Pangeran Gautier de Valois.
Ia mengenakan seragam Duke-nya, seragam berwarna biru tua dengan hiasan perak yang berkilauan. Postur tubuhnya tegak sempurna, memancarkan aura bahaya dan otoritas yang membuat ruangan terasa kecil. Matanya—abu-abu sekeras baja—menatap Amélie tanpa ekspresi, seolah-olah sedang menilai kuda pacu yang tak berguna.
"Pernikahan. Kau, Amélie LeBlanc, akan menikah dengan Pangeran Gautier de Valois dalam waktu satu bulan."
"Apa? Ini gila! Saya tidak akan—"
"Ini bukan permintaan, Countess,"
"Ini adalah dekrit dari Tahta. Aku butuh pewaris dan Raja membutuhkan stabilitas politik yang diberikan oleh aliansi dengan Countess yang memiliki koneksi luas. Keluargamu, melalui Éloi, menawarkan penyelesaian utang kuno ini. Pernikahan, dengan segera. Aku tidak tertarik padamu, atau pada intrik keluargamu. Anggap ini transaksi dan aku tidak menerima penolakan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iseeyou911, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 (Dimulainya Misi Rahasia)
Mereka kembali ke sayap Duke. Malam pertama mereka, sesuai dengan kontrak rahasia yang ditandatangani, dihabiskan dalam kehidupan terpisah yang disengaja.
Pintu ke kamar tidur utama dikunci dari dalam oleh Amélie dan pintu ke ruang kerja Gautier juga terkunci.
Amélie, kini bebas dari jubah sutra dan perhiasan, mengenakan jubah tidur beludru. Ia berjalan di kamar besar itu, yang beraroma kayu cendana dan sedikit rempah-rempah yang maskulin. Ia menyalakan lampu minyak tambahan, menerangi meja rias.
Ia mengambil dokumen utang yang ia tanda tangani, kontrak rahasia yang disembunyikan Gautier dan sebuah kunci perak kecil—kunci perpustakaan pribadi Duke yang telah ia dapatkan dari Dubois beberapa hari sebelumnya melalui bujukan yang cerdas.
Waktunya untuk bertindak.
Ia tidak akan tidur. Istana Versailles terlalu luas, terlalu penuh rahasia dan dia memiliki enam bulan di mana pergerakannya sangat dibatasi. Dia harus menggunakan malam ini dan malam-malam selanjutnya, untuk mencari kebenaran.
Tujuan pertamanya adalah Perpustakaan Besar Valois.
Dengan hati-hati, Amélie membuka pintu kecil di balik rak buku di kamarnya yang seharusnya terhubung ke ruang ganti. Itu adalah lorong pelayan yang tidak digunakan. Menggunakan lampu minyak, Amélie menyusuri lorong berdebu yang terasa seperti jaringan arteri kastil kuno.
Setelah sepuluh menit berjalan, ia mencapai sebuah pintu kayu ek yang tebal—Pintu Perpustakaan Valois. Ia memasukkan kunci perak kecil itu. Kunci berbunyi lembut dan pintu terbuka.
Udara di Perpustakaan Valois terasa dingin dan berbau kertas tua, kulit dan sedikit jamur. Ruangan itu gelap, penuh dengan rak-rak buku yang menjulang tinggi hingga ke langit-langit, dipenuhi ribuan jilid yang memuat sejarah Valois selama berabad-abad. Ini adalah jantung intelektual Duke, tempat di mana rahasia, kekayaan dan kebohongan diarsipkan.
Amélie segera bergegas ke bagian Arsip Keluarga. Ini adalah bagian yang paling sulit ditemukan, tersembunyi di balik rak yang berisi Sejarah Militer Romawi.
Menggunakan kursi tangga kayu, Amélie menarik keluar jilid-jilid tebal yang diberi label: LeBlanc Silsilah (Tahun 1750-1780) dan Kanselir – Korespondensi (1775-1790).
Tangannya gemetar.
Ia membuka buku besar LeBlanc Silsilah. Halaman-halaman penuh dengan catatan pernikahan, kelahiran dan aliansi politik. Di bagian belakang, ia menemukan lampiran tentang aset. Semuanya tampak rapi, hingga ia menemukan dua halaman yang terpotong secara kasar.
Jejak pertama. Seseorang telah merobek bagian yang penting.
Amélie meletakkan buku itu dan beralih ke Korespondensi Kanselir. Ini adalah catatan tulisan tangan yang sangat detail mengenai perjanjian antara Tahta dan bangsawan. Ia mencari tahun-tahun yang disebutkan oleh Éloi dan Céleste—sekitar dua puluh tahun yang lalu.
