NovelToon NovelToon
Monarch: The King Who Refused To Die

Monarch: The King Who Refused To Die

Status: sedang berlangsung
Genre:Kelahiran kembali menjadi kuat / Action / Perperangan / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Sistem / Fantasi
Popularitas:224
Nilai: 5
Nama Author: Sughz

Ia pernah menjadi Monarch—penguasa yang berdiri di puncak segalanya. Namun pengkhianatan merenggut tahtanya, menghancurkan kerajaannya, dan memaksanya mati berulang kali dalam siklus reinkarnasi yang panjang. Selama ratusan kehidupan, ia menunggu. Menunggu para bawahannya yang tersebar, tertidur, atau tersesat di berbagai dunia. Di kehidupan terakhirnya, saat tubuhnya menua dan kematian kembali mendekat, sebuah system akhirnya terbangun—bukan ciptaan dewa, melainkan jelmaan dari salah satu rekan lamanya. Dengan kematian itu, sang raja kembali terlahir, kali ini di dunia yang sama… namun telah berubah drastis dalam beberapa ratus tahun.

Dunia yang ia kenal telah runtuh, kekaisaran bangkit dan jatuh, gereja menguasai kebenaran, dan para dewa mengawasi dari kejauhan. Dengan system yang setia di sisinya dan ingatan dari kehidupan-kehidupan sebelumnya, sang Monarch memulai perjalanannya sekali lagi: membangkitkan bawahan yang tersisa, membangun kekuatan dari bayang-bayang, dan menuntut balas atas pengkhianatan lama yang belum lunas. Ini bukan kisah pahlawan yang diselamatkan takdir—ini adalah kisah seorang raja yang menolak mati sebelum dunia membayar hutangnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sughz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch.14. The First Contract

Setelah melakukan perjalanan lima hari, rombongan Theo akhirnya bisa melihat desa di seberang sungai.

“Setelah menyeberang jembatan itu, kita akan masuk desa Oakrest,” ucap Edrin. “Kita akan singgah untuk istirahat, dari desa ini sampai kerajaan Morvain hanya butuh waktu tiga sampai empat hari.” dia memberikan informasi itu kepada Theo.

Theo hanya mengangguk.

Setelah melewati perjalanan dengan Theo, Edrin menjadi lebih aktif untuk berbicara pada Theo. Dia memberi tahu Theo berbagai informasi tentang aturan dan larangan yang ada.

Gerobak mereka menyeberangi jembatan, berpas-pasan dengan gerobak dan kereta dari pedagang lain. Dan di bawahnya, sungai besar mengalir dengan deras.

‘Lily, dari informasi dari Edrin. Bukankah dunia ini sangat kacau? Bahkan aturan dunia atas tidak terlalu seketat di sini’ ucap Theo, dia memperhatian semua orang yang lewat.

[TING]

“Saya rasa sama saja.”

Theo tertawa kecil.

‘Yah, kau benar juga.’

Rombongan Theo sampai di pos penjaga, mereka harus memeriksa identitas saat ingin masuk ke dalam desa.

Mereka masuk dengan lancar.

“Bukankah wajah para prajurit tadi sedikit tegang, seisi desa juga terlihat tidak seperti biasanya, bukankah prajurit bayaran di sini terlalu banyak” ucap Edrin pada semua orang.

Semua orang baru sadar setelah mendengar itu.

“Yah, mungkin mereka semua sedang melakukan kontrak pengawalan sekarang,” ucap Derrik.

“Bukankah jumlah terlalu banyak, ayah?” tanya Melric.

“Jangan terlalu dipikirkan, kita cari penginapan dulu. Dan cari informasi dari sana,” jawab Derrik, memacu kudanya sedikit lebih cepat.

.

Setelah kuda mereka diistirahatkan, rombongan Theo memasuki kedai makan yang ramai. Suara orang makan dan tertawa memenuhi ruangan—namun beberapa orang berbicara dengan nada gelisah.

