Saat si badboy jatuh cinta pada kebaikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aarav Rafandra01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gerbang yang kian terbuka lebar
Faisal melangkah menuju kantin dengan perasaan sedikit kesal, ia sebenernya tahu ini hanya salah paham. Tapi ia sadar yang dikatakan Yadi ada benarnya juga, Faisal memang ingin merubah gengnya menjadi lebih baik, dan Faisal juga ingin perkembangan baik dirinya dan gengnya dilihat oleh Aruna.
Dikoridor utama dekat papan pengumuman, Aruna berjalan lurus, dengan kedua tangan memegang map didepan dada. Tatapannya sedikit menunduk, mencoba mengabaikan keramaian.
Tepat disebelah papan pengumuman, saat Faisal menyadari Aruna melewatinya begitu saja. Faisal tersadar dan langsung menyapa.
" Hey."
Aruna berbalik, menatap Faisal dengan ekspresi datar.
Faisal melangkah hingga ia berdiri sangat dekat dengan Aruna. Siswa siswi yang sedang berebut melihat papan pengumuman seketika berhenti mengalihkan perhatiannya ke arah Faisal dan Aruna, seketika koridor menjadi sunyi. Faisal mencondongkan tubuhnya sedikit, membuat jarak yang sangat intim ditengah keramaian.
" Aku udah bilang ke anak anak, mereka siap, meski ada satu dua yang tetap bertanya tak mengerti."
Aruna mengoreksi dengan suara pelan namun tegas.
"Jelasin intinya aja kak, biar mereka semua paham."
Aruna langsung berbalik dan berjalan tergesa. Wajahnya kini benar benar memerah. Faisal tahu ia malu karena banyak yang memperhatikan.
Dari kejauhan Yadi berlari mendekati Faisal.
" wah, bro lu gila? Lu udah jadian sama dia?"
Faisal menatap Yadi, mendekat ke telinganya.
" Emang kenapa? Lu mau ikut campur sama urusan hati gue?"
" Bukan gitu bro, gue gapernah liat lu seromantis itu sama cewe, pake mepet mepet segala lagi."
Faisal merangkul Yadi.
" Itu dulu, waktu gue belum kenal dia. Sekarang gue bener bener mau berubah, karena gue tau dia ga suka sama cowo yang masih mentingin main daripada belajar."
" Gue cuman bisa support lu bro, tapi jangan lupain gue sama temen temen ya."
Faisal mengangguk. Dan pergi menuju kantin meninggalkan Yadi.
" Udah lu cabut sana, gue lagi pengen sendiri."
Yadi pun kembali menuju teman temannya yang berada dibelakang sekolah.
Faisal tahu, dengan mendekati Aruna seperti tadi. Itu mengubah seluruh pandangan siswa terhadap dirinya.
Kantin sekolah selalu ramai ketika jam istirahat. Tapi berbeda dengan hari ini, mungkin karena ada Faisal disana sehingga yang lain enggan untuk berdiam lama lama dikantin.
Tumben sepi amat nih kantin, biasanya rame banyak anak anak ngumpul. (Faisal dalam hati).
.....
Beberapa hari setelah proyek bersih bersih sekolah selesai dan sukses mendapat pujian dari jajaran guru dan kepala sekolah, Faisal dan gengnya menjadi lebih sering terlibat dalam hal hal positif disekolah. Seolah mendapat kepercayaan lebih dari kepala sekolah untuk turut serta membantu bila ada kegiatan kegiatan yang memerlukan banyak tenaga.
Seluruh koridor dan kantin dipenuhi dengan obrolan dan pujian tentang suksesnya SHADOW VIPERS dalam menjalani proyek sosial bersih bersih sekolah yang dipimpin oleh Faisal. Aruna, seperti biasa. Duduk sendirian disudut kantin, ditemani dengan buku tebal dan bekal makan siangnya.
Tiba tiba meja tempat Aruna duduk didatangi oleh kerumunan tak terduga. Faisal dan seluruh anggota komunitasnya.
Seluruh teman temannya mengucapkan terima kasih kepada Aruna karena telah membuat ide sebagus kemarin. Dan secara tidak langsung mengubah sudut pandang penghuni sekolah terhadap gengnya.
Faisal membawa dua botol air mineral. Aruna menutup bukunya, menatap Faisal dengan tatapan bangga. Ekspresi datar yang biasa ia tunjukan seakan melunak. Ia merasa sangat diperhatikan, dan itu membuat hatinya hangat.
"Ga perlu repot repot kak." Ucap Aruna.
Faisal mendorong buku dan bekal Aruna ke samping.
" Cuman air mineral, ga repot ko."
Seluruh siswa yang ada dikantin menyaksikan adegan itu. Faisal kemudian menatap Aruna serius, mengabaikan keramaian, fokusnya hanya tertuju pada satu orang didepannya.
" Makasih ya, proyek ini berhasil bukan karena aku dan teman temanku aja. Tapi karena saranmu. Aku tau, kamu benci aku karena aku selalu terlibat dalam masalah. Tapi...."
Faisal menghela nafas panjang, ia jarang sekali berbicara serius didepan umum.
