Ellena adalah sosok gadis yang mandiri, kuat, keras kelapa, sedikit kasar, namun hatinya baik dan murah hati. Ellena sangat sering membantu teman-teman di daerahnya yang kurang mampu.
Ia dibesarkan dari sepasang suami istri yaitu Papa dan Mamanya, yang memulai hidup berumah tangga dari O saat mereka menikah, sampai mereka membuka bisnis dan hidup berkecukupan.
Masa pertumbuhan Ellena, ia mendapat didikkan yang sangat keras oleh Papanya. Karenaa banyaknya pengalaman saat merantau semasa muda, menjadikan Papa Ellena sangat keras dalam mendidik anak-anaknya. Begitu juga dengan Ibunya yang menjadi guru SD dan SMP didaerahnya. Ia adalah wanita mandiri.
Papa Ellena sering melayangkan tangan, kaki, barang atau pun dengan ucapan yang keras dan kasar kepada Ellena dan Mamanya.
Ellena memilih satu Adik laki-laki yang sangat di sayangi oleh Papanya. Dibanding terbalik dengan Ellena.
Karena semua itu, bertahun-tahun lamanya, Ellena memendam kebencian terhadap Papanya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hellena24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. Sudah Siap Bakti Sosial
Gadis berbadan mungil terlihat sedang sibuk membongkar barang-barang belanjaan nya dari beberapa kantong kresek berwarna putih besar itu. Ia juga terlihat sedang memisah-misahkan antara belanjaannya dengan belanjaan milik sahabatnya.
Di samping itu sang sahabat yang sudah berbaring antara kelelahan atau tidak perduli dengan apa yang sedang di lakukan oleh Ellena.
“Es, sudah! Ini barang-barang mu ya…” kata Ellena sambil mendorong kecil tumpukan barang-barang belanjaan kepada Esi yang berbaring di tempat tidurnya dan sedang sibuk mengotak atik handphone nya.
“Iya, simpan aja di situ.” kata Esi menjawab singkat, dengan tatapan mata yang masih fokus di handphone nya.
“Ini tisu basah kan ada tiga pack, kamu bawa satu dan aku bawa satu. Satu pack nya lagi tinggal saja ya, di sini.” kata Ellena lagi.
“Iya benar, tinggal aja tu yang satunya. Aku rasa cukup, kita bawa masing-masing satu pack.” jawab Esi kembali.
Ellena lalu beralih ke lemari pakaian nya. Ellena membuka lemari, tempat ia menyimpan tas-tas. Dan mengeluarkan tas ransel yang besarnya sedang. Dengan satu tas kain, yang cara membawanya di jinjing.
Ellena juga mengambil satu buku dan pulpen, lalu mulai menulis banyak nya hari beserta tanggal kepergian mereka ke desa tempat bakti sosial besok.
‘Jumat, sabtu, minggu. Jumat atasan baju kaos kerah kampus, celana jeans warna bebas. Malam sepasang baju tidur. Sabtu atasan kemeja bebas, celana panjang bebas. Malam minggu, acara api unggun, kaos bebas dan celana panjang bebas. Setelah acara sepasang baju tidur. Minggu pagi atasan kemeja putih, celana panjang dan warna hitam, serta almamater kampus dan topi kampus.’ kata Ellena berucap sendiri, sambil menulis di atas kertas kosong.
“Kamu bawa baju dan celana berapa banyak, Len?” tanya Esi bangun dari baring nya, mengetahui Ellena yang sedang sibuk menulis dan menyiapkan planning, pakaian yang akan ia bawa ke desa tempat mereka bakti sosial besok.
“Ini lagi tulis, Es. Biar gak ada yang lupa dan gak salah nantinya.” jawab Ellena.
‘Baju tidur berarti dua pasang, selimut satu, sarung atau kain Bali satu, handuk satu, sweater atau hoodie satu, topi dua, satu topi bebas dan satu topi kampus , sepatu satu pasang dan sendal jepit satu pasang. Pakaian dalam menyesuaikan.’ kata Ellena lagi menulis, sambil bercakap-cakap.
Esi lalu berdiri dan berjalan menghampiri Ellena yang sedang menulis.
“Jadi ini, yang mau kamu bawa besok?” tanya Esi, menunjuk tulisan di atas kertas Ellena.
“Iya Es, pakaian dalam harus lebih bawa nya ya. Jangan pas-pasan. Soalnya kita gak tahu nanti cuaca di sana bagaimana. Dan juga kita tidak akan sempat untuk nyuci pakaian atau menjemur pakaian. Baju dan celana juga, harus lebihkan satu sampai dua pasang.” kata Ellena kembali menjawab pertanyaan Esi.
