🐣WARNING🐣
AREA DEWASA
JOMBLO DILARANG BACA!!!
Dapat menyebabkan baper berkepanjangan yang bisa membuat batin tersiksa.
Ini bukanlah cerita tentang Pernikahan CEO-CEO seperti di cerita lainnya, bukan pula cerita
perjodohan yang menyakitkan di awal pernikahan dan berakhir dengan manis.
Tapi ini adalah sebuah cerita
tentang hati yang salah memilih cinta, tentang
sebuah perjuangan, penantian, dan kesetiaan.
"Gue akan nantangin takdir! Kita liat siapa diantara kita yang akan menang." Kaisar
Hepi reading gengs... 🤗🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dominic Toretto versi Qiran
Krieekk…
Pintu kamar perlahan terbuka, tubuh kecil pemilik kamar masuk begitu saja tanpa permisi. Lah kan ini emang kamar gue Tor.
"Ngapain lu pada?" Qiran dengan berjinjit meraih telinga kakaknya yang kini berstatus sang calon menantu.
"Sakit Monyet!" Kaisar mengusap-usap telinganya yang panas akibat jeweran si Adik durjana. Sini Otor bantu tiupin kupingnya Mas, sapa tau ketagihan.
Sedangkan Lovie hanya menahan senyumnya melihat tingkah overprotective Qiran yang melebihi induk ayam.
"Ibu Negara nyuruh ke supermarket, beli daging, sosis sama temen-temennya. Persediaan di kulkas abis."
"Ganggu aja lu Bonsai!" Gerutu si tampan.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, Kaisar telah siap dengan pakaian santainya. Tshirt berwarna putih dan joger abu-abu menjadi pilihan santainya petang itu.
"Kak, tolong beliin daging, sosis buah sama sayur ke supermarket. Jangan pake lama!" Titah Ibu Negara.
"Kenapa ga para cewek aja sih? Kan ada tiga cewek ajaib noh." Jawab Kaisar, tak terima disuruh belanja ke supermarket, sedangkan dia melihat tiga gadis alay termasuk kekasihnya hanya sedang mengupas kulit jagung.
Walaupun sedang kesal tapi dia masih terlihat tampan di mata Otor, kedua tangannya yang dimasukkan ke saku celana serta tatapan matanya yang membuat Otor rela berlama-lama menatapnya.
"Kita lagi sibuk, bukain jagong!" Seru Qiran.
"Lop, temenin gue belanja! Ntar gue dikerumunin emak-emak lagi di supermarket. Elu yang belanja gue jagain lu dari belakang!"
Qiran dan Rani serempak menarik sudut bibir mereka saat mendengar ucapan pria bertshirt putih tersebut.
"Ide bagus itu, anterin gih Lop supaya dia kagak caper sama para pramuniaga disana." Tambah Zee.
Kaisar menyunggingkan senyum terindahnya kepada Qiran dan Rani, seolah memberitahu jika kemenangan ada di tangannya saat itu.
"Dek, kamu sama Rani ikut juga sama Kakak kamu, supaya lebih cepet!" Imbuh Guntur.
Senyuman semanis iblis langsung terbit dari wajah kedua makhluk alay itu, menenggelamkan senyum di wajah tampan yang tadi seperti mendapatkan kupon hadiah motor dari dalam ciki.
•
•
"Elu yang bawa!" Kaisar melemparkan kunci mobilnya kepada Qiran saat mereka tiba di parkiran.
"Kok gue?"
"Gue capek Kir, butuh istirahat badan gue." Jawab Kaisar sambil menarik tubuh Lovie ke kursi belakang. "Ran, lu duduk di depan gue kgak mau diganggu!" Lanjutnya sambil mendorong si cantik Rani yang hendak masuk bersamanya di kursi belakang. Mungkin kalo Otor yang ikut nyelip boleh kali ya Mas.
Qiran pun mulai melajukan mobil kesayangan Kaisar, dia terlihat sudah lihai dalam hal berkemudi, Qiran seperti seorang profesional. Tapi itu tak berlangsung lama, setelah melewati jalan raya, jiwa seorang pembalap Formula One seperti merasuki Qiran. Dia melajukan mobil sport hitam itu dengan kecepatan di atas rata-rata.
