ye Ting Yun malah masuk ke kamar kakek Wu.
Saat hanya mereka berdua didalam kamar, kakek Wu langsung melepaskan energi roh yang menyelimuti kamarnya sehingga percakapan mereka tidak bisa didengar oleh orang diluar kamarnya.
" Kakek, melihat adanya tuan Yan Zong Disni, sepertinya kabar itu memang benar." Ucap Ye Ting Yun.
" Aku juga berpikir demikian, kalau begitu kita harus menemukan tempat itu terlebih dahulu." Ucap kakek Wu.
" Lalu tunggu apa lagi, kita harus segera bergerak." Ucap Ye Ting Yun.
" Kamu tahu sendiri, kita kekurangan informasi sehingga kita harus mencari informasi terlebih dahulu sebelum bergerak." Ucap kakek Wu.
" Untuk itu kita harus segera pergi mencari informasi, bukannya malah menemani sebuah pemuda desa ke pelelangan." Ucap Ye Ting Yun yang yang tidak senang dengan keputusan kakek Wu untuk menemani Yang Chen ke pelelangan.
" Aku tidak pergi kesana hanya menemani Yang Chen, tapi kita disana juga mencari informasi." Ucap kakek Wu.
" Bagaimana bisa kita mendapatkan informasi di tempat pelelangan kecil itu?" Ucap Ye Ting Yun yang masih tidak mengerti sikap kakeknya.
" Orang-orang dari pelelangan mencari harta ke berbagai tempat untuk mereka lelang sehingga jaringan informasi dari orang-orang disana jauh lebih akurat. Jadi kemungkinan kita bisa mendapatkan informasi penting disana." Ucap kakek Wu.
" Jadi begitu." Setelah dijelaskan, akhirnya Ye Ting Yun mengerti dan setuju dengan keputusan kakeknya untuk ke pelelangan.
Keesokan harinya mereka bertiga berangkat bersama menuju ke pelelangan.
Di depan gedung pelanggan, ada banyak orang yang sedang masuk ke dalam gedung pelanggan sehingga suasana disana menjadi sangat hidup.
gedung pelanggan sangat besar sehingga cukup bisa menampung banyak orang.
Saat mereka masuk ke dalam, dekorasi didalam sangat indah dan megah membuat orang disana memujinya.
Ada ratusan kursi di lantai satu yang telah di sediakan dan didepannya ada panggung tempat di pamerkannya barang yang akan di lelang.
Ye Ting Yun tidak sama sekali melirik lantai satu dan malah langsung naik ke lantai dua tempat dimana tamu VIP di jamu.
Mereka harus membayar 500 batu roh tingkat rendah, tapi bagi ye Ting Yun itu bulan apa-apa yang baginya.
Di ruang VIP, ada sebuah kursi besar dan tempat duduknya sangat lembut terasa sehingga terasa nyaman duduk disana.
Di depan mereka ada meja besar dengan berbagai makanan mewah dan minuman arak yang beraroma wangi.
Tanpa banyak bicara, ye Ting Yun dan kakek Wu langsung duduk disana, melihat itu Yang Chen akhirnya juga ikut duduk.
Sebelum pelelangan dimulai, Yang Chen menyerahkan bunga anggrek darah untuk dilelang, ia bermaksud menggunakan hasil menjual bunga anggrek darah untuk membeli senjata baru.
Kakek Wu menyuruh Yang Chen untuk menunggu mereka berdua sebentar disini, karena mereka ingin menemui seseorang.
Yang Chen tidak masalah menunggu disana sebentar sehingga ia mempersilakan mereka untuk pergi.
Dan tidak lama kemudian mereka kemudian kembali ke tempat Yang Chen.
Setelah menunggu beberapa waktu, akhirnya pelelangan dimulai.
Benahi dulu susunan kata dalam kalimat dan penggunaan kata. Pakailah bahasa Indonesia jangan pakai bahasa Inggris. Semoga karya novel ini meraih kesuksesan. Amiin 🤲