“Oke Len, nanti kalau kamu sudah selesai keluarin pakaian nya, yang mau kamu bawa. Catatan mu itu, aku pinjam ya? hehe… Biar gak salah juga!” kata Esi kepada Ellena, dengan mudah dan dengan wajah tanpa beban.
“Em… Iya lah tu…!” jawab Ellena, yang sangat memahami sikap cuek sahabatnya itu.
Ellena mengambil dan mengeluarkan satu persatu pakaian dari lemari, yang sudah sesuai dengan catatannya. Sedangkan Esi sudah kembali lagi berbaring di tempat tidur Ellena dan menatap handphone nya.
Sesudah siap semua, Ellena memasukkan semua pakaian ke dalam tas kain jinjing miliknya. Terlihat muatan tas itu pas dan bulat. Sedangkan tas ransel Ellena gunakan untuk menyimpan semua perlengkapan dan barang-barang di luar dari pada pakaian. Entah kebutuhan mandi, alat dan produk-produk make up miliknya. Serta semua kebutuhan-kebutuhan lain, seperti bahan-bahan makanan ringan milik Ellena.
“Es, aku sudah selesai.” kata Ellena kepada sahabatnya yang masih sibuk dengan handphone nya itu.
Esi kembali duduk di tempat tidur Ellena, untuk melihat barang-barang milik Ellena.
“Sudah ya… Iiiih, aku lagi mager banget. Nanti aja aku packing…” kata Esi melas.
“Iya udah, jangan kemalaman aja. Ini bagimana? Kamu mau ikut aku beli roti?” tanya Ellena kembali kepada sahabatnya itu.
“Iya ayo lah aku temenin, sekalian mau beli makan malam. Aku pengen makan sushi.”
“Iya tapi beli roti dulu ya, tar kalau telat tutup toko nya. Gak punya sarapan anak-anak di bus kita besok.” kata Ellena lagi.
“Iya, Len!” jawab Esi.
\=\=\=\=
Ellena dan Esi sudah kembali dari luar, waktu sudah menujukan pukul 19.23 wib. Ellena dan Esi berniat untuk makan malam bersama di kamar Ellena. Esi membuka bungkusan sushi yang ia beli tadi, begitu juga dengan Ellena yang menurunkan nasi putih dari dalam rice cooker nya dan sayur juga lauk, yang sudah ia masak tadi siang.
\=\=\=\=
Ellena sudah kembali santai di kamarnya, keberangkatan besok sudah siap ia jalankan. Barang-barang yang sudah terpacking rapi di dalam tas sesuai dengan macam barangnya. Ia juga sudah mandi, sudah makan dan sekarang sedang menikmati waktu santainya dengan menonton drama Korea kesukaannya.
Tok Tok… “Ellen!” panggil seseorang dari luar kamarnya.
“Pasti Esi, apa aja tu yang kurang!” kata Ellena dari dalam kamar sambil membuka pintu kamarnya.
“Eh, kamu masih ada tas yang begitu gak?” tanya Esi sambil menunjuk tas kain jinjing milik Ellena, yang Ellena gunakan khusus untuk menyimpan pakaian.
“Tas jinjing itu, maksudnya? Gak ada, ini satu-satunya.” jawab Ellena.
“Walah, aku gak ada tas ni. Tas ransel ku di pakai abang ku kemarin, lupa tadi pikir ada di kamar. Masa aku ke sana bawa koper?!” kata Esi lagi sambil memandang koper milik Ellena, yang terletak di atas lemari.
“Ya gak mungkin lah, ngapain pakai koper. Sibuk lah kamu angkat-angkat nanti di sana. Berat, ribet lagi. Kita kan mau ke hutan, bukan mau ke Bali. Haha…” Ellena menggoda Esi.
“Iya itu makanya.” kata Esi pasrah di goda oleh Ellena.
“Jadi mau gimana? Mau beli tas, yang seperti punya ku?” tanya Ellena kembali.
“Iya yok, dimana cari nya? Masih buka gak ya, toko nya jam segini?” tanya Esi panik.
“Di toko tas lah, masa di warung sayur.” canda Ellena lagi, pada Esi. “Cepatlah siap-siap, masih buka jam segini, tapi tar kalau kelamaan tutup.”
“Iya, tunggu sebentar, ambil dompet sama helm.”
“Oke!” jawab Ellena. “Aku sih tinggal, berangkat aja ni. Cuma cari tas itu kan?” kata Ellena lagi.
“Iya, Len!” jawab Esi yang sambil berjalan naik ke lantai dua.
“Cepat, Es!” kata Ellena lagi menggoda sahabatnya itu.
next next