" Tapi diluar itu semua, aku beneran nyaman waktu Deket kamu. Kamu buat aku selalu ingin jadi diriku sendiri dengan versi yang lebih baik. Apa ga masalah kalo aku mau nemenin kamu makan Disini?"
Aruna mengambil air mineral yang disodorkan Faisal. Faisal tahu ini adalah tanda penerimaan, Aruna mengambil bekalnya dan mulai makan, setelah beberapa saat. Ia berbicara, suaranya sangat pelan seperti menahan malu.
" Makasih kak."
Faisal tertawa senang.
" Sama sama, Na. Kira kira menurut kamu pria ideal itu yang kaya gimana?"
Aruna tersedak, ia meletakan botol minumnya, menatap tajam ke arah Faisal.
" Ga ada sih kak, tapi yang jelas. Ya, orang yang mau berusaha jadi lebih baik dari hari ke hari."
" oh ..... apa kamu kamu bantu aku untuk jadi lebih baik lagi kedepannya?"
" Kak, perubahan itu bukan karena orang lain, tapi karena keinginan kita sendiri."
Faisal mengangguk setuju.
Dua dunia yang saling bertolak belakang, kini perlahan semakin mendekat, rapat. Kegaduhan milik Faisal, serta ketenangan milik Aruna. Sebuah tugas remedial, sebuah ancaman skorsing, dan satu pertemuan tak terduga didepan gerbang sekolah menjadi awal dari sebuah kisah yang akan membuktikan bahwa terkadang, yang paling berisik adalah yang paling rapuh, dan yang paling tenang adalah yang paling berani.
Aruna selalu menyukai hal hal yang berbau pelajaran, bukan karena haus pujian atau karena menyukai aroma kertas usang dan tintanya. Tetapi karena keheningan yang ditawarkannya. Disana, didalam kelas. Ia bisa menjadi tak terlihat. Sebuah kebahagiaan bagi seorang gadis yang lebih suka berkomunikasi melalui tatapan mata daripada suara.
Jum'at sore itu, sekolah hampir kosong. Cahaya jingga dari matahari yang mulai merosot menyaring masuk lewat sela sela jendela, menciptakan ilusi kedamaian. Aruna sedang duduk di meja ruangan TU, dikelilingi buku buku pelajaran, berusaha menghafal sangat fokus dan enggan diganggu. Seolah olah sedang mengerjakan tugas yang tenggat waktunya besok. Tiba tiba , suara pintu kayu dihempaskan hingga berdentum menciptakan suara yang sangat mengganggu dan sedikit membuat Aruna terkejut. Kedamaian pecah, Aruna refleks menarik bahunya, menundukan kepala lebih dalam. Ia sudah tahu siapa pelakunya tanpa perlu mendongak. Di sekolah ini, hanya ada satu orang yang berani mengusik ketenangannya dengan begitu kasar, dan ironisnya. Orang itu jarang sekali berminat pada pelajaran.
" Wihhh, rajin amat dek." Suara Faisal serak dan dalam.
Aruna menggenggam erat penanya. Ia tetap berusaha fokus pada paragraf yang sedang ia tulis dan hafal. Berharap ketidak peduliannya membuat Faisal pergi.
" Lagi nulis apa sih serius amat? Surat cinta buat guru BP?" Faisal tertawa kecil, terkesan mengejek.
" Pliss kak, aku lagi belajar." suaranya pelan nyaris seperti bisikan , tanpa berani mengangkat wajah."
" Iya aku tau, santai aja kali. Tegang amat."
Faisal menarik kursi dihadapannya, dan dengan seenaknya duduk terbalik, melipat tangan di sandaran kursi. Ia menatap Aruna dengan mata tajam yang selalu terlihat lelah dan penuh amarah.
" Kamu tau? Tempat ini memang damai. Tapi kamu gabisa terlalu fokus sama pelajaran dan mengabaikan sekitar."
Aruna mengambil nafas dalam dalam.
" Dan kak Faisal gabisa terus terusan berantem sama dunia."
Faisal tertegun, matanya menyipit. Ada campuran kaget dan entah kenapa, ada minat yang mendalam. Tak ada yang berbicara seterus terang ini padanya. Apalagi adik kelas yang pendiam dan polos seperti Aruna.
" Menarik, kayanya mulai detik ini aku harus lebih sering ada didekat kamu."
Faisal bangkit, mencondongkan tubuhnya kedepan meja, dan mengambil pena dari tangan Aruna. Faisal membalikan salah satu buku catatan Aruna, ia menulis sesuatu di halaman paling belakang.
" Itu nomerku. kali aja kamu butuh bantuan buat berantem sama dunia."
Faisal meletakan kembali pena itu ke tangan Aruna.
" Kan udah ada kak!"
" kalo emang ada, kenapa ga pernah chat?" Faisal menyeringai nakal sambil berusaha bangkit dan bersiap melangkah.
" Anggap aja, aku temen kamu. Yang selalu siap buat lindungi kamu, kapan pun itu." Faisal melanjutkan langkahnya, meninggalkan Aruna seorang diri.
Aruna hanya bisa menatap punggung Faisal yang kian menjauh, meninggalkan dirinya dengan detak jantung yang lebih cepat dari biasanya. Sebuah perasaan asing yang aneh.
Zona nyamannya kini semakin terusik oleh masalah paling menarik yang pernah Aruna temui.