Setelah hampir satu jam mencari, ia menemukan amplop tebal yang diselipkan di antara korespondensi pajak. Labelnya: Perjanjian Kehormatan—Count LeBlanc.
Jantung Amélie berdegak kencang. Ini dia.
Ia membuka amplop itu dengan hati-hati. Di dalamnya, ada tiga lembar kertas tua dengan segel kerajaan yang rusak.
Dokumen 1: Sebuah perjanjian pinjaman besar antara Kakek Amélie dan Kerajaan, ditandatangani 25 tahun yang lalu. Bukan utang kehormatan, melainkan utang finansial yang besar.
Dokumen 2: Surat dari Kakek Amélie yang memohon perpanjangan waktu pembayaran, yang ditolak dengan keras.
Dokumen 3: Sebuah pernyataan penyelesaian. Ini adalah tulisan tangan yang sama sekali tidak dikenal oleh Amélie. Tulisan tangan Gautier. Tertanggal tiga minggu lalu.
Pernyataan Penyelesaian (Draf) – Pembayaran Penuh telah diterima oleh Tahta dari Duke Gautier de Valois, dengan imbalan Hak Penuh atas Pengaturan Pernikahan Countess Amélie LeBlanc dan Kontrol atas Aset LeBlanc.
Amélie membacanya berulang kali. Sœur Céleste benar. Gautier memang yang melunasi utang itu—jutaan Louis. Dia tidak membeli Amélie untuk status. Dia membeli Amélie untuk kecepatan. Dia tidak punya waktu untuk bernegosiasi. Dia hanya melunasi utang keluarga yang memalukan itu agar dia bisa mengklaim Amélie tanpa penundaan, menggunakan kehormatan keluarga sebagai senjata pemerasan.
Utang itu nyata, tetapi sudah mati. Dan Gautier menggunakannya sebagai alasan.
Amélie menyalin dokumen itu ke dalam buku catatannya dengan cepat, mencatat setiap detail, setiap tanggal.
...*****...
Amélie menyadari fajar akan segera menyingsing. Ia harus kembali. Ia mengembalikan jilid-jilid tebal itu ke tempatnya semula, memadamkan lampu minyak.
Saat ia berbalik untuk meninggalkan Perpustakaan, sebuah suara yang dalam dan serak terdengar dari kegelapan di belakangnya.
"Aku pikir aku sudah menjelaskan padamu, Countess, bahwa perpustakaan ini terlarang, kecuali kau diizinkan."
Amélie tersentak. Gautier.
Ia berdiri di ambang pintu ruang kerjanya, yang terhubung dengan Perpustakaan melalui pintu rahasia yang tidak diketahui Amélie. Ia mengenakan jubah tidur hitam, rambutnya sedikit acak-acakan, matanya tampak mengantuk namun tajam.
"Pangeran Gautier!" Amélie berbalik, jantungnya berdebar kencang. Ia segera menyembunyikan buku catatan kecil di balik punggungnya. "Saya... Saya tidak bisa tidur. Saya hanya mencari Sejarah Valois. Saya ingin memahami tradisi keluarga yang baru saya masuki."
Gautier melangkah maju, tangannya disilangkan di dada. Cahaya redup di Aula Cermin mulai menyusup melalui jendela perpustakaan, menerangi siluetnya.
"Kau berbohong, Amélie. Aku mendengarmu bergerak sejak setengah jam yang lalu. Mencari Sejarah Valois? Atau mencari arsip LeBlanc?"
Amélie tahu, pura-pura tidak tahu adalah hal yang bodoh. Ia harus berani.
"Saya mencari kebenaran, Pangeran," balas Amélie, mengangkat dagunya. "Saya menemukan arsip utang. Saya tahu Anda yang melunasinya. Dan saya tahu Anda menggunakan utang yang sudah mati itu untuk memeras saya. Anda menuduh Éloi menggunakan kehormatan palsu, padahal Anda sendiri yang memanfaatkannya."
Gautier terdiam sejenak. Ia berjalan ke arahnya, perlahan, setiap langkahnya mengancam.
"Aku memberimu akses ke perpustakaan ini, dengan janji bahwa kau tidak akan mengancamku," desis Gautier. "Ternyata, kau adalah wanita yang tidak bisa dipercaya."
