Rowena Scarlett adalah manusia setengah vampir, tetapi sama sekali tidak menyadari jati dirinya. Tante dan om, satu-satunya keluarga yang ia miliki, justru menganggap Rowena mengalami gangguan mental. Anggapan itu berujung pada keputusan untuk menitipkannya di rumah sakit jiwa.
Rowena didiagnosis mengidap gangguan delusi akibat obsesinya terhadap darah. Kondisi tersebut bahkan membuatnya hampir melakukan percobaan pembunuhan demi memuaskan rasa penasarannya. Padahal, dorongan itu merupakan insting yang wajar bagi seseorang yang memiliki darah vampir.
Nahas, di tempat itu Rowena bertemu Darcel, dokter terapis barunya yang ternyata seorang vampir psikopat. Ketika Rowena terjebak dalam genggamannya, ia dijadikan kambing hitam atas pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh Darcel.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 4
Rowena memperhatikan gedung apartemen berwarna krem itu.
HPnya bergetar.
Ada pesan lagi.
Minum darah?
Apalagi ini?
Ya jelas dia.
Darah dan Dr. Darcel.
Dr. Darcel dan darah.
Dua hal paling penting dalam hidup Rowena sekarang.
Sisanya terasa seperti rambut rontok yang menempel di baju, tinggal dicabut lalu dijatuhkan ke lantai. Keluarga, pekerjaan, moral. Cabut, jatuhkan, selesai.
Ya, darah.
Ia menarik napas panjang lalu menyeberangi area parkir. Angin membelai gaun mini sifon hitam yang dikenakannya.
Rasa gugup itu kembali naik, mengingatkannya pada terakhir kali ia membawa senjata tajam ke acara reuni dan malah berujung pada percobaan pembunuhan. Hasilnya hanya sakit kepala, ancaman penjara, masa percobaan, dan terapi wajib dari pengadilan.
Kalau kali ini ia tertangkap lagi?
Selesai sudah. Langsung masuk penjara. Selamat tinggal, Rowena Scarlett. Selamat menikmati masa muda di balik jeruji.
Namun meski begitu, kakinya tidak berhenti melangkah. Ia tetap berjalan melewati parkiran.
Dan mungkin, mungkin ia tidak akan membunuh Audy. Mungkin juga ia tidak akan mencicipi darahnya.
Ia hanya ingin menakut-nakutinya. Itu saja. Walau setengah dari dirinya ingin merobek salah satu pembuluh darah wanita itu.
“Jangan pernah minum darah manusia lagi.”
Ucapan Dr. Darcel berputar di kepalanya, membuat pusing dan muak. Rahangnya mengeras.
Audy bertubuh lebih kecil dibanding orang pertama yang pernah ia todong, tetapi tetap lebih berisi daripada dirinya.
Rowena hanya tidur dua jam, makan satu sendok selai kacang, dan menenggak dua kaleng soda yang membuat perutnya panas.
Kesimpulannya sederhana. Ia lelah, lapar, dan sudah berada di batas terakhir.
Ia menelan ludah dengan susah payah sambil membayangkan rasa darah Audy di mulutnya. Kental, hangat. Pasti memuaskan. Bahkan mengenyangkan.
Kapan terakhir kali ia merasakan hal seperti itu?
Ia tidak ingat.
Unit 108, lantai dasar.
Rowena menaiki tangga kecil. Angka-angka putih terpaku di pintu. Lampu di atasnya berdengung, hampir mati. Jangkrik di luar bersahut-sahutan.
HPnya bergetar lagi.
...📩...
^^^Dr. Darcel: Aku senang sekali kamu membalas pesanku.^^^
Rowena langsung menggigit bibir. Ia ingin pria itu ada di sini sekarang juga.
Apakah dia akan datang?
Mungkin dia malah akan menelepon polisi. Namun, Rowena benar-benar berharap hal itu tidak terjadi.
Rowena: Kamu di rumah?
Ia perlu mengujinya. Obsesinya pada Dr. Darcel sudah seperti parasit yang menempel di tengkoraknya. Menjengkelkan. Dan sejujurnya, ia ingin berhenti memikirkannya. Membersihkan kepalanya dari pria itu sebelum semuanya semakin kacau.
Rowena mengangkat HP, memotret pintu apartemen Audy, lalu mengirimkannya.
Rowena: Aku lagi menjenguk teman kita.
Ia ingin tahu. Apakah Dr. Darcel akan menelepon polisi dan menyelamatkannya dari obsesi ini, atau justru datang sendiri. Datang dan melihat betapa rusaknya dirinya.
Atau skenario terburuk, pria itu datang hanya untuk menjelaskan bahwa ia adalah teman tidur si resepsionis.
Rowena benar-benar membutuhkan jawaban. Ia tidak tahan lagi dengan tarik ulur aneh ini.
Dr. Darcel itu menarik, tenang, dewasa, dan selalu membuatnya merinding setiap kali berbicara. Namun pria itu juga terapisnya, dan jelas lebih tua, mungkin hampir empat puluh.
Apakah pria berusia empat puluh mau tidur dengan gadis delapan belas?
Beberapa pasti mau.
Tapi dia?
Rowena tidak tahu.
Ia menempelkan telinga ke pintu dan menahan napas.
Dari dalam terdengar bunyi ketukan pelan. Aroma saus pasta menyelinap keluar dari celah pintu. Waktunya makan malam. Mungkin Audy sedang memasak, mungkin juga memasak untuknya.
Darcel tahu ia ada di sini. Waktunya terbatas, dan justru itu yang membuat adrenalinnya meningkat.
Rowena yakin darah Audy akan terasa luar biasa. Ia yakin wanita itu akan tampak sangat cantik dengan luka kecil di sisi lehernya.
Pintu pun terbuka.
Audy muncul.
Pandangan Rowena langsung mengunci ke leher wanita itu.
Ia benar-benar melihat denyut nadinya bergetar, semakin cepat, semakin kuat.
Darah.
Darah.
Darah.