Makanan mereka diantar dengan cepat.

“Akhirnya aku bisa merasakan makanan yang layak setelah beberapa hari,” ucap Melric, menyantap makanannya.

“Yah, setelah beberapa hari hanya memakan daging serigala. Akhirnya aku bisa merasakan daging sapi sekarang,” timpal Edrin.

Mereka bertiga menyantap makanan dengan semangat.

Tapi disisi lain Theo memandangi sesuatu di meja sebelah—seorang pria meneguk alkohol dari gelasnya.

Derrik yang sadar Theo tidak menyentuh makanannya, menatap dengan penasaran.

“Tuan Ash, apa anda tidak menyukai makanannya?” tanya Derrik.

Theo yang mendengar itu tersadar dari lamunannya.

“Ah, ti-tidak, aku sangat menyukainya,” jawab Theo, mulai memakan makanannya.

‘Sial, aku sangat ingin minum alkohol,’ gumamnya dalam hati, matanya melirik lagi ke meja sebelah.

“Hei, apa kalian dengar, beberapa orang sedang membahas tentang gangguan monster yang mengganggu jalur perdagangan,” ucap Edrin berbisik, membuat Derrik dan Melric mulai memperhatikan suasana sekitar.

Theo masih menikmati makanannya.

“Apa ada hal yang terjadi?” tanya Melric.

“Permisi tuan-tuan,” ucap seseorang mendekati kelompok Theo.

Mereka bertiga menolehnya.

Seorang pria seumuran Melric dengan pakaian prajurit bayaran berdiri di belakang Theo—tersenyum dengan ramah.

“Ada apa?” tanya Derrik.

“Maaf mengganggu makan kalian, aku ada perlu dengan pengawal kalian,” ucap pria itu.

“Pengawal?” tanya Derrik bingung, lalu menatap Theo. “Ah, dia bukan pengawal kami.”

Theo masih melanjutkan makannya.

“Oh, benarkah. Itu akan lebih baik, jadi dia tidak teikat kontrak dengan kalian, kan” ucapnya, lalu duduk di sebelah Theo. “Kami sedang kekurangan orang untuk menjadi porter, apa kau berminat?” tanyanya pada Theo.

Theo yang melihat pria itu duduk sembarangan langsung menoleh.

“Apa kau bicara padaku?”

Pria itu mengangguk.

“Kami akan memberikan bayaran yang lumayan,”

“Kami?” tanya Theo.

“Yah, rekan-rekanku di sebelah sana,” pria itu menunjuk sudut ruang. Tampak tiga orang sedang duduk melihat ke arah Theo.

“Memang apa yang akan kalian lakukan?” tanya Edrin.

“Kami akan melakukan pembersihan monster di jalur perdagangan,” jawab pria itu.

“Monster jenis apa?” tanya Melric.

“Entahlah, karena beberapa orang tidak ada yang kembali saat mencoba membersihkannya,”

Mendengar itu mereka jadi penasaran.

“Bukankah itu berarti monster yang cukup kuat?” tanya Derrik sedikit ketakutan.

“Ah, tidak, karena kontrak kerjanya hanya di tingkat perunggu, mungkin hanya segerombol Feral Wolf atau Stoneback Boar, jadi kurasa bukan masalah untuk kelompok dengan empat orang, mereka yang tidak kembali selalu berangkat sendiri,” jelas pria itu.

“Jadi kami membutuhkan porter untuk membawa sisa dari mayat mereka,” ucapnya, melihat Theo. “Jadi bagaimana, apa kau mau ikut?”

Derrik mencoba menjelaskan sesuatu.

“Tung....”

“Yah, aku akan ikut. Kapan kita berangkat?” ucap Theo.

Pria itu tersenyum senang.

“Kami akan berangkat saat malam, kami akan menunggumu di gerbang desa,” jelas pria itu. “Ah, kau bisa memanggilku Rovan, siapa namamu?”

“Ash,” jawab Theo singkat.

