Chen Kai menyaksikan kehancuran Klan Kristal dengan kedua matanya sendiri.Namun pelakunya bukan musuh… melainkan kakaknya sendiri.
Seolah kematian sekali belum cukup, ia dipaksa tenggelam dalam ilusi—menyaksikan pembantaian itu seribu kali, tanpa bisa berteriak, tanpa bisa mati.
Sejak hari itu, hidup Chen Kai hanya memiliki satu tujuan yaitu balas dendam.Ia menapaki jalan berdarah, mengejar bayangan sang kakak,mengasah kebencian sebagai kekuatan untuk bertahan hidup.
Namun, semakin dekat ia pada kebenaran,semakin retak keyakinannya.Karena di balik pembantaian Klan Kristal,tersimpan rahasia yang tak pernah ia bayangkan—sebuah kebenaran yang mungkin akan menghancurkan dendam itu sendiri.
Saat semuanya terungkap…
siapakah sebenarnya yang pantas disebut monster?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Sang Buronan dan Sumpah di Bawah Langit Kelabu
Pagi hari setelah malam berdarah di reruntuhan Klan Kristal, Kekaisaran Langit tidak lagi sama. Kabar itu meledak seperti badai yang menghancurkan kedamaian. Poster-poster baru ditempel di setiap sudut kota, gerbang sekte, hingga papan pengumuman akademi paling terpencil.
Di tengah poster itu, terdapat lukisan wajah seorang pemuda dengan tatapan yang mampu membekukan nyawa.
MAKLUMAT KEKASIRAN: BURONAN TINGKAT S (HIDUP ATAU MATI)
Nama: Chen Kai (Eks-Murid Akademi Kekaisaran Langit)
Kejahatan: Membelot ke Faksi Iblis, Pembantaian Pasukan Penjaga Perbatasan, dan Penggunaan Ilmu Hitam Terlarang.
Hadiah: 500.000 Koin Emas dan Gelar Bangsawan Tinggi.
Dunia gempar. Sosok yang kemarin dipuja sebagai pahlawan masa depan, kini menjadi musuh publik nomor satu. "Iblis Kristal Hitam," begitu orang-orang menyebutnya sekarang. Nama Chen Kai bukan lagi simbol harapan, melainkan dongeng horor yang digunakan orang tua untuk menakuti anak-anak mereka agar segera tidur.
Di sudut sebuah apotek kecil di dalam akademi, Lin Xia berdiri terpaku menatap poster itu. Tangannya yang masih terbalut perban akibat luka semalam bergetar hebat. Namun, ada yang berbeda dari matanya. Kesedihan yang mendalam itu tidak lagi kosong; kini ada api kecil yang menyala di baliknya.
Beberapa murid senior lewat dan meludah ke arah poster Chen Kai. "Sampah! Beraninya dia mengkhianati kaisar. Jika aku bertemu dengannya, aku akan memenggal kepalanya sendiri!"
Lin Xia mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya menusuk telapak tangannya. "Kalian tidak tahu apa-apa." batinnya tajam.
Ia berjalan menuju kantor Penatua Penguji. Langkahnya mantap, tidak ada lagi keraguan atau rasa malu yang biasanya menghambatnya. Di depan Master Feng dan para petinggi akademi, Lin Xia berlutut, namun kepalanya terangkat tinggi.
"Penatua, saya memohon izin untuk mengundurkan diri dari jalur tabib murni." ucap Lin Xia, suaranya bergema di seluruh aula.
Master Feng mengernyitkan alis. "Lalu apa yang ingin kau lakukan, Lin Xia? Tanpa Chen Kai, kau hanyalah murid tanpa perlindungan."
"Saya ingin memasuki Ruang Meditasi Racun dan Belati," jawab Lin Xia tegas. "Jika kelembutan tidak bisa membawanya pulang, maka aku akan menjadi cukup kuat untuk melumpuhkannya. Jika dia memilih menjadi iblis, maka aku akan menjadi penakluk iblis yang akan menyeretnya kembali ke cahaya, meskipun aku harus mematahkan kedua kakinya."
Seluruh ruangan terdiam. Mereka melihat transformasi seorang gadis pemalu menjadi wanita dengan tekad baja. Lin Xia telah membuat sumpah di bawah langit yang kelabu: Ia tidak akan membiarkan Chen Kai tenggelam sendirian di neraka.
Sementara itu, ribuan mil dari ibu kota, di sebuah lembah terlarang yang diselimuti kabut beracun, sosok berbaju hitam sedang berjalan di atas hamparan mayat monster tingkat tinggi.
Setiap langkah pemuda itu meninggalkan jejak kristal hitam yang mengeluarkan uap ungu. Pedang di punggungnya kini tidak lagi berwarna bening; bilahnya sepenuhnya hitam pekat, seolah menyerap seluruh cahaya di sekitarnya.
Beberapa pemburu hadiah yang mencoba peruntungan mereka tampak membeku dalam posisi ketakutan, tubuh mereka tertembus duri-duri kristal hitam yang mencuat dari tanah.
Chen Kai berhenti di pinggir tebing, menatap matahari terbenam yang berwarna merah darah. Ia menyentuh liontin bulan sabit di balik jubahnya—benda terakhir yang menghubungkannya dengan Lin Xia—lalu dengan dingin ia meremasnya.
"Kebencian adalah satu-satunya jembatan menuju kekuatan." gumam Chen Kai. Suaranya kini sepenuhnya dingin, tanpa sisa emosi manusia.
Tiba-tiba, sesosok bayangan muncul di belakangnya. Bayangan roh berlutut dengan hormat. "Tuan Muda, perintah dari pusat Faksi Iblis telah turun. Target kita selanjutnya adalah Sekte Pedang Suci. Mereka memiliki artefak yang bisa melacak keberadaan Bulan Hitam."
Chen Kai menyarungkan pedangnya dengan dentingan logam yang mengerikan. "Sekte Pedang Suci? Jika mereka menghalangi jalan balas dendamku, maka sekte itu akan menjadi reruntuhan berikutnya."
Dunia mungkin telah memburunya, namun mereka tidak sadar bahwa mereka bukan sedang memburu seorang penjahat, melainkan sedang memprovokasi seekor naga kegelapan yang siap melahap siapa saja yang berani berdiri di depannya.
Di kejauhan, di dalam kegelapan Bulan Hitam, Chen Xo yang sedang melihat bola kristal hanya tersenyum tipis. "Bagus, Kai... jadilah lebih hitam dari malam. Aku menunggumu di puncak keputusasaan."