Bagaikan buah simalakama. Aku pergi, dia hancur. Aku bertahan, aku yang hancur. Lalu, jalan seperti apa yang harus aku ambil?
Siapa yang tidak mengharapkan hubungan harmonis dengan keluarga pasangan. Setiap pasangan pasti berharap hubungan yang baik-baik saja dalam keluarga besarnya. Pepatah mengatakan, jika kau siap untuk menikah dengan anaknya, maka kau pun harus siap menikah dengan keluarganya? Lalu apa jadinya ketika orang tua pasangan kita tidak menerima kita sepenuhnya? Pilihannya hanya ada dua. Bertahan, atau melepaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restviani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengungkap Rahasia
Daniar mencekal pergelangan tangan Yandri. "Akan aku ceritakan," ucap Daniar.
Yandri kembali duduk di samping Daniar. Sepertinya, dia sudah siap menjadi pendengar setia.
"Namanya Seno, mantan tunangan aku," ucap lirih Daniar.
"Mantan?" tanya Yandri.
"Dua bulan yang lalu, seharusnya kami menikah. Tapi ..." Daniar menggantungkan kalimatnya.
"Tapi?" ulang Yandri.
"Tapi pernikahan itu terpaksa aku batalkan karena Seno menghamili wanita lain."
Yandri terkejut mendengar perkataan Daniar. Sungguh, dia tidak habis pikir. Ternyata ada laki-laki yang tidak bertanggung jawab seperti itu. Hmm, rupanya kiamat sudah semakin dekat saja, pikir Yandri.
"Lalu, untuk apa dia menemui kamu lagi?" tanya Yandri yang entah kenapa semakin penasaran tentang kisah wanita di sampingnya.
Daniar hanya menggedikan kedua bahunya. "Entahlah, aku sendiri tidak tahu," jawab Daniar.
"Apa kamu masih mencintainya?" tanya Yandri lagi.
"Apa tadi aku terlihat masih mencintainya?" Daniar malah balik bertanya.
"Tidak!" tegas Yandri.
"Tidak dan tidak akan pernah lagi. Rasa cintaku sudah tertutup sejak aku tahu dia berkhianat. Ish, semua laki-laki memang brengsek!" ucap Daniar, geram.
"Tidak semua laki-laki di dunia ini memiliki sifat seperti mantan tunangan kamu. Tidak usah khawatir, Nona. Di dunia ini, bukan kamu saja yang gagal dalam membina sebuah hubungan. Kelak, kamu pasti menemukan pendamping yang lebih baik dari dirinya," ucap Yandri mencoba menghibur Daniar.
"Tapi itu tidak akan berlaku untukku. Lelaki mana yang bisa menerima wanita yang memiliki masa lalu kelam," gumam Daniar.
Yandri menoleh, dia sama sekali tidak mengerti apa maksud gumaman Daniar. Yang dia tahu, tatapan wanita itu tampak sendu dan kosong.
"Tidak usah melawan takdir, karena kita tidak akan tahu ke depannya akan seperti apa," tukas Yandri.
Daniar menoleh, dia kemudian berkata. "Bukan melawan takdir, Yan. Tapi itu kenyataan. Seburuk-buruknya tabiat seorang lelaki, dia pasti mengharapkan seorang wanita yang sempurna untuk menjadi pendampingnya. Sedangkan aku? Hmm, tidak ada yang bisa aku berikan untuk calon suamiku kelak. Aku sudah gagal menjaga satu-satunya hal yang berharga dalam diriku. Karena itu, aku terlalu takut untuk membina hubungan lagi. Terlebih lagi untuk menjalin sebuah ikatan. Aku sudah tidak bisa memiliki harga diri. Dan aku sudah tidak bisa memberikan kesucian kepada suamiku kelak. Karena pada kenyataannya, aku sudah tidak suci lagi. Dan tentunya, tidak akan ada lelaki yang mau menerima gadis seperti aku," tutur Daniar.
Entah mendapatkan kekuatan dari mana, tiba-tiba saja dengan mudah Daniar bisa mengungkapkan rahasia yang selama ini dia pendam. Tanpa ada keraguan, Daniar bisa semudah itu membicarakan tentang masa lalunya sendiri kepada Yandri. Bahkan secara gamblang. Dan jujur saja, hal itu membuat Yandri cukup terkejut. Dia tidak menyangka jika gadis yang berada di sampingnya, tidak sepolos yang dia kira.
Tak ingin membuat gadis itu menguak aibnya kembali, Yandri akhirnya memungkas pembicaraan. "Sudah malam, Nona. Sebaiknya kita tidur."
Kembali Yandri menggenggam tangan Daniar dan menariknya untuk berdiri. Genggaman tangan itu seolah sedang mengisyaratkan jika kamu tidak sendirian saat ini.
Daniar mengangguk, dia berdiri dan mengikuti Yandri memasuki rumah. Yandri mengantarkan Daniar hingga pintu kamar.
"Beristirahatlah, Nona. Hari esok menanti senyuman kamu," ucap Yandri seraya menyeka sisa air mata di kedua sudut mata Daniar. Setelah itu, Yandri kembali ke ruang tamu untuk melanjutkan mimpi indahnya.
.