“Baiklah, sampai jumpa nanti Ash,” ucap Rovan melangkah pergi.

Theo melanjutkan makannya.

“Apa kau benar tak apa dengan ini tuan?” tanya Derrik khawatir.

Theo mengangguk.

“Yah, aku juga ingin belajar bagaimana prajurit bayaran di dunia ini bertarung.” ucap Theo.

Derrik dan yang lain hanya bisa diam mendengar itu, melanjutkan makan mereka.

.

.

Malam datang, suasana desa terlihat sepi daripada tadi sore.

Di gerbang desa terlihat lima orang berdiri dengan membawa senjata, menunggu seseorang.

Tak lama, Theo berjalan pelan mendekat.

“Apa kalian menunggu lama?”

“Ah, tak apa Ash. Kami yang memintamu, maaf mengganggu saat kau ingin istirahat,” ucap Rovan dengan ramah.

“Kemarilah aku akan mengenalkanmu pada yang lain,” merangkul Theo.

“Pria dengan kapak di sana adalah Halden, dan pria dengan tombak itu Kess, lalu wanita dengan busur itu bernama Mira, dia adalah yang temuda di sini.” jelas Rovan.

Theo hanya menunduk menyapa mereka semua.

“Berapa usiamu Ash?” tanya Mira tiba-tiba.

“Sepuluh tahun,” jawab Theo dengan cepat.

Mendengar jawaban Theo semua orang terbelalak, tak percaya mereka mengajak anak kecil untuk perburuan.

“Apa kau gila Rovan? Bagaimana bisa kau mengajak seorang bocah untuk ikut kita!!!” hardik Halden, pria dengan tubuh besar dan kapak tergantung di belakangnya.

“A-apa dia terlihat seperti umur sepuluh tahun bagimu? Akh sialan!!” ucap Rovan kesal. Menutupi wajahnya.

“Jadi bagaimana sekarang? Apa kita batalkan hari ini?” tanya Kess.

“Tidak bisa, kalau tidak sekarang kontraknya akan selesai oleh orang lain,” jawab Rovan, lalu menatap Theo. “Hei, Ash, apa kau sungguh bisa ikut dengan kita?”

Theo yang sedari tadi diam, hanya mengangguk.

“Aku hanya perlu menjaga jarak saat kalian bertarung, kan?” tanya Theo dengan wajah polosnya.

“Baguslah kalau kau mengerti, tenanglah... kami semua ada ditingkat Adept. Jadi kami pasti bisa menyelesaikan dengan cepat,” ucap Rovan.

Theo hanya mengangguk.

“Baiklah kita berangkat sekarang.” ucap Rovan, menyerahkan tas pada Theo.

Lalu mereka berlima melangkah pergi meninggalkan desa.

.

Di padang rumput luas, telihat banyak mayat berserakan, mayat mereka di koyak oleh gerombolan monster.

Beberapa orang yang masih bernapas menyeret tubuh mereka untuk kabur, tapi monster itu langsung menerkam tubuh mereka.

Lolongan serigala terdengar dari seluruh arah.

.

.

Theo dan kelompok Rovan berjalan pelan melewati jalanan.

Mereka berempat sudah menghunuskan senjata masing-masing. Berjalan dengan posisi berbaris, dengan Theo di tengah mereka dan Rovan di posisi belakang.

Sejak mendekati lokasi dari yang di sebut dikontrak, mereka semua sudah mencium bau darah dari kejauhan. Dan saat mendekati padang rumput, bau darah semakit pekat, membuat mereka semakin waspada.

Hanya Theo yang berjalan dengan santai.

‘Lily, apa aku harus membantu mereka nanti?’ tanya Theo.

[TING]

“Apa anda ingin membantu mereka?”

‘Tidak’ jawab Theo cepat.

Suara lolongan serigala terdengar semakin dekat.

Akhirnya mereka keluar dari jalur utama lalu menyusuri padang rumput yang luas, dan saat sampai di bagian tengah padang rumput mereka sangat terkejut melihat pemadangan di depan. Mereka berempat mematung, melihat banyak mayat berserakan dengan daging yang terkoyak.