"Saya hanya membela diri, Pangeran!" Amélie berbisik keras. "Anda memberi saya janji untuk hidup terpisah. Saya menghormati itu. Tapi saya akan mencari kebenaran tentang keluarga saya. Anda mengatakan saya akan mendapatkan kebebasan jika tugas saya selesai. Tugas saya adalah menghilangkan semua bayangan utang dari nama LeBlanc. Saya harus tahu kebenarannya dan saya menemukannya. Anda melunasinya, bukan Éloi. Tapi mengapa Anda tetap menggunakan Éloi sebagai perantara? Mengapa tidak langsung bernegosiasi dengan saya?"
Gautier menghela napas lelah. "Kau tidak akan mengerti, Amélie. Ada kekuatan yang lebih besar di istana ini. Éloi adalah alat yang aku gunakan untuk menenangkan Tahta. Jika aku langsung bernegosiasi denganmu, Raja akan mencurigai motifku. Menggunakan Éloi membuat pernikahan ini tampak seperti solusi politik yang bersih dan dipaksakan oleh pihak ketiga, bukan karena aku menginginkannya. Kau harus mengerti, aku bertarung dalam pertempuran yang berbeda."
Gautier mengulurkan tangannya. "Berikan padaku catatan yang kau buat."
Amélie mundur. "Tidak. Ini adalah kebebasan saya. Ini adalah bukti bahwa Anda adalah pria yang mampu berbohong dan manipulasi, Pangeran. Saya akan menyimpannya."
Gautier bergerak cepat. Dalam sekejap, ia menjebak Amélie di antara tubuhnya dan rak buku yang dingin. Tubuhnya yang besar dan kuat membuat Amélie merasa kecil dan terancam. Jarak di antara mereka nyaris tidak ada. Aroma kulit dan rempah-rempah kini terasa memabukkan.
"Jangan bermain api, Duchess," ancam Gautier, suaranya sangat rendah. "Aku bisa mengambil buku catatan itu darimu dengan paksa. Aku bisa menghancurkanmu. Aku bisa membatalkan janji perpisahan kita. Aku bisa mengambil tubuhmu malam ini juga. Jadi jangan uji kesabaranku."
Amélie menatap mata abu-abunya yang dekat. Ketakutan itu nyata, tetapi ia menolaknya.
"Lakukan," tantang Amélie, suaranya bergetar tetapi tegas. "Ambil buku catatan ini. Batalkan janji perpisahan kita. Tapi ingat, Pangeran. Jika Anda melanggar janji perpisahan yang Anda buat sendiri, Anda akan kehilangan satu-satunya hal yang Anda inginkan dari pernikahan ini, kepercayaan diri saya untuk menjadi permaisuri yang sempurna di depan publik. Saya akan memberontak di setiap acara. Saya akan membuat hidup Anda di Tahta menjadi neraka. Karena saya tidak akan pernah takut pada seorang pembohong."
Gautier menatapnya lama. Ia melihat tekad, bukan hanya gertakan. Ia melihat kecerdasan yang sama yang membuat Amélie berhasil mengelola aset LeBlanc yang berantakan.
Ia perlahan menarik diri. Jarak kembali tercipta, tetapi ketegangan di antara mereka tetap terasa seperti kawat tipis yang siap putus.
"Kau menang, Countess," kata Gautier, suaranya terdengar pasrah dan lelah. "Tapi ini adalah peringatan terakhir. Jangan pernah masuk ke arsip Valois lagi, kecuali kau bersamaku. Aku akan memberimu akses, tetapi hanya di bawah pengawasanku. Jika kau mencoba mencari informasi tentang masa laluku—atau tentang Seraphine—aku akan menghancurkan kontrak kita dan menghancurkan semua yang kau hargai."
"Saya hanya mencari kebenaran tentang keluarga saya, Pangeran," jawab Amélie. "Saya tidak peduli dengan urusan cinta Anda yang menyedihkan."
"Bagus," kata Gautier, berjalan kembali ke pintu rahasianya. "Sekarang, kembalilah tidur. Pagi ini, kau harus tampil sebagai pengantin yang paling bahagia di Versailles."
Gautier memasuki ruang kerjanya dan mengunci pintu. Amélie ditinggalkan sendirian di tengah perpustakaan, dengan buku catatan di tangannya dan hatinya yang berdebar kencang.
Ia telah berhasil mendapatkan informasi penting dan memaksa Gautier untuk menghormati kontrak perpisahan mereka. Namun, ia tahu, permainan ini baru saja dimulai.
Amélie kembali ke kamar pengantinnya, tempat ia menghabiskan malam pernikahannya yang megah dan tegang, bukan di ranjang, tetapi di kursi dekat jendela, membalik halaman buku catatan, merencanakan langkah selanjutnya.
...*****...