.
Sementara itu, di sebuah rumah yang cukup mewah. Seno berkali-kali memukul dinding kamar yang ditempatinya selama seminggu terakhir ini. Tangannya sudah mulai mengeluarkan darah segar. Namun, Seno tak mempedulikannya. Dia terus meluapkan semua kekesalannya dengan memukuli dinding kamar bertubi-tubi.
"Memangnya apa salah dinding kamar itu hingga elu memukulinya membabi buta begitu?" tegur Aldi, kakak kelas Seno saat dia bersekolah di asrama.
"Dia sama sekali tidak menghargai gua, Bang. Baru dua bulan kami berpisah, tapi dia sudah berani menikah," jawab Seno, geram.
"Hais, lu egois banget, Sen. Bukankah elu sendiri yang sudah membuat ulah dan menikah dengan wanita lain. Sekarang, giliran Daniar menikah, kamu kalang kabut begini," dengus Aldi yang merasa kesal dengan keegoisan adik angkatnya itu.
"Tapi gua sudah minta Daniar buat nunggu, Bang. Kenapa dia nggak bisa sedikit mengalah dan menunggu gua selama sembilan bulan. Gua sudah bilang jika setelah Shakila melahirkan, gua bakal cerai dan menikahi Daniar. Tapi kenapa Daniar nggak bisa bersabar untuk itu, Bang," keluh Seno tanpa merasa bersalah.
"Ya Tuhan, Seno. Lu bener-bener sudah gila! Lu pikir Daniar itu boneka? Ish, gua nggak ngerti dengan jalan pikiran lo!"
Brak!
Takut hilang kesabaran, Aldi keluar kamar seraya membanting pintu. Dia benar-benar merasa geram mendengar ucapan Seno yang begitu egois. Seno mengeluh Seolah-olah dia yang menjadi korban dari gagalnya pernikahan dia dengan Daniar.
Brugh!
Kembali Seno melayangkan pukulannya kepada dinding tak berdosa itu.
.
.
Keesokan harinya. Daniar terbangun saat sentuhan dingin terasa di kulitnya. Dia kemudian membuka mata. Tampak wajah tampan itu menatapnya.
"Sudah waktunya subuh, Nona. Kak Aminah menyuruhku membangunkan kamu untuk salat bareng," ucap Yandri mengutarakan maksudnya memasuki kamar Daniar.
"Ma-maaf, Yan. A-aku sedang ha-langan," cicit Daniar sambil menundukkan kepalanya.
Yandri tersenyum. "Ya sudah, tidurlah kembali. Nanti aku akan membangunkan kamu kembali setelah agak siangan," ucap Yandri.
Bukan tanpa alasan Yandri menyuruh Daniar tidur kembali. Semalam, Daniar tidur begitu larut. Dari wajahnya, terlihat jelas jika Daniar masih mengantuk.
Daniar mengangguk. Setelah Yandri pergi, Daniar kembali menarik selimutnya. Udara subuh semakin dingin Daniar rasakan.
"Sudah pukul 6, Yan. Bangunkan teman kamu, suruh dia sarapan," ucap Aminah.
Yandri mengangguk. Dia kembali ke kamar Daniar. Tiba di kamar, Yandri melihat Daniar sudah duduk di atas kasur.
"Sudah bangun, Nona?" tanya Yandri yang melihat Daniar sedang mengikat rambutnya.
Daniar menoleh, dia kemudian tersenyum saat melihat pria itu.
*Keluarlah dan cuci muka! Kakak sudah menunggu kita untuk sarapan," perintah Yandri seraya membalikkan badan.
"Tunggu!" teriak Daniar menghentikan langkah Yandri.
Pria berwajah dingin itu menoleh seraya berkata, "Ada apa?"
"Bisakah kamu tidak memanggilku Nona? Aku benar-benar risih mendengarnya," pinta Daniar.
"Lalu aku harus memanggilmu apa?" tanya Yandri.
"Panggil namaku saja," jawab Daniar.
"Ya sudah, ayo keluarlah!" lanjut Yandri.
Daniar pun mengikuti Yandri keluar kamar. Tiba di luar, mereka berpisah. Daniar pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedangkan Yandri pergi ke ruang tengah untuk membantu kakaknya menyiapkan makanan.
"Calonnya Om, ya?" celetuk Nisa, keponakan Yandri.
Yandri hanya tersenyum menanggapi celetukan keponakannya.
"Ish, masih kecil dilarang kepo!" tukas Rahmat, ayahnya. Dia mengusap kasar wajah Nisa.
Remaja berusia 15 tahun itu mengerucutkan bibir. "Ih, Bapaaak!" rengeknya.
"Ya kalau sudah dibawa ke rumah ini mah, sudah pasti dia calon tante kamu atuh, Nis," balas Rahmat.
"Hehehe, bukan Kang, dia hanya teman Yandri saja," jawab Yandri.
Aminah menatap adiknya dari balik pintu dapur. Kakak harap, dia akan menjadi jodoh kamu Yan. Kakak tidak akan sanggup kalau kamu harus dilangkahi menikah lagi oleh adikmu.
aarhh...bikin emosi aja
ngeyel sih
Semangat Thot, Luar biasa ceritanya