Belum selesai dengan keterkejutan mereka, suara raungan terdengar dari seluruh arah.

Lalu satu persatu Feral Wolf muncul mengeliling mereka. Dan diantara mereka ada satu serigala bertubuh besar dengan bulu abu-abu yang lebat melangkah pelan. Matanya berwana merah menyalah, taring dan cakarnya seakan siap mengoyak siapapun, dari mulutnya menetes darah dan liur.

“Si-sial, bagaimana bisa ada Grimhowl di sini?” ucap Rovan ketakutan, suara dan kakinya bergetar saat melihat serigala itu.

Ketiga orang lainnya, juga merasakan hal yang sama, melihat dua puluh Feral Wolf mengelilingi mereka.

Theo masih berdiri dengan tenang, menatap serigala itu.

‘Lily, bukankah dia hanya serigala biasa?’

[TING]

“Apa saya harus menjawab itu tuan?”

Grimhowl dan gerombolan Feral Wolf masih diam di tempatnya. Seakan ingin mempermainkan mangsa mereka.

“Ah, sialan... bagaimana ini... apa kita semua akan mati di sini” ucap Mira, wajah paniknya tak bisa disembunyikan.

“Salah satu dari kita harus ada yang selamat, dan melaporkannya pada prajurit penjaga,” ucap Halden, lalu mentap Theo. “Hei, bocah, kita akan membukakan jalan. Kau harus lari sekuat tenaga untuk sampai ke desa.”

“Benar apa yang dikatakan Halden, salah satu dari kita harus selamat untuk melaporkannya pada prajurit penjaga,” ucap Kess.

‘Hooo, lihat mereka,’

Theo tersenyum kecil.

“Hei bocah, ini bukan saatnya tertawa!!!” hardik Halden.

“Ah, maaf” ucap Theo.

“Baiklah kita akan membukakan jalan untukmu Ash, berlarilah sekuat tenaga sampai ke desa,” ucap Rovan. “Maaf karena menyeretmu ke sini,” nada Rovan penuh dengan penyesalan.

Theo yang melihat itu merasa kasihan pada mereka.

Tapi tanpa di aba-aba, satu Feral Wolf menyerang mereka dari sisi kiri.

Kess yang berdiri dengan masih ketakutan tak siap menerima serangan itu, mulut Feral Wolf itu menutup—tangan kiri Kess menghilang bersamaan semburan darah.

“AARRRGGHHHHH!!!!” teriak Kess kesakitan mencoba menjauh dari serigala itu

“KESS!!!” teriak Mira, busur sudah terlepas dari tangannya.

Dan di sisi lain, Halden juga mendapat serangan dari dua Feral Wolf, tapi dia masih bisa menanganinya meski dengan susah payah—satu Feral Wolf mati

Rovan masih mencoba melindungi Theo, dengan ketakutan.

Gerombolan serigala itu semakin bersemangat saat melihat darah dari Kess. Geraman mereka semakin kencang, lolongan Grimhowl menggema ke udara.

Mira sudah terduduk lemas.

Kess mencoba menghindari terjangan dari Feral Wolf lain.

Rovan dan Halden masih mencari cara untuk membuka jalan untuk Theo.

Melihat itu semua, Theo menarik napasnya lalu meletakkan tas ke tanah.

“Hei Rovan, kau harus membayarku lebih untuk ini.”

Mendengar itu Rovan dan Halden menoleh ke Theo, tapi dia sudah menghilang dari tempatnya berdiri.

Tepat sebelum Kess diterjang oleh Feral Wolf, Theo menendang rahang serigala itu lalu mengeluarkan belati dari cincin dan menebas kepala Feral Wolf itu dengan cepat.

Darah meyembur kemana-mana, Theo menatap Rovan.

“Dan rahasiakan apapun yang kau lihat.”

.

.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!