"KIKIIIIIIIIRRRRR!!!!" Jeritan dari Rani dan Lovie memekakan telinga.
"Pelan-pelan b*go! Elu kesurupan Michael Schumacher apa?" Rani terlihat tegang, kedua tangannya memegang erat handle mobil, mulutnya terus beristighfar, bertakbir dan bersyahadat.
"Allahuakbar!!! Papaaaaaa!!! Mamaaaaaa!!"
Tak jauh beda dengan Rani, Lovie pun terus menenggelamkan wajahnya di dada pria yang memang menunggu momen ini. "Heh Pea, gue belum kawin! Elu mau bikin gue jadi kuntilanak penasaran?"
"Ntar gue kawinin! Biar lu kagak penasaran." Terlihat senyum kemenangan Kaisar yang tercermin di spion depan.
"Pada berisik lu pada, kayak nenek-nenek ih! Ini belum seberapa tau, elu mau liat gue yang sebenernya?" Jiwa pembalap Qiran terpancing.
Qiran pun melajukan mobil hitam itu benar-benar dengan kecepatan penuh. Entah berapa orang pengemudi lain yang telah menyumpahi Qiran karena ulahnya. Entah berapa pengemudi yang terkejut melihat kecepatan mobil itu. Qiran tidak peduli. Memang dasarnya dia tidak punya rasa peduli, sama seperti titisannya.
"Dek, nih!" Kaisar memberikan kartu berwarna gold kepada si supir dengan kekuatan The Flash tersebut. "Ran, bantuin si Kikir belanja! Gue mau nemenin si Lope, masih ketakutan dia gara-gara kelakuan si Somplak!" Kaisar seolah kesal dan menyalahkan adiknya.
"Lah, dengkul aku juga masih belum berenti ngegeter nih. Noh liat!" Rani memperlihatkan dengkulnya yang terus bergoyang.
"Beli ice cream mekdi aja sono, ntar juga sembuh." Kaisar tak peduli. Dia terus mencekal pergelangan tangan Lovie agar tak pergi.
Entah apa yang dibisikan oleh Qiran hingga Rani terlihat berbinar dan meninggalkan keduanya dengan wajah yang kini ceria.
•
•
"Kakak kenapa sih?"
Sikap Kaisar membuat Lovie berpikir ada masalah berat yang sedang menimpanya, mungkinkah itu tentang Adele?
Kaisar hanya menenggelamkan wajahnya di perpotongan tengkuk kekasih hatinya tanpa berkata apapun. Pengen juga Mas, ditemplokin kayak gitu.
"Kak—" Lovie menjeda ucapannya.
"Tadi siang gue ketemu Adele, gue udah mengakhiri semuanya. Tapi keliatannya Adele kecewa banget sama gue. Gue jahat ya Lop?" Ucapnya masih dengan posisi yang sama.
Entah apa yang harus Lovie ucapkan untuk menghibur pria ganteng yang masih betah nemplok di pelukannya. Lovie hanya bisa mempererat pelukannya sebagai dukungan untuk Kaisar.
"Kalo aku jadi Kak Adele, aku pasti udah minta tolong si Kikir ngadain tahlilan buat Kakak."
"Wah parah lu! Sadis banget elu ternyata ya! Gak berani deh gue ngecewain elu! Serem banget gue kalo harus berurusan sama emak mertua gue yang model gitu."
Keduanya pun tertawa menutupi kegundahan hati keduanya.
Cukup lama Kaisar dan Lovie menunggu Rani dan Qiran di sebuah kedai fastfood yang ada di lobby mall itu. Berkali-kali Kaisar menelpon kedua tapi jawaban keduanya masih tetap sama, apa lagi jika bukan "Bentar lagi!"
Lima belas menit dari panggilan telepon terakhir yang Kaisar lakukan, kedua gadis setengah matang itu datang dengan wajah berseri-seri, sebuah paperbag dengan merek sepatu terkenal telah bertengger di salah satu tangan mereka.
"Heh monyet! Elu berdua mau bikin tagihan kartu kredit gue bengkak! Pantes aja lu kagak pada protes tadi, ternyata ada udang di balik sepatu." Kaisar murka.
"Gue kasian sama si Rani, dengkulnya kayak nenek-nenek gemeteran mulu, pas udah jajal tuh sepatu langsung diem tuh getarnya. Langsung mode silent." Qiran beralibi.
"Terus kenapa elu ikut beli juga Monyet?"
"Solidaritas kita kan tinggi Kak, kalo Rani beli takutnya dia gak enak sama gue. Ya gue cuma bantu dia supaya dia gak harus gak enak hati sama gue!" Dia masih keukeuh untuk tidak menjadi tersangka utama atas membengkaknya tagihan kartu kredit Kaisar bulan depan.
Kaisar memang selalu tidak pernah menang melawan mulut beracun adiknya. Dia menghampiri keduanya dan menjewer mereka hingga parkiran mall, Kaisar sudah tak memperdulikan jeritan keduanya hingga membuat mereka menjadi pusat perhatian pengunjung lainnya.
"Pulangnya Kakak aja yang bawa ya!" Rani merengek saat melihat Kaisar hendak masuk ke kursi belakang lagi.
"Bukannya dengkul elu udah tegak berdiri lagi pake sepatu baru?" Cibir Kaisar sambil melirik sepatu kets yang didominasi warna biru metalik yang Rani gunakan.
"Kak, Kakak aja yang bawa mobilnya. Aku takut. Aku kan gak pake sepatu baru." Rengek Lovie, dia sepertinya tidak menyadari dengan apa yang diucapkannya.
"Ntar gue beliin 10 pasang sepatu baru buat lu. Sekalian kita beli yang limited edition." Kesombongan warga Uranus kembali merasuki pria tampan itu, dan mendorong tubuh Lovie untuk masuk ke dalam mobil.
Lagi...!!!
Qiran yang sepertinya selalu terasuki Michael Schumacher saat membawa mobil di tengah jalan raya yang kini telah diterangi lampu jalan. Dia membelah jalan raya dengan kecepatan super tinggi sambil bersenandung lagu-lagu yang dia hafal, Qiran benar-benar tidak memperdulikan ketegangan dan jeritan dari kedua sahabatnya.
Samar-samar terdengar sirine dari mobil polisi yang tengah berpatroli.
"Dek kurangi kecepatan! Polisi lagi ngejar kita noh di belakang." Kali ini Kaisar yang terlihat tegang.
Qiran mengintip spionnya. "Kecepatan mobil polisi bisa nandingin kecepatan mobil ini gak Kak?" Ucapnya sambil terus mengintip kaca spion.
"Kagak lah, mobil mereka mah jangan disamain sama mobil gue! Enak aja lu, harga mobil gue berkali-kali lipat dari yang mereka pake!" Kesombongan Kaisar tersulut.
"OKE!!! Pegangan lebih kuat gengs!!!" Qiran semakin melajukan mobil yang dia kendarai. Untung nenek kalian tidak melihatnya, karena bisa dipastikan jantung nenek kalian akan copot setelah gigi mereka yang rontok karena hembusan kecepatan mobil yang Qiran kendarai.
"Dek mau lampu merah!"
"Kagak bisa, polisinya masih keliatan!" Jawab Qiran sambil mengintip kaca spion.
"Pea! Berenti aja!"
Tapi Qiran malah menerobos lampu merah itu berusaha menghindari kejaran mobil polisi.
"Kak kita kayak lagi ada di film The Fash and The Furious ya?" Qiran malah membanggakan diri di saat tidak tepat. Entah sifat siapa yang dia contoh?
Tapi kesombongan Qiran harus terhenti saat palang pintu kereta menghalangi jalannya.
Bagaimana nasib Dominic Toretto versi wanita ini?
Akankan nasibnya sebagus Dominic Toretto yang diperankan oleh Vin Diesel? Pria yang selalu berhasil menghindari kejaran polisi.
tapi kembali lagi jika cinta di paksakan tidak baik. memaksakan cinta juga tidak baik.
ibu nya mencoba membantu tapi sayang caranya salah.
akhirnya mereka akan saling menyakiti.
lovie gadis lugu yang terjebak cinta pria dewasa.
lovie hanya mengikuti alur hidup nya si mantan putri sultan yang jadi upik abu walaupun bukan babu ya 🤩🤩.
untuk mama adele entahlah??.
tapi si kai kai luluh sama si cantik abg labil loviena 😅😅😅😅.
kak othor pindah platform kah..di sini lom ada